
Zahra memapah suaminya naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Zahra yang sedari tadi masih ia tahan untuk tidak bertanya pada suaminya.
" Mas, kok tadi waktu Zahra kesini sama Mama, Mas nggak ada?" tanya Zahra masih penasaran.
Azzam duduk di tepi tempat tidur seraya menatap wajah polos istrinya yang terlihat menggemaskan. Ingin rasanya ia terkam saja istrinya kalau saja punggungnya tidak sakit.
" Kamu takut hantu?" cecar Azzam.
" Eh... Siapa bilang? Zahra tidak takut apapun kecuali kemesuman Mas yang tiada habisnya itu." zahra mencoba berpaling dari pandangan suaminya.
" Itu yang tadi, kamu lari saat Mas panggil. Tadi itu Mas lagi ke balkon untuk cari angin sebentar sambil nungguin kamu ambil kompresan."
" Masa' sih? Soalnya Zahra terpengaruh ucapan Mama tadi."
" Yaudah, ayo istirahat." ujar Azzam.
" Maaf ya, Mas?"
Azzam menarik tubuh istrinya agar berbaring di sampingnya. Rasa lelahnya pasti akan hilang saat ia bisa memeluk tubuh istrinya dengan erat.
" Mas ada masalah?" tanya Zahra pelan.
" Nanti kita bicarakan saat sudah kembali ke Jogja aja, sayang. Mas pengen peluk kamu dulu biar lebih tenang." jawab Azzam.
.
.
Pagi hari, Azzam dan Zahra kembali ke Jogja tanpa Rama. Anak itu rupanya lebih memilih bersama Kaivan karena di iming - iming mainan yang banyak.
" Mas... Zahra kangen Rama," rengek Zahra.
" Ya Allah, sayangku. Kita berpisah dengan Rama belum ada satu jam. Lihat! Kita masih di pesawat." ujar Azzam pelan.
" Memangnya Mas nggak kangen sama anak sendiri?"
" Kangen, sayang. Tapi kita juga tidak boleh egois, Rama juga ingin bersama kakek dan neneknya."
" Hmm..."
Zahra melemparkan pandangannya kearah jendela yang menampakkan awan putih yang bersih seperti salju yang dingin.
" Mas..." panggil Zahra.
" Apa istriku yang cantik?" sahut Azzam lembut.
" Kapan kita liburan ke tempat yang sedang musim salju? Zahra dari dulu pengen banget kesana."
Azzam sedikit terkejut dengan permintaan istrinya. Ini pertama kalinya sang istri meminta sesuatu padanya selama hampir empat tahun menikah.
" Mau ke Jepang? Mumpung sekarang sedang musim salju. Kita sekalian honeymoon, sayang."
" Liburan, Mas... Bukan honeymoon. Kita nikah udah lama, baru mikirin honeymoon sekarang."
" Maaf, sayang... Harusnya Mas mewujudkan impianmu ini dulu, saat kita baru saja menikah. Mas tahu kamu kecewa karena Mas tidak bisa mewujudkan impian kamu." ucap Azzam merasa bersalah.
" Zahra nggak nyalahin Mas, kita bisa pergi saat ada waktu senggang saja." sahut Zahra pelan.
" Mas usahain minggu ini, sayang. Mumpung Rama masih di Jakarta, kita bisa menghabiskan waktu berduaan."
" Tiap hari juga sudah berduaan."
Azzam dan Zahra sampai di Jogja satu jam kemudian. Mereka dijemput oleh sopir kantor karena Azzam ada meeting sebentar lagi.
__ADS_1
" Sayang... Kamu tunggu di ruangan Mas aja, ya?" titah Azzam pada sang istri.
" Berapa lama? Zahra pulang aja kalau Mas meetingnya lama." sahut Zahra.
" Cuma sebentar, sayangku. Setelah meeting kita pulang, Mas belum ketemu Rayyan juga."
" Baiklah, Adek mau rebahan dulu sebentar."
" Kalau butuh apa - apa, kirim pesan saja."
" Iya, Mas. Udah sana!" usir Zahra.
Terlalu lama menunggu Azzam yang tak kunjung muncul, Zahra memilih tidur di sofa karena lelah. Entah berapa lama ia tertidur, namun sang suami sudah berada di hadapannya dengan tersenyum manis.
" Hah... Sejak kapan Mas disini?"
" Sudah dari sejam yang lalu, sayang. Kamu pules banget tidurnya, kenapa tidak di kamar saja?"
" Nungguin Mas,"
" Mau pulang sekarang? Hari ini tidak usah ke Restoran. Mas akan ambil karyawan kantor saja untuk bantuin kamu handle restoran."
" Terserah Mas saja. Adek belum ada orang yang bisa dipercaya saat ini."
" Mau laki - laki atau perempuan?"
" Kalau bisa laki - laki saja, Mas. Kalau perempuan takutnya tidak bisa maksimal, apalagi kalau sudah berkeluarga."
