
Zahra sudah berada di kantor Kaivan dengan rantang di tangannya. Beruntung tadi ia dijemput Bima, jadi mereka bisa diskusi secara bebas. Kaivan juga sudah percaya dengan Bima sehingga memberikan berkas laporan keuangan yang dinilai janggal pada akhir - akhir ini.
" Tuan... mau makan sekarang?" tanya Zahra.
" Nanti saja, pekerjaanku sangat banyak. Kau taruh saja dulu di meja." jawab Kaivan tanpa menoleh.
" Oh iya, saya juga bawa bekal untuk Tuan Besar. Bolehkah saya mengantar ke ruangannya, Tuan?"
" Kenapa kau harus membawa makanan untuknya? Kau itu hanya mengurusku saja."
" Sekalian jalan, Tuan. Hanya sebentar saja, saya sekalian pengen lihat - lihat kantor ini." ucap Zahra menghiba.
Melihat raut wajah pelayannya yang memelas, Kaivan akhirnya mengijinkan Zahra memberikan makanan untuk papanya diantar oleh Deni.
" Jangan lebih dari lima belas menit!" ujar Kaivan.
" Kok cuma lima belas menit, Tuan?"
" Kau mau seharian keliling kantor?"
" Bukan begitu, Tuan. Kantor ini sangat besar, kalau hanya lima belas menit mau lihat apa coba?"
" Ya sudah, terserah kamu saja."
" Terima kasih, Tuan Kaivan yang baik hati."
Zahra bersorak dalam hati. Akhirnya kesempatan yang ia tunggu - tunggu akhirnya datang juga. Zahra langsung mengambil bekal makanan untuk papa mertuanya.
Tok Tok Tok!
" Masuk!"
" Selamat siang, Tuan Besar." sapa Zahra.
" Siang, Rara. Ada perlu apa kamu datang kesini?" sahut Tuan Zaid.
" Maaf sudah mengganggu, Tuan. Saya tadi mengantar makan siang untuk Tuan Kaivan. Jadi sekalian saja saya bawa untuk Tuan Besar."
" Seharusnya tidak perlu repot - repot, tapi terima kasih."
" Sama sekali tidak merepotkan, Tuan. Saya senang melakukannya."
Zahra melihat sekeliling seperti sedang mencari sesuatu. Tuan Zaid yang menyadari langsung menegur Zahra.
" Kamu cari apa?"
" Eh... tidak, Tuan. Saya hanya melihat saja apakah ada cctv di ruangan ini?"
" Kenapa...?" Tuan Zaid menatap Zahra heran.
" Malu saja, Tuan. Saya jadi seperti artis saja masuk rekaman."
__ADS_1
" Kau ini ada - ada saja. Di ruangan ini tidak ada cctv, ini ruangan pribadiku."
" Oh iya, Tuan inikan Komisaris Perusahaan ini."
Keheningan kembali tercipta di ruangan pribadi Tuan Zaid. Pria paruh baya itu membuka bekal makanan lalu mengambil sendok yang disodorkan Zahra. Tak lupa segelas air putih di sampingnya.
" Tolong buatkan teh manis hangat." perintah Tuan Zaid.
" Baik, Tuan."
Setelah Tuan Zaid menghabiskan makanannya, Zahra menatap Papa mertuanya itu dengan lekat. Wajahnya yang hampir mirip dengan suaminya itu memiliki sorot mata kosong seakan banyak sekali beban dalam pikirannya.
" Tuan... Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tanya Zahra lembut.
" Tidak ada, pergilah!" jawab Tuan Zaid pelan.
" Ini bukan soal pekerjaan, Tuan. Anda bisa berbicara soal pribadi pada saya."
" Apa maksudmu...?"
" Maaf jika ini menyinggung perasaan Anda. Saya ingin menanyakan soal Nyonya Rahma."
" Rahma...? Kau... mengenal istriku?"
Tatapan Tuan Zaid sangat sulit diartikan. Zahra ingat tatapan itu juga pernah ia lihat dari suaminya. Tatapan yang sama saat rasa keingintahuannya tinggi.
" Saya baru bertemu kemarin malam, Tuan. Tuan Muda Kaivan yang mengajak saya mengunjungi beliau di paviliun saat Nyonya Nella pergi."
" Mmm... Apakah Tuan tidak pernah bertemu Nyonya Rahma?"
" Sejak tiga tahun yang lalu... Hah, apakah kau bisa kupercaya?"
Tuan Zaid baru tersadar jika orang yang ia ajak bicara saat ini adalah orang baru beberapa hari di rumahnya. Tapi jika dilihat dari sorot matanya, wanita itu terlihat seperti orang yang baik dan dapat dipercaya.
