
Zahra menghembuskan nafasnya perlahan lalu menahan Kaivan yang sedang berdebat dengan ibunya. Dia menggelengkan kepalanya pertanda Kaivan harus diam.
" Anda salah paham, Nyonya. Tuan Kaivan baru saja pulang dan meminta saya untuk mengantarkan makanan. Mungkin dua pelayan Anda ini kurang paham dengan pekerjaan saya disini." ucap Zahra.
" Cih... Saya sudah peringatkan padamu sejak awal, harusnya kau sudah paham yang kukatakan kemarin!" sentak Nella.
" Sudah, Mi. Mungkin Rara memang hanya mengantar makanan untuk Kaivan." lerai Tuan Zaid.
" Diam kamu! Jangan mencampuri urusanku. Dan kau... pergi dari rumah ini sekarang juga!" Nella menunjuk wajah Zahra dengan sinis.
" Mi...! Rara itu pelayan Kaivan, tidak ada yang boleh mengusir dia dari sini." seru Kaivan.
" Tuan... Tidak apa - apa, saya sedari awal sudah merasa kalau Nyonya Besar tidak menyukai keberadaan saya disini." ucap Zahra.
" Tapi, Ra_..."
" Saya akan pergi sesuai keinginan Nyonya Besar. Tuan bisa cari pelayan yang lain, salah satu dari mereka mungkin." Zahra melirik pada dua pelayan di belakang Nella.
Kaivan mendengus kesal menatap Zahra yang tersenyum tipis. Sepertinya kakak iparnya itu sudah memiliki rencana lain dalam menghadapi masalah.
" Apa tidak ada solusi lain selain Rara harus pergi, Mi?"
" Kau bisa mendapatkan pelayan yang lebih baik dari dia, Kai...!"
" Terserah Mami saja, aku mau tidur. Tutup pintunya."
Kaivan langsung naik ke atas tempat tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sepertinya dia tak bisa lagi mencegah kepergian Zahra kali ini.
Dua pelayan Nella menyeret Zahra dengan kasar ke lantai bawah. Malam itu juga, Zahra mengemasi barang - barangnya yang hanya beberapa lembar pakaian saja dan langsung meninggalkan rumah pada jam tiga pagi.
" Zahra... Papa minta maaf tidak bisa melawan Maminya Kaivan." lirih Tuan Zaid saat Zahra keluar dari pintu utama.
Sepertinya Kaivan sudah mengungkap identitas asli Zahra kepada Tuan Zaid dan tujuan sang menantu masuk ke dalam rumah itu sebagai pelayan.
" Ish... mau pergi kemana ini pagi - pagi sekali." gumam Zahra sambil berjalan diluar gerbang rumah Al Farizy.
Langkahnya pelan, seakan tak ada daya sedikitpun karena sebenarnya ia masih sangat mengantuk. Semalam ia tidur jam 12 dan terbangun jam 2 pagi. Dia memeriksa seluruh cctv dan meretas semua yang ada di dalam rumah itu lewat ponsel pintar yang ia simpan rapi di dalam tas lusuhnya.
Saat Zahra hampir mencapai gerbang utama perumahan elite itu, sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.
" Butuh tumpangan, Nona...?"
.
.
Azzam masih tertidur lelap bersama Rama padahal sudah jam lima pagi. Dia terbangun saat mendengar derap langkah kaki diluar pintu kamarnya.
" Astaghfirullah... sudah jam lima." gumam Azzam.
Azzam bergegas ke kamar mandi untuk ambil wudhu lalu sholat shubuh. Usai sholat, Azzam tiba - tiba memikirkan sang istri. Bayangan istrinya membuat hatinya merasakan rindu yang teramat berat.
__ADS_1
" Sayang, kapan kita bisa berkumpul seperti dulu lagi. Aku bahkan sangat merindukan pelukanmu. Putra kita sangat kesepian tanpa dirimu." bisik Azzam dalam hati.
" Ayah..." panggil Rama yang sudah duduk diatas ranjang menatap ayahnya.
" Hey... sayang. Tumben udah bangun?" sahut Azzam sembari mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pangkuannya.
" Bunda..."
" Hhh... Bunda sebentar lagi pulang, Ayah buatin susu dulu ya?"
" Mau Bundaaa...!"
" Iya, sayang. Nanti kita cari Bunda diluar." bujuk Azzam.
Di saat yang bersamaan, Rayyan masuk dengan membawa sebotol susu di tangannya. Tadi saat ia sedang di dapur untuk membuat sarapan, terdengar suara Rama sudah bangun jadi Rayyan inisiatif untuk membuatkannya susu.
" Hey... anak Papa udah bangun, minum susu dulu ya? Biar cepet gede terus jalan - jalan sama Bunda." Rayyan merebahkan tubuhnya di samping Rama.
