Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Hukuman untuk yang kalah


__ADS_3

Azzam memarkirkan mobilnya di halaman rumah dan melemparkan kuncinya pada penjaga untuk dibawa ke garasi.


" Mas, jangan masuk dulu!" cegah Zahra.


" Kenapa, Dek? Ayo masuk, kamu istirahat dulu sana." ujar Azzam.


" Tapi Zahra pengen makan kerak telor," rengek Zahra.


" Memangnya masih ada yang jualan makanan seperti itu?"


" Pokoknya Zahra mau itu! Mas cari sekarang, jangan pulang kalau belum dapat."


Azzam menghela nafas panjang untuk membuatnya lebih sabar lagi menghadapi sang istri yang sedang hamil. Karena ingin cepat, Azzam menarik lengan Kaivan yang hendak masuk ke dalam rumah.


" Kau ikut denganku! Pinjam motor penjaga saja biar cepat." kata Azzam datar.


" Mas... Kok aku disuruh ikut cari sih?" protes Kaivan.


" Diam...! Kau mau kakak iparmu itu mogok makan?"


Azzam ingat seperti apa tingkah Zahra saat sedang hamil Rama. Saat itu waktu sudah menjelang maghrib, Zahra minta dibelikan nasi padang yang berada di dekat kampusnya dulu. Azzam yang tak ingin membuat sang istri kecewa, langsung berangkat menuju kota untuk mencari makanan sesuai permintaan wanita kesayangannya walaupun harus berakhir dengan kegagalan karena rumah makan itu tutup dan Zahra marah sampai beberapa hari.


" Mas, kita ke tempat wisata saja. Biasanya banyak yang masih menjual makanan tradisional." ucap Kaivan.


" Terserah kau saja, yang penting dapat pesanan Zahra." sahut Azzam.


Setelah hampir dua jam mencari, akhirnya Azzam dan Kaivan bisa bernafas lega. Mereka duduk di teras rumah sebelum menghampiri Zahra yang berada di kamarnya.


" Kalian sudah pulang?" Zahra berteriak mengejutkan suami dan adik iparnya.


" Astaghfirullah...!" pekik Kaivan.


" Jangan berteriak, Dek! Itu makanannya sudah Mas carikan, makan dulu sana." ujar Azzam pelan.


" Terima kasih, Ayah." seru Zahra senang.


" Kaivan juga ikut nyari, Kak!" protes Kaivan.


" Iya, terima kasih Adikku yang paling tampan."


Zahra mengambil makanannya sambil tersenyum riang. Namun langkahnya terhenti saat ia teringat sesuatu.


" Oh iya, sebaiknya kalian berdua segera istirahat. Nanti habis Ashar ditunggu Papa di teras paviliun." ucap Zahra sambil melenggang masuk ke dalam rumah.


.


.


Azzam dan Kaivan melangkahkan kakinya menuju paviliun melalui pintu samping dapur. Disana tampak Zahra sedang tersenyum bahagia bersama kedua orangtua Azzam.


" Sayang, kok Mas ditinggal sih?" sungut Azzam.


" Mas tadi tidurnya nyaman banget, jadi Zahra tidak mau mengganggu." sahut Zahra lembut.


Azzam duduk dilantai dengan kepala yang diletakkan dipangkuan sang istri dengan manja. Entah mengapa dirinya begitu resah saat berjauhan dengan Zahra.


" Hmm... Besok pulang ke Jogja, ya?" pinta Azzam.

__ADS_1


" Kenapa buru - buru? Zahra tidak boleh kelelahan." kata Papa Zaid.


" Kasihan Rayyan sendirian, Pa. Disini ada Kaivan yang urus semua pekerjaan."


" Baiklah, tapi Rama akan tetap tinggal disini."


" Pa... Jangan pisahin Zahra sama Rama," pinta Zahra.


" Iya, Pa... Jangan minta sesuatu yang tidak bisa kami lakukan." imbuh Azzam.


Mama Rahma tidak tega melihat raut wajah menghiba putra dan menantunya. Dia tahu betul seperti apa rasanya berjauhan dengan putranya dulu.


" Jangan memaksakan kehendak, Pa. Sebaik - baik pengasuh anak adalah orangtua kandungnya." ujar Mama Rahma.


" Mama benar, Pa. Suruh Kaivan cepat menikah biar Papa dan Mama segera mempunyai cucu lagi yang akan tinggal di rumah ini." ucap Azzam.


" Kok jadi aku sih, Mas? Aku belum punya niatan untuk menikah!" sungut Kaivan.


" Sudah...! Kalian disuruh kesini bukan untuk ribut, tapi menjalani tantangan yang sudah kita sepakati tadi." ujar Papa Zaid.


Azzam dan Kaivan saling tatap dengan ekspresi wajah yang menghiba. Membayangkannya saja mereka sudah lelah duluan.


