Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Tak bisa jauh darimu


__ADS_3

Hari berganti hari, Zahra sudah kembali ke aktifitasnya semula sebagai seorang guru bersama Rayyan. Pria itu sudah mengajukan surat pengunduran diri namun masih harus menjalani masa kontraknya selama tiga bulan dari mulai awal ia mengajar.


" Za, besok ikut ke kota tinjau Restoran ya?" ajak Rayyan.


" Nggak ah, Bang. Zahra capek pengen istirahat dulu di rumah. Belum juga mengurus sawah yang dirusak orang." tolak Zahra.


" Za, Restoran itu dibangun Azzam memang untukmu. Hargailah kerja keras suamimu."


" Aku tahu, Bang. Tapi untuk sekarang ini sepertinya jangan dulu. Aku akan datang kesana jika mas Azzam yang mengajakku."


" Baiklah, aku masih berharap kamu mau mengelola restoran maupun perusahaan."


Mereka sudah selesai mengajar dan bersiap untuk pulang. Rayyan mengajak Zahra ke pasar untuk belanja bahan makanan.


Sampai di pasar, Rayyan mengekor Zahra untuk memilih bahan makanan untuk makan sehari - hari. Semua orang menatap Zahra dengan pandangan yang berbeda - beda. Yang mereka tahu, suaminya Zahra itu Azzam. Tapi sekarang, Zahra membawa pria lain bersamanya.


" Zahra, itu siapa? Apa kau sudah berganti suami?" tanya salah seorang penjual sayur.


" Saya tidak ganti suami, Bu. Ini kakaknya Mas Azzam, kebetulan kami bekerja di tempat yang sama." jawab Zahra ramah.


" Oh... pantesan wajahnya mirip sama Mas Azzam. Udah nikah belum? Anak ibu ada yang nganggur di rumah kalau mau." celetuk ibu yang lain.


" Maaf, Bu. Saya sudah punya calon yang kebetulan tinggal di kota." sahut Rayyan yang tentu saja berbohong.


" Wah... sayang sekali, coba saja masih sendiri, Mas." ucap ibu itu kecewa.


Zahra segera berpamitan untuk mencari barang yang lain. Kalau di tanggapi, bisa seharian mereka disana membahas hal yang tak berfaedah.


Selesai berbelanja, Zahra dan Rayyan segera pulang dengan motor masing - masing. Belanjaan semua dibawa Zahra karena motor matic lebih mudah untuk menyimpan semua barang.


" Za, Rama bawa ke rumahku saja nanti daripada ganggu kamu masak. Atau aku saja yang masak hari ini?"


" Abang jagain Rama saja, Zahra lagi pengen masak banyak hari ini. Entah mengapa aku merasa kita akan makan ramai - ramai."


" Kamu mau undang orang satu kampung?"


" Bukan, Zahra merasa akan ada tamu yang datang tapi entah siapa."


" Terserah kamu saja, Za. Nanti habis Ashar kamu antar Rama kesini, tapi mandikan dulu biar aku tinggal ngajak dia main."


" Iya, tapi ingat... jangan diajak main ponsel terus, kebiasaan."


" Bukan aku itu, pasti Darrent. Diakan belum pernah deket sama anak - anak sebelumnya."


" Jadi anakku jadi percobaan, gitu?"


" Tidak, kami hanya belajar jadi orangtua yang baik. Biar nanti tidak canggung kalau punya anak sendiri."


Setelah Rayyan membantu membawa barang belanjaan ke dapur, dia langsung pamit sementara Zahra langsung mengambil Rama di rumah bu Marni.


.


.


Malam hari usai maghrib, Zahra sudah menyiapkan makanan ke dalam rantang untuk diantarkan ke rumah Rayyan sekalian mengambil Rama. Namun baru saja mengambil nasi, ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.


" Assalamu'alaikum..." ucap seorang pria yang sangat Zahra kenal.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam." Zahra bergegas membuka pintu dengan sedikit berlari.


Saat pintu terbuka, seorang pria tersenyum manis padanya. Zahra langsung menyambut uluran tangannya dengan tersenyum pula.


" Mas Azzam... Kai ikut kesini juga?" tanya Zahra saat melihat Kaivan yang tersenyum di belakang Azzam.


" Iya, dia merengek seperti bocah." jawab Azzam.


" Hai... kakak ipar." sapa Kaivan nyengir.


" Kamu beneran kesini, Kai? Ayo masuk!"


Zahra menarik suami dan adiknya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka disuruh mandi secara bergantian sebelum makan malam.


" Kai... kau mandi saja duluan." titah Azzam.


" Iya, Mas."


Azzam mengajak Zahra untuk masuk ke dalam kamar sembari menunggu Kaivan selesai membersihkan diri. Rasa rindu yang amat mendalam membuatnya tak melepaskan sedetikpun genggaman tangannya.


" Lepasin tanganku, Mas! Zahra mau jemput Rama di rumah Bang Rayyan."


