Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Launching RAZ Resto


__ADS_3

Setelah menikmati waktu berdua di perbukitan yang dijadikan tempat wisata itu, Zahra mengajak suaminya untuk pulang selepas menatap indahnya sunset dari atas perbukitan.


Azzam memang tak mengijinkan istrinya untuk ikut membantu semua persiapan di Resto karena tak ingin kekasih halalnya itu lelah.


" Sayang, kita makan dulu sebelum pulang." titah Azzam.


" Memangnya disana tidak ada makanan, Mas?"


" Ada, tapi makannya setelah semua persiapan selesai. Mereka akan pulang setelah makan malam bersama."


" Yaudah, kita makan bareng mereka saja."


" Baiklah, kita langsung pulang kalau begitu."


Azzam menggenggam jemari istrinya sambil mengemudikan mobilnya. Hari ini ia begitu bahagia bisa menikmati waktu hanya berdua saja dengan sang istri.


" Mas, lepasin tanganku. Kamu lagi nyetir, jangan macam - macam!" tegur Zahra.


" Sayang, bisa nggak kita disini sampai satu minggu ke depan?" pinta Azzam.


" Ya Allah, Mas... Kamu tega ninggalin anak kita selama itu!"


" Bukan begitu, sayang. Kita kan belum pernah honeymoon semenjak menikah. Mau ya, sayang?"


" Tidak! Zahra tidak akan pergi honeymoon tanpa Rama."


" Sayang, Rama baik - baik saja dengan Papa dan Mama."


" Jangan egois, Mas!"


Azzam hanya bisa pasrah karena tak ingin membuat suasana semakin kacau. Saat Zahra sudah memakai nada tinggi dalam ucapannya, itu artinya dia sangat serius.


" Baiklah, terserah kamu saja." ucap Azzam pelan.


Selama perjalanan keduanya sama - sama diam. Azzam fokus dengan jalanan di depannya hingga mereka tiba di Resto.


" Boss, udah pulang? Kirain mau menginap di hotel." Gerry yang berada di depan pintu menyambut bossnya dengan semangat.


" Zahra lelah, kami mau mandi dulu." sahut Azzam datar.


" Kakak ipar_..." bisik Gerry yang mendapatkan gelengan kepala dari Zahra.


Zahra mengikuti langkah Azzam menuju lantai tiga. Pria yang biasanya selalu menampakkan senyum di hadapannya, kini seperti patung tanpa ekspresi.


" Mas marah sama aku?" tanya Zahra pelan.


" Mandi duluan sana!" titah Azzam datar.


Zahra memejamkan matanya untuk menahan perasaannya agar tidak timbul emosi dalam pikirannya. Dia langsung mengambil handuk dan pakaian ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Zahra menangis di bawah shower yang mengalir deras membasahi tubuhnya. Apakah ia salah jika memikirkan putranya sendiri? Ibu mana yang rela berjauhan dengan sang anak jika tidak ada sesuatu yang sangat penting.


Sementara Azzam yang sedang bekerja dengan laptopnya mulai cemas saat mendapati sang istri sudah lebih dari satu jam belum keluar dari kamar mandi.


" Zahra...! Mau sampai kapan kamu di dalam?" teriak Azzam.


Azzam beberapa kali mengetuk pintu,namun tak ada yang merespon dari dalam. Hanya suara gemericik air yang terdengar dari pendengaran Azzam. Pria itu segera mencari kunci cadangan di laci nakas.


" Astaghfirullah, Dek...! Apa yang kamu lakukan!" teriak Azzam kaget.


Azzam langsung mematikan shower dan buru - buru melepas pakaian istrinya yang basah. Dia mengambil handuk kering untuk membungkus tubuh istrinya.


" Apaan sih, Mas! Aku belum selesai mandi." gumam Zahra.

__ADS_1


Azzam diam saja lalu mendudukkan istrinya di tempat tidur. Dia mengambil pakaian ganti untuk Zahra dan memakaikannya.


" Tidurlah! Nanti Mas ambilkan makanan di bawah." ujar Azzam pelan.


" Maaf," lirih Zahra.


" Istirahatlah, Mas mau mandi dulu." Azzam mencium kening istrinya sekilas lalu beranjak ke kamar mandi.


.


.


Pukul sembilan malam, Gerry mengetuk pintu kamar Azzam untuk mengajaknya makan malam bersama. Dia tahu Boss dan istrinya itu belum makan karena ingin makan bersama dengan para pegawai.


" Ada apa, Ger?" tanya Azzam.


" Pekerjaan sudah selesai, Boss. Ayo makan malam di bawah." jawab Gerry.


" Suruh orang untuk bawa kesini saja, Zahra lelah."


" Ok, Boss."


