
Dua bulan kemudian,
Azzam dan yang lainnya sudah berkumpul di Apartemen yang di sewa Jefri. Semua camera yang terpasang di rumah Merry dan bangunan hotel setengah jadi memang dipantau dari tempat itu.
" Apa kalian sudah siap?" seru Bima.
" Siap...!" jawab mereka serempak.
" Bagaimana dengan anak buah disana?"
" Semua sudah bersiap di posisi masing - masing, tinggal tunggu perintah."
" Evakuasi warga sekitar ke tempat yang lebih aman."
" Sudah, Tuan. Warga sekitar rumah dari radius satu kilometer sudah kami pindahkan ke tempat wisata dengan bantuan kepala desa setempat agar mereka tidak curiga."
" Bagus! Kita tunggu informasi dari Singapore baru kita eksekusi mereka."
Malam nanti, akan ada transaksi besar - besaran di bangunan hotel yang baru setengah jadi milik Merry. Karena ini malam minggu, jadi para pegawai pulang setengah hari. Merry sudah menyusun rencana dengan matang untuk malam ini. Beberapa kelompok mafia akan bertransaksi obat - obatan terlarang termasuk Jefri yang menyamar sebagai pembeli.
.
.
" Kalian sudah bersihkan semua tempat?" seru Merry.
" Sudah, Nona. Tidak ada warga yang curiga dengan transaksi malam ini. Mereka semua beraktifitas seperti biasanya."
Mereka tidak tahu saja jika semua warga sudah diganti dengan anak buah Bima. Tanpa mereka sadari, sebentar lagi kehidupannya akan berakhir mengenaskan.
" Persiapkan semuanya, jaga tempat ini dengan ketat! Sebentar lagi para mafia akan datang untuk bertransaksi."
" Baik, Nona."
Merry memperketat area tempat transaksi dengan mengerahkan sekitar 50 orang anak buahnya dengan bersenjata lengkap. Dia juga belum tahu jika saat saat ini ayahnya sedang menjadi target pemerintah Singapore.
Sementara Azzam, Bima, Kaivan dan Deni sudah bersiap di posisi masing - masing menempati rumah - rumah yang berada paling dekat dengan lokasi eksekusi.
Zahra yang memaksa ingin ikut dilarang keras oleh suaminya. Azzam hanya tidak ingin istrinya terluka walaupun dia yakin jika istrinya tidak selemah yang orang - orang pikirkan.
Kini Zahra berada di Apartemen memantau dari layar komputer tentang pergerakan musuh bersama Darren. Pria itu selain sebagai orang kepercayaan Bima, dia juga salah satu rekan terbaik Zahra saat bekerja.
" Darren, kau yakin tidak ingin ikut berpesta dengan mereka?" cibir Zahra.
" Sudahlah, Nona Al Farizy... Jangan provokasi aku, Boss Bima bisa membunuhku kalau sampai kau berbuat ulah."
" Kau tenang saja, kita bergerak jika memang mereka terdesak. Aku juga khawatir dengan keselamatan suamiku."
" Hanya suamimu saja? Sejak kapan kau suka pilih kasih?"
" Darren...! Kalau kau tidak bisa diam, aku akan pergi menyusul suamiku."
" Ok...! Sekarang kita fokus saja dengan pekerjaan kita."
Darren merasa heran dengan tingkah Zahra akhir - akhir. Wanita itu masih punya waktu untuk membawa cemilan saat suasana sedang menegangkan.
" Za, kau dari tadi makan terus?"
__ADS_1
" Kenapa? Kalau mau ambil saja."
Darren duduk di sebelah Zahra dan ikut memakan cemilan sambil fokus melihat layar monitor. Saat ini masih sore, jadi musuh belum mulai bergerak.
" Aku pikir kau berjodoh dengan Boss, Za?" ungkap Darren.
" Kami murni hanya berteman, Bima sudah kuanggap kakak bagiku."
Sementara itu di lokasi yang tak jauh dari tempat Merry berada, Azzam dan semua anak buahnya sudah mempersiapkan senjata untuk menyerang. Tak lupa mereka juga melibatkan pihak kepolisian dalam misi ini. Kelompok 'Tiger White memang adalah sebuah agen rahasia yang legal dan telah memiliki cabang di berbagai negara, jadi setiap kasus besar apalagi sampai merugikan negara, Bima selalu melibatkan pihak pemerintah untuk mendukungnya.
.
.
( " Azzam, bisakah kita bertemu nanti malam? Berdua saja tanpa asistenmu itu." )
Azzam membaca pesan yang masuk di ponselnya. Pesan dari Merry itu sungguh aneh menurutnya. Bukankah dia akan melakukan transaksi malam ini?
