
Ben sangat terkejut dengan tatapan tajam istri sahabat lamanya itu. Namun begitu, ia segera merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum kembali.
" Hehehee... Kakak ipar cantik, makan siang bareng saya, yuk?" rayu Ben.
" Ayo, saya juga lapar. Mas disini jagain Bang Rayyan dulu, nanti aku bawain makanan." kata Zahra.
" Kok Mas ditinggal, Dek?" protes Azzam.
" Cuma sebentar sekalian ke Mushola."
" Baiklah, tapi hati - hati sama dia. Patahkan saja lehernya kau macam - macam." ucap Azzam seraya menatap Ben dengan tajam.
" Temanmu itu tidak akan macam - macam." sahut Zahra.
Ben tersenyum sangat lebar melihat istri sahabatnya dengan mudah diajak makan siang. Namun saat ia hendak berjalan di samping Zahra, Azzam menarik pundaknya.
" Jangan macam - macam kalau tak ingin masuk ICU...!" bisik Azzam.
" Hah...? Apa kau mau menghajarku?"
" Bukan aku, tapi istriku."
" Dia wanita lemah lembut dan sholehah." lirih Ben.
Mendengar sang suami malah saling berbisik dengan temannya, Zahra langsung menghampiri mereka lalu menarik jas putih yang dipakai Ben.
" Apa Anda membatalkan makan siang kita, Dokter?" ucap Zahra datar.
" Eh, tidak... Kakak ipar, ayo ke kantin sekarang." sahut Ben sedikit takut dengan aura dingin istri Azzam.
Ben mengajak Zahra ke kantin rumah sakit yang berada di lantai dasar. Mereka berjalan melewati lorong yang cukup panjang hingga sampai di samping tempat parkir para pegawai rumah sakit.
" Kakak ipar, siapa tadi yang sakit?" tanya Ben kepo.
" Saudara sepupu mas Azzam. Apa Anda tidak mengenalnya?"
" Tidak. Saya tidak mengenal keluarga Azzam, kami berteman diluar, tidak pernah mengunjungi rumah satu dengan yang lain."
" Pantas saja Anda tidak mengenalnya."
" Kakak ipar sejak kapan menikah dengan Azzam? Seharusnya dia mengundangku, kan?"
" Sudah hampir 4 tahun, anak kami usianya hampir 3 tahun."
" Selamat ya, Kak. Walaupun terlambat, nanti saya kirimkan hadiah untuk kalian. Minta alamat rumah kalian, ya?"
" Terima kasih, tapi tidak perlu. Kami bukan pengantin baru lagi."
Ben terkekeh pelan sambil menunjukkan arah Mushola rumah sakit sebelum mereka makan siang di kantin. Mereka berbincang cukup akrab walaupun baru kenal. Zahra bisa mengenali sifat seseorang yang tulus atau punya maksud tersembunyi.
" Jangan memanggilku 'Kakak', usia Dokter Ben pasti lebih tua dariku."
" Baiklah, kita berkenalan dengan baik sekarang. Nama saya Ruben, dokter specialis bedah di rumah sakit ini."
" Ok. Nama saya Zahra, guru SD di desa kecil pinggiran kota ini."
" Wow...! Apa saya tidak salah dengar? Azzam itu pewaris tunggal perusahaan besar di Jakarta."
Zahra tersenyum seraya melangkah masuk ke area wudhu khusus wanita. Ben yang belum menyadari dimana ia berada, terus melangkah mengikuti Zahra.
" Pak Ruben? Apa yang Anda lakukan disini?" seorang wanita paruh baya yang berseragam dokter itu menegur Ben yang masuk ke area khusus wanita.
__ADS_1
" Astaghfirullah...! Maaf, Bu... Saya tidak memperhatikan jalan tadi."
Ben langsung keluar dari sana dengan menahan malu karena kebodohannya mengikuti langkah Zahra tanpa melihat jalan.
.......
.
Zahra masih tertawa geli melihat Ben yang memasang wajah kesal karena sedari tadi Zahra mengolok keteledorannya.
" Sudah, kakak ipar! Saya malu, dari tadi mereka menatapku aneh. Padahal cuma tempat wudhu, bukan toilet." sungut Ben kesal.
" Maaf... Ayo pesan makanan, saya tidak mau Mas Azzam sendirian terlalu lama." sahut Zahra.
" Mau pesan apa?"
" Apa saja, sekalian bungkus buat Mas Azzam sama Bang Rayyan."
" Ok...!"
Selesai makan, Zahra segera kembali ke ruang IGD untuk menemani suaminya. Dia berpisah dengan Ben yang kembali keruangannya yang berbeda arah dengannya.
" Assalamu'alaikum, Mas."
" Wa'alaikumsalam, Dek."
" Ini Zahra bawain makanan, Mas sholat dulu sana."
" Iya, sebentar lagi Rayyan akan dipindah ke ruang perawatan. Kamu tunggu saja disana, sayang."
Azzam tanpa rasa malu mencium pipi istrinya sekilas lalu tersenyum tanpa dosa dan pergi begitu meninggalkan Zahra yang menatapnya tajam.
" Mas Azzam...!" geram Zahra kesal sekaligus malu dengan tatapan beberapa orang di sekitarnya.
" Suster, kakak saya mau dipindahkan ya?" tanya Zahra.
" Iya, Mbak. Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
Zahra mengikuti langkah perawat yang mendorong brankar menuju lift khusus pasien. Zahra pikir kakak sepupunya itu akan di rawat di lantai dasar.
" Kenapa di lantai atas, Sus?" tanya Zahra penasaran.
" Ini permintaan dari keluarga, Mbak. Pasien akan di rawat di ruang VIP."
Sampai di lantai lima, lift terbuka dan dua perawat itu mendorong brankar ke kamar yang tak jauh dari lift itu. Selesai membenahi selang infus dan juga merubah posisi Rayyan istirahat dengan nyaman, dua perawat itu segera keluar.
" Bang, makan dulu ya?" ucap Zahra lembut.
"Nanti saja, Za. Kamu kok sendirian, Azzam kemana?" tanya Rayyan.
" Tadi ke Mushola. Abang makan dulu, biar cepat sembuh." bujuk Zahra.
" Aku merepotkan ya, Za?"
" Abang jangan bicara ngelantur! Sekarang makan, Zahra suapi." tegas Zahra tak mau dibantah.
Rayyan hanya menurut saja saat Zahra memaksanya untuk buka mulut. Wanita di hadapannya itu lebih galak dari ibunya.
" Assalamu'alaikum," ucap Azzam seraya membuka pintu.
" Wa'alaikumsalam, udah selesai Mas? Makan dulu, makanannya Adek taruh di meja." balas Zahra.
__ADS_1
" Itu bayi besar nggak bisa makan sendiri, Yang?" ejek Azzam pada sepupunya itu.
" Istrimu yang maksa buat makan!" sungut Rayyan.
" Sini, Dek. Biar Mas yang suapi Rayyan!" Azzam mengambil alih makanan di tangan istrinya.
Zahra tahu suaminya itu tidak suka jika dirinya perhatian pada orang lain meskipun itu masih saudaranya. Dari awal mereka menikah, pria itu memang sangat posesif.
Selesai menyuapi Rayyan, Azzam duduk di samping istrinya di sofa. Zahra yang asyik main game anak - anak di ponselnya untuk membuang rasa jenuh tak menyadari tatapan datar suaminya.
" Dek...!" seru Azzam kesal.
" Kenapa, Mas? Udah selesai suapi Bang Ray? Sekarang Mas juga makan." sahut Zahra sembari fokus pada ponselnya.
" Kamu nggak peka banget sih, Dek!" sungut Azzam.
" Ya Allah, Mas... Kenapa, sih?"
" Suapi," rengek Azzam.
" Hhh... Kamu itu nggak sakit, Mas!"
Walaupun menggerutu, namun Zahra tetap menyuapi suaminya hingga makanan itu habis. Melihat Rayyan yang sudah tidur lelap, Azzam juga merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
" Mas capek, ya?" lirih Zahra.
" Hmm... Mas boleh tidur sebentar ya, Dek?"
" Iya, Mas juga butuh istirahat. Tidurlah, suamiku sayang." Zahra mengusap lembut rambut suaminya.
Saat Azzam sudah terlelap dalam pangkuan Zahra, tiba - tiba pintu terbuka perlahan. Sosok pria dengan balutan jas putih itu nyengir tanpa dosa masuk menghampiri Zahra.
" Hai, kakak ipar cantik." sapa Ben.
" Ada apa, Dokter?" sahut Zahra pelan.
" Tidak ada apa - apa, hanya ingin berjumpa kakak ipar saja."
" Hhh... Memangnya tidak ada pekerjaan lain?"
" Sudah selesai, ini mau pulang."
Zahra hanya tersenyum kecil lalu kembali mengusap kepala suaminya yang menggeliat terasa terusik dalam tidurnya.
" Dokter_..." panggil Zahra.
" Panggil saja, Ben. Jam kerjaku sudah selesai, bukan dokter lagi." sahut Ben.
" Baiklah, Ben... Bisa tolong ambilkan ponselku, sepertinya ada pesan."
" Tidak perlu sungkan kakak ipar cantik, bilang saja jika butuh sesuatu."
Ben mengambil ponsel yang berada diatas nakas lalu memberikannya pada Zahra. Tak ada perbincangan selanjutnya karena Zahra fokus dengan pesan yang ia baca.
" Astaghfirullah_...!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.