
Zahra dan Azzam sudah sampai di Jakarta, tepatnya di kediaman Al Farizy. Zahra langsung memeluk dan mencium putranya yang sedang bermain dengan Kaivan di ruang tamu.
" Kalian itu kalau niatnya liburan ajakin Rama, jangan senang - senang berdua saja." omel Kaivan.
" Jangan sembarangan kalau ngomong! Kemarin yang maksa supaya Rama ditinggal disini sispa?" seru Azzam.
" Mas Azzam, Kaivan...! Bisa nggak semenit aja kalian akur!" tegur Zahra dengan menatap mereka tajam.
" Kai mau pergi dulu, Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam, hati - hati di jalan, Kai." ucap Zahra.
Zahra segera mengajak Rama ke kamar diikuti Azzam. Rama yang sangat merindukan orangtuanya tak mau lepas dari gendongan sang Bunda.
" Sayangnya Bunda turun dulu, ya? Bunda belum cuci tangan." ucap Zahra lembut.
" Bundaaa...!" rengek Rama.
" Cuma sebentar, sayang. Sama Ayah dulu, ya?"
" Rama sama Bunda,"
" Iya, sayang." Zahra mengalah seraya meminta tissu basah pada suaminya untuk mengelap tangannya.
Azzam mengelap kedua tangan istrinya lalu ikut duduk di sampingnya seraya mengusap kepala anaknya dengan lembut.
" Sepertinya Rama hanya merindukan Bunda saja," gumam Azzam.
" Ayah jangan bicara begitu," tegur Zahra.
" Dari tadi nggak mau ikut sama Ayah, nempel terus sama Bunda."
" Terus apa bedanya sama Ayah?"
" Maksud Bunda apa?"
Zahra tersenyum melihat raut wajah sang suami yang bingung dengan ucapannya. Diusapnya lengan sang suami yang memeluknya dari samping.
" Ayah juga nempel terus sama Bunda,"
" Kalau itu harus, tidak boleh terpisahkan."
Azzam merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Lelah setelah perjalanan dari Bali membuatnya mengantuk.
" Sayang, Mas mau tidur sebentar. Nanti bangunin jam sebelas ya? Mas ada meeting jam satu di kantor Papa." ujar Azzam.
" Cayaannggg..." celoteh Rama menirukan ayahnya.
" Ya Allah, anak Bunda ikut - ikutan Ayah, ya?" Zahra menarik hidung mungil putranya.
" Semakin pintar saja anak ayah ini kalau bicara."
Azzam menarik tubuh istrinya hingga jatuh disampingnya bersama sang putra. Azzam langsung memeluk keduanya hingga Rama memekik karena merasa sesak.
" Ayah, kebiasaan deh!" tegur Zahra.
" Ini namanya melepas rasa rindu. Ayah pengen peluk putra Ayah ini seerat mungkin."
" Melepas rasa rindu sama anak bukan begitu caranya."
" Benar juga, kalau seperti ini kayak melepas rasa rindu sama Bunda." Azzam tersenyum jahil.
" Katanya mau tidur? Zahra mau ketemu Mama dulu."
__ADS_1
" Jangan lama - lama,"
" Apaan sih, Mas! Jangan lebay,"
Zahra beranjak dari tempat tidur sambil menggendong putranya keluar dari kamar. Canggung juga sebenarnya saat bertemu dengan para pelayan yang dulu pernah jadi rekan kerjanya.
" Nina... Sita...!" sapa Zahra saat mereka berpapasan di ruang tamu.
" Nona,..." Nina dan Sita sedikit membungkukkan badan memberi hormat.
" Jangan seperti itu padaku, kita pernah jadi teman kerja di rumah ini." Zahra tersenyum lebar.
" Maaf, kami tidak tahu kalau Nona_..."
" Tidak perlu dibahas lagi, saya yang minta maaf karena sudah berbohong pada kalian."
" Nona Rara_..." Nina tampak ragu untuk bicara.
" Ada apa, Nin? Katakan saja tidak usah canggung begitu padaku."
" Mmm... Apa Mas Sakti juga bukan sopir beneran?"
" Hehehee... Sudah, lupakan dia. Dia boss saya di tempat kerja. Dia juga bukan pria yang baik untuk gadis secantik kamu."
" Saya hanya bertanya, Nona."
" Sudahlah, saya mau bertemu Mama dulu. Apa beliau ada di dalam kamar?"
Nina dan Sita menggeleng pelan lalu menunjuk ke arah depan. Sudah menjadi kebiasaan Nyonya Rahma, setiap hari menghabiskan waktu fi taman depan rumah.