" Apa maksud wanita itu mengirimkan pesan seperti ini?" gumam Azzam.
" Kenapa, Mas?" tanya Kaivan yang baru datang.
" Kau...! Ish... Kenapa mengagetkanku?" ketus Azzam.
" Mikirin apa sih? Tidak usah khawatir soal kakak ipar dan Rama. Mereka aman bersama para pengawal terlatih."
" Bukan itu. Merry mengirimkan pesan ingin bertemu denganku hanya berdua. Kau tahu apa maksudnya?"
Kaivan duduk sembari memikirkan pertanyaan kakaknya. Pasti ada sesuatu dibalik pertemuan itu. Bisa saja itu hanya jebakan wanita itu.
" Apa dia yakin kalau aku akan datang?"
" Mungkin dia akan nekat mendatangi kamar hotel yang kau sewa. Coba saja kau balas pesannya, kita pancing dia."
" Tapi Zahra pasti marah kalau tahu aku balas chat wanita itu."
" Dasar bucin! Sini biar aku yang balas pesannya."
Kaivan merebut ponsel kakaknya dengan cepat lalu mulai membuka aplikasi pesan untuk membalas pesan dari Merry.
( " Apakah ada sesuatu yang penting? Kenapa asistenku tidak boleh ikut? Dia yang mengurus semua jadwal kerjaku." ) balas Kaivan.
( " Ini sangat penting, Zam. Saya ingin bicara berdua saja denganmu." )
( " Kita lihat saja nanti, sekarang saya sedang sibuk dengan pekerjaanku." )
( " Please, Zam. Saya butuh kamu, datanglah ke Cafe dekat taman." )
Kaivan tersenyum kecil kecil lalu dia membalas pesan Merry bahwa Azzam akan datang sendiri tanpa asistennya.
" Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" tanya Azzam seraya merebut kembali ponselnya.
" Tidak ada, hanya membalas pesan Merry saja." sahut Kaivan.
" Jangan aneh - aneh, Kai! Zahra bisa salah paham nanti dan marah padaku."
" Memangnya kakak ipar suka cemburu, Mas?"
__ADS_1
" Akhir - akhir ini saja, dulu dia tidak pernah cemburu berlebihan."
" Tenang saja, Kai tidak mungkin membuat kalian bertengkar."
" Apa rencanamu?"
" Biarkan Merry menunggu ke Cafe itu, nanti Kai yang akan pergi kesana. Siapkan pengawal bayangan terbaik untuk menghadang pengawal Merry."
" Terserah kau saja, aku tahu kau bisa mengatasinya."
" Mas cukup siapkan anak buah untuk menyerang mereka. Kelompok mafia yang akan bekerja sama dengan Merry membawa banyak orang untuk pengawalan."
.
.
Merry sudah menunggu satu jam di Cafe, namun Azzam tak juga muncul. Berkali - kali ia menghubungi ponsel Azzam namun tak ada jawaban.
Merry mengumpat kesal karena Azzam sudah menipunya. Namun saat ia hendak beranjak dari duduknya, Kaivan datang dan duduk di hadapannya.
" Selamat malam, Nona. Maaf jika membuatmu menunggu terlalu lama." ucap Kaivan tersenyum tipis.
Sejenak Merry terpukau dengan pesona pria tampan di hadapannya. Senyumannya mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya. Sungguh ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna.
" Nona, are you okey?" Kaivan mengibaskan tangannya di depan wajah Merry.
" Oh... I' m sorry. Mmm... Anda siapa?" ucap Merry gugup.
" Saya adiknya Azzam. Maaf, tiba - tiba kakak saya harus pergi untuk urusan yang sangat penting jadi meminta saya untuk menemui Anda. Apakah ada masalah dengan pembangunan hotel?"
" Mmm... Begini, Tuan. Saya sebenarnya ingin bertemu langsung dengan Azzam, tapi ternyata Anda yang datang."
" Apakah Anda kecewa, Nona?"
" Ah, tidak. Siapapun yang datang sama saja, Tuan. Saya hanya ingin berpamitan karena besok harus kembali ke Singapore untuk beberapa hari ke depan."
Kaivan tersenyum manis seraya melirik ke arah arloji mewah di pergelangan tangannya. Dia dapat memastikan jika sebentar lagi Merry pasti pamit untuk pergi terlebih dahulu.
" Tuan, saya minta maaf karena harus pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." pamit Merry.
" Silahkan, Nona. Apa perlu saya antar sampai tujuan Anda?"
" Tidak perlu, saya datang bersama sopir."
Merry tidak tahu saja jika semua pengawal bayangannya sudah berganti dengan pengawal milik Bima. Mereka mengikuti kemana arah mobil Merry melaju.
" Saatnya eksekusi...!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1