
Ben masuk ke dalam rumah diikuti Zahra dengan diam. Pria itu langsung mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa putra dari sahabatnya itu. Setelah beberapa saat, Ben memberikan obat yang harus diminum oleh Rama.
" Ini obatnya diminum 3x sehari setengah tablet saja sesudah makan." ujar Ben.
" Terima kasih, Ben. Oh iya, apa yang dikatakan ibu - ibu tadi sampai kamu diam seperti ini?" tanya Zahra penasaran.
" Abaikan saja! Omongan mereka tidak penting."
" Siapa, Mbak?" tanya Agus.
" Tadi ada bu Titin sama bu Ambar lewat di depan."
Agus menghela nafas panjang lalu duduk di samping Zahra. Ada rasa tak tega untuk mengungkapkan masalah ini kepada wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.
" Mbak, Agus tahu apa yang mereka bicarakan." ungkap Agus dengan pelan.
" Maksudnya?" tanya Zahra penasaran.
" Bu Titin dan Bu Ambar itu tidak suka melihat Mbak Zahra yang semakin sukses sekarang. Beberapa hari yang lalu, suami mereka ikut bekerja di sawah. Tapi karena kerjaannya tidak beres dan semua pegawai protes, makanya aku dan Cahyo terpaksa pecat mereka." ungkap Agus.
" Astaghfirullah...! Tapi hubungannya sama aku apa, Gus?"
" Mereka beberapa kali melihat teman - teman Mbak dari kota datang. Mereka membuat berita bohong pada warga yang lain kalau yang datang itu selingkuhan Mbak Zahra."
" Hhh... Aku tidak pernah mengusik mereka, Gus. Bahkan hampir setiap hari mereka memetik sayuran dengan gratis di sawah."
" Abaikan saja! Lagian kenapa tidak pindah ke kota saja, suami kamu itu bukanlah pria miskin." ujar Ben.
Bu Marni mengusap lembut punggung Zahra untuk menenangkannya. Dia tahu kalau tetangganya itu sudah keterlaluan membuat fitnah untuk Zahra.
" Sabar, Za. Mereka hanya iri dengan kehidupanmu saat ini." ujar Bu Marni lembut.
" Zahra tidak apa - apa, Bu. Yang paling penting adalah ibu percaya pada Zahra."
" Pasti, Nak. Ibu tahu kamu itu wanita yang baik."
" Kakak ipar, bawa Rama ke dalam kamar. Biarkan dia istirahat dengan nyaman." ucap Ben.
" Iya, terima kasih sudah jauh - jauh dari kota untuk mengobati anakku."
" Kenapa berterima kasih, Rama itu keponakanku."
" Kalau begitu terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
" Hhh... Saya ini sudah seperti saudara dengan Azzam. Kapanpun kakak ipar butuh, hubungi aku."
Ben pamit untuk segera pulang karena hari semakin senja. Zahra menitipkan pakaian ganti untuk suaminya daripada harus beli disana.
.
.
Zahra menemani Rama istirahat di kamar sembari menunggu waktu maghrib. Rama tidak tidur, hanya duduk bersandarkan ibunya.
" Bunda... Ayah belum pulang?"
" Belum, sayang. Ayah lagi temenin papa Rayyan di rumah sakit."
" Papa sakit apa, Bunda?"
" Demam seperti Rama, tapi harus ditangani dokter."
__ADS_1
" Sakitnya Papa parah ya, Bunda?"
" Tidak, do'akan besok Papa segera pulang."
Usai menyuapi Rama dan memberikan obatnya agar putranya itu lekas sembuh. Zahra membaringkan putranya ke tempat tidur kembali karena ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah Isya', Zahra duduk di teras rumah setelah putranya tidur. Dia merenungi masalahnya kali ini yang membuatnya semakin pusing.
" Mbak Zahra...!" seru Agus dan Cahyo bersamaan.
" Astaghfirullah...! Kalian ini mengagetkanku." pekik Zahra.
" Hehehee... Lagian malam - malam begini bengong."
" Hhh... Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, kenapa mereka mengusik kehidupanku?"
" Jangan dipikirkan, Mbak. Mereka hanya iri sama Mbak Zahra." ucap Cahyo.
" Seandainya aku menetap di kota, menurut kalian bagaimana?" ungkap Zahra.
" Jangan, Mbak. Abaikan saja ucapan mereka, tidak perlu diambil hati." sahut Agus.
Zahra menyandarkan punggungnya di kursi kayu seraya memejamkan matanya sejenak. Sebenarnya sangat berat kalau harus meninggalkan rumah yang sudah ia tempati sejak lahir.
" Sebenarnya aku juga berat kalau harus meninggalkan rumah ini dan pekerjaanku, Gus. Tapi pekerjaan Mas Azzam jauh lebih penting di kota. Kalau setiap hari harus pulang pergi dari desa ke kota kasihan."
" Memangnya Mas Azzam kerja apa sih Mbak di kota?"
" Nanti kalian tanyakan sendiri padanya. Sepertinya untuk urusan sawah harus kalian berdua yang mengurusnya. Kami hanya akan memantau dari jauh pekerjaan kalian."
" Kok gitu, Mbak? Kalau nggak ada Mas Azzam kita bingung mau bagaimana." protes Cahyo.
" Kalian itu sudah dewasa, sudah saatnya kalian serius dalam bekerja."
Zahra : " Assalamu'alaikum, Mas."
Azzam : " Wa'alaikumsalam, kamu dimana itu, Dek?"
Zahra : " Di teras sama Agus dan Cahyo, kenapa?"
Azzam : " Tadi Ben kesini dan sudah cerita soal gosip tetangga sore tadi. Kamu abaikan saja, jangan pikirkan apapun."
Zahra : " Iya, Mas. Zahra tidak akan terpengaruh dengan gosip itu."
Azzam : " Besok Rayyan sudah boleh pulang, mungkin siang. Suruh Agus bersihkan rumahnya, ya?"
Zahra : " Iya, besok kami bersihkan."
Azzam : " Memangnya kamu nggak ke sekolah?"
Zahra : " Ijin dulu sehari, Rama masih belum bisa ditinggal."
Azzam : " Sakitnya nggak parah, kan?"
Zahra : " Tidak, Mas. Jangan khawatirkan Rama,"
Azzam : " Ya udah Mas mau beli makanan dulu, sayang. Assalamu'alaikum."
Zahra : " Wa'alaikumsalam."
Setelah panggilan video tidak terhubung lagi, Zahra kembali berbincang sebentar dengan Agus dan Cahyo sebelum istirahat.
__ADS_1
.
.
Siang hari, Azzam pulang bersama Rayyan. Zahra dan Bu Marni sudah selesai masak untuk makan siang.
" Assalamu'alaikum," ucap Azzam.
" Wa'alaikumsalam, udah sampai Mas? Bang Ray mana?" balas Zahra.
" Udah Mas antar sampai kamarnya."
" Mau makan sekarang? Zahra mau antar makanan ke rumah Bang Rayyan."
" Nanti saja, Rayyan juga langsung tidur tadi. Sebelum pulang juga sudah dapat jatah makanan dari rumah sakit."
Azzam mendekap erat tubuh istrinya dari belakang. Baru semalam berpisah, Azzam sudah sangan merindukan istri dan anaknya.
" Rama dimana, Dek?"
" Ikut ke rumah Bu Marni tadi."
" Udah sembuh?"
" Udah, habis minum obat dari Ben panasnya langsung turun."
" Baguslah, berarti sekarang tinggal rawat ayahnya." Azzam mencium pipi Zahra dengan lembut.
" Mas Azzam... Istirahat dulu sana kalau tidak mau makan." Zahra berusaha melepas pelukan suaminya.
" Ayolah, sayang... Mumpung tidak ada Rama," bujuk Azzam.
Zahra membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan suaminya. Senyum terbit dari bibirnya sebelum mengecup sekilas bibir suaminya dengan lembut.
" Mandi dulu, baru pulang dari rumah sakit."
" Tapi nanti malam bisa, kan?" rengek Azzam tak mau menyerah.
" Iya, suamiku..."
Azzam langsung melepaskan pelukannya dan bergegas menyambar handuk di kamarnya untuk membersihkan diri. Sepertinya pria tampan itu langsung bersemangat setelah mendapatkan jawaban dari istrinya.
Sembari menunggu Azzam selesai mandi, Zahra pergi ke rumah Agus untuk mengambil putranya. Tak lupa Zahra juga membawa sedikit makanan yang ia masak bersama Bu Marni tadi.
" Ayaahhh...!" Azzam yang baru keluar dari kamar mandi langsung disambut si kecil Rama.
" Hai... Sayang, kau merindukan Ayah?" Azzam meraih sang putra ke dalam gendongannya.
" Papa dimana, Yah?"
" Ada di rumah, sedang tidur. Nanti kita kesana kalau papa Rayyan sudah bangun. Sekarang Rama juga harus tidur siang biar nggak sakit lagi."
Azzam membawa putranya masuk ke dalam kamar diikuti Zahra yang bersandar dilengannya. Tak ada percakapan dalam keluarga kecil itu, hanya tatapan kebahagiaan yang tercipta dalam kesederhanaan.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.