" Beneran sepuluh kali putaran, Pa?" lirih Kaivan.


" Iya, kau gendong Mama kamu lima kali. Nanti gantian sama Azzam lima kali berikutnya." ujar Papa Zaid.


" Semangat suamiku, adik iparku yang tampan." seru Zahra.


Tak hanya Zahra dan Rama, disana juga telah berkumpul semua pelayan yang memberikan semangat untuk Azzam dan Kaivan.


" Pasrah aja, Mas. Mudah - mudahan kita masih diberi umur panjang." lirih Kaivan.


" Sayang, peluk dulu dong." rengek Azzam.


" Nanti kalau sudah selesai!" sahut Zahra sambil tersenyum.


Melihat raut wajah Azzam sendu, Zahra merasa tidak tega. Dia memberikan kecupan di kening dan kedua pipi sang suami dengan lembut.


" Semangat, sayangku." bisik Zahra.


" Terima kasih, istriku. Ini semua demi anak kita." sahut Azzam tersenyum.


" Cepat! Kalian kebanyakan drama." seru Mama Rahma.


Azzam dan Kaivan sudah siap membungkukkan badannya di depan kedua orangtuanya. Dengan helaan nafas yang panjang, mereka berdua bersiap untuk berkeliling rumah utama.


" Yakin kau kuat gendong Mama, Kai?" tanya Mama Rahma.


" Kuat, Ma. Kaivan ini sudah sering olahraga, jadi Mama tidak perlu khawatir." jawab Kaivan mantap.


Azzam mengatur nafasnya sebelum mengangkat tubuh ayahnya. Walaupun berat badan mereka hampir sama, namun Azzam mampu untuk menggendong ayahnya. Pengalaman kerja di sawah beberapa tahun ini ternyata membuat tubuhnya semakin kuat tanpa disadari.


" Ayah pegangan yang kuat, nanti jatuh." ucap Azzam.


" Kau meremehkanku, bocah?" sahut papa Zaid.


Zahra mulai menghitung mundur sebagai tanda bahwa permainan segera dimulai. Rama tampak kegirangan melihat ayahnya menggendong sang kakek.

__ADS_1


" Semangat Ayah, Om Kai...!" teriak Rama.


Baru dua putaran saja Kaivan sudah terengah - engah. Nafasnya memburu tak beraturan, jantungnya berdetak lebih cepat. Berbeda dengan Azzam yang masih bisa tersenyum pada istrinya.


Pada putaran kelima, Kaivan tersungkur ke tanah setelah menurunkan sang ibu dari punggungnya. Nafasnya seakan sudah berhenti saat ia hampir menutup matanya.


" Hei... Ini baru setengah permainan!" seru Papa Zaid.


" Kai udah nggak kuat, Pa. Papa bisa kasih hukuman yang lain aja," rengek Kaivan.


" Udah, Pa. Kasihan mereka," bujuk Mama Rahma.


Azzam bersandar di pangkuan istrinya dengan manja. Walaupun tenaganya masih stabil, namun ia juga berharap jika sang ayah akan berhenti mengerjainya. Azzam hanya tidak tega dengan Kaivan yang sudah kehabisan tenaga.


" Makanya sering olahraga, jangan kebanyakan tidur kalau libur." ledek Papa Zaid.


" Ma_..." rengek Kaivan.


" Anak mama manja banget..." ledek Bima yang berdiri di belakang para pelayan.


Tak hanya Bima, disana ada Deni dan juga Jefri. Entah apa yang mereka lakukan, semuanya berkumpul di kediaman Al Farizy.


" Ish... Tamu tak diundang!" desis Kaivan.


" Kalian bawa pesananku?" tanya Zahra.


" Ya..." jawab ketiganya kompak.


Zahra memang yang meminta ketiga temannya itu untuk datang membawa makanan yang diinginkannya. Bima membawa ayam bakar, Jefri membawa martabak telur, lalu Deni membawa es kelapa muda.


" Terima kasih, semoga kalian cepat dapat jodoh." seru Zahra.


" Kau ini sebenarnya ngidam atau rakus?" cibir Jefri.


" Tunggu...! Kalian tahu Zahra hamil?" tanya Azzam.


" Tahu. Kemarin saja dia minta dikirimin makanan karena ngidam." ucap Deni.


" Sejak kapan?"


" Dua hari yang lalu."


" Dua hari? Dek_...?" Azzam menatap tajam istrinya.


" Maaf, ini permintaan Papa." lirih Zahra.


" Jadi... Semua orang membohongi kami?" teriak Kaivan.


Papa Zaid dan sang istri langsung kabur ke dalam rumah saat melihat Kaivan yang emosi. Mereka tidak ingin mendengar teriakan putra manjanya itu.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2