" Tapi janji jangan aneh - aneh!" peringat Azzam.
Zahra menatap wajah suaminya yang tiba - tiba datar. Kenapa di mata Zahra justru sang suami terlihat tampan dan menggemaskan?
" Cie... Cemburu, ya?" goda Zahra.
" Apa...?" tanya Zahra bingung.
Azzam mengangkat tubuh istrinya dengan cepat menuju kamar pribadinya. Walaupun Zahra memberontak, namun tenaga Azzam dua kali lipat lebih kuat darinya.
" Mas... Ayo pulang!" rengek Zahra.
" Kau itu bukan gadis lagi, jadi turuti perintah suamimu dimanapun dan kapanpun." tegas Azzam.
" Dasar pemaksa!" cibir Zahra.
" Tapi Adek suka, kan?"
" Tentu saja, ayo cepat! Setelah ini aku mau pilih karyawan yang cocok jadi partner kerjaku."
" Kelakuan kamu, Dek! Nanti Mas rekomendasikan yang umurnya lebih dari setengah abad."
" Mas...! Zahra maunya yang dibawah 40 tahun."
" Kamu cari partner kerja atau partner hati?"
" Ish...!"
Azzam melihat wajah kesal istrinya sambil tersenyum. Ada - ada saja tingkahnya akhir - akhir ini. Mana ada karyawan yang umurnya diatas lima puluh? Perusahaan Azzam saja belum lama dibangun dengan merekrut karyawan fresh graduated atau umur max. 40 tahun untuk yang sudah berpengalaman kerja.
" Jangan manyun, kita harus menyambut ibadah hari ini dengan senyuman dan hati gembira." ujar Azzam lembut.
.
.
__ADS_1
Azzam dan Zahra terbangun jam satu siang. Keduanya masih bergelung dibawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun ditubuh mereka.
" Gara - gara Mas, ih!" gerutu Zahra kesal.
" Kenapa? Bukannya Adek juga menikmatinya sampai teriak kenceng banget. Untung saja kedap suara. Kalau tidak, bisa di dengar Rayyan ******* keras kamu." ledek Azzam.
" Nggak usah dibahas! Adek mau mandi dulu, udah lewat waktu zuhur." omel Zahra.
" Mandi bareng, Yang."
" Apa, sih!"
" Biar cepet, Yang. Tenang saja, beneran cuma mandi kok." bujuk Azzam.
Setelah drama ibadah 'menyenangkan' menurut Azzam, kini mereka tengah memeriksa data karyawan yang akan dipilih Zahra sebagai Asistennya di setiap cabang. Jadi, Zahra membutuhkan tiga karyawan untuk menempati tiap cabang.
" Mas, yang ini boleh?" tanya Zahra menunjukkan data diri salah seorang karyawan.
" Itu rumahnya terlalu jauh, Dek. Kasihan kalau harus bolak - balik tiap hari. Mending cari yang masih single aja." ujar Azzam.
" Ok... Zahra cari yang paling ganteng deh." celetuk Zahra asal.
" Zahra...!" teriak Azzam.
Rayyan yang sedari tadi duduk bersama pasangan suami istri tidak waras itu mulai jengah. Apakah mereka tidak bisa bekerja dengan pikiran saja tanpa mengajak mulutnya?
" Kalian ini hanya mengganggu konsentrasiku saja! Lebih baik aku kerja di ruanganku saja." kesal Rayyan.
" Adiknya Abang tuh marah - marah terus." ketus Zahra.
" Kau juga, Adinda Azzahra...!" geram Rayyan.
" Diem, Dek. Singa lagi ngamuk." bisik Azzam pada istrinya.
" Kau bilang apa! Bicara yang jelas, jangan mengumpat di belakang." teriak Rayyan emosi.
Zahra merasa bersalah sudah membuat Rayyan marah. Kenapa suaminya harus meladeni kakaknya yang emosi seperti ini?
" Bang... Zahra sama Mas Azzam minta maaf, ya? Jangan marah lagi, nanti darah tinggi loh." bujuk Zahra.
" Kamu sumpahin Abang cepat mati!" kemarahan Azzam semakin memuncak.
" Ray... Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah itu dibicarakan baik - baik, bukan seperti caranya." ujar Azzam sebisa mungkin tak tersulut emosi.
" Kalian tidak akan mengerti perasaanku." lirih Rayyan.
" Abang minum dulu, nanti kami bantu cari solusi dari masalah Abang." bujuk Zahra.
" Abang pengen sendiri dulu, Dek. Boleh Abang pulang sekarang?"
" Iya, nanti malam Adek ke Apartment Abang. Kita harus selesaikan masalah Abang bersama - sama."
Zahra meminta ijin pada suaminya untuk mengantar Rayyan ke Apartment karena tak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika pria itu mengemudikan mobilnya sendiri.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1