
Satu bulan berlalu, kini Zahra dan Azzam tinggal di kota. Zahra juga sudah berhenti mengajar begitu juga dengan Rayyan. Zahra kini tahu betapa sibuknya sang suami yang harus mengurus perusahaan besar dan beberapa Restoran disana. Belum lagi Azzam juga sering bolak - balik Jogja - Jakarta untuk mengurus perusahaan keluarganya.
Sementara rumah yang berada di desa, kini rumah itu dalam tahap renovasi untuk menambah kamar di bagian belakang. Walaupun jarang ditempati, namun Zahra ingin rumahnya itu terawat dengan baik.
" Sayang, kamu betah tinggal di rumah ini?" tanya Azzam.
" Iya, walaupun di tengah kota tapi halamannya luas. Terima kasih, Mas... Kamu telah memberikan kebahagiaan yang berlimpah untukku dan anak kita."
" Itu adalah kewajibanku, sayang. Kalian berdua adalah nafasku. Tanpa kalian, akupun tidak akan mampu bertahan hidup."
Kini keduanya sedang berada di kamar setelah menemani putranya tidur di kamar sebelah. Azzam memeluk tubuh istrinya sambil berbaring di kasur king size yang sangat nyaman.
" Sampai mana tahap renovasi rumah kita, Mas?"
" Baru dua minggu, sayang. Masih meratakan tanah bagian belakang."
" Lama banget,"
" Salah siapa cari pekerja tetangga sendiri? Tadinya Mas mau cari pekerja yang lebih ahli supaya rumahnya cepat jadi."
" Tidak apa - apa, Mas. Lagian juga kita sudah menetap disini. Zahra hanya ingin membagi sedikit rejeki buat tetangga yang membutuhkan."
" Istriku sangat baik hati, Mas memang tidak salah pilih."
Azzam menciumi seluruh wajah istrinya bertubi - tubi hingga terlihat basah. Wajah imut istrinya memang terlihat sangat menggemaskan.
" Olahraga yuk, Yang?" rengek Azzam sambil mengusap lembut pipi istrinya.
" Malam - malam begini olahraga, Mas?"
" Iya, sayangku."
" Ok! Mau taekwondo atau_..."
" Sayang...!" seru Azzam kesal.
Zahra tertawa terpingkal - pingkal melihat raut wajah kesal sang suami. Padahal ia hanya ingin menggoda suaminya saja, tapi reaksi Azzam sungguh diluar dugaan.
" Jangan keras - keras, Mas! Anak kita sedang tidur di kamar sebelah."
" Mas teriak sekencang apapun juga tidak ada yang bisa mendengar dari luar. Kamu lupa kamar ini kedap suara!" ketus Azzam.
" Suamiku kalau lagi ngambek semakin tampan. Coba pertahankan seperti ini terus." goda Zahra.
" Apa sih, Yang! Suami ngambek itu dibujuk bukan diledek." sungut Azzam.
" Iya - iya... Sini Bunda peluk biar nggak ngambek lagi." Zahra merentangkan kedua tangannya kepada sang suami.
Azzam yang masih kesal mengacuhkan Zahra sedikit menjauh dan merebahkan tubuhnya membelakangi sang istri.
" Kok marah sih, Mas? Zahra cuma bercanda, sayang." bujuk Zahra seraya memeluk suaminya dari belakang.
__ADS_1
" Mas capek, Dek. Kamu tidur saja, sudah malam." gumam Azzam.
" Mas beneran marah? Apa Adek harus tidur di bawah untuk menebus kesalahan?" ucap Zahra sendu.
Zahra melepas pelukannya dan beranjak untuk turun dari tempat tidur. Namun saat kakinya hampir menyentuh lantai, Azzam menarik tangannya dengan kuat hingga Zahra jatuh kembali ke tempat tidur.
" Tidur disini! Siapa yang menyuruhmu pergi." ujar Azzam pelan.
Zahra tak membantah dan tak mengucapkan satu patah katapun. Zahra mungkin bisa bersikap acuh pada orang lain, namun pada suaminya ia tak bisa melakukan itu. Perasaannya sangat sensitif jika berhadapan dengan sang suami.
" Mas nggak marah, sayang. Ayo cepat tidur, besok kita ke Jakarta pagi. Katanya Adek pengen naik mobil saja sekalian jalan - jalan." Azzam merasa bersalah melihat raut wajah sedih istrinya.
" Adek tidur di kamar Rama aja, Mas."
" Jangan seperti itu, Dek! Mas nggak suka kamu menghindar seperti itu."
" Bukan menghindar, Mas. Tapi_..."
" Tidak usah diteruskan! Ayo tidur, Mas nggak mau berdebat soal hal - hal yang tidak penting."
" Zahra minta maaf..."
Azzam merangkul tubuh istrinya gemas. Azzam memang sedikit kesal dengan penolakan istrinya, namun ia sama sekali tidak marah.
" Dek_..."
" Iya, Mas?"
" Kenapa harus menyesal...?"
" Bukankah itu keinginan kamu untuk membangun generasi muda di desa agar lebih maju?"
" Iya sih... Tapi melihat kelakuan ibu - ibu yang selalu julid itu membuat Zahra tidak betah."
" Sejak kapan istriku ini memikirkan gosip tetangga?" ledek Azzam.
Zahra mencubit lengan suaminya kesal karena merasa dibully. Bukannya Zahra terpengaruh dengan gosip itu, namun jika putranya yang masih kecil itu nantinya juga jadi bahan gosip, ia tidak akan pernah rela.
" Mas, Zahra sebenarnya kasihan dengan mereka... Tapi mulutnya itu tidak bisa dijaga. Kalau ada Bima, bisa langsung di eksekusi mereka."
" Tapi kita masih bisa membangun desa tanpa harus tinggal menetap disana, Dek."
" Caranya gimana, Mas?"
" Cium dulu baru Mas jawab."
" Mas Azzam, ihh!"
" Iya, sayang... Sambil pelukan dong, biar Mas bisa berpikir dengan jernih."
" Bukan berpikir mesum, kan? Awas aja kalau bohongin Zahra."
__ADS_1
Azzam mengulas senyum manisnya lalu mencium kening sang istri dengan lembut. Cintanya semakin lama semakin dalam untuk wanita dalam dekapannya itu.
" Ibu kamu ngidam apa sih dulu? Anaknya bisa cantik dan menggemaskan begini?"
" Mas...!"
" Baiklah, sayang... Ini baru rencana Mas saja, jadi kamu masih bisa merubahnya jika tidak sesuai dengan kondisi disana."
" Apa rencana Mas?"
" Bagaimana kalau kita bangun pasar tradisional dengan gaya modern? Tapi Adek harus bantu Mas mengurusnya."
" Pasar tradisional gaya modern? Maksudnya gimana, Mas?"
" Mmm... Kita buat bangunan dengan beberapa lantai untuk memisahkan pedagang yang berjualan dengan produk yang berbeda. Tidak seperti pasar yang sekarang, pakaian dan sayuran jadi satu. Terus kalau hujan tempatnya becek, tidak nyaman."
" Boleh juga itu, sepertinya ide bagus. Nanti untuk para pedagang, kita tawarkan dulu pada warga yang ada di desa kita. Mungkin saja mereka berminat untuk berdagang."
" Tapi kalau mereka tidak ada modal gimana, Yang? Mas nggak mau mereka berhutang dan nantinya malah tidak bisa bayar."
" Kalau begitu kita bisa tawarkan mereka pekerjaan yang lain, misalnya petugas keamanan, kebersihan dan parkir."
" Terserah Adek aja gimana mau atur masalah itu. Mas hanya akan pantau saja, kamu yang kerja lapangan."
" Hhh... Kenapa semua jadi kerjaan Zahra? Tiga restoran Zahra yang handle, Mas cuma urus perusahaan saja."
Azzam tersenyum sembari mengacak pelan rambut istrinya. Wajah imutnya memperlihatkan jika usianya masih terlihat belasan tahun padahal sudah lebih dari seperempat abad.
" Makanya Adek cari asisten yang bisa membantu semua pekerjaan. Mas tahu Adek lelah, tapi pekerjaan Mas akhir - akhir ini juga sangat banyak. Rayyan yang biasanya sekalian handle restoran saja sekarang tak bisa keluar dari kantor."
" Besok Adek cari dulu deh, siapa tahu ada pegawai restoran yang bisa jadi orang kepercayaan. Laki - laki tidak masalah, kan?"
" Mas percaya sama Adek, yang penting Adek bisa profesional dalam bekerja."
" Terima kasih, Mas. Kamu memang yang terbaik."
" Ayo tidur, kita belum packing keperluan Rama. Kalau baju Adek masih ada disana, tidak usah bawa."
" Iya, Mas."
Zahra mendekap tubuh suaminya dengan erat sembari memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1