Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Makan siang berdua


__ADS_3

" Tapi apa...?" tanya Zahra penasaran.


Sita dan Nina saling pandang dan ragu untuk cerita dengan orang baru. Mereka belum bisa percara dengan Zahra sepenuhnya.


" Ah... tidak apa - apa. Kami mau lanjut bekerja dulu." jawab Nina singkat.


" Apa pekerjaan kalian juga sepertiku? Hanya mengurus satu majikan saja?"


" Iya, kami bertugas menjaga seorang kerabat di rumah ini yang sedang sakit."


" Sakit apa...?"


" Kami tidak tahu, tugas kami hanya mengantarkan makanan dan membersihkan kamarnya saja." ucap Sita.


" Kalau namanya...?" cecar Zahra.


Zahra terbawa emosi dalam misi ini karena menyangkut keluarga suaminya. Dia tidak sadar terlalu bersemangat bertanya pada Sita dan Nina.


" Astaghfirullah... saya ke kamar Tuan Kaivan dulu untuk membersihkan kamarnya."


Zahra berseru sebelum dua gadis itu menjawab pertanyaannya. Dia tak ingin terlalu mencolok dan gegabah dalam mencari informasi.


Zahra bergegas keluar dari kamar diikuti dua gadis itu. Mereka berpisah di dapur karena Zahra harus ke kamar di lantai dua, sedangkan mereka menuju ke paviliun belakang.


" Hei... Kau!" pekik wanita paruh baya dengan wajah angkuhnya.


" Iya, Nyonya?" ucap Zahra sambil menunduk.


" Siapa namamu?"


" Rara... Nyonya."


" Saya peringatkan padamu! Jangan berani menggoda putraku atau nyawamu akan hilang detik itu juga." ancam Nella.


" Baik, Nyonya."


" Lakukan tugasmu dan jangan mencuri apapun dari kamar putraku!"


Usai mendapat ancaman dari sang majikan, Zahra segera naik ke lantai dua untuk membersihkan kamar Kaivan. Kamarnya terlihat berantakan karena sudah satu minggu ini tidak ada yang membersihkannya setelah pelayan yang bertugas dipecat gara - gara menggodanya dengan bertelanjang saat Kaivan baru keluar dari kamar mandi.


" Huft... Kaivan benar - benar membuatku repot." gumam Zahra.


Zahra mengamati setiap sudut ruangan apakah ada cctv atau tidak di kamar itu. Seharusnya tidak ada, itukan ruang privasi. Apa Kaivan ingin mengabadikan posenya saat sedang tidur?


Zahra terkikik sendiri sambil membereskan meja kerja Kaivan. Banyak sekali kertas berserakan hingga ke lantai. Saat ia hendak mengambil kertas di bawah meja, ia terkejut ketika ada kamera kecil yang terpasang disana.


" Hhh... ternyata Kaivan cerdik juga, aku harus berakting juga di kamar ini." batin Zahra.


Zahra kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat rapi. Lantai juga di pel hingga mengkilap. Butuh tenaga ekstra untuk bisa menyelesaikannya karena lantainya sangat kotor dengan debu yang semakin tebal.


" Selesai...! Apalagi yang harus aku kerjaan?" Zahra menyandarkan punggungnya di tepi ranjang dengan selonjoran di lantai.


" Kalau panas - panas begini, enaknya minum air kelapa muda. Pasti tubuhku jadi seger lagi." celoteh Zahra.


Zahra sengaja berbicara dengan keras agar Kaivan bisa mendengarnya jika memang pria itu mengintainya dari cctv. Zahra ingin tahu reaksi pria itu seperti apa.


.

__ADS_1


.


" Deni, apa jadwalku hari ini?" tanya Kaivan.


" Ada meeting jam tiga sore di Resto X, Tuan." jawab Deni.


" Baiklah, nanti kau bawa berkasnya kesana. Saya mau makan siang di rumah."


" Baik, Tuan."


Deni, Asisten pribadi CEO sedikit heran dengan tingkah Kaivan hari ini. Sebenarnya dia adalah asisten Azzam, namun sesuai titah sahabatnya itu, Deni tetap bertahan di perusahaan ini untuk mengawasi jalannya perusahaan.


Kaivan menghubungi kepala pelayan di rumah untuk menyuruh Zahra masak makan siangnya karena dirinya akan segera pulang.


" Dasar gadis aneh," gumam Kaivan sambil memeriksa cctv di kamarnya.


Kaivan sudah lama memasang camera mini di bawah meja kerjanya untuk mengawasi siapapun yang masuk secara diam - diam ke kamarnya.


Kaivan merasa lucu dengan tingkah Zahra yang polos. Gadis itu sangat cekatan dalam bekerja dan membuat Kaivan merasa senang dengan hasilnya.


" Kalau lebih diperhatikan lagi, kamu terlihat sangat cantik. Rara... entah mengapa, aku merasa nyaman berada di dekatmu " gumam Kaivan seraya tersenyum.


