Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Gosip para guru


__ADS_3

Zahra masuk ke dalam ruang kelas satu. Semua murid sudah duduk rapi di bangku masing - masing. Setelah mengucap salam dan absen semua murid, Zahra memulai pelajaran berhitung.


Zahra sangat sabar mengajari anak - anak yang belum fasih membaca dan menulis itu. Bagi Zahra, mengajar di kelas satu itu suatu tantangan terbesar karena menguji kesabaran dan ketelatenan.


" Bu Zahraaa...!"


Seorang guru sedikit berteriak memanggil Zahra yang baru keluar dari kelas.


" Pak Harso...? Ada apa...?" tanya Zahra.


" Maaf, Bu... Apa Anda sudah dengar gosip para guru?"


" Gosip apa, Pak? Saya belum masuk ruang guru dari tadi."


" Maaf sebelumnya, banyak yang membicarakan kedekatan bu Zahra dan pak Rayyan."


" Astaghfirullah... kok bisa, Pak? Memang tadi pagi saya berangkat bareng pak Rayyan karena motor saya mogok. Kebetulan beliau tinggal di depan rumah saya."


" Saya pribadi percaya dengan ucapan bu Zahra. Tapi untuk yang lain saya tidak yakin, apalagi di desa seperti ini hanya gosip saja sebagai hiburan mereka."


Zahra dan pak Harso jalan bersisian menuju ruang guru karena sekarang jam istirahat. Saat masuk ke ruangan itu, Zahra melihat Rayyan duduk di meja sampingnya.


" Za, jangan pikirkan omongan orang lain. Tetaplah bersikap seperti biasanya." bisik Rayyan.


" Iya, Pak." jawab Zahra singkat.


Tampak beberapa guru berbisik - bisik membicarakan Zahra dan Rayyan. Ada nada sinis dalam ucapan mereka yang menuduh Zahra telah menggoda Rayyan.


" Aku pikir dia perempuan baik - baik, ternyata suka main belakang juga." ucap salah satu guru.


" Iya, padahal suaminya itu tampan dan pekerja keras. Jadi perempuan tidak bersyukur sama sekali." sahut yang lain.


Mira yang melihat wajah sendu Zahra langsung berdiri dan mengajak temannya itu untuk keluar dari sana. Dia sudah tak tahan dengan mulut nyinyir rekan guru yang sepertinya tidak pernah diajarkan tata krama.


" Ibu Almira yang cantik... kita mau kemana...?" lirih Zahra.


" Ibu Zahra yang baik dan santun... aku hanya tidak mau emosiku naik dan mencakar mulut mereka yang nyinyir." sahut Mira kesal.


" Kamu percaya padaku, kan?"


" Pasti, Za... Kamu tidak mungkin melakukan hal seperti itu."


Zahra dan Almira duduk di bawah pohon mangga sembali memperhatikan anak - anak yang sedang bermain. Pikirannya bisa lebih tenang dengan melihat wajah ceria anak - anak yang seakan tak memiliki beban hidup.

__ADS_1


" Boleh saya ikut duduk...?" Rayyan berdiri di belakang Zahra diikuti Reno.


" Memangnya ruang guru sudah pindah di bawah pohon mangga, Pak?" gurau Mira.


Reno duduk di samping Mira, sedangkan Rayyan di samping Zahra. Mereka tidak peduli dengan gosip para guru yang menuduh Zahra dan Rayyan pasangan selingkuh.


" Kenapa saya tidak diundang...!" seru pak Harso kesal namun membuat yang lain malah tertawa.


Pria 50 tahun itu memang lebih dekat dengan Zahra dan Almira karena sikap sopan dan bisa menghargai orang yang lebih tua. Pak Harso nyelip duduk di tengah - tengah Zahra dan Almira seperti biasanya. Mereka sudah biasa seperti itu karena pak Harso sudah menganggap dua wanita cantik itu seperti anaknya sendiri.


" Bapak kenapa kesal begitu wajahnya? Apa semalam disuruh tidur diluar sama Ibu?" ledek Almira.


" Mira...! Yang sopan..." tegur Zahra.


" Sorry bestie..." cengir Mira.


" Saya itu kesal sama mereka yang tidak berhenti bergunjing. Sebenarnya mereka itu tenaga pendidikan atau haters...!" geram pak Harso.


