Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Semakin terbuka


__ADS_3

Hari menjelang malam dan Kaivan bergegas mengajak Zahra ke Bandara. Sebelumnya mereka jalan - jalan menyusuri pantai. Kaivan tampak sangat senang, sorot matanya nampak berbinar seakan baru mendapatkan hadiah besar.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Zahra menatap keluar jendela yang gelap. Bayangan suami dan anaknya seakan nyata di depan matanya.


" Hey... kenapa senyum - senyum sendiri?" tegur Kaivan heran.


" Eh... Tuan, tidak apa - apa. Saya hanya membayangkan seandainya orangtua saya masih ada dan ikut naik pesawat ini, pasti mereka sangat senang."


" Do'akan saja yang terbaik untuk mereka."


" Iya, Tuan. Saya tidak akan memutus do'a untuk mereka diatas sana."


" Pasti orangtuamu itu sangat baik, Ra. Mereka bisa mendidik kamu hingga menjadi gadis yang baik dan bisa menjaga akhlak. Seandainya orangtuaku seperti itu, mungkin hidupku tidak akan kacau seperti ini."


" Semua ini sudah takdir, Tuan. Tidak ada yang harus disesali dari masa lalu. Saat ini Tuan sudah dewasa, bisa mengambil keputusan sendiri. Apakah Tuan akan mengikuti jejak Nyonya Nella atau mengubah jalan itu menjadi sesuatu yang berbeda. Tanyakan pada hati Tuan sendiri, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuan dari hati yang paling dalam."


Kaivan menatap Zahra sendu. Seandainya ia bisa memiliki rasa yang lebih dari sekadar saudara, tapi itu semua tidak mungkin. Kaivan masih belum bisa menerima rasa itu akibat ulah sang ibu yang telah menghancurkan hubungan orang lain.


" Apakah suatu saat nanti, saya akan mendapatkan karma dari perbuatan ibu saya, Ra?"


" Tuan jangan bicara begitu, tidak ada orang yang mendapat karma dari perbuatan yang orang lain lakukan."


.


.


Bima sudah sepuluh menit menunggu Kaivan dan Zahra. Tak jauh darinya, Azzam juga duduk di kursi paling sudut dengan topi dan masker untuk menutupi identitasnya dari Kaivan.


Tak lama Kaivan dan Zahra datang. Bima menyambut dengan sopan, satu hal yang tak pernah Zahra lihat dari Bimantara Sakti Kyle.


" Sakti, kita langsung pulang!" titah Kaivan dengan wajah datar.


" Baik, Tuan."


Zahra bisa memahami sikap Kaivan setelah pria itu semakin terbuka soal kehidupan pribadinya. Kaivan berjalan paling depan, sementara Zahra dan Bima mengekor di belakang. Dengan tatapan mata, Bima memberi kode pada Zahra untuk melihat ke arah sudut ruang tunggu.


Saat Zahra menoleh, dia kaget karena melihat sang suami yang sedikit melambaikan tangannya dengan senyum yang terkembang.


'Astaghfirullah... Apa yang dia kakukan disini? Bagaimana kalau anak buah Nella masih mengikutiku?' gumam Zahra.


Zahra menggeleng pelan sambil tersenyum kecil pertanda ia tak bisa bertemu langsung. Zahra mensejajari Kaivan dengan tersenyum.


" Ada apa...?" tanya Kaivan yang heran melihat Zahra berjalan terlalu dekat dengannya.


" Tuan... apakah anak buah Nyonya masih mengikuti kita?" bisik Zahra.


" Ya... Bersikaplah biasa saja. Saya juga tidak tahu apakah Sakti juga bagian dari rencana Mami untuk mengawasiku."


" Huft... tapi sepertinya Sakti berbeda, Tuan. Dia kan rekomendasi dari Tuan Deni. Apakah Tuan Deni bagian dari Nyonya?"


" Tidak, dia sahabat mas Azzam. Saya tidak yakin ia mengkhianati sahabatnya itu."

__ADS_1


Zahra melirik Azzam yang tampak kecewa karena mereka tidak bisa bertemu langsung. Namun saat ini Zahra tidak bisa berbuat apa - apa karena dirinya selalu diawasi.


Kaivan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu setelah Bima membukakan pintu mobil. Zahra yang masih di luar segera berbisik pada Bima sebelum masuk ke dalam mobil.


" Kami berdua diikuti anak buah Nella dari pagi, Mas Azzam jangan menemuiku dulu." bisik Zahra.


" Ok." jawab Bima singkat.


Dalam perjalanan pulang, tak ada percakapan dalam mobil Kaivan. Mungkin mereka cukup lelah setelah aktifitasnya seharian ini.


" Tuan... nanti mau makan apa?" tanya Zahra memecah keheningan.


" Makan diluar saja, kau pasti lelah kalau harus masak." jawab Kaivan pelan.


" Kalau hanya masak tidak akan membuat saya lelah, Tuan."


" Sakti, nanti berhenti di restoran padang saja, saya sudah lama tidak makan itu." perintah Kaivan.


" Baik, Tuan." jawab Bima singkat.


" Sakti... bolehkah saya bertanya padamu?" ucap Kaivan pelan.


Zahra dan Bima kaget dengan ucapan Kaivan. Bagaimana bisa seorang majikan meminta ijin hanya untuk sekedar bertanya pada sopirnya.


" Silahkan, Tuan. Asalkan jangan bertanya soal matematika, saya lebih suka bermain fisik daripada sains." jawab Bima asal.


" Orang yang suka bermain fisik itu biasanya pintar dalam analisa." sahut Kaivan.


" Iya, Tuan. Biasanya yang saya lakukan itu analisa keuangan."


" Hahahaa... bukan itu maksud saya, Tuan. Hanya analisa kecil aja, seandainya sekarang saya punya uang lima puluh ribu, kira cukup untuk makan berapa hari."


" Hah... saya pikir kamu benar - benar bisa audit keuangan." Kaivan menghela nafas pelan.


" Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Zahra.


Kaivan menyandarkan punggungnya seraya memejamkan matanya sejenak. Haruskah ia terbuka pada dua orang yang baru saja ia kenal itu? Untuk Zahra, mungkin Kaivan bisa percaya. Tapi Sakti? Kaivan garus memastikannya terlebih dahulu.


Kaivan mengirimkan pesan pada Deni untuk menanyakan tentang Sakti. Deni pasti sudah mengenal dengan baik sopir pribadinya karena itu rekomendasi darinya.


" Nanti saja setelah makan kita bicarakan lagi." jawab Kaivan.


Tak lama mereka sampai di Restoran Padang sesuai perintah Kaivan. Zahra tentu saja yang paling antusias. Kaivan dan Bima hanya memesan dengan lauk ayam bakar dan perkedel sedangkan Zahra memesan rendang, ikan bakar dan ayam goreng.


" Ra... kamu yakin bisa menghabiskannya?" tanya Kaivan heran, sedangkan Bima hanya geleng - geleng kepala.


" Hehehee... asalkan Tuan yang bayar, semuanya pasti habis." jawab Zahra riang.


Saat pesanan datang, Zahra langsung mencuci tangannya dan menarik piring semakin dekat kearahnya. Dia makan sangat lahap tanpa memperdulikan tatapan aneh Kaivan dan Bima.


' Apa Azzam tidak pernah memberinya makan dengan layak? Kalau ada yang tahu dia menantu Al Farizy, pasti heboh se-Indonesia' batin Bima.

__ADS_1


' Apa selama ini dia tak pernah makan dengan layak? Dia cantik dan polos, tapi kali ini dia seperti orang kerasukan. Makan segitu banyaknya apa dia sanggup?' batin Kaivan.


" Pelan - pelan saja, Ra. Kalau kurang nanti bisa pesan lagi." kata Kaivan.


" Tuan jangan bully saya lagi, makanan ini sangat enak." sahut Zahra.


" Saya tidak pernah bully kamu, Ra. Kamu itu sensitif banget sih."


Selesai makan, Kaivan mengajak mereka segera pulang karena sedari tadi orang suruhan Maminya masih terus mengikutinya. Sampai di dalam mobil, Kaivan kembali membahas yang tadi mereka bicarakan.


" Sakti... kau bukan orang suruhan Mami, kan?" tanya Kaivan serius.


" Tentu saja bukan, Tuan. Saya menjadi sopir Anda karena Tuan Deni. Tadinya saya bekerja untuk kerabatnya diluar kota, namun karena majikannya pindah ke luar jawa, saya lebih memilih tawaran Tuan Deni."


" Saya harap kau tidak berkhianat padaku. Rara... apa kau percaya padanya?"


" Mmm... menurut saya, Sakti bisa dipercaya Tuan. Jika Tuan Deni yang merekomendasikan, tidak mungkin dia mata - mata Nyonya Nella." jawab Zahra lugas.


" Benar juga, Deni tidak mungkin berkhianat pada mas Azzam." kata Kaivan.


Kaivan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Secepat inikah dirinya percaya dengan orang baru? Selama ini Kaivan sangat sulit berinteraksi dengan orang lain selain urusan pekerjaan. Setelah bertemu Zahra, semuanya berubah. Kaivan terlihat lebih santai dan tidak terforsir dengan pekerjaan. Sesekali ia juga mengajak Deni untuk makan siang bersama karena mungkin hanya dialah yang ia percaya.


" Bisakah saya percaya denganmu, Sakti?" nada suara Kaivan terlihat seperti memohon menurut pikiran Zahra.


" Tentu saja, Tuan. Anda percaya pada Tuan Deni, kan?" Bima berusaha meyakinkan Kaivan.


" Baiklah, saya percaya padamu."


Kaivan mengedarkan pandangan keluar kaca mobilnya dan melihat mobilnya masih diikuti. Dengan pikiran kacau, dia semakin lelah dengan kehidupannya.


" Sakti... kau benar bisa audit data atau tidak?" tanya Kaivan serius.


" Mmm... bisa, Tuan. Walaupun saya hanya sopir, namun saya ini pernah kuliah. Sayang saja, gaji sopir pribadi ternyata lebih besar daripada karyawan perusahaan."


" Baiklah, besok kau ikut denganku ke kantor."


" Untuk apa, Tuan?"


" Kau periksa laporan bulanan beberapa bulan ini. Sepertinya ada kecurangan di laporan itu, namun semua seperti telah direncanakan."


" Apa Tuan Deni juga tidak tahu, Tuan?"


" Entahlah, nanti kutanyakan padanya."


Tak lama mereka sampai di rumah. Kaivan menyuruh kepala pelayan untuk mengantar Sakti ke kamarnya yang berada di samping paviliun.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2