Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Rayyan sakit


__ADS_3

Zahra mencoba menahan tawanya karena tak ingin Rayyan tersinggung. Siapa yang menyangka, pria yang jago bela diri itu ternyata takut dengan cacing.


" Mas, Zahra pulang duluan ya? Tadi Bang Rayyan kelihatan pucat banget wajahnya." ucap Zahra.


" Mas juga ikut pulang, Dek. Mudah - mudahan nggak kejadian lagi." sahut Azzam.


" Kejadian apa, Mas?"


" Eh, tidak... Ayo pulang, tolong beresin mainan Rama."


" Iya, Mas."


Zahra merapikan mainan dan juga jajanan milik Rama. Setelah itu ia menghampiri Azzam yang sudah duduk diatas motor bersama Rama.


" Agus, Cahyo... Mbak duluan, ya." pamit Zahra.


" Iya, Mbak." ucap Agus dan Cahyo.


Setelah Zahra naik ke motor, Azzam segera melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan sedang karena sang anak memilih duduk di depan.


" Dek, nanti Mas mau ke kota. Kamu mau ikut?" tanya Azzam.


" Nggak, Mas. Kasihan Rama diajak mondar - mandir tiap hari, memangnya Mas ada kerjaan di kantor?"


" Tidak, cuma mau antar Agus dan Cahyo ke Bank sekalian beli alat untuk bajak sawah biar pekerjaan bisa selesai dengan cepat."


" Tapi nanti boleh nitip beliin makanan?"


" Makanan apa?"


" Pengen nasi padang tapi yang di seberang kampus Adek dulu."


" Mas nggak sampai disana, Dek. Nanti Mas beliin di samping kantor kecamatan, ya?"


" Nggak mau!"


" Dek,...!"


Azzam menghentikan laju motornya saat sudah sampai di depan rumah. Zahra langsung turun dan bergegas membuka pintu rumahnya. Panggilan dari suaminya tak dihiraukannya, entah ada apa dengannya.


" Rama, ayo cuci tangan dulu." titah Azzam pada anaknya.


" Iya, Yah." sahut Rama sambil berlari ke samping rumah.


Azzam masuk ke dalam rumah dan menghampiri istrinya yang duduk di meja dapur. Mungkin dia habis minum tadi.


" Sayang_..." lirih Azzam.


" Apa...!" ketus Zahra.


" Kenapa? Iya, nanti Mas belikan pesanan kamu."


" Sebenarnya bukan karena itu, Mas. Zahra juga pengen kesana sendiri."


" Katanya nggak mau diajak? Kalau Adek mau ikut, Rama dititipkan Rayyan atau_... Astaghfirullah, Mas ke rumah Rayyan dulu, Dek."


Sebelum Zahra menyahuti, Azzam sudah berlari dengan cepat keluar rumah dan hampir bertabrakan dengan putranya di teras.


" Ayah kenapa, Bunda?" tanya Rama.


" Bunda juga tidak tahu, sayang. Ayo kita ikuti Ayah." Zahra menggandeng tangan putranya keluar dari rumah.


Zahra melihat Azzam berlari ke rumah Rayyan tergesa - gesa. Diapun ikut berjalan cepat takut terjadi sesuatu dengan kakak iparnya.

__ADS_1


" Ray...! Astaghfirullah...!"


Azzam menghampiri Rayyan yang terduduk lemas di tepi ranjang kamarnya. Melihat Zahra yang menyusulnya, Azzam meminta dibuatkan teh hangat untuk Rayyan.


" Ini minumnya, Mas. Bang Ray kenapa?" tanya Zahra cemas.


" Dia shock melihat cacing. Pasti sebentar lagi demam." jawab Azzam.


" Sampai separah itu?"


" Dia memang sudah seperti ini sejak kecil. Dulu waktu masih awal masuk sekolah dasar, dia dijahili oleh teman - temannya dengan menaruh sekumpulan cacing di dalam tasnya. Rayyan yang kaget langsung pingsan ditempat."


" Astaghfirullah, kasihan Bang Rayyan."


" Adek pulang saja, biar Mas yang jaga Rayyan."


Rayyan di papah Azzam masuk ke dalam kamar dan disuruh tidur. Mungkin saja dengan tidur, Rayyan bisa melupakan kejadian tadi.


" Zahra pulang dulu, Mas. Bang Rayyan msu di masakin nasi atau bubur?"


" Bubur saja, tapi Mas buatin balado telur ya?"


" Iya, tapi Mas nggak jadi ke kota?"


" Siapa yang urus Rayyan kalau Mas pergi? Kamu tidak bisa mengurusnya sendiri, Dek. Harus ada Mas yang mendampingi kalau kamu mengurusnya."


" Iya, Mas. Adek paham maksud Mas Azzam."


Zahra kembali ke rumah bersama Rama sementara Azzam mengawasi Rayyan dari ruang tamu sambil mengerjakan beberapa berkas di laptopnya yang ia ambil barusan.


" Zam...!" panggil Rayyan lirih.


Azzam yang mendengar suara Rayyan bergegas menghampirinya. Dia mengecek kondisi suhu tubuh kakak sepupunya dan kaget saat wajah pria itu pucat dan suhu tubuhnya tinggi.


" Tidak usah, Zam. Aku baik - baik saja." tolak Rayyan.


" Jangan bodoh...! Kau bisa mati kalau dibiarkan."


Azzam segera menutup laptop dan mengumpulkan semua berkasnya lalu bergegas pulang ke rumah untuk mengambil mobil.


" Yang, Rayyan harus dibawa ke rumah sakit. Kamu ikut atau di rumah saja?" ujar Azzam saat melihat istrinya sedang mengambil sayuran di kulkas untuk di masak.


" Ke rumah sakit, Mas?"


" Iya, suhu badannya panas. Sepertinya demam tinggi, harus segera ditangani."


" Rama gimana, Mas?"


" Titipkan sama bu Marni aja,nanti sore juga pulang. Biar nanti bawahanku di kota yang jaga Rayyan kalau di rawat."


" Bagaimana dengan Papa dan Mamanya? Apa kita perlu memberitahu mereka?"


" Tidak perlu, Rayyan hanya demam biasa. Nanti kalau pikirannya sudah tenang, dia akan sembuh."


Zahra tidak bertanya lagi, ia langsung membawa Rama ke rumah bu Marni dan juga perlengkapan yang dibutuhkan putranya itu.


" Mas, baju ganti Bang Ray udah disiapkan?" tanya Zahra saat melihat suaminya memapah Rayyan keluar rumah.


" Belum, ambil saja di lemari."


Zahra masuk ke dalam rumah dan tanpa canggung membuka lemari pakaian Rayyan. Setelah mengambil dua setel pakaian lengkap, ia menarik satu ransel yang berada di rak paling bawah.


" Ayo, Mas." ucap Zahra.

__ADS_1


" Kamu yang mengemudi, Dek. Rayyan tidak bisa duduk dengan tegak, butuh sandaran. Kamu mau jadi sandaran bocah merepotkan ini?"


" Tapi Adek udah lama tidak_..."


" Kamu orang terlatih, tidak mungkin lupa hal sepele semacam ini."


Azzam tidak tahu saja kalau Zahra itu paling malas menyetir mobil. Dulu, Bima yang seorang Boss saja harus mengalah dan bersedia jadi sopir pribadinya.


Zahra melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata karena jalanan cukup sepi. Dia hanya ingin Rayyan cepat di tangani oleh dokter.


" Dek, pelan - pelan saja! Kita ini mau ke rumah sakit bukan mengejar penjahat." tegur Azzam pada istrinya yang melajukan mobilnya terlalu cepat.


" Mas juga pernah jauh lebih cepat dari ini, kan?" sahut Zahra santai.


" Kaivan yang memberitahu kamu?"


" Tidak penting siapa orangnya, cukup tahu saja siapa suamiku sebenarnya."


" Kalian berisik!" lirih Rayyan.


Sepuluh menit kemudian, Zahra membawa Rayyan ke rumah sakit swasta yang tidak jauh dari kota kecamatan. Azzam langsung membawanya ke ruang UGD agar segera ditangani.


" Apa yang terjadi dengannya?" tanya Dokter yang ternyata mengenal Azzam.


" Traumanya kambuh hingga demam tinggi." jawab Azzam datar.


" Siapa dia...?" Dokter itu melirik Zahra yang duduk di kursi tunggu pasien.


" Jangan macam - macam!" peringat Azzam dengan tatapan tajamnya.


" Hei... Aku hanya bertanya, Boss." Dokter itu tersenyum kecil.


Bukannya menangani Rayyan, Dokter itu malah menyuruh dokter lain untuk menggantikannya. Dia berlalu begitu saja menghampiri Zahra.


" Selamat siang, Nona." sapa Dokter itu sangat ramah.


" Siang, Dokter." jawab Zahra datar.


Dari gelagat dokter dan suaminya itu, dapat ditebak jika mereka adalah teman yang cukup akrab. Zahra juga mendengar secara jelas apa yang mereka bicarakan.


" Apakah pasien tadi saudara Anda?"


" Benar, Dokter. Lebih tepatnya saudara suami saya."


" Su... Suami...? Kau menikahi gadis di bawah umur?" ucap Dokter itu yang langsung mendapat pukulan keras dari belakang.


" Hentikan ocehanmu, Ben! Kau pikir aku menikahi gadis di bawah umur!" sentak Azzam marah.


" Me... Menikah...? Ka... Kau sudah menikah? Dia istrimu?" ucap Ben kaget.


" Kau kakak iparku...!" pekik Ben lagi.


Zahra tersenyum kecil lalu menarik lengan Azzam supaya duduk di sampingnya. Dia tahu suaminya itu tengah kesal dengan dokter itu.


" Saya wanita dewasa, Dokter. Bukan gadis di bawah umur seperti yang Anda pikirkan."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2