" Ada perkembangan apa, Ray?" tanya Azzam.
" Kaivan maupun Bima belum mengabarkan apapun." jawab Rayyan sambil mengusap pelan kepala Rama.
" Kenapa sedari tadi aku memikirkan Zahra, Ray?"
" Tentu saja, kau ini suaminya. Kalau aku yang memikirkan dia itu baru salah!" ketus Rayyan.
" Haishh... percuma ngomong sama kamu!"
Rayyan tidak memperdulikan celotehan yang semakin panjang. Tanpa terasa ia malah kembali terlelap sambil mendekap tubuh kecil Rama.
Azzam memilih keluar dari kamar. Saat menuju dapur, ia melihat nasi goreng yang sudah terhidang di meja makan. Azzam langsung tersenyum dan segera mengambil piring di rak untuk sarapan.
" Walaupun sangat menyebalkan, dia tetaplah kakakku yang terbaik." gumam Azzam tersenyum bahagia.
Azzam memakan nasi goreng buatan Rayyan dengan lahap. Mereka memang sudah terbiasa memasak sendiri saat kuliah di London. Dari kecil mereka yang seumuran itu memang tidak pernah terpisah hingga lulus kuliah. Hanya saja mereka tidak pernah satu jurusan.
" Assalamu'alaikum." sapa Kaivan yang langsung masuk ke Apartemen bersama Deni.
" Wa'alaikumsalam... tumben kalian pagi - pagi kesini?" balas Azzam.
" Ada yang ingin Kai bicarakan dengan Mas Azzam."
" Tunggulah sebentar di ruang tamu, eh... kalian sudah sarapan?"
Mengingat ini baru jam tujuh, Azzam pikir mereka belum sempat sarapan. Jadi dia ingin menawarkan nasi goreng buatan Rayyan.
" Sudah, Mas. Tadi sudah sempat sarapan di rumah." ucap Kaivan.
" Iya, Boss. Tadi aku juga sudah sarapan." sahut Deni.
" Aku bukan bossmu lagi." balas Azzam.
__ADS_1
Kaivan memilih diam dan duduk di sofa ruang tamu menunggu Azzam selesai sarapan. Dia melihat foto masa kecilnya bersama kedua orangtuanya saat berumur lima tahun.
' Papi... Kai pasti akan mendapatkan keadilan atas kematian Papi meskipun itu artinya Kai harus menghancurkan Mami. Kai tahu, Papi sangat mencintai Mami walau sudah berulang kali dihianati.' batin Kaivan.
" Heh... ngelamun pagi - pagi."
Bima menepuk pundak Kaivan hingga pria itu terlonjak kaget dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
" Ya Allah, Sakti. Kenapa mengagetkanku." gerutu Kaivan.
" Lagi mikirin apa...?"
" Kita lakukan eksekusi malam ini juga."
" Apa maksudmu...?"
" Sekarang atau nanti tidak ada bedanya!"
Azzam yang sudah selesai sarapan langsung menghampiri Kaivan yang berdebat dengan Bima.
" Kenapa berisik pagi - pagi? Kalian bisa mengganggu tidurnya Rama." ujar Azzam pelan.
" Maaf, Mas. Kami tidak sengaja berdebat disini." ucap Kaivan merasa bersalah.
" Sudahlah, tadi katanya ada yang mau kau bicarakan?"
" Iya, ini masalah perusahaan. Mami bekerja sama dengan direktur keuangan telah mencuri uang perusahaan. Papa tahu itu, tapi tidak bertindak apapun karena Mama yang saat ini masih disekap. Papa juga tidak pernah mengijinkan aku dan Deni untuk memeriksa laporan keuangan."
" Hah...! Kenapa semua ini harus terjadi!"
" Mas, kita bisa selamatkan Mama malam ini. Aku sudah bilang sama Papa untuk menjauhkan Mama dari rumah malam ini. Tapi waktu kita hanya satu jam yaitu jam sembilan sampai sepuluh. Kak Zahra sudah punya data dimana titik lokasi para penjaga itu. Jadi kita bisa dengan mudah masuk."
" Kenapa kau tidak membawanya kesini, aku ingin bertemu dengannya." ucap Azzam.
" Kak Zahra tidak disini...?" tanya Kaivan heran.
" Maksudmu apa, Kai? Zahra bersamamu, bagaimana dia bisa disini?"
" Sakti... aku sudah mengirimkan pesan padamu." Kaivan menatap tajam Bima.
" Pesan...? Aku belum membuka ponsel sejak kita pulang semalam." sahut Bima.
" Astaga...! Kak Zahra diusir dari rumah tadi jam 3 pagi dan aku menyuruhmu meminta orangmu menjemputnya diluar!"
" Apaaa...?!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.