
" Ceritakan semua yang kamu ketahui tentang Darco." ucap Zahra tegas.
" Maksudnya...?" tanya Kaivan bingung.
Zahra menatap tajam Kaivan yang masih berpikir untuk mengungkap semua kejahatan Darco. Waktu mereka sudah tidak banyak lagi sekarang.
" Kai... kau tahu Darco itu mafia kejam. Dia menjalani berbagai jenis bisnis gelap. Kau tidak boleh lemah karena dia itu masih keluargamu." sentak Zahra.
" Kak Za_..." ucap Kaivan lirih.
Saat akan melanjutkan kata yang sulit keluar dari mulutnya, tiba - tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
" Kaivaaannn...!" teriak Nyonya Nella.
" Mamiii...?" ucap Kaivan terkejut.
Zahra yang ikut terkejut langsung berdiri dan sedikit menjauh dari Kaivan. Dia hanya berharap Nella tidak mendengar obrolan mereka barusan.
" Kenapa pelayanmu ini ada dikamarmu malam - malam begini!" bentak Nella.
" Apa sih, Mi. Rara hanya mau menyiapkan air untuk mandi dan pakaian tidur saja." sahut Kaivan datar.
" Jangan macam - macam kamu, Kai! Kamu pikir Mami tidak tahu kedekatan kamu dengan wanita murahan ini."
" Mi...! Rara bukan wanita murahan!" sentak Kaivan kesal.
" Jangan naif kamu, Kai. Dia itu belum ada satu minggu bekerja disini sudah minta ponsel baru sama kamu. Besok - besok ia pasti akan meminta barang yang lebih mahal dari itu. Kau ini gampang sekali dimanfaatkan wanita murahan seperti dia!"
" Cukup, Mi! Jangan pernah ikut campur urusan Kai. Keluar dari sini!" teriak Kaivan marah.
Zahra menatap iba pada adik iparnya. Tekanan batin yang dipendam selama ini hampir meledak di hadapan ibunya. Zahra hanya takut Kaivan sampai bicara diluar kendali.
" Tuan... tenanglah, jangan terbawa emosi. Nyonya hanya khawatir pada Anda." bujuk Zahra.
" Kau...! Jangan pernah macam - macam denganku atau nyawamu akan melayang dengan cara yang mengenaskan!" tunjuk Nella pada Zahra.
Zahra tak menanggapi ancaman Nella, ia lebih mengkhawatirkan keadaan Kaivan yang kembali tertekan. Untuk pertama kalinya ia menggenggam erat tangan Kaivan supaya pria itu dapat mengontrol emosinya.
Nella keluar dari kamar Kaivan dengan membanting pintu cukup keras. Suasana hatinya juga cukup buruk karena transaksi ilegal yang ia jalankan kemarin gagal.
.
.
Azzam sedang bersandar di sofa ruang tamu setelah menidurkan Rama. Dia berpikir keras untuk segera menyelesaikan masalah ini agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
" Zam... ada apa...?" Rayyan menepuk bahu Azzam pelan.
" Persiapkan semuanya, kita lakukan penyerangan secepatnya Ray!"perintah Azzam.
" Jangan gegabah, Zam. Markas yang kemarin itu bukan pusatnya. Kita harus memaksa Kaivan untuk buka mulut tentang Darco."
" Zahra ada disana, Ray. Aku takut dia ketahuan telah menyamar."
__ADS_1
" Kau tenang saja, ada Bima juga disana."
Azzam masih tidak percaya bahwa istrinya itu adalah Anggota Tiger White. Semua orang tahu seperti apa kemampuan trik dan bela dirinya. Istrinya yang setiap hari hanya bekerja sebagai guru honorer di desa itu tak nampak seperti wanita tangguh.
Zahra di rumah adalah wanita yang lemah lembut dan terkesan sedikit manja. Bahkan di suatu hari saat sedang memasak, tak sengaja terkena pisau. Darah yang keluar tak sampai lima tetes, namun tangisannya bisa sampai satu jam tak berhenti.
" Besok malam kita serang markas Darco. Pasti Nella akan datang kesana setelah itu dan kita bisa masuk ke dalam rumah."
" Apa kau yakin rencana itu berhasil? Kurasa itu hanya markas bayangan saja."
" Pasti Kaivan tahu dimana markas Darco."
" Sudahlah, kita tunggu Zahra dan Bima memberi informasi yang akurat. Sebaiknya kau temani anakmu tidur." ujar Rayyan seraya berjalan menuju kamarnya.
.
.
Pagi hari seperti biasa, Zahra membangunkan Kaivan pukul lima pagi. Dengan tegas ia memaksa Kaivan untuk segera sholat shubuh.
" Ya Allah, Kak... bisa pelan nggak sih suaranya! Pantas saja dari awal bawel banget, pasti karena kakak tahu aku ini adiknya Mas Azzam." keluh Kaivan.
" Harusnya aku bangunin kamu setengah jam yang lalu biar ikut jama'ah di masjid."