" Biar nanti Kaivan yang jemput Rama. Mas sangat merindukanmu, sayang." bisik Azzam.


" Mas_..."


" Kamu masih marah sama Mas?"


Zahra menggelengkan kepalanya lalu duduk di tepi tempat tidur. Melihat wajah lelah suaminya, Zahra tidak tega untuk mendiamkannya.


" Sudahlah, Mas. Zahra tidak mau kita bertengkar lagi. Mas pulang sekarang saja Zahra sudah bahagia. Maaf, selama ini Zahra belum bisa menjadi istri yang baik untukmu."


Azzam bersimpuh di hadapan istrinya seraya menitikkan airmatanya menyesali semua kesalahan yang telah ia lakukan.


" Jangan seperti ini, Mas. Zahra tidak pernah marah sama Mas Azzam. Zahra hanya ingin Mas fokus merawat Mama sampai sembuh."


" Bagaimana Mas bisa fokus, sayang. Aku tak bisa jauh darimu. Hati Mas tidak akan bisa tenang saat jauh darimu."


" Sebenarnya Zahra juga merasakan hal yang sama, Mas. Zahra tidak bisa jauh darimu walau hanya sebentar."


Mereka saling berpelukan dengan erat lalu dengan cepat Azzam mencium bibir istrinya dengan lembut. Rasa rindu membuatnya hampir hilang kendali jika saja tak ada yang mengetuk pintu rumahnya.


" Siapa sih jam segini ganggu aja." gerutu Azzam.


" Mungkin Bang Rayyan mengantar Rama, Mas."


Zahra berusaha melepas pelukan suaminya namun Azzam malah semakin mempererat dekapannya. Tangannya baru terlepas saat panggilan dari luar menyebut nama istrinya.


" Mas... kok seperti suara Cahyo, ya?"


" Ya udah kita keluar dulu sayang. Mungkin dia ada perlu sama kamu."


Zahra dan Azzam segera keluar dan membuka pintu. Saat hendak memanggil Cahyo, Zahra terkejut mendapati pemuda itu babak belur di seluruh tubuhnya.


" Astaghfirullah, Cahyo...! Kamu kenapa bisa seperti ini?" teriak Zahra.


Azzam memapah tubuh Cahyo untuk duduk di kursi teras rumah. Sepertinya lukanya cukup parah di sebagian tubuhnya.

__ADS_1


" Mbak, tolong Agus. Dia... dia disekap." lirih Cahyo.


" Di sekap? Siapa yang melakukan itu!" seru Azzam.


Kaivan yang baru selesai mandi keluar saat mendengar teriakan Zahra tadi. Dia juga kaget saat melihat seorang pria yang terluka di depan rumah kakaknya.


" Katakan dimana mereka, Yo!" geram Zahra.


" Gudang, Mbak."


" Kai... kau jaga Cahyo sebentar. Aku harus jemput Agus sekarang juga." ujar Zahra.


" Dek, kau mau kemana? Apa yang terjadi sebenarnya?" cecar Azzam.


" Mbak... jangan pergi sendiri. Mereka lebih dari sepuluh orang." kata Cahyo.


Zahra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Benar juga, dia tidak mungkin menyelamatkan Agus sendirian.


" Hhh... Kai, suruh Bang Rayyan kesini bawa Rama sekarang." pinta Zahra.


" Bang Rayyan dimana, Kak?" tanya Kaivan.


" Rumah depan itu, yang ada motornya."


" Iya, Kak."


" Dek, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Azzam.


" Tidak ada waktu, Mas. Nyawa Agus lebih penting sekarang. Kita ajak Bang Rayyan kesana, biar Rama bersama Kai disini jaga Cahyo. Aku yakin Agus lebih parah dari Cahyo."


" Kamu kenal orang - orang yang menculik Agus, Dek?"


" Tidak, Mas. Hanya saja mereka merusak tanaman kita di sawah. Aku, Agus dan Cahyo pernah berkelahi dengan mereka beberapa hari yang lalu."


" Kenapa mereka merusak sawah kita?"


" Mereka menginginkan sawah kita untuk dijadikan gudang penyimpanan barang."


Azzam tidak bisa membiarkan istrinya berkelahi lagi. Walaupun kini ia tahu sisi lain dari istrinya, namun sebagai seorang suami seharusnya dialah yang berjuang melindungi keluarganya.


" Dek, biar Mas dan Rayyan saja yang pergi. Kamu di rumah saja, ya?" bujuk Azzam pada istrinya.


" Tidak, Mas. Mereka itu urusanku, Agus tanggung jawabku."


" Aku suamimu! Jangan keras kepala, Za."


" Bukan waktunya berdebat, Mas. Kita bersiap sekarang. Tuh, Bang Rayyan sudah datang."


Mereka berkumpul untuk merencanakan strategi yang matang. Agus harus diselamatkan secepatnya sebelum mereka benar - benar membunuhnya.


Zahra memberitahu bu Marni agar melapor pada pak RT untuk membantu mereka menggerebek tempat itu dan menangkap pimpinannya.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2