
Usai sholat shubuh, Zahra menyiapkan keperluan putranya. Untuk urusan sarapan, Azzam memiliki beberapa ART untuk mengurus rumahnya.
" Rama, ayo mandi sama Ayah." ujar Azzam seraya menciumi wajah putra gemas.
" Mmm... Ngantuk, Yah." rengek Rama.
" Katanya mau ketemu Nenek dan Kakek? Nanti ada Om Kai juga." bujuk Azzam.
" Beneran ada Om Kai, Yah?" Rama langsung membuka matanya dengan lebar.
" Giliran nyebut Om Kai aja langsung semangat."
Azzam menggendong putranya untuk dimandikan. Dia tak ingin istrinya kelelahan kalau harus mengurus semuanya sendiri.
" Om Kai nanti beli mainan lagi, Yah?"
" Ayah juga bisa belikan kamu banyak mainan, Nak."
Azzam dengan telaten memandikan putranya. Hal ini memang sudah lama ia lakukan sejak Rama berusia tiga bulan. Walaupun kini Azzam memiliki banyak pelayan di rumah barunya, namun untuk mengurus anak tetap ia lakukan sendiri bersama Zahra.
" Bunda, tolong ambilkan baju Ayah. Basah semua ini gara - gara Rama." pinta Azzam.
" Nggak mau ganti di kamar sendiri, Yah?" tanya Zahra.
" Disini saja, cuma ganti baju aja nggak mandi lagi kok."
" Ya udah, sebentar Bunda ambilkan."
Setelah semua selesai bersiap dan sarapan, Azzam beserta anak dan istrinya diantar sopir menuju Bandara. Rayyan sudah pulang semalam karena ada meeting mendadak di Jakarta.
.
.
Rama tampak gembira saat sambai di Bandara Soetta, ternyata Kaivan yang menjemputnya. Bocah itu langsung berlari memeluk Kaivan dengan erat.
" Om Kai...!" seru Rama.
" Hai, Boy... Apakah perjalananmu menyenangkan?" sahut Kaivan.
" Iya, tapi disana tidak ada burung yang terbang."
Kaivan memeluk Azzam sejenak sebagai sapaan lalu menjabat tangan Zahra. Melihat keharmonisan keluarga kakaknya, Kaivan hanya bisa berharap suatu saat bisa seperti mereka.
" Nanti kita lihat burung di rumah teman Om banyak."
" Beneran, Om?"
" Iya, keponakan Om yang ganteng. Gimana kalau Rama tinggal menetap saja di rumah kakek dan nenek? Ayah dan Bunda selalu sibuk dengan pekerjaannya." bujuk Kaivan yang langsung mendapat pukulan dari Zahra.
" Jangan provokasi anakku, Kai!" protes Zahra.
" Satu minggu, Kak. Hanya satu minggu saja, nanti Kai antarkan lagi ke Jogja. Papa dan Mama sangat merindukan cucunya." ucap Kaivan.
" Kami hanya tidak mau merepotkan, Kai." ujar Azzam.
" Merepotkan? Mas anggap Papa dan Mama itu siapa? Kau boleh menganggapku orang lain, tapi jangan abaikan orangtuamu." ucap Kaivan sarkas.
" Sudah... Jangan berdebat di tempat umum." lerai Zahra.
__ADS_1
Azzam meletakkan barang - barangnya di bagasi lalu masuk ke dalam mobil di samping Kaivan yang mengemudi. Tak ada percakapan yang serius diantara mereka, hanya celotehan Rama yang terdengar memecahkan suasana.
Tidak sampai satu jam, mereka sudah sampai di kediaman Al Farizy. Rama langsung berlari ke dalam rumah mencari nenek dan kakeknya.
" Assalamu'alaikum." ucap Azzam diikuti Zahra dan Kaivan.
" Wa'alaikumsalam," jawab Mama Rahma seraya memeluk cucunya.
" Papa dimana, Ma?" tanya Azzam setelah memeluk erat ibunya.
" Masih di kamar, sebentar lagi juga keluar."
Tak lama Papa Zaid keluar dari kamar dan langsung meraih tubuh cucunya untuk digendong. Pria paruh baya itu sangat bahagia saat keluarganya bisa berkumpul seperti ini.
" Assalamu'alaikum, Pa." Azzam mencium punggung tangan Ayahnya diikuti Zahra.
" Wa'alaikumsalam, kalian istirahat saja dulu kalau lelah. Rama biar sama Papa dulu."
" Iya, Pa. Azzam mau mandi dulu, gerah perjalanan dari Bandara."
Azzam mengajak Zahra untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Fisiknya memang lelah karena akhir - akhir ini pekerjaannya semakin menumpuk.
