Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Klien tidak tahu diri


__ADS_3

Sudah satu minggu Azzam dan Zahra di Jogja. Seperti dugaan mereka, Merry kembali bersikap menyebalkan hari ini. Deni yang berada di Jakarta kuwalahan karena harus bolak - balik ke Bandung memenuhi permintaan Merry yang sebenarnya menginginkan Azzam.


" Sayang, sepertinya kita harus ke Bandung. Deni mulai kuwalahan menghadapi tingkah Merry. Kau sendiri tahu, Deni itu tidak suka dengan perempuan yang suka merengek tapi tidak tegaan." ujar Azzam.


" Baiklah, tidak selamanya kita bisa menghindar. Nanti aku mau ketemu Bima sebentar di kafe, Mas mau ikut?" ucap Zahra.


" Mas ada kerjaan dengan Rayyan, Adek pergi sendiri tidak apa - apa, kan?"


" Iya. Boleh bawa mobil?"


" Boleh, tapi harus pakai sopir."


" Zahra bisa bawa mobil sendiri, Mas. Nggak percaya banget sama istrinya."


Azzam mendekap tubuh istrinya yang kini tengah merajuk. Bukannya Azzam melarang Zahra untuk bawa mobil sendiri, namun melihat sang istri yang terbiasa membawa mobil dengan kecepatan tinggi membuatnya merasa khawatir.


" Yaudah, Adek boleh bawa mobil sendiri tapi janji jangan ngebut di jalanan." ucap Azzam lembut.


" Nggak usah, Mas ikhlas." sungut Zahra.


" Ikhlas, Dek. Apa perlu Mas beliin yang baru buat Adek?"


" Lepas! Adek mau pergi sekarang."


" Dek... Jangan seperti ini, Mas cuma tidak mau Adek kenapa - napa."


Zahra melepas dengan kasar rangkulan suaminya lalu menghampiri putranya yang sedang bermain di halaman rumah.


" Yang... Jangan marah, Mas minta maaf." bujuk Azzam.


" Zahra bawa Rama ke kafe, udah pesan taksi online." sahut Zahra datar.


" Mas antar saja, Adek tidak boleh menolak!" tegas Azzam.


.


.


Zahra dan Rama turun dari mobil Azzam tepat di depan kafe milik Bima. Azzam tidak ikut masuk karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan Rayyan sebelum besok ia tinggal ke Jakarta lagi.


" Sayang... Nanti pulangnya Mas jemput atau minta antar Bima, ya? Jangan pulang dengan taksi, kasihan Rama." ujar Azzam.


" Iya," jawab Zahra singkat.


" Dek... Nggak baik pergi dalam keadaan marah." tegur Azzam.


" Siapa yang marah sih, Mas? Zahra lagi pengen diem aja." ucap Zahra pelan.


" Kita pulang aja, Dek. Mas nggak mau pergi dalam keadaan seperti ini."


" Apaan sih, Mas? Jangan aneh - aneh! Bima udah nungguin di dalam."


" Dek_..."


" Zahra nggak marah, cepat pergi."

__ADS_1


Zahra mencium pipi suaminya dengan cepat lalu berlari masuk ke dalam Cafe tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


" Kamu membuatku semakin hari semakin mencintaimu, sayang." gumam Azzam lirih sambil tersenyum.


Saat Azzam akan kembali ke dalam mobil, ada seseorang yang memanggilnya. Azzam menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang ia sendiri tidak terlalu mengenalnya.


" Mas Azzam...!" sapa orang itu.


" Apa kita saling kenal?" tanya Azzam ramah.


" Saya Jefri, temannya Zahra."


" Yang bikin rusuh di desa itu?"


" Hehehee... Saya udah tobat, Mas."


" Mau ketemu Zahra juga disini?"


" Memangnya Zahra ada disini, Mas? Tadi Bima yang nyuruh saya kesini."


" Zahra sudah di dalam sama Rama. Tolong nanti jangan biarkan Zahra pulang sendiri."


" Kenapa, Mas? Apa sedang ada masalah?"


" Saya tidak ada waktu untuk menjelaskan, tanya saja pada Zahra."


" Mas Azzam sibuk banget ya?"


" Iya, besok harus ke Jakarta soalnya. Jadi pekerjaan disini harus selesai hari ini. Tolong jaga istri dan anakku, Jef."


" Yaudah, saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Setelah mobil Azzam meninggalkan halaman Cafe, Jefri bergegas masuk ke ruangan pribadi Bima di lantai atas.


" Assalamu'alaikum." ucap Jefri masuk ke ruangan Bima tanpa mengetuk pintu.


" Wa'alaikumsalam." balas Zahra dan Bima.


