Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Anggap saja Honeymoon


__ADS_3

Setelah acara penyambutan dirinya selesai, Zahra langsung masuk ke dalam kamar diikuti Azzam. Mereka seperti pengantin baru yang enggan terpisah walau hanya sebentar. Terlebih Azzam yang begitu posesif saat Zahra berkenalan dengan saudara sepupu laki - lakinya. Seandainya Kaivan memberitahunya lebih dulu soal acara pesta tadi, pasti Azzam akan menolaknya.


" Maaf ya, sayang... Kaivan membuat pesta ini tanpa memberitahu kita. Tidak hanya kamu, Mas juga merasa canggung dan malas dengan pesta seperti ini. Tapi Mas juga bersyukur karena seluruh keluarga besarku bisa menerima kamu dengan baik." ujar Azzam.


" Iya, Mas. Semua juga sudah terjadi, Zahra sedang bisa diterima oleh keluarga besarmu."


" Terima kasih, sayangku."


" Eh iya, Mas... Rama dari tadi tidak bersama kita, apa dia masih sama Kaivan?"


" Rama tidur di kamar Kaivan, sayang. Sesuai permintaanmu, malam ini kita hanya berdua."


" Permintaanku? Kapan...?"


Azzam menarik istrinya sehingga terduduk dalam pangkuannya. Mungkinkah sang istri lupa pada ucapannya beberapa jam yang lslu di dalam pesawat. Bahkan ia sampai merajuk karena sang anak dianggapnya mengganggu tidurnya.


" Tadi di pesawat, siapa yang ngambek minta tidur di bahu Mas?"


" Hehehee... Zahra lupa."


" Mandi dulu yuk? Mas gerah banget, kita berendam sebentar."


" Nggak...! Mas bilang sebentar itu berapa jam?"


" Cuma sebentar, sayangku. Lagian Mas juga tahu kamu sangat lelah hari ini. Biar tubuh kamu segar, Mas yang mandiin deh."


" Zahra bisa mandi sendiri Mas."


" Mas yang pengen, sayang." bujuk Azzam.


Zahra memang tidak pernah bisa menolak keinginan sang suami. Walaupun dia lelah, tapi ia tidak berani menolaknya.


.


.


Pagi hari usai sarapan, Zahra dan Azzam pamit kepada kedua orangtuanya untuk berangkat ke Bali. Rama masih tidur bersama Kaivan dengan lelap padahal biasanya anak itu akan bangun jam enam pagi.


" Ma, Pa... Titip Rama, ya? Suruh Kaivan untuk membuatkannya susu saat bangun tidur." ucap Azzam.


" Iya, kalian tidak perlu mengkhawatirkan Rama. Dia akan baik - baik saja disini." ujar Papa Zaid.


" Terima kasih, Pa. Bilang juga sama Kaivan jangan dikasih mie instan lagi."


" Mie instan? Kok bisa, Zam?" tanya Mama Rahma.


" Kaivan itu tidak bisa masak, Ma. Jadi waktu kemarin di desa hanya berdua saja, Kaivan cuma bisa masak mie instan saat Rama lapar." kata Zahra.


" Maklum saja, Kaivan memang dari dulu seperti itu. Menutup diri pada pada orang - orang di sekitarnya."


" Tidak masalah, Pa. Setiap orang itu kan berbeda - beda. Kaivan orang yang baik, dia juga bertanggung jawab."


" Terima kasih kalian sudah bersedia menerima Kaivan. Walaupun ibunya berbuat jahat, namun anak itu tidak terlibat sama sekali."


"Kaivan itu sekarang bagian dari keluarga kita, Pa. Dia adikku, putra Mama dan Papa." ucap Azzam.

__ADS_1


Tuan Zaid sangat bersyukur karena Azzam mau menerima Kaivan sebagai adiknya. Bukan hanya itu, istrinya Rahma juga sangat menyayangi anak tirinya yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung.


" Kami pamit dulu, Pa, Ma... Takut ketinggalan pesawat." ucap Azzam.


" Hati - hati disana, semoga ada kabar baik setelah pulang dari sana." sahut Mama Rahma.


" Kabar baik? Maksud Mama apa?" tanya Zahra bingung.


" Sudah, jangan dengarkan Mama kamu. Cepat kalian berangkat." ujar Papa Zaid.


" Ma, Azzam sama Zahra perginya cuma sehari. Jangan bicara aneh - aneh." sungut Azzam.


" Anggap saja honeymoon. Kalian pasti jarang punya waktu berdua setelah ada Rama, kan?"


" Lain kali saja, Ma. Azzam masih banyak pekerjaan di Jogja, Zahra juga sama."


