
Liburan telah usai dan kini Azzam kembali dengan aktifitasnya, begitu juga dengan Zahra yang kembali mengajar. Keduanya memang pekerja keras yang tak mengenal lelah.
" Mas, jadi sewa tanah untuk lahan sayuran?" tanya Zahra seraya membuat sarapan.
" Iya, Dek. Uang sewanya sudah Mas bayar lunas untuk satu tahun kedepan." jawab Azzam.
" Memangnya Mas udah punya pelanggan tetap yang akan membeli hasil panen sayurannya?"
" Jangan khawatir soal itu, sayang. Semuanya sudah Mas urus dengan baik. Tapi_..."
" Tapi apa, Mas?"
" Mas akan sering ke kota untuk mengurus penjualan dan mencoba untuk mencari usaha yang lebih menjanjikan disana."
" Apa selama ini Mas merasa masih kurang hidup seperti ini?"
Azzam menghela nafas perlahan seraya menatap istrinya yang masih sibuk di depan kompor. Dia memang sudah nyaman hidup bersama anak dan istrinya di desa ini. Namun Azzam juga tidak mungkin selamanya bersembunyi dari masa lalu.
" Bukan begitu, Dek. Mas hanya memikirkan masa depan anak - anak kita nanti. Apa kamu mau anak kita menjadi pewaris ayahnya yang hanya petani sayuran?"
" Terserah Mas saja, yang penting halal."
" Terimakasih ya, Dek. Kamu selalu mendukung setiap langkah yang aku ambil."
Entah sejak kapan pria itu berpindah tempat, Zahra terkejut saat sebuah tangan melingkar di perutnya. Azzam terbilang sangat romantis untuk ukuran orang yang hidup di pedesaan.
Azzam tidak pernah memberikan kemewahaan, namun setiap butuh pasti sekalu ada. Dia memang tidak mau terlihat berlebihan dalam hal materi.
Zahra tak pernah tahu dan tak ingin bertanya tentang apapun yang dilakukan suaminya selama itu masih dalam hal wajar dan tidak menyimpang. Zahra sering melihat Azzam yang selalu berkutat dengan laptopnya di tengah malam.
Pernahkah Zahra bertanya? Tentu saja dan jawabannya adalah ingin menjual sayur secara online seperti kebanyakan orang saat ini.
.
.
Hari ini Azzam kembali pergi ke kota untuk mengurus pekerjaannya. Sepertinya Azzam akan sering ke kota untuk urusan bisnis barunya.
" Zam, sudah selesai semuanya?"
Rayyan duduk berhadapan dengan Azzam di sebuah Cafe. Tadi sepulang dari sekolah, Rayyan langsung menyusul Azzam ke kota.
" Sudah, aku harus segera pulang setelah ini. Zahra pasti merasa aku mengabaikannya akhir - akhir ini. Rama juga kurang perhatian karena aku harus pergi pagi pulang malam."
" Yang namanya hidup itu harus berjuang, Zam. Aku yakin Zahra bisa mengerti keadaanmu sekarang. Kenapa tidak pindah kesini saja biar tidak bolak - balik setiap hari."
" Tidak bisa sekarang, Ray. Itu terlalu beresiko, aku tidak mau Zahra dan Rama jadi korban masa laluku."
" Cepatlah kembali sebelum semuanya hancur. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan semuanya."
" Nanti aku pikirkan lagi, kau urus saja dulu semua sama Deni."
Rayyan menyandarkan punggungnya di kursi seraya menggeliat pelan. Hari ini adalah hari yang melelahkan, berkendara dengan sepeda motor dari desa ke kota yang menempuh jarak sekitar satu jam lebih. Jika bukan untuk masa depan, mungkin Rayyan lebih memilih tidur di rumah.
" Ok, aku balik dulu untuk mengurus pekerjaan. Mungkin tengah malam baru sampai di desa. Bilang sama Zahra tidak usah menunggu untuk makan malam."
" Shitt! Jangan pernah ganggu istriku!" geram Azzam.
__ADS_1
" Hahahaa... dia adik iparku, apa salahnya aku dekat dengannya?" seringai Rayyan.
Rayyan memang sangat senang membuat amarah Azzam meluap. Kapan lagi bisa menggoda pria bucin di hadapannya.
.
.
Azzam sampai di rumah menjelang maghrib. Setelah membersihkan diri, Azzam sholat berjamaah di Mushola seperti biasanya sebelum bermain dengan Rama.
" Dek, masak apa...?" tanya Azzam sembari bermain mobil remot bersama putranya.
" Masak soto ayam, Mas. Ini sebentar lagi matang, tolong ambil nasinya ya?" pinta Zahra.
Mereka memang selalu melakukan apapun berdua. Mengurus sang anakpun juga mereka lakukan bersama. Meskipun merasa lelah, mereka tidak pernah mengeluh. Rasa syukur terus mereka panjatkan atas nikmat yang mereka dapatkan.
