
Zahra duduk di samping putranya yang sudah terlelap. Sang suami sedang mengurus sawah yang rusak akibat ulah Jefri. Zahra juga sudah mendapatkan uang ganti rugi untuk biaya perawatan Agus dan Cahyo di rumah.
" Assalamu'alaikum, Bunda." Azzam masuk ke dalam rumah dengan keringat yang mengucur deras.
" Wa'alaikumsalam, udah pulang Mas?"
" Iya, belum sholat zuhur. Nanti habis Ashar balik lagi ke sawah."
" Mau makan dulu atau mandi...?"
" Mandi dulu saja, Dek. Udah ketinggalan waktu sholat."
" Duduk saja dulu di depan kipas biar keringatnya hilang baru mandi."
" Iya, Dek. Rama tidur...?"
" Iya, tadi habis disuapi langsung tidur."
Zahra mengikuti langkah suaminya yang berpindah tempat duduk di depan kipas agar keringatnya cepat menghilang.
" Kenapa sih, Dek? Dari tadi ngikutin Mas terus, minta jatah?" goda Azzam.
" Hhh... Itu aja yang ada di pikiran kamu, Mas!" sungut Zahra.
" Hahahaa... Cuma bercanda, sayang. Tapi kalau minta beneran juga Mas kasih kok, apapun yang kamu mau pasti Mas berikan."
" Yakin...?"
" Apa selama ini Mas pernah menolak keinginanmu?"
Zahra menatap wajah lelah suaminya. Kulitnya yang putih terlihat kemerahan karena terpapar teriknya sinar matahari.
" Mas jadi ke Bali...?"
" Jadi, Dek. Kenapa...? Kamu tidak mau ikut, ya?"
" Rama gimana?"
" Diajak saja, tidak apa - apa kalau Adek mau ikut."
" Sebenarnya Kaivan minta supaya kita ke Jakarta, Mas."
" Mas tidak mungkin membatalkan acara ini, Dek."
Zahra menggenggam tangan suaminya dengan tatapan sendu. Zahra tahu suaminya itu sangat merindukan ibunya, hanya saja Azzam tak ingin jauh dari anak istrinya.
" Kita tetap berangkat ke Bali, Mas. Hanya saja, Kaivan minta agar Rama ditinggal di Jakarta saja biar lebih dekat dengan kakek dan neneknya."
" Tapi, Dek_..."
" Kita berangkat jum'at sore. Bisa menginap dulu di rumah Papa sebelum ke Bali."
" Baiklah, semoga Rama tidak rewel sama Kaivan."
" Ya udah, mandi dulu sana. Adek siapin makanan dulu sambil nunggu Mas selesai mandi dan sholat."
" Nggak ikut, Dek?"
" Kemana...?"
" Mandi, sudah lama kita tidak mandi bareng."
__ADS_1
" Jangan aneh - aneh kamu, Mas!"
Zahra menjauhkan tubuhnya dari sang suami yang selalu menjahilinya itu. Dia segera berlari ke dapur untuk menyiapkan makanan sebelum sang suami benar - benar menariknya ke kamar mandi.
.
.
Hari jum'at seperti yang sudah di sepakati keduanya, sore ini Azzam beserta anak istrinya diantar Rayyan ke Bandara. Rayyan akan menyusul sabtu sore langsung ke Bali karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
" Dek, Kaivan benar - benar bisa jaga Rama, kan?" tanya Azzam saat mereka berada di dalam pesawat.
" Insya Allah bisa, Mas. Biar Mama dan Papa juga lebih dekat dengan cucunya. Rama tidak pernah dekat dengan kakek dan neneknya sejak lahir."
" Terima kasih, sayang. Kamu sudah bersedia menerima keluargaku."
" Memangnya sejak kapan aku tidak menerima keluargamu?"
" Mmm_..."
" Sudahlah, Adek mau tidur. Jagain Rama, jangan sampai dia rewel."
" Iya, sayang. Tidurlah dengan nyaman, nanti Mas bangunin kalau sudah sampai."
Zahra merebahkan kepalanya di bahu sang suami seraya mengusap pipi anaknya dengan lembut. Rama yang tidak mau tidur, meronta pengen melihat pemandangan diluar pesawat.
" Dek, tidurnya pindah sebentar. Rama pengen berdiri di dekat jendela." bisik Azzam.
" Hmm... Nggak mau," lirih Zahra.
" Sayang... Cuma sebentar, kalau Rama nangis repot nanti." bujuk Azzam.
" Iya... Iya! Tapi nanti di rumah Rama tidurnya sama Kaivan. Mas tidak boleh jauh dari Adek."
Azzam mengusap lembut kepala istrinya terbalut hijab berwarna hitam yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Rama berceloteh entah apa yang dia bicarakan saat melihat pemandangan diluar pesawat. Azzam hanya bisa tersenyum melihat anaknya yang tampak bahagia itu.
Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari satu jam itu akhirnya membuat Zahra harus terbangun dari tidurnya. Pesawat akan mendarat sebentar lagi sehingga semua penumpang harus memasang sabuk pengamannya.
" Bisa pasang sendiri, sayang?" tanya Azzam.
" Bisa, Mas." jawab Zahra singkat.
Setelah pesawat mendarat, Azzam segera mengajak anak dan istrinya keluar dari Bandara untuk mencari taksi.
" Mas Azzam...!"
Azzam dan Zahra melihat sekitar untuk mencari sumber suara. Mereka menoleh ke belakang dan mendapati Kaivan yang melambaikan tangannya.
" Ayah, Om...!" teriak Rama.
" Oh iya, itu Om Kaivan." sahut Azzam.
" Ayo pulang, Papa dan Mama udah nungguin di rumah." ucap Kaivan.
" Kau tahu kami sampai jam segini, Kai?" tanya Azzam.
" Kakak ipar tadi minta jemput." jawab Kaivan.
Zahra cuma nyengir sambil bergelayut manja di lengan suaminya. Dia juga menyerahkan tas ransel yang berisi pakaian miliknya dan Rama kepada Kaivan. Azzam tak membawa baju ganti karena di rumahnya bajunya sangat banyak.
__ADS_1
" Sekarang ini dunia sudah terbalik. Kemarin aku jadi majikan, sekarang jadi pembantu." gerutu Kaivan.
" Bukan pembantu, Kai. Tapi tanda bakti seorang adik kepada kakaknya." sahut Zahra.
Mereka pulang ke rumah keluarga Al Farizy dengan sambutan yang sangat meriah. Ternyata Kaivan mengundang seluruh keluarga besar Al Farizy untuk menyambut kedatangan menantu dan cucu dari Tuan Zaid Al Farizy.
" Selamat datang, Zahra..." lirih Tuan Zaid seraya mengusap lembut puncak kepala Zahra.
Tak hanya Zahra, Azzam juga terkejut karena ternyata ada acara di rumah dan Kaivan tidak memberitahunya.
" Papa_..." lirih Zahra.
" Sini, Nak..." ucap Mama Rahma dengan senyum hangat.
Zahra mendekati ibu mertuanya dan berlutut di hadapannya karena beliau duduk di kursi roda. Mama Rahma memeluk erat menantunya dengan tulus penuh kasih sayang.
" Sudah dua kali kau menolong Mama, sekarang kau juga sudah memenuhi janjimu untuk membawa Azzam pulang. Mama ingin minta satu lagi permintaan padamu." ucap Mama Rahma.
" Apa yang Mama inginkan? Seandainya Zahra mampu, pasti Zahra akan berikan."
" Benarkah itu, Nak?"
" Insya Allah, Ma."
" Hanya satu permintaan Mama, pulanglah ke rumah ini. Sekarang rumah ini adalah milikmu juga. Kamu adalah keluarga di rumah ini, Mama mohon jangan pergi lagi."
" Iya, Ma. Zahra pasti akan pulang kesini," ucap Zahra pelan.
Mama Rahma kembali memeluk menantunya dengan airmata yang mengalir deras. Rasa bahagia dalam hatinya terpancar di wajahnya.
" Azzam... Kau tidak mau memeluk Mama?" ujar Mama Rahma menatap Azzam yang sedari tadi diam.
" Mmm... Sebenarnya ini ada acara apa, Ma?" lirih Azzam.
" Hanya mengumpulkan keluarga besar kita untuk menyambut keluarga baru di rumah ini. Mama harap kamu tidak keberatan jika Mama dan Papa ingin memperkenalkan istrimu pada saudara - saudara kita."
" Azzam tidak keberatan, Ma. Tapi Zahra gimana? Azzam takut Zahra merasa canggung dengan acara yang mendadak ini."
Mama Rahma menatap Zahra dengan wajah yang dibuat sendu dan menghiba. Dia berharap menantunya itu tidak keberatan dengan sambutan kedatangannya malam ini.
" Asalkan Mama dan Papa bahagia, Zahra tidak akan keberatan." ucap Zahra dengan senyum tulus.
" Terima kasih, sayang. Mama memang tidak salah menyuruh Azzam untuk menikahimu." ujar Mama Rahma.
" Mama_...!" tegur Azzam.
" Tidak apa - apa, Zahra sudah tahu kok kalau kamu sudah pernah melihatnya saat menolong Mama di Jogja waktu itu."
Azzam tersenyum malu pada istrinya yang seakan tak mau menatapnya. Ternyata selama ini Zahra sudah tahu jika kejadian wisuda waktu itu adalah ulahnya.
" Azzam... Kamu sapa para tamu dan perkenalkan anak istrimu pada mereka." ujar Tuan Zaid.
" Iya, Pa. Ayo sayang, Rama dimana?"
Zahra dan Azzam tidak menyadari bahwa Rama sedari masuk ke dalam rumah tadi tidak ada bersama mereka. Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan melihat Kaivan berkeliling memperkenalkan Rama pada keluarga besar Al Farizy.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.