" Nyonya di taman depan, biasa menunggu Tuan Besar dan Tuan Muda Kaivan pulang makan siang."
" Bukannya Kaivan ke Bandung? Tadi Mas Azzam juga bilang kalau nanti ada meeting penting di kantor dengan Papa. Apa Mama tidak diberitahu?"
" Ya sudah, aya ke depan dulu."
Zahra menghampiri ibu mertuanya yang duduk di kursi roda di bawah pohon sambil membaca buku. Memang dari yang Zahra amati, keluarga suaminya memang hobby membaca.
" Assalamu'alaikum, Ma."
" Wa'alaikumsalam, Zahra. Kamu baru sampai kenapa tidak istirahat?"
" Zahra tidak lelah, Ma. Rama juga bosan di kamar terus."
" Sini cucu nenek duduk sama nenek."
Mama Rahma meminta Zahra untuk meletakkan Rama di pangkuannya. Anak kecil itu anteng banget dan terkesan sangat nyaman berada di pangkuan neneknya.
" Nenek bisa lari?" tanya Rama tiba - tiba.
" Bisa, dong. Nanti kalau nenek sudah tidak sakit lagi, kita main lari - larian." ujar mama Rahma.
" Maaf ya, Ma... Zahra udah merepotkan Mama dengan menitipkan Rama disini."
" Mama justru senang jika kalian mau menetap di rumah ini, Za."
" Zahra belum tahu, Ma. Pekerjaan Mas Azzam semuanya di Jogja. Tapi mama jangan khawatir, nanti Zahra pasti akan sering mengunjungi Mama."
" Mama tahu kalian punya kehidupan sendiri, tak seharusnya Mama meminta ini pada kalian."
" Ma, jangan bicara begitu. Zahra janji akan sering mengunjungi Mama dan Papa. Zahra bahagia bisa diterima di rumah ini."
Zahra memeluk Mama Rahma dari belakang seraya menitikkan airmatanya. Seketika dia merindukan sosok ibu yang telah lama tiada.
__ADS_1
" Kamu menangis, Za?"
" Tidak, Ma. Zahra hanya merindukan ibu yang sudah lama pergi."
" Aku ini juga ibumu, jika kamu merindukannya... Melepas rasa rindu adalah dengan bertemu Mama."
" Terima kasih, Ma. Zahra sangat bahagia memiliki orangtua lagi sekarang."
Rama yang berada dalam pangkuan neneknya segera turun dan berlari untuk bermain sendiri di rerumputan.
" Dalam rangka apa ini pakai acara peluk - pelukan?" Azzam yang baru datang heran dengan tingkah menantu dan mertua itu.
" Apaaa? Jangan ikut - ikutan urusan perempuan." sahut mama Rahma.
" Huhh... Mending main sama Rama daripada pusing mikirin urusan perempuan." gerutu Azzam.
" Bukannya tadi Mas bilang mau tidur?"
" Gimana mau tidur kalau gulingnya aja ngilang."
" Masss...!" tegur Zahra malu pada ibu mertuanya.
Azzam menggendong Rama karena anak itu bermain di tempat yang panas. Diusapnya keringat yang mengalir di dahi sang putra.
" Anak Ayah suka nggak tinggal di rumah Nenek?"
" Suka, Om Kai selalu ajak Rama main."
" Oh, ya? Apalagi yang Rama suka...?"
" Kakek kasih mainan banyak banget. Nenek kasih kue yang manis."
Azzam sangat gemas dengan tingkah putranya yang semakin pintar berbicara. Baru dua hari ditinggal saja sudah lebih aktif dalam berinteraksi dengan orang lain.
" Anak Ayah pintar banget, sih?"
" Rama pengen main di sawah,"
" Iya, besok pagi ya sayang."
Azzam mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah karena matahari yang semakin tinggi membuat tubuh mereka kepanasan.
" Sayang, Mas ke kantor dulu ya? Udah jam sebelas takutnya nanti jalanan macet." ujar Azzam setelah selesai mandi.
" Nggak makan dulu, Mas?"
" Nggak sempat, Yang. Nanti saja sama Papa di kantor."
" Kalau begitu bawa bekal aja untuk makan bareng sama Papa dan Deni. Dulu juga Zahra sering mengantar makanan untuk Kaivan dan Deni."
" Ya udah, tapi kamu juga jangan lupa makan. Kita balik ke Jogja nanti sore."
" Iya, Mas."
Zahra memasukkan tiga bekal makanan ke dalam paper bag lalu dimasukkan ke dalam mobil yang akan dipakai suaminya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.