" Wahhh... kayaknya enak, sayang. Mas siapkan nasi dan piringnya dulu."
" Bang Ray di rumah, Mas? Suruh makan bareng aja sekalian."
" Rayyan pergi, Dek. Katanya pulang larut malam tadi."
" Mas ketemu dimana?"
" Mmm... tadi Mas telfon dia, tadinya minta tolong jagain Rama kalau kamu lagi sibuk."
" Zahra nggak pernah sibuk di sore hari, Mas. Ke sawah aja nggak diijinin, mau sibuk gosip sama tetangga?"
" Jangan dong, sayang. Tidak boleh ghibah, nanti takutnya jadi fitnah."
Setelah semua siap di meja makan, Azzam menggendong Rama untuk segera makan malam. Anak itu jarang sekali rewel kecuali saat sedang dalam keadaan sakit.Usai makan malam, Zahra menidurkan Rama karena malam semakin larut.
" Dek, apa hari ini kamu kelelahan?" tanya Azzam lirih.
" Tumben tanya begitu? Ada apa, Mas?" sahut Zahra heran.
" Tidak, tidurlah jika lelah."
Zahra beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri Azzam yang duduk di kursi tunggal. Pria itu sedang duduk seraya sedikit menguap.
" Hari ini pasti sangat melelahkan buat Mas. Mau Zahra pijat...?"
" Kamu memang istri yang terbaik, terima kasih sayangku."
Zahra menarik suaminya menuju ranjang. Namun bukan ranjang yang ditempati Rama, melainkan di kamar sebelah.
" Mas tengkurap biar Zahra gampang mijitnya."
" Hmmm... kakinya dulu sayang."
Azzam merasa sangat rileks dengan pijatan istrinya. Rasa lelahnya langsung menghilang saat melihat senyum di wajah anak dan istrinya.
" Udah sayang, sini rebahan dulu di samping Mas." pinta Azzam.
Zahra menurut dan merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Rasanya capek juga memijit seluruh tubuh suaminya yang besar dan berotot itu.
" Hari ini apa yang Mas lakukan di kota?" lirih Zahra.
__ADS_1
Azzam menghela nafas pelan sebelum menatap wajah polos istrinya. Dia berbohongpun pasti istrinya percaya dengan semua ucapannya.
" Yakin mau tahu...?" goda Azzam.
" Maasss...!" rengek Zahra.
Zahra mencubit pinggang sang suami lalu memeluknya dengan erat. Tempat yang paling nyaman adalah dalam dekapan suami tercinta.
" Haduhhh... pertanda apa ini kalau istriku jadi manja begini?" Azzam mencium kening istrinya lembut.
" Pertanda apa? Jangan mengalihkan pembicaraan, fokus pada jawaban dari pertanyaanku tadi!"
" Tapi janji tidak boleh marah ya?"
" Kenapa? Apa Mas menyembunyikan sesuatu dariku?"
" Mmm... apa ya...? Tumben adek penasaran banget sama kegiatan Mas hari ini?"
" Ya... seperti itu, cuma pengen tahu apa yang dilakukan suamiku di kota? Bukankah selama ini Mas jarang sekali ke kota? Kenapa sekarang hampir tiap hari pergi?"
" Hanya masalah pekerjaan, Dek."
" Iya, tapi pekerjaan apa? Sekarang sudah waktu tanam, tidak mungkin mengirim sayuran, kan?" cecar Zahra.
Azzam merasa geli sendiri melihat tingkah sang istri yang kini menaiki tubuhnya hanya untuk mendapatkan jawaban.
" Hmm... tergantung caramu merayuku. Kalau berhasil, Mas akan cerita." goda Azzam sambil tersenyum jahil.
" Baiklah, jangan menyesal sudah meminta itu dariku." seringai Zahra.
Wanita yang biasanya sangat anggun dan lembut itu semakin menggeliat diatas tubuh suaminya yang tersenyum geli. Entah habis darimana istrinya itu hingga bertingkah aneh seperti ini. Azzam memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan sang istri. Belajar darimana kekasih halalnya itu hingga tak seperti biasanya bersikap lebih liar.
" Ahh... sayang!" pekik Azzam saat istrinya menggigit lehernya dan memberikan tanda kepemilikan disana.
" Apa Mas suka?" bisik Zahra menggoda.
" Sayang... jangan menyiksaku seperti ini." rintih Azzam.
" Apa Mas sudah menyerah...?" seringai Zahra.
" Fine...! Selesaikan ini dan Mas akan cerita." racau Azzam.
" Tapi maaf, Zahra mau lihat Rama dulu. Takut nanti dia bangun dan nangis." bisik Zahra lalu beranjak dari atas tubuh suaminya.
" Sayang...!" pekik Azzam kesal.
Zahra sudah berlari ke kamar sebelah meninggalkan Azzam yang tengah menahan sesuatu yang sungguh menyakitkan jika terus seperti itu.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1