" Sudah, Pak. Jangan dipikirkan, saya dan Zahra itu tidak ada hubungan apa - apa. Saya lebih dekat dengan suaminya, tidak mungkin kami merusak citra dunia pendidikan dengan hal itu. Sebagai pendidik, kita harus menjadi contoh yang baik untuk anak - anak. Nanti saya akan klarifikasi masalah itu pada guru - guru yang lain." kata Rayyan.


" Itu lebih baik, pak Rayyan. Sebenarnya ini hanyalah oknum yang diam - diam suka dengan pak Rayyan. Melihat kedekatan Anda dengan bu Zahra dia merasa cemburu." ungkap Reno.


" Dari mana pak Reno tahu? Siapa orangnya yang berani menyebar hoaks di sekolah?" kesal Almira.


Zahra masih diam di tempatnya memikirkan masalah itu. Dia hanya takut jika sampai suaminya tahu gosip ini bisa terjadi salah paham. Tak ada yang tahu jika Azzam itu orangnya sangat posesif.


" Za... ayo kita selesaikan sekarang!" ujar Rayyan.


" Zahra takut, bang Ray..." bisik Zahra.


" Aku yang akan bicara pada mereka semua nanti."


" Jangan sekarang, Bang. Mereka masih dalam suasana memanas, sebaiknya besok saja."


" Baiklah, nanti aku akan bicara pada Azzam untuk masalah ini."


Zahra dan Rayyan jalan beriringan di belakang Almira dan yang lainnya. Mereka sudah sepakat untuk tak menghiraukan perkataan orang lain. Zahra menarik nafasnya dan menghembuskan dengan kasar sebelum masuk ruang guru.


.


.


Rayyan sedang berkutat dengan laptopnya setelah sholat Isya'. Azzam datang tanpa mengucap salam langsung saja duduk di sebelah Rayyan.

__ADS_1


" Kenapa...?" tanya Rayyan tanpa menoleh.


" Besok kau ke sekolah sama Zahra, aku harus ke kota pagi - pagi sekali." kata Azzam.


" Ya sudah, kau bawa saja motorku biar lebih cepat. Harusnya kau ganti dengan yang baru biar tidak menyusahkan pemakainya."


" Ok! Bagaimana di sekolah...?"


Rayyan menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Dia memang sedang butuh solusi dari Azzam masalah ini.


" Baru pertama kerja sudah digosipkan sebagai selingkuhan istrimu. Aku bingung dengan cara berpikir orang - orang disini." keluh Rayyan.


" Seperti inilah kehidupan di desa, lebih julid daripada orang - orang kota." sahut Azzam.


" Apa yang harus aku lakukan besok? Aku tak yakin Zahra mau berangkat bersamaku lagi."


" Kau bilang saja saudara jauh Zahra pada mereka. Aku juga tidak mau nama istriku menjadi buruk."


" Ide yang bagus, tapi apa tidak lebih baik jadi saudaramu? Kalau Zahra... mereka pasti akan bertanya saudara ayah atau ibu?"


" Terserah! Aku hanya ingin istriku merasa nyaman di tempatnya bekerja."


Mereka kembali berdiskusi, entah apa yang mereka bicarakan tapi terlihat sangat serius dan kadang - kadang berdebat. Hingga jam sepuluh malam, Azzam baru kembali ke rumahnya.


Sampai di rumah, ternyata Zahra sudah tidur. Azzam langsung membasuh muka sebelum menyusul anak dan istrinya tidur. Azzam sangat bersyukur memiliki keluarga kecil yang harmonis. Dia berusaha untuk melupakan masa lalunya.


Dengan memeluk istrinya, Azzam tak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai alam mimpi. Dia memang tak salah memilih istri walaupun mereka tak saling kenal sebelumnya.


Sebelum tidur, Azzam mencium anak dan istrinya secara bergantian. Rasa bersalah terkadang muncul dalam ingatannya. Masa lalunya sampai kini masih terus mengejarnya. Azzam tak ingin orang - orang yang ia cintai celaka jika dirinya masih berhubungan dengan orang - orang di masa lalunya yang penuh dengan kekejaman.


" Mama... aku merindukanmu, tapi saat ini belum waktunya kita bertemu." batin Azzam.


Tanpa disadari, airmata mengalir begitu saja di wajah pria itu. Setiap malam Azzam selalu menangis mencurahkan kegundahan hati tanpa sepengetahuan istrinya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2