
Usai berkeliling sekitaran pantai Kuta, Kaivan mengantar Zahra ke penginapan karena dirinya harus menghadiