
Zahra, Azzam dan Rayyan segera pergi ke gudang yang ada di samping sawahnya. Harusnya kemarin dia tidak melibatkan Agus dan Cahyo saat membantai para penjahat itu. Tadi Kaivan disuruh mengantar Cahyo ke rumah sakit agar cepat ditangani. Rama bersama bu Marni dan beberapa tetangga yang menemaninya.
" Dek, sejak kapan ada gudang di samping sawah kita?" tanya Azzam merasa penasaran.
" Kata Agus baru sepuluh dari yang lalu, Mas. Dia membeli sawah milik pak Barjo dan sekarang menginginkan sawah kita."
" Kenapa dia memaksa kalau kita tidak menjualnya?"
" Mana kutahu, tadinya aku ingin menyelidikinya terlebih dahulu tentang pemiliknya tapi malah mereka menyerang duluan seperti ini."
" Ini serangan pertama?" tanya Rayyan.
" Bukan, beberapa hari yang lalu kami bertiga sempat memergoki mereka saat merusak tanaman dan kami berkelahi saat itu." jawab Zahra.
" Kapan...? Kenapa kau tidak bilang padaku!" sentak Rayyan.
" Malamnya setelah kita datang kemarin, Bang. Aku tahu kamu lelah, jadi aku tidak berani mengganggu istirahatmu."
Rayyan dan Azzam tidak habis pikir dengan sikap Zahra yang menurut mereka terlalu gegabah dalam mengambil tindakan.
" Lain kali jangan seperti itu lagi, Dek. Selain membahayakan dirimu sendiri, itu juga akan membahayakan orang - orang di sekitarmu. Bicarakan denganku atau Rayyan jika ada masalah apapun itu."
" Iya, Mas. Zahra akan lebih berhati - hati lagi."
Kini mereka bertiga sudah sampai di depan gudang tempat penyekapan Agus. Zahra menyuruh Azzam dan Rayyan bersembunyi diluar sementara Zahra akan memancing mereka agar mau keluar.
Braakkk!!!
Zahra menendang pintu gudang yang tertutup itu hingga terbuka lebar. Tatapannya yang tajam memindai seluruh ruangan mencari keberadaan Agus.
" Akhirnya kau datang juga, Nona." seru salah seorang penjahat.
" Dimana adikku?" sahut Zahra datar.
" Kenapa terburu - buru? Saat ini nyawanya masih menyatu dengan raganya. Hahahaa..."
Benar kata Cahyo, mereka lebih dari sepuluh orang. Zahra memang harus waspada sampai ia bisa menemukan Agus.
" Dimana pimpinan kalian? Kenapa harus menyekap adikku. Lepaskan dia sekarang juga!"
" Kami akan melepaskan dia asalkan kau bersedia menyerahkan tanah milikmu."
" Baiklah, asal harganya cocok dan adikku ada disini sekarang juga."
" Cukup menarik penawaran yang kau berikan, Nona. Boss saya akan datang sebentar lagi."
" Hah... saya bukan orang yang sabar menunggu, cepat suruh dia datang!"
Tak lama, sebuah mobil datang. Azzam dan Rayyan memperhatikan orang yang baru saja keluar dari dalam mobil.
" Ray... kita nggak salah lihat, kan?" bisik Azzam.
" Bukankah itu Jefri, pemilik Club Malam di Kota ini?" sahut Rayyan.
" Sial...! Bagaimana bisa dia sampai ke desa ini." geram Azzam.
__ADS_1
" Jefri orang yang sangat berbahaya, apa yang harus kita lakukan?"
" Hubungi Bima, kita harus bisa mengulur waktu sampai mereka datang. Kalau hanya bertiga, aku tak yakin bisa menang."
" Zahra sudah terlanjur masuk, Zam. Kita tidak mungkin membiarkan dia sendirian di dalam."
Azzam menggeram kesal. Istrinya benar - benar ceroboh kali ini. Jefri adalah seorang bandar Narkoba yang sudah jadi target polisi.
Rayyan segera menghubungi Bima untuk meminta bantuan. Mudah - mudahan mereka bisa datang lebih cepat.
" Ray... jika keadaan semakin terdesak, aku akan masuk untuk menolong Zahra dan Agus."
" Baiklah, kita akan masuk bersama."
.
.
Hampir setengah jam menunggu, di dalam tidak ada pergerakan sedikitpun. Hanya ada keheningan diiringi suara hewan - hewan kecil yang bersahutan di tengah sawah.
Tak lama Bima datang bersama lima belas orang anak buahnya. Mereka memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari posisi gudang berada.
" Hei... ada apa ini? Kenapa kalian memanggilku malam - malam begini?" tanya Bima.
" Tetanggaku diculik di gudang itu, Bim. Zahra ada di dalam untuk menyelamatkan dia. Sudah satu jam Zahra masuk tapi tak ada pergerakan sama sekali." jawab Azzam panik.
" Dasar ceroboh kalian! Kalau Zahra disekap juga gimana!" geram Bima.
Dengan langkah lebarnya, Bima mendatangi gudang itu tanpa rasa takut sedikitpun. Bagi Bima, tidak ada satu orangpun yang ia takuti kecuali sang ibu dan juga omelan Zahra.
" Zahraaa...!" teriak Bima keras.
" Zahra, Jefri...?" pekik Bima kaget.
" Sayang, kau tidak apa - apa...?" Azzam langsung mendekati istrinya.
" Astaghfirullah, Mas. Maaf, ya? Zahra lupa kalau kalian masih diluar."
Zahra menyuruh anak buah Jefri untuk melanjutkan mengobati luka Agus. Tadinya Zahra mau membawa Agus ke rumah sakit, namun Agus menolaknya karena menurutnya hanya luka yang tidak terlalu parah. Hanya lengan dan kaki saja yang cidera luar.
" Kau kenal dia...?" tanya Rayyan menunjuk Jefri.
" Hehehee... iya, Bang. Dia ini temanku di kota, walaupun tidak satu kampus dan beda angkatan juga." jawab Zahra nyengir.
" Temen kamu memang nggak ada yang bener, Za." cibir Rayyan.
" Jef, kau tetap harus mengganti rugi sawahku yang kau hancurkan dan membayar ganti rugi untuk kedua adikku yang terluka." ujar Zahra pada Jefri.
" Iya, nanti anak buahku yang akan mengurusnya." sahut Jefri santai.
" Kau juga harus bongkar gudang ini. Aku yakin kau akan menggunakannya untuk obat - obatan terlarang itu. Kau bisa meracuni tanamanku dan merusak citra kampungku."
" Ok, aku mengalah saja denganmu. Kalau tahu tanah itu milikmu, mana berani aku mengusiknya. Pantas saja anak buahku kemarin babak belur, ternyata kau pelakunya. Tanah ini aku berikan padamu sebagai ganti rugi, tenang saja tempat ini masih kosong."
Azzam hanya menyimak pembicaraan Jefri dan istrinya. Dia tidak menyangka bahwa istrinya yang pendiam dan lemah lembut itu memiliki teman seorang penjahat dan ia sendiri pernah menjadi mata - mata agen rahasia yang sangat terkenal di kalangan atas.
__ADS_1
" Ya udah, aku mau pulang dulu. Untung saja aku belum lapor polisi. Sebaiknya kau hentikan pekerjaan harammu itu."
" Nanti kalau sudah waktunya berhenti juga berhenti, Za."
Zahra meminta Bima untuk mengantar mereka pulang karena Agus tidak mungkin untuk berjalan kaki. Zahra juga sudah lelah dengan aktifitas hari ini.
Sampai di rumah, Kaivan sudah menemani Rama tidur setelah mengantar Cahyo ke rumah sakit. Untung saja anak itu tidak rewel bersamanya.
" Kenapa Kaivan tidur di kamar kita, Dek?" sungut Azzam.
" Biarkan saja, Mas. Kita bisa tidur di kamar yang lain." sahut Zahra.
" Hhh... baiklah, yang penting tidur dengan memeluk istriku yang cantik ini."
" Mas mandi dulu sana."
" Dingin, Dek."
" Oh iya, aku lupa kalau Mas udah terbiasa berendam di bathup dengan air hangat."
Azzam yang sadar dengan sindiran istrinya langsung diam. Dia mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Azzam duduk di dapur seraya merebahkan kepalanya di meja. Azzam berpikir bahwa sikap Zahra berubah padanya semenjak dirinya kembali ke dalam keluarga Al Farizy.
" Mas mau makan dulu?"
" Iya, Dek. Kamu juga belum makan, kan?"
" Iya, Mas. Kaivan mau dibangunin juga?"
" Tidak usah, nanti kalau lapar juga dia makan sendiri."
Zahra mengambil piring untuk suaminya seperti biasanya ia selalu melayani suaminya dengan sangat baik.
" Pakai satu piring saja buat berdua seperti biasanya, Dek." pinta Azzam.
" Oh... iya, Mas."
Mereka makan sepiring berdua namun Azzam merasakan ada yang berbeda dengan istrinya. Biasanya wanita berparas cantik itu pasti merengek minta disuapi jika hanya makan berdua saja. Terkadang juga saat sarapan, Zahra menyuapi Rama sedangkan dirinya disuapi oleh sang suami.
" Adek masih marah sama Mas?"
" Tidak, kenapa Mas bisa berpikir begitu?"
" Kenapa selalu menghindar dariku? Kamu bahkan bisa sangat akrab dengan Bima dan Jefri. Kamu juga sangat perhatian dengan Kaivan. Kamu bilang Jefri, teman? Bagaimana bisa kamu berteman dengan seorang bandar narkotika?"
" Kita bicarakan besok saja kalau Mas tidak buru - buru kembali ke Jakarta." Zahra memasukkan sendok yang berisi nasi ke mulut suaminya yang hendak berucap.
" Dek...!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.