" Dek, mau ikut mandi sekalian?"
" Mas duluan saja, takut nanti Rama nyariin kita."
" Eughh... Padahal Mas pengen berendam bareng sama Adek." gumam Azzam.
" Lain kali, Mas. Cepetan mandi, Adek ke bawah dulu ya?"
" Ok, tapi cium dulu."
.
.
Zahra duduk di taman samping rumah bersama Kaivan. Mereka memang cukup akrab karena sebelumnya Zahra pernah bekerja sebagai pelayan pribadi Kaivan.
" Kak Zahra masih terima job dari Tiger White?" tanya Kaivan.
" Tidak, Kai. Mas Azzam tidak akan pernah mengijinkan. Semenjak menikah, aku tidak pernah bergabung lagi sampai akhirnya harus menolong Mama Rahma."
" Kakek Edward memintaku untuk bergabung, Kak."
" Kamu sudah bertemu dengan Tuan Edward?"
" Ya, dua minggu lalu Kai mengunjungi kakek bersama Kak Bima."
" Lalu,?"
" Kai tidak mau terlibat kekerasan seperti itu, Kak. Sekarang Kai memiliki keluarga baru yang harus Kai jaga. Walaupun baru beberapa tahun tinggal disini, namun ini adalah satu - satunya tempat yang membuatku bahagia."
Zahra sangat senang melihat binar bahagia di wajah Kaivan jika sedang membicarakan tentang keluarga Al Farizy.
" Sedang apa kalian disini?" Azzam yang baru datang langsung duduk di tengah - tengah Zahra dan Kaivan.
" Cuma ngobrol aja, Mas. Ngapain sih pakai duduk di tengah?" cibir Kaivan.
" Ada masalah kalau aku duduk disini?" ketus Azzam.
__ADS_1
" Apaan sih kalian? Seperti bocah saja!" tegur Zahra.
" Yang, Mas mau pergi sebentar ketemu Deni sama Rayyan." ucap Azzam.
" Soal proyek dengan klien di Singapore, Mas?" tanya Kaivan.
" Iya, harusnya ini urusan kamu, Kai."
" Tidak bisa, Mas. Mereka ingin bertemu langsung dengan pimpinan tertinggi perusahaan. Kai udah siapkan semua berkas untuk presentasi nanti."
Azzam bukannya tidak mau menghadiri meeting itu, namun yang jadi masalah adalah ia harus terbang ke Singapore tanpa anak dan istrinya.
" Yang, ikut ya?" pinta Azzam pada istrinya.
" Mas itu perginya cuma sehari, masa' Adek harus ikut? Kasihan Rama ditinggal, Mas." ucap Zahra menolak.
" Mas nggak bisa jauh dari kamu, Yang." rengek Azzam.
" Ish... Manja!" cibir Kaivan.
Kaivan beranjak dari tempat duduknya karena tak ingin melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya yang tidak tahu tempat itu.
Sementara itu, Rayyan dan Deni sedang berada di Apartemen milik Rayyan untuk menunggu Azzam. Mereka sudah memesan makanan untuk makan siang bertiga.
" Azzam lama banget, sih!" gerutu Deni.
" Biasalah, pasti Zahra tidak mau diajak kesini." sahut Rayyan.
" Sebucin itu dia sama Zahra? Walaupun memang cantik sih, tapi mengerikan kalau sudah pegang senjata. Dia bisa dengan mudah mengelabui semua orang dengan wajah polos dan tutur katanya yang lembut."
" Azzam saja juga tertipu olehnya, apalagi kita."
Menunggu selama satu jam, akhirnya Azzam datang juga bersama Kaivan. Kalau sudah membahas soal pekerjaan, mereka berempat terlihat sangat fokus.
" So, siapa yang akan menemani Azzam ke Singapore?" tanya Rayyan.
" Deni saja, pekerjaanku banyak." jawab Kaivan.
" Ya, kau saja Den. Kaivan sekalian temani Rama di rumah." ujar Azzam.
" Kalau soal Rama dan kakak ipar, serahkan saja pada Kai. Lagian Mas Azzam ini cuma pergi sehari, bukan setahun."
" Aku juga harus cek Restoran di Bali besok," keluh Rayyan.
" Memangnya tidak ada yang kalian percaya disana?" tanya Deni.
" Ada, aku hanya sesekali ada cek perkembangannya." jawab Rayyan.
Azzam menyandarkan punggungnya di sofa seraya membaca berkas presentasi yang akan ia bawa besok ke Singapore. Belum ada lima menit membaca, Azzam langsung menegakkan punggungnya seraya menatap Kaivan.
" Kai... Klien kita perempuan?"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.