Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Masa lalu Nella


__ADS_3

Bima menempati kamar barunya bersama satu orang sopir lainnya bernama pak Herman. Setelah saling berkenalan, pak Herman tidur lebih dulu. Bima membuka laptopnya untuk mengecek cctv yang di pasang oleh Zahra.


" Di ruang tengah tidak ada apa - apa. Zahra pasang dimana lagi ya?" gumam Bima.


Bima menggeser layar dan mengamati arah jalan ke paviliun. Tampak beberapa pengawal berdiri di depan pintu. Di sisi yang lain, Bima melihat sosok pria yang berdiri dalam kegelapan. Dilihat dari postur tubuhnya, sudah bisa ditebak bahwa itu adalah Tuan Zaid.


Bima mengendap - endap keluar dari kamar untuk menghampiri Tuan Zaid. Dia hanya penasaran kenapa pria paruh baya itu ada disana malam - malam begini.


" Tuan Zaid..." bisik Bima.


" Hah...! Kau siapa?" sahut Tuan Zaid kaget.


" Tuan tenang saja, saya sopir pribadinya Tuan Muda Kaivan."


" Kenapa kau ada disini?"


" Maaf, Tuan. Saya pikir Anda membutuhkan sesuatu jadi saya berfikir untuk menghampiri."


" Saya tidak butuh apapun, pergilah!"


" Apa Tuan ingin masuk ke paviliun?"


" Apa maksudmu?" Tuan Zaid memicingkan matanya.


Bima melihat kegugupan di wajah Tuan Zaid. Sepertinya ayahnya Azzam ini ingin sekali masuk ke paviliun.


" Apa Tuan butuh bantuan untuk masuk kesana? Tapi harusnya Tuan bebas kemanapun karena ini rumah Tuan Zaid."


" Kau masih baru disini, bagaimana kau tahu?"


" Saya bekerja disini karena Tuan Deni. Beliau yang merekomendasikan saya menjadi sopir pribadi Tuan Kaivan."


" Saya tidak percaya dengan siapapun."


" Saya mengerti, Tuan. Permisi, saya mau kembali ke kamar dulu." pamit Bima.

__ADS_1


Tuan Zaid tidak menjawab. Dia masih menatap pintu paviliun yang dijaga sangat ketat. Terlihat kesedihan di sorot matanya. Beban perasaan yang seakan meremukkan seluruh tubuhnya membuatnya semakin hari semakin frustasi. Hanya satu harapannya, Azzam segera kembali dan menyelamatkannya dari kekejaman Nella dan Darco.


.


.


Hari ini Nella pergi ke Markas kakaknya, Darco. Dia melampiaskan kekesalannya karena kemarin transaksi obat - obatan terlarang itu gagal. Baru kali ini ada kebocoran informasi yang sampai ke tangan kepolisian.


" Nella... sudahlah! Barang - barang kita juga masih aman. Anak buah kita tidak ada yang selamat dalam penyergapan itu, jadi tidak akan ada yang buka mulut." ujar Darco santai.


" Sebelumnya tidak pernah ada penggerebekan seperti ini, Kak. Kita selalu bermain aman dalam setiap transaksi." kesal Nella.


" Mungkin hanya sebuah kebetulan saja, kau tenanglah! Sebaiknya kau percepat urusanmu dengan Zaid. Sudah tiga tahun tapi kau hanya seperti tikus yang menggerogoti sedikit demi sedikit." cibir Darco.


" Bagaimana aku bisa bergerak kalau Kaivan saja tidak mendukung rencanaku. Dasar anak tidak berguna! Disuruh hidup enak saja tidak mau." kesal Nella.


" Hahahaa... itu karena dia lebih mirip dengan bapaknya. Semua ini salahmu yang mengabaikannya sejak kecil dan membiarkannya dididik oleh pria pengecut itu."


Nella semakin kesal saja saat mengingat pria yang dulu jadi suaminya itu. Walaupun dia tampan dan mapan, namun kehidupan mereka tidak sejalan. Nella memilih mengikuti jejak kakaknya di dunia kelam dan kejam. Sedangkan sang suami, ia rela menjauh dari keluarganya asalkan Nella bersedia berubah.


