Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kamar suamiku


__ADS_3

" Boleh saya minta sesuatu padamu?" ucap Kaivan.


" Minta apa, Tuan?" Zahra meletakkan piring yang tadi dipegangnya.


" Kau bereskan dulu itu, nanti langsung keatas!"


" Baik, Tuan."


Zahra kembali membereskan meja dan membawa piring - piring kotor ke dapur untuk di cuci. Dia sedikit bingung dengan permintaan Kaivan yang tidak jelas itu. Tapi Zahra tidak mau negatif thinking, dia yakin Kaivan adalah orang baik.


Selesai membereskan dapur, Zahra bergegas ke kamar Kaivan. Karena pintunya terbuka lebar, Zahra langsung masuk.


" Tuan, ada apa...?"


" Ra... Saya ingin berubah. Saya ingin berbuat baik, selama ini kehidupanku penuh dengan dosa." lirih Kaivan.


" Tuan Kaivan orang yang baik dan selamanya akan menjadi baik. Tak peduli apapun lingkungan kita, yang penting itu hati kita sendiri. Walaupun berada di kubangan lumpur, yang namanya berlian pasti tetap berkilau." ucap Zahra lembut.


" Tapi membiarkan orang - orang di sekitar saya melakukan kejahatan, apa bedanya saya dengan mereka?"


" Tuan sebaiknya istirahat biar pikiran tenang. Nanti Rara bangunkan jam dua."


" Terima kasih, Ra. Oh iya, tadi saya beli kelapa muda di pinggir jalan. Kamu ambil di bagasi mobil terus suruh pengawal mengupasnya. Kamu bisa meminumnya kalau mau, yang lain pecah aja, simpan di kulkas."


" Tuan beneran beli kelapa muda? Ish... tahu saja kalau saya lagi pengen itu, Tuan."


Kaivan tersenyum sekilas lalu berbaring di tempat tidurnya. Dia berusaha untuk tidur sebentar sebelum kembali bekerja.


" Tuan..." panggil Zahra pelan.


" Hmm... tutup pintunya dan istirahatlah! Nanti malam masak gurameh goreng sama tumis kangkung ya?" Kaivan menjawab sembari memejamkan matanya.


" Masak untuk semuanya atau hanya untuk Tuan saja?"


" Mereka jarang makan dirumah kecuali sarapan. Masak untukku saja, sekalian buat kamu sendiri."


" Baik, Tuan. Mmm... Tuan,"


" Apalagi, Ra?"


" Mmm... Apa kamar sebelah tidak dibersihkan juga? Apa ada pelayan khusus yang membersihkannya juga seperti saya? Tapi dari tadi sepertinya kamar itu kosong? Saudaranya Tuan sedang pergi, ya?"


" Hhh... Kakakku sudah lama tidak pulang. Kamar itu juga selalu terkunci, saya tidak membiarkan siapapun masuk kesana."


" Sudah berapa lama kamar itu kosong, Tuan? Pasti kotor sekali, kasihan kalau beliau tiba - tiba pulang dan kamarnya tidak bisa dipakai."


" Ya sudah, nanti kamu bersihkan setelah saya kembali bekerja. Ingat! Jangan membuatku kecewa, kunci lagi setelah selesai membersihkannya."


" Baik, Tuan. Selamat istirahat, saya keluar dulu." pamit Zahra.


.


.

__ADS_1


Setelah mengantar Kaivan sampai depan pintu, Zahra bergegas kembali ke lantai atas untuk membersihkan kamar yang kata Kaivan kamar milik kakaknya.


" Ya Allah... ini kotor sekali. Sampai ada sarang laba - labanya juga." gumam Zahra.


Zahra menatap foto yang terpajang di dinding kamarnya. Walaupun penuh debu, namun masih tampak jelas siapa yang ada di dalam foto itu.


" Mas... sekarang aku ada di kamarmu. Ternyata kamu benar - benar konglomerat, aku tidak pernah berpikir sedikitpun jika kamu ternyata orang kaya."


Zahra membersihkan buku - buku yang penuh dengan debu itu dengan kemoceng dan lap sebelum membersihkan ranjang dan lantainya.


" Kamar suamiku, kapan ya kira - kira aku bisa menempati kamar ini bersama Mas Azzam dan Rama." batin Zahra sambil tersenyum sendiri.


Zahra melihat - lihat foto Azzam sejak masih kecil hingga dewasa. Pria itu terlihat sangat tampan dan bersih. Berbeda dengan sekarang, Azzam terlihat kusam dan kulitnya menghitam karena setiap hari bekerja di sawah.


" Apa kamu tersiksa hidup sederhana denganku, Mas? Dari kecil kamu sudah terbiasa hidup mewah, sedangkan aku hanya memberimu beban." lirih Zahra.


Zahra menjadi ragu dengan ungkapan yang setiap hari terucap dari Azzam maupun dirinya tentang 'bahagia tak harus kaya'. Apakah Azzam benar - benar bisa hidup dalam kesederhaan seperti dirinya?


" Seandainya boleh memilih, aku lebih baik tidak tahu masa lalu kamu, Mas. Aku lebih suka kamu yang sederhana, bekerja panas - panasan di sawah namun selalu ada waktu dengan anak istri." Zahra meneteskan airmata di foto suaminya.


Keringat membasahi tubuh Zahra yang kini mengepel lantai. Walaupun lelah, dia tetap bersemangat dalam melakukan pekerjaannya hingga tak terasa waktu sudah hampir maghrib.


" Akhirnya selesai juga." gumam Zahra lega.


Setelah semua bersih, Zahra bergegas mengunci lagi kamar itu lalu turun untuk mandi. Selepas maghrib ia harus masak dengan cepat sebelum Kaivan pulang.


.


.


" Assalamu'alaikum." seru Kaivan di depan Zahra yang asyik melamun.


" Eh... Astaghfirullah... Wa'alaikumsalam, Tuan." sahut Zahra kaget.


Para pelayan yang tak sengaja melihat senyum dan juga sapaan Kaivan yang baru sekali ini mereka dengar. Siapa yang tidak heran, semenjak Tuan Zaid beristri lagi, tak ada lagi senyum dan tawa seperti dulu. Hanya beberapa pelayan saja yang tetap bertahan atas permintaan Tuan Zaid pada istri keduanya.


" Ngelamunin apaan, Ra?" Kaivan mengulurkan tas kerjanya pada Zahra untuk disimpan di kamarnya.


" Tidak ada, Tuan. Tuan Zaid sama Nyonya belum pulang?"


" Mereka punya urusan sendiri diluar, tidak perlu menunggu mereka. Taruh tasnya di kamar terus temani saya makan."


" Tuan... saya tidak berani makan disini, takut Nyonya marah." ucap Zahra menghiba.


Zahra merasa tidak nyaman karena terlalu dekat dengan Kaivan. Pasti akan terjadi masalah jika ada pelayan yang tak suka dengannya.


" Kenapa, Ra...?"


" Rasanya tidak sopan saja, Tuan. Apalagi kalau nanti ada pelayan lain yang tidak suka bisa membuat saya tidak nyaman bekerja disini."


" Baiklah, tapi kau juga harus makan."


" Iya, Tuan."

__ADS_1


.


Sementara itu, di dalam Apartemen Rayyan.


Azzam marah - marah tidak jelas karena Zahra sedari pagi tak menghubunginya walau hanya sekedar pesan singkat. Marahnya Azzam membuat Rayyan pusing karena Rama ikut menangis dan berakhir dalam gendongannya hingga terlelap.


" Zam... bisakah kau diam sebentar saja!" kesal Rayyan.


" Bagaimana aku bisa diam, Ray! Zahra dari pagi tidak ada kabar sama sekali." ucap Azzam frustasi.


" Kau harus tahu posisi Zahra saat ini, Zam. Dia sedang berjuang bukan liburan!"


" Tapi apa dia tidak mengingatku sedikit saja?"


" Ini baru sehari, jangan mengacaukan misi ini!"


Bima tiba - tiba datang dan berdiri diambang pintu. Rayyan memang memberitahu kode Apartemennya pada Bima agar mereka lebih mudah menjaga Rama tentunya. Azzam juga harus bekerja sesekali dan menitipkan Rama pada Rayyan atau Bima.


" Apa Zahra menghubungimu?" tanya Azzam.


" Belum, ini belum waktunya istirahat untuk para pelayan. Seharusnya kau tahu peraturan di rumahmu, Zam."


" Semuanya sudah berbeda, wanita itu sudah menguasai rumahku."


Rayyan membawa Rama yang sudah terlelap ke dalam kamarnya. Jika tidur bersama Azzam, takut anak itu tidak terurus.


" Tadi Darren bilang kalau Zahra bisa dengan mudah masuk ke rumah Al Farizy bersama Kaivan. Istrimu terlihat sangat senang disana." kata Bima.


" Apa dia juga sering bekerja seperti ini sebelumnya?" tanya Azzam.


" Tidak, biasanya dia hanya menjadi bodyguard saja untuk anak - anak. Saya memang tidak memberikan full job padanya karena dia masih kuliah dengan jalur beasiswa. Dia hanya mengawal saat anak - anak sekolah dan di hari libur."


" Kenapa sekarang kau suruh dia melakukan misi ini?"


" Karena Zahra yang minta. Saya tahu musuh kali bukanlah mafia biasa. Ibu tirimu itu adik dari Radit, mafia kelas kakap yang sulit ditaklukkan."


" Tapi itu bisa membahayakan nyawanya, Bim!"


Bima mengusap wajahnya kasar. Bukannya ia yang menyuruh, tapi Zahra yang memaksa. Zahra memang pernah melakukan misi seperti ini tapi diluar negeri saat libur semester. Untuk ilmu bela diri, wanita itu tak perlu diragukan lagi. Dari kecil memang dirinya sudah mengikuti latihan taekwondo di desanya. Saat menjadi anggota Tiger White, Bima juga memberikan latihan berbagai macam jenis ilmu bela diri.


" Jangan khawatir, dia juga pernah melakukan misi lebih sulit dari ini." kata Bima.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Azzam belum beranjak dari sofa tempatnya duduk. Dia sangat mencemaskan keadaan istrinya. Hingga sebuah panggilan masuk ke ponselnya, ia segera meraih ponselnya dengan cepat.


" Zahra...!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2