" Mas_..." tegur Zahra lirih.


Zahra segera mencium punggung tangan kedua mertuanya diikuti Azzam. Setelah itu mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.


" Sayang, negara mana yang paling kamu sukai untuk liburan?" tanya Azzam saat mereka di dalam mobil.


" Mmm... Negara mana saja aku suka. Dulu aku pernah ke Turki, Lebanon, Arab, dan masih banyak negara lainnya."


" Kamu pernah liburan kesana?"


" Bukan liburan, tugas pengawalan pejabat pemerintah. Biasanya aku yang bertugas di negara - negara yang mayoritas muslim karena hanya sedikit wanita berhijab yang bergabung dengan Tiger White."


" Ada tempat yang ingin Adek kunjungi?"


" Kemana...?"


" Kebun binatang Ragunan sama Monas. Adek belum pernah keliling Jakarta, Mas."


" Kamu ini, Dek. Keluar negeri sering, tapi ibukota sendiri tidak pernah."


" Zahra pergi kalau ada kerjaan saja, Mas. Mana pernah berpikir untuk liburan."


" Ya udah, gimana kalau ke Bali diperpanjang. Anggap saja honeymoon, senin kita pulang sayang."


" Rama gimana? Senin Kaivan kerja, Mas. Aku juga harus bolos kerja?"


Azzam menggenggam erat telapak tangan istrinya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena selama ini tidak pernah memberikan kebahagiaan seperti orang lain yang selalu memberikan fasilitas yang mewah untuk anak istrinya. Azzam justru egois dengan menyembunyikan semua harta kekayaannya dan menumpang hidup pada sang istri.


.


.


Setelah penerbangan yang membuat Zahra mengantuk, Azzam mengajak Zahra keluar Bandara Ngurah Rai, Bali. Istrinya terlihat enggan untuk berjalan sehingga Azzam harus merangkulnya agar tidak ketinggalan.


" Capek, ya?" lirih Azzam.


" Sedikit, Mas. Tapi Zahra seneng bisa berduaan sama Mas. Lebih senang lagi kalau kita ajak Rama."


" Iya, sayang. Kapan - kapan lita liburan bertiga atau berempat."

__ADS_1


" Kok berempat, Mas? Mau ajak Kaivan juga?"


" Bukan, sayang. Tapi sama adiknya Rama."


" Ish...!"


Azzam dan Zahra di jemput pegawai Restoran yang sudah standby di tempat parkir. Zahra meminta langsung ke tempat mereka akan menginap malam ini karena ingin cepat istirahat agar nanti sore bisa berjalan - jalan keliling tempat sekitar Restoran.


" Mas, Restorannya deket tempat wisata nggak?"


" Deket, sayang. Restorannya menghadap langsung ke pantai walau jaraknya sedikit jauh. Tapi tidak akan mengecewakan saat malam hari."


" Jadi tidak sabar melihatnya."


" Tidurlah lagi kalau lelah, perjalanan masih setengah jam lagi sampai tempat tujuan."


" Tidak apa - apa, Adek tidur?"


" Iya, sayang. Tidurlah, karena nanti ada pekerjaan untukmu setelah sampai di tujuan."


" Pekerjaan apa?"


Azzam hanya tersenyum lalu menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Azzam selalu merasa nyaman saat mendekap istrinya. Rasanya kebahagiaan itu sangat sederhana. Tidak perlu harta yang melimpah, menjadi penguasa ataupun orang populer.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Azzam mengangkat tubuh istrinya yang masih tidur pulas dalam dekapannya. Tas bawaan diantarkan oleh sopir yang menjemputnya tadi sampai ke kamar.


" Terima kasih, Pak. Pulanglah naik taksi, nanti sore mobilnya saya yang pakai." kata Azzam pelan agar tidak mengganggu istrinya yang sedang tidur.


" Baik, Tuan. Jika Anda membutuhkan saya, telfon saja. Saya akan standby 24 jam."


" Ya... Datang saja nanti saat persiapan di mulai. Oh iya, kenapa para pegawai belum datang bersih - bersih?"


" Nanti setelah zuhur, Boss. Istrimu cantik juga."


" Sopir sialan kau...!"


Ya. Sopir yang saat ini bersama Azzam adalah Gerry, temannya saat kuliah dulu diluar negeri. Selain jadi sopir pribadi Azzam, dia juga penanggung jawab Restoran di Bali.


" Berapa lama di Bali, Boss?"


" Kenapa? Kau tidak suka Bossmu disini?"


" Bukan begitu, Boss. Hanya saja anakmu tidak diajak, mau sekalian honeymoon?"


" Anggap saja honeymoon. Proses membuat anak kedua."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2