Nyatanya, sebelas tahun pernikahan mereka malah membuat hubungan mereka semakin buruk. Seandainya tidak ada Kaivan dalam pernikahan mereka, mungkin suami Nella sudah pergi meninggalkannya.


" Harusnya kubunuh dia sejak Kaivan masih bayi!" geram Nella.


" Hahahaa... itu semua sudah masa lalu, adikku. Bukankah sekarang kau sudah mendapatkan pria idamanmu itu? Apalagi yang kau inginkan sekarang?"


" Aku sudah tidak menginginkannya lagi, aku hanya ingin Zaid dan keluarganya hancur. Bagaimana pencarianmu? Apakah Azzam sudah ditemukan?"


" Belum, mungkin saja dia bersembunyi diluar negeri. Kita tidak banyak akses diluar, sulit untuk menemukannya disana. Sudah kucoba di berbagai negara, namun hasilnya nihil."


" Selama dia belum dinyatakan mati, Kaivan tidak akan bisa menjadi pewaris kekayaan Al Farizy."


" Apa kau tidak ingin meminta warisan dari keluarga suamimu?"


Nella mendengus kesal. Tidak mungkin dia meminta warisan itu, sedangkan sang suami terbunuh di rumahnya. Kakeknya Kaivan adalah orang yang sangat kejam, tidak mungkin ia berurusan dengan mereka. Dirinya masih beruntung karena keluarga suaminya tidak tahu mengenai pembunuhan ayah Kaivan itu. Mereka hanya tahu bahwa rumah Nella diserang musuh Darco.

__ADS_1


" Tidak. Kalau mereka mengusut kasus kematiannya kita berdua bisa habis di tangan mereka."


.


.


Zahra membereskan kamar Kaivan dan Azzam bergantian. Dirinya sangat penasaran dengan senjata yang dimiliki suaminya itu. Zahra menurunkan beberapa buku tebal di rak. Disitu terdapat brankas kecil dengan kode yang sudah diberitahukan Azzam lewat pesan. Setelah brankas terbuka, disana ada tiga pistol yang bisa ditaksir harganya ratusan juta satu pistolnya.


" Wowww...! Ini sangat luar biasa. Bima tidak pernah memberikan pistol semahal ini saat bertugas." gumam Zahra.


Selain pistol itu, terdapat beberapa kertas yang tertata rapi. Namun saat hendak membukanya, terdengar langkah kaki semakin mendekat kearahnya.


" Hah...! Siapa yang berani naik keatas sini? Bukankah hanya Tuan Kaivan yang menempati lantai atas?" Zahra bergumam sambil mendekat kearah pintu.


Zahra mengunci pintu dengan sangat pelan. Tidak boleh ada satu orangpun yang tahu jika ia masuk ke kamar Azzam.


" Nyonya, kita tidak punya kunci kamar ini. Semuanya disimpan oleh Tuan Kaivan."


Terdengar suara orang sedang menelfon. Sepertinya itu adalah salah satu pelayan di rumah ini. Zahra tidak bisa mendengar dengan jelas suara itu karena sangat pelan.


Tak lama menunggu, derap langkah kaki itu mulai menjauh. Zahra segera keluar lalu masuk ke kamar Kaivan.


" Hah... untung saja tidak ketahuan aku masuk ke kamar Mas Azzam. Siapa ya dia? Apa yang akan dia lakukan di kamar Mas Azzam?" pikir Zahra.


Zahra segera turun ke lantai bawah untuk mengambil kamera mini yang ia simpan di kamarnya. Dia harus waspada terhadap semua orang di rumah ini.


Zahra akan memasang kamera di setiap sudut lantai atas. Kamar Azzam juga akan diawasi takut ada barang - barang yang mungkin diincar Nella.


Setelah semua pekerjaannya di lantai atas selesai, Zahra kembali ke bawah untuk membuat bekal makan siang untuk Tuannya. Kaivan setiap hari hanya meminta makanan sederhana yang mudah dimasak. Seperti hari ini, Kaivan minta dibawakan tumis jamur, udang goreng tepung sama sambal tomat.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2