" Jef, kau disini juga?" tanya Zahra.


" Bima yang suruh aku kesini, ada apa sebenarnya? Tadi aku bertemu suamimu diluar." sahut Jefri.


" Duduk dulu!" titah Bima.


Rama asyik bermain ponsel milik Bima yang menampilkan video kartun anak - anak. Zahra sebenarnya tidak mengijinkan putranya bermain gadget di usia yang masih sekecil itu, tapi karena keseringan diasuh Kaivan maka seperti inilah sekarang.


Zahra menceritakan semua masalah yang tengah ia hadapi saat ini termasuk soal penyerangan saat liburan di Jepang.


" Klien tidak tahu diri!" umpat Jefri.


" Apa yang harus kulakukan? Dia terang - terangan mengejar suamiku." ucap Zahra.


" Bunuh saja langsung!" Bima melemparkan pistolnya kearah Zahra.

__ADS_1


" Aku tidak pernah membunuh orang, Bim." elak Zahra.


"Kau lebih sadis, Ra. Kau buat mereka menderita dengan menembak kaki dan tangannya. Kalau aku mending langsung bunuh saja." kata Jefri.


" Kalian mau bantu aku atau tidak?" sungut Zahra.


Bima dan Jefri tertawa melihat Zahra yang bertingkah sedikit manja sejak menikah dengan Azzam.


" Apa Azzam mengubahmu dari singa menjadi kelinci yang manja seperti ini?" ledek Bima.


" Kau benar, Bim. Tadi Mas Azzam juga berpesan untuk menjaga Zahra dan putranya." sahut Jefri.


" Udah ah! Lebih baik aku pulang daripada denger ocehan kalian."


" Hei... Sejak kapan seorang Adinda Azzahra jadi suka merajuk? Ayolah, Ra... Aku pasti akan bantu kamu. Informanku sudah dapat informasi tentang Tuan Davidson dan anak perempuannya itu." ujar Bima.


" Lalu? Apa rencanamu untuk klien tidak tahu diri itu?" tanya Jefri.


" Tuan Davidson dan putrinya adalah pengedar obat terlarang di negaranya. Dia sengaja membangun hotel di Bandung sepertinya untuk membuat markas baru dan akan mengedarkannya di negara ini." kata Bima.


" Jika benar seperti itu, kenapa dia seperti terobsesi untuk mendapatkan Mas Azzam?" tanya Zahra.


" Bukankah mereka dulu teman kuliah? Mungkin saja dia sudah terobsesi dari dulu."


Zahra menggeram menahan amarah. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengusik rumah tangganya. Jika memang sudah tidak bisa dibicarakan baik - baik, maka ia dengan senang hati akan kembali mengangkat senjata.


" Jangan emosi, Za. Jika mereka berniat jadi bandar narkotika disini, aku akan lebih mudah memantau mereka. Kau tahu sendiri apa pekerjaanku dulu." ungkap Jefri.


" Besok aku dan Mas Azzam akan pergi ke Jakarta. Wanita itu sudah di Bandung dan selalu membuat masalah agar bisa bertemu dengan Mas Azzam." ucap Zahra.


" Kau harus punya persiapan yang matang untuk menghadapi mereka, Ra." ujar Bima.


" Mungkin aku butuh anggota Tiger White untuk menjadi pengawal bayangan. Karena Merry belum pernah melihat wajahku secara langsung, aku akan menjadi asisten pribadi Mas Azzam selama di Bandung."


" Ya sudah, nanti kita atur rencana selanjutnya. Kau bisa bawa anggotamu yang dulu, mereka sudah tiga hari ini off."


" Terima kasih, Boss. Sekalian suruh mereka bawakan senjata milikku. Tapi aku butuh lebih banyak orang jika ternyata benar mereka bandar narkotika."


" Tenang saja, aku sudah bangun markas baru di Jakarta. Jadi jika butuh bantuan, tinggal calling mereka saja."


" Za, aku ikut ke Jakarta ya? Sudah lama aku tidak main seperti ini." pinta Jefri.


" Hhh... Biasanya kamu yang diburu kalau masalah seperti ini." cibir Zahra.


Bima, Zahra dan Jefri kembali mengatur rencana untuk mengawasi pergerakan Merry di Bandung setelah Zahra menidurkan putranya di kamar pribadi milik Bima.


Zahra sebenarnya sudah tidak mau berpetualang seperti ini lagi semenjak menikah dengan Azzam. Bahkan gajinya selama bekerja dengan Bima masih tersimpan rapi di Bank dan tanpa ia tahu, pimpinan Tiger White itu selalu menambahkan saldonya tiap bulan.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2