" Bisa ya, Mas Azzam punya istri bawel begitu." gumam Kaivan yang langsung mendapat pukulan guling yang cukup keras.
" Ini baru aku pukul pakai bantal, besok - besok pistol yang akan meledakkan kepalamu!" ancam Zahra.
" Tidak semua yang kamu lihat itu benar, tetaplah waspada walaupun itu dengan orang yang paling dekat sekalipun."
" Iya kakak iparku yang cantik."
Zahra menyiapkan pakaian kerja Kaivan lalu keluar kamar untuk membuat sarapan. Dia harus lebih waspada terhadap Nella sekarang. Sepertinya wanita paruh baya itu sangat membencinya.
Jam enam pagi, semua sudah berkumpul di meja makan. Tepatnya Kaivan, Nella dan Tuan Zaid. Zahra sudah menyiapkan masakannya di meja makan.
" Rara... hari ini kau tidak usah mengantar makanan ke kantor Kaivan. Tugasmu membersihkan paviliun dengan Sita dan mengurus orang yang tinggal disana. Jangan keluar dari rumah tanpa seijinku!" perintah Nella.
Zahra menatap Kaivan dan Tuan Zaid sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
" Baik, Nyonya." jawab Zahra singkat.
" Mi... Rara itu pelayan Kaivan. Kenapa harus bekerja di paviliun?" tolak Kaivan.
" Pelayan yang satunya lagi pulang kampung semalam, Mami belum cari penggantinya. Kamu bisa makan siang diluar tidak perlu diantarkan bekal segala." sinis Nella.
" Tuan jangan khawatir, nanti sopir baru Tuan bisa mengambil makan siang di rumah. Saya akan tetap memasak untuk Tuan Kaivan." ucap Zahra pelan.
" Sudahlah, Kai. Rara akan tetap menjadi pelayanmu, dia hanya membantu di paviliun sampai pelayan yang biasanya kembali." ujar Tuan Zaid.
Setelah sedikit berdebat, akhirnya Kaivan mengalah dan membiarkan Zahra bekerja di paviliun. Usai sarapan, Kaivan menyuruh Zahra untuk mengambilkan ponselnya di kamar.
" Astaga... berkasku ketinggalan lagi di kamar." gumam Kaivan namun terdengar sampai ke pendengaran orangtuanya.
__ADS_1
" Kenapa tadi tidak suruh Rara sekalian ambil, Kai?" tanya Tuan Zaid.
" Kai lupa, Pa. Tidak apa - apa, Kai ambil sendiri saja." sahut Kaivan lalu sedikit berlari ke lantai atas.
Sampai diatas, Kaivan melihat Zahra mondar - mandir di kamarnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
" Cari apa, Kak?" tanya Kaivan.
" Ponsel kamu, Kai. Katanya ketinggalan di kamsr, aku cari dari tadi belum ketemu." sahut Zahra.
" Tidak usah dicari, nih ada di saku jas aku."
" Hah...! Kau mau mengerjaiku?"
" Bukan begitu kakak ipar, ada yang mau aku bicarakan denganmu."
" Ada apa...?"
" Sekarang kakak bebas ke paviliun, aku sengaja suruh Nina pulang kampung agar kamu bisa menggantikannya. Pergunakan waktu dengan baik untuk mencari celah dari para pengawal. Hari ini aku mau ketemu Mas Azzam untuk membahas ini, Semoga malam ini kita bisa beraksi."
" Baiklah, nanti suruh Sakti ambil makanan jam sebelas. Ada yang mau kubicarakan dengannya."
Setelah berbincang sebentar, Kaivan langsung keluar dari kamarnya. Terlihat sang ibu yang masih duduk di meja makan dengan wajah angkuhnya.
" Pa, berangkat bareng Kai saja. Kita satu kantor tapi tidak pernah berangkat kerja bareng." ajak Kaivan.
" Tumben, Kai...?" tanya Nella.
" Memangnya kenapa, Mi? Tidak ada yang salah dengan ajakan Kai, kan?"
" Sudah, jangan berdebat pagi - pagi begini. Papa ikut kamu, Kai." kata Tuan Zaid.
" Ok, Pa. Oh ya, Mi... sudah lama kita nggak ke rumah lama, Om Darco apa kabar?" pancing Kaivan.
" Ada angin apa kamu menanyakan Om Darco? Biasanya juga tidak pernah peduli, kan?" sahut Nella acuh.
" Beliau itu keluarga kita, Mi. Pengganti papi yang udah nggak ada. Apa salahnya Kai sesekali bertemu dengan beliau?"
" Dia jarang di rumah, kamu bisa membuat janji dulu sebelum bertemu."
" Ok, nanti Kai hubungi Om Darco untuk membuat janji."
Setelah berpamitan dengan sang ibu, Kaivan segera berangkat ke kantor bersama Tuan Zaid. Mereka menggunakan mobil milik Kaivan karena jika mobil Tuan Zaid pasti sudah terpasang alat penyadap di dalamnya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1