Kaivan belum pernah seperti ini sebelumnya. Dia selalu bersikap datar dengan para wanita yang mendekatinya. Bukan tanpa sebab ia melakukan itu, namun melihat sifat ibunya sendiri membuat Kaivan trauma dan malu. Dirinya kini menutup hatinya untuk wanita manapun juga.


" Maafkan aku, Ma. Aku belum bisa menemukannya." gumam Kaivan lirih.


Sudah pukul sebelas siang, Kaivan bergegas meninggalkan ruangannya. Ada secercah senyum di wajahnya membuat semua karyawan heran dan juga kagum dengan senyum manis bossnya itu.


" Tumben Boss tersenyum, kayak baru dapet jackpot aja." bisik salah seorang karyawan.


" Iya, teryata senyumnya sangat manis." sahut yang lain.


" Den, kau ikut pulang atau makan siang di kantor?" tanya Kaivan.


Walaupun mereka tidak saling kenal sebelumnya, namun Kaivan sangat menghargai Deni sebagai sahabat Azzam. Dia mencoba meng-akrabkan diri dengan lingkungannya.


" Tidak, Tuan. Saya masih ada pekerjaan yang belum selesai." jawab Deni.


" Baiklah, kita bertemu saat meeting nanti. Sekalian kau bawa berkas yang perlu ku tandatangani semua biar saya kerjakan di rumah."


" Baik, Tuan."


.


.


Kaivan yang baru sampai di rumah langsung di sambut oleh Zahra dengan senyum manisnya walau dalam hatinya beristighfar seraya mengucap nama suaminya.


" Assalamu'alaikum, Tuan." sapa Zahra terlebih dahulu.


" Mmm... Wa'alaikumsalam, Ra." jawab Kaivan canggung.


Kaivan merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Bahkan baru kali ini ada yang menyapanya dengan ucapan salam. Bolehkah Kaivan meneteskan airmata dengan sikap manis seseorang yang baru beberapa jam yang lalu ia kenal?


" Tuan mau langsung makan atau istirahat dulu? Kamar sudah saya bersihkan?"


" Makan dulu saja, saya sudah lapar."

__ADS_1


" Baik, Tuan."


" Kamu masak apa...?"


" Maaf, Tuan. Saya tidak tahu makanan kesukaan Anda. Saya hanya masak ayam goreng tepung, capcay udang, sama sambal tomat."


" Saya tidak pilih - pilih makanan, semuanya saya suka kecuali keju. Saya tidak suka semua makanan yang ada kejunya."


" Siap, Tuan! Saya akan mengingatnya dengan baik."


" Kau temani saya makan, duduklah!" titah Kaivan.


Zahra kaget dengan permintaan Kaivan. Baru saja tadi pagi Nyonya Besar mengancam nyawanya agar tidak mendekati putranya, tapi sekarang... dia malah dipaksa duduk di meja majan khusus majikan.


" Maaf, Tuan. Saya bisa makan di belakang saja." tolak Zahra halus.


" Rara...! Saya bukan meminta, tapi perintah!" tegas Kaivan.


' Ya Allah, sepertinya nyawaku tidak akan bertahan lama di raga ini ' batin Zahra seraya duduk berhadapan dengan Kaivan.


" Ba... baik, Tuan."


Zahra segera mengambilkan nasi dan lauk untuk Tuannya lalu mengambil untuk dirinya sendiri walau dengan perasaan cemas. Ia tahu di setiap sudut rumah ini terpasang kamera cctv yang bisa memantau setiap pergerakan seisi rumah.


" Masakanmu sangat enak, kenapa tidak buka usaha saja?" puji Kaivan.


" Saya tidak punya modal, Tuan. Kalau saya usaha sendiri, berarti tidak jadi pelayan Tuan lagi dong?" sahut Zahra.


" Ah... kau benar juga. Saat ini hanya kau yang bisa kupercaya, jadi jangan mengkhianatiku!"


Tatapan mata Kaivan seakan menghujam jantungnya. Kata 'mengkhianatiku' seakan itu adalah sebuah ancaman baginya.


" Tuan makan saja dulu, nggak sopan bicara saat sedang makan." tegur Zahra.


Mereka berdua menikmati makan siang dalam diam. Kaivan sangat menikmati makanannya hingga tak terasa sudah menghabiskan dua piring nasi beserta lauknya.


" Hah... rasanya perutku sangat penuh, jadi ngantuk." keluh Kaivan.


" Tuan tidak kembali ke kantor?"


" Nanti, Ra. Saya mau tidur dulu, nanti bangunkan jam dua ya?"


" Iya, Tuan. Tapi jangan lupa sholat dulu sebelum tidur, sebentar lagi adzan."


Zahra tidak sadar mengatakan itu pada Kaivan. Dirinya sedang fokus membersihkan meja makan. Dia tidak melihat seperti apa tatapan Kaivan padanya.


" Rara..."


" Iya, Tuan?"


" Boleh saya minta sesuatu padamu?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2