Azzam kembali ke dalam kamar lalu mendekati istrinya yang tidur dengan lelap. Ingin membangunkannya namun tidak tega. Zahra bukan lelah fisik, namun pikirannya saat ini sedang tidak stabil.


Permintaan orangtuanya yang menginginkan agar Azzam beserta istri dan anaknya untuk menetap di Jakarta membuat Zahra tidak bisa tidur dengan nyaman saat tengah malam.


Setelah makanan datang, Azzam segera membangunkan istrinya karena terakhir makan adalah siang tadi. Azzam takut Zahra sakit karena tadi juga tubuhnya basah di kamar mandi lebih dari satu jam.


" Sayang, bangunlah! Kita makan dulu, yuk?" lirih Azzam seraya mengusap pelan pipi istrinya yang lembut.


" Mmm... Rama dimana, Mas?" gumam Zahra.


" Hei... Buka matamu, kita di Bali. Rama pasti sudah tidur sama Kaivan."


" Iya, sayang. Mas ambilkan kerudung kamu dulu."


Azzam beranjak menuju lemari pakaian mengambil kerudung istrinya. Hanya dirinya yang boleh melihat rambut indah milik Zahra. Setelah Zahra memakai kerudungnya dengan rapi, Azzam segera menghubungi nomor adik tirinya.


Azzam : " Assalamu'alaikum, Kai."


Kaivan : " Wa'alaikumsalam, Mas. Tumben nih kakak tampanku ini telfon jam segini."


Azzam : " Hanya ingin menanyakan putraku."


Zahra : " Kai, dimana Rama?"


Kaivan : " Kakak ipar, cantik banget malam ini."


Azzam : " KAI...!"


Kaivan : " Hahahaa... Jangan marah, Mas. Nih, Rama udah tidur dari tadi. Capek habis main di Mall tadi sore."


Zahra : " Rama tidak rewel kan, Kai? Terkadang dia suka minta susu kalau tengah malam."


Kaivan : " Jangan pikirkan soal Rama, Kak. Pikirkan saja soal proses adiknya Rama. Kata Mama, kalian harus pulang bawa kabar bahagia."


Zahra : " Ish... Besok juga udah pulang, Kai. Nggak sempat kayaknya mau proses."


Azzam : " Udah ya, Kai. Kami mau makan dulu. Assalamu'alaikum."


Kaivan : " Wa'alaikumsalam."


Azzam langsung menatap tajam istrinya. Dia tidak terima sang istri mengatakan tidak sempat untuk proses adiknya Rama.

__ADS_1


" Sayang...!" rengek Azzam.


" Apa sih, Mas?" sahut Zahra sambil tersenyum.


" Boleh, ya?"


" Apaaa...?"


" Sayang...! Jangan pura - pura tidak tahu."


Zahra tersenyum lalu memeluk suaminya dari belakang. Dia mencium pipi sang suami dengan cepat berkali - kali."


" Udah nggak marah lagi, kan?"


" Mas tidak marah sama kamu, Dek."


" Tadi marah,"


" Maaf, Mas tidak akan mengabaikan Adek lagi."


" Terima kasih, suamiku. Makan, yuk?"


" Tapi nanti_..."


" Makan dulu biar bisa begadang sampai pagi." bisik Zahra.


Azzam tersenyum lebar lalu membopong tubuh istrinya menuju sofa seraya menautkan bibir mereka. Azzam sudah tidak sabar untuk proses adiknya Rama.


.


.


Pagi hari pukul tujuh, semua pegawai sudah berkumpul terutama chef yang bertugas membuat menu makanan yang akan disajikan untuk para tamu nanti. Yang lain juga ikut membantu supaya lebih cepat selesai. Mereka hanya memiliki waktu tiga jam untuk memasak dan persiapan diluar.


" Mas, Zahra boleh cek ke dapur?" pinta Zahra.


" Boleh, sayang. Tapi jangan terlalu lelah, Mas pengen benih semalam berkembang dengan baik disini." bisik Azzam seraya memeluk perut rata istrinya.


" Ish... Jangan sembarangan kalau ngomong!" lirih Zahra kesal.


Azzam membiarkan istrinya membantu pegawai di dapur. Kalau dilarang, sudah pasti nggak ada jatah malam ini.


Tepat pukul sepuluh pagi, banyak tamu undangan yang hadir disana. Azzam merangkul pinggang istrinya seraya memperkenalkannya pada para rekan bisnisnya.


" Selamat, Tuan Azzam. Tempat ini sangat bagus dan nyaman."


" Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang, Tuan. Saya tahu Anda orang yang sangat sibuk."


" Tidak masalah, sekalian ajak anak - anak liburan,"


Setelah acara sambutan dan pengenalan menu - menu special yang nampak di layar kaca, semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia di meja prasmanan.


Nama 'RAZ Resto' terpampang di atas pintu masuk dengan gambar berbagai macam makanan special.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2