Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Zahra menghilang


__ADS_3

" Apaaa...?!" teriak Azzam dan Bima serempak.


" Kemana kakak ipar perginya jika tidak bersama kalian?" lirih Kaivan.


" Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi sampai Zahra terusir dari rumah!" seru Azzam.


Dengan perasaan bersalahnya, Kaivan menceritakan semua yang terjadi pada dini hari tadi. Dia tidak menyangka jika Bima tidak cepat tanggap dengan pesan yang ia kirimkan.


" Kau_...!" geram Azzam.


" Sudahlah, Zam. Sebaiknya kita lacak posisi Zahra lewat ponselnya." ujar Bima.


Bima segera mengeluarkan laptop yang tadi ia ambil dari kamar Rayyan. Dia mengecek semua ponsel yang dibawa Zahra namun ternyata nihil. Terakhir ponsel itu aktif adalah jam tiga lebih sedikit di arah pintu keluar gerbang.


" Apa tidak ada cctv di sepanjang jalan menuju gerbang?"


" Kita cek dulu kesana. Aku dan Sakti yang akan pergi, Mas jaga Rama saja." kata Kaivan.


.


.


Azzam dan Rayyan berkeliling kota untuk mencari Zahra setelah Kaivan gagal mendapatkan rekaman cctv di komplek perumahannya. Rama ia titipkan Darrent yang akhir - akhir ini mulai terbiasa mengurus anak kecil.


" Sudah tiga jam, Zam... kemana lagi kita mencari Zahra? Semua anggota Tiger White juga sudah geledah semua gedung kosong di kota ini, tapi hasilnya nihil." kata Rayyan.


" Aku tidak akan pulang sampai Zahra ketemu, Ray."


" Menurutku ini aneh, Zam. Setiap ada anggota Tiger White yang bertugas itu pasti memasang pelacak pada barang bawaan atau ditubuhnya, kenapa Zahra bisa menon-aktifkannya? Dia sudah terlatih, tidak mungkin seceroboh itu."


" Kau benar, Ray. Hanya ada dua kemungkinan, Zahra diculik dan disterilkan dari benda - benda semacam itu atau dia sengaja mematikan semua akses yang bisa melacak keberadaannya sendiri."


" Ya Allah... apa istrimu sudah hilang akal!"


Saat mereka kembali berkeliling, Kaivan menghubungi Azzam supaya mereka berkumpul di Apartemen Rayyan untuk membahas rencana penyelamatan ibu kandung dari Azzam.


Hanya butuh waktu 30 menit, semuanya sudah berkumpul di Apartemen itu. Kaivan yang lebih dulu datang, bermain di lantai bersama Rama dengan membawa banyak mainan untuk keponakannya itu.


" Ayo, sayang... mainnya sambil makan, ya?" bujuk Kaivan.


" Mobil, Om... Mobil...!" pekik Rama riang.


" Iya, besok kita beli mobilnya yang lebih banyak lagi." Kaivan sangat gemas melihat celotehan Rama.


" Bunda...?" tanya Rama.


" Mmm... Bunda masih kerja, sayang. Habisin dulu makannya terus bobok, ya?"


Kaivan sangat telaten dalam mengurus keponakannya sembari menunggu yang lain siap untuk memulai diskusi untuk rencana nanti malam. Disana juga ada Tuan Zaid yang membuat Azzam sedikit canggung.


" Mas, bicaralah dulu dengan Papa sebelum kita bahas rencana kita." bisik Kaivan.


" Baiklah..." sahut Azzam pelan.


Azzam mendekati Papanya yang sedari tadi duduk di sofa single dengan wajah yang menunduk. Disana juga ada Bima, Rayyan dan Darrent. Deni berada di kantor untuk mengurus perusahaan.

__ADS_1


Kini Azzam dan Papanya berdiri di balkon menatap teriknya mentari di siang hari. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Hanya helaan nafas yang terdengar satu sama lain.


" Maaf," lirih Tuan Zaid memecah keheningan.


Azzam menatap sendu wajah pria paruh baya yang dulu selalu memanjakannya itu. Dengan cepat ia langsung bersimpuh di kaki sang ayah.


" Azzam minta maaf, Pa. Harusnya Azzam lebih peka dengan keadaan kalian." tangis Azzam pecah di hadapan ayahnya.


" Bangunlah, Nak! Semua ini bukan kesalahanmu,"


Tuan Zaid merangkul bahu Azzam dengan lembut. Mereka saling berpelukan meluapkan rasa rindu setelah beberapa tahun berpisah.


" Keadaan Mama gimana, Pa?"


" Maafkan Papa, Zam. Setelah kamu pergi saat itu, Papa juga tidak pernah bisa bertemu lagi dengan Mama kamu. Dia disekap di paviliun sejak hari itu dan Papa tidak bisa berbuat apapun."


" Kita akan selamatkan Mama, Pa. Azzam pasti bisa membawa Mama kembali kepada kita."


" Zam... benarkah itu cucu kandung Papa?"


" Iya, Pa... namanya Hafiz Ramadhan Al Farizy."


" Rara... bagaimana dia bisa_..."


" Namanya Zahra, dia ingin menyelidiki tentang keadaan Mama. Dia menantu Papa, ibunya Rama."


" Kaivan sudah cerita tentang istrimu. Kau memang tidak salah memilih pasangan hidup. Dia wanita yang sangat baik dan kuat."


" Dia itu wanita pilihan Mama, Pa. Bukan suatu kebetulan aku menikahinya."


" Jangan sampai Zahra tahu ya, Pa? Dia pasti marah padaku kalau tahu yang sebenarnya."


" Hah... kau masih saja jahil seperti dulu."


Mereka tertawa bersama lalu kembali saling berpelukan. Kebahagiaan yang dulu sempat hancur, kini sedikit demi sedikit mulai kembali lagi secara perlahan.


" Mas Azzam, Papa... bisa kita bicara sekarang saja? Kita juga harus cari kak Zahra setelah ini." ucap Kaivan.


" Ayo, Pa..."


Azzam menggenggam erat tangan Papa Zaid dan Kaivan. Mereka sudah seperti keluarga yang sangat harmonis.


" Ciieee... keluarga cemara," ledek Rayyan.


Plakkk!


Sebuah buku mendarat tepat di kepala Rayyan yang berasal dari Bima. Walaupun belum begitu lama kenal, namun mereka terlihat sangat akrab.


" Ish... sakit, b*d*h...!" umpat Rayyan.


" Heh...! Jangan bicara kotor di depan anakku!" sentak Azzam.


" Sudah, Mas. Kita bicarakan hal yang lebih penting daripada berdebat nggak jelas seperti ini." lerai Kaivan.


Kaivan meraih tubuh kecil keponakannya dan meletakkannya di pangkuan. Walaupun baru dua kali bertemu dan baru sekali ini berinteraksi, namun Kaivan bisa merasakan ketenangan saat memeluk bocah itu. Apalagi Rama yang mudah bergaul dan tidak takut berinteraksi dengan orang yang baru dikenal.

__ADS_1


" Rama sama Uncle Kaivan disini ya? Kamu tampan sekali, sayang." celoteh Kaivan.


" Zam, apa Papa boleh menggendong putramu?" tanya Tuan Zaid pelan.


" Tentu saja, Pa. Dia ini cucu pertama Al Farizy, dia pasti senang bertemu kakeknya." ucap Azzam.


" Terima kasih, Nak."


" Tidak perlu sungkan, Pa. Asalkan diberi pengertian sebelumnya, Rama pasti bisa menerima kakeknya."


Tuan Zaid berjalan perlahan lalu duduk berlutut di hadapan Kaivan dan Rama yang duduk di sofa untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang cucu.


" Rama... ini Kakek, beliau ini ayahnya ayah kamu." ucap Kaivan lembut.


" Kakek...? Kakek siapa...?" tanya Rama polos.


" Namanya kakek Zaid, mulai sekarang Rama harus sayang juga sama kakek seperti Rama sayang sama ayah dan bunda." terang Kaivan.


Tuan Zaid tidak mampu mengucap satu patah katapun. Dalam hatinya hanya penyesalan saja karena tidak bisa mendampingi tumbuh kembang sang cucu.


" Peluk kakek, sayang?" pinta Tuan Zaid dengan cairan bening yang sudah menetes dari sudut matanya.


" Gendong," Rama mengulurkan kedua tangannya yang langsung disambut dengan cepat oleh Tuan Zaid.


" Anak pintar," Tuan Zaid langsung mendekap tubuh Rama ke dalam dekapannya.


Azzam meminta papanya untuk mengajak Rama ke dalam kamar saja karena anak itu sudah beberapa kali menguap.


Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Rama terlelap di samping Tuan Zaid yang ikut berbaring. Pria paruh baya itu tersenyum haru dan juga sangat bahagia.


" Rahma... kau pasti bahagia jika bisa melihat secara langsung cucu kita yang sangat tampan. Wajahnya mirip sekali dengan Azzam sewaktu kecil dulu." gumam Tuan Zaid.


Tuan Zaid kembali bergabung di ruang tamu setelah mengecup kening sekilas cucunya yang terlihat sangat menggemaskan.


" Belum ada kabar soal Zahra?" tanya Tuan Zaid.


" Belum, Pa. Kenapa semua bisa sekacau ini?" ucap Azzam frustasi.


" Sambil mencari istrimu yang menghilang, kita susun rencana untuk nanti malam." ujar Bima.


" Baiklah, apa rencananya?" sahut Rayyan.


" Tuan Zaid harus bisa mengajak Nyonya Nella keluar dari rumah itu saat kita beraksi. Kaivan ikut dengan Tuan Zaid untuk menjaga keselamatan beliau dari serangan mendadak Nyonya Nella saat aksi kita terbongkar. Aku sendiri akan tetap berada di dalam rumah untuk mengamankan Nyonya Rahma di paviliun saat Azzam menyerang."


" Baiklah, kita lakukan yang terbaik malam ini." ucap Kaivan.


Setelah semua sepakat dengan rencana Bima, semua bubar untuk melakukan aktifitas masing - masing.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2