" Tuan jangan khawatir, saya bukan orang jahat."
" Entah kesalahan apa yang kuperbuat di masa lalu hingga sekarang hidupku bagai di neraka. Istri dan anakku entah bagaimana keadaannya sekarang." ucap Tuan Zaid sendu.
" Kenapa Tuan bisa menikah dengan Nyonya Nella...?"
" Dulu... Nella dulu adalah kekasih saya di waktu muda. Kami hampir saja bertunangan setelah lulus kuliah. Tapi malam itu, saat saya berkunjung ke rumahnya, saya mendapati dia bersama pria lain di kamarnya. Kau tahu sendiri apa yang terjadi saat itu, kan?" Tuan Zaid menghela nafas pelan.
" Setelah memutuskan untuk melepasnya, saya bertemu dengan Rahma yang merupakan putri dari klien kakeknya Azzam."
Tuan Zaid menceritakan masa lalunya bersama anak dan istrinya yang bahagia. Cerita tentang Azzam yang sedari dalam kandungan sudah dimanjakan dan diberi fasilitas mewah hingga dewasa. Tak pernah sekalipun Azzam kekurangan yang namanya materi maupun kasih sayang.
Namun kebahagiaan itu hancur setelah Nella datang dan mengancam akan membunuh Azzam dan Rahma. Dengan sangat terpaksa, Zaid menikahi Nella secara diam - diam setelah melihat anaknya yang setiap hari diikuti anak buah Nella.
Zaid tidak kuasa melawan dan tidak pula berani mengatakannya pada Azzam karena ancaman itu. Apalagi sang istri yang sudah berulang kali mendapat teror.
" Jadi... Tuan Azzam tidak tahu kalau Tuan terpaksa menikahi Nyonya Nella?"
__ADS_1
" Iya, saya sengaja mengusirnya supaya menjauh dari kota ini demi keselamatannya. Semoga saja Azzam baik - baik saja diluar sana."
" Seandainya Tuan Azzam pulang, apa yang akan Anda lakukan? Nyonya Rahma sangat berharap bisa bertemu putranya."
" Entahlah, saya hanya tidak ingin mereka celaka."
" Kenapa Tuan tidak melawan?"
" Tidak mungkin. Dia selalu mengancam akan membunuh Rahma."
" Jika Tuan mengijinkan, saya akan membantu menyelamatkan Nyonya Rahma."
" Apa maksudmu? Kau tidak tahu siapa Nella, kakaknya itu mafia yang sangat kejam."
" Jika saya bersedia untuk membantu, apakah Tuan mau bekerja sama?"
Zaid tidak mengerti apa yang dimaksud Zahra. Kenapa pelayan yang baru beberapa hari bekerja di rumahnya itu mendadak ingin menolong keluarganya?
" Siapa kau sebenarnya? Kenapa sangat peduli kepadaku?" cecar Tuan Zaid.
" Saya hanya pelayan yang tidak tega melihat majikannya tersiksa, Tuan. Nyonya Rahma sangat membutuhkan bantuan medis saat ini. Saya harap Anda bisa bekerja sama untuk melawan Nyonya Nella."
" Bagaimana caranya?"
" Jauhkan Nyonya Nella dari rumah untuk sementara waktu sampai saya bisa mengeluarkan Nyonya Rahma dari paviliun. Saya harus membawa Nyonya Rahma ke tempat yang aman."
" Berapa lama waktu yang kau butuhkan?"
" Hanya satu jam. Selama itu, jauhkan Nyonya Nella dari alat komunikasi apapun."
" Kapan kita beraksi?"
" Saya harus memastikan Tuan Kaivan berada di pihak kita."
" Mana mungkin, Nella itu ibunya. Kaivan tidak mungkin mengkhianati ibunya sendiri."
Zahra menatap lembut wajah pria paruh baya yang mulai keriput karena beban pikiran yang terlalu berat itu. Ingin rasanya ia menggenggam tangan yang dulu sering merengkuh tubuh suaminya. Zahra ingin sekali bicara jujur bahwa ia adalah istrinya Azzam, namun logikanya menolak keras demi sebuah misi yang ia jalankan.
" Tuan Kaivan sangat sayang pada Nyonya Rahma, beliau pasti bisa membantu kita." ucap Zahra bersemangat.
" Semoga kau berhasil, Nak. Saya tidak tahu maksud kamu apa sebenarnya untuk membantuku. Tapi saya berterimakasih sebelumnya." ucap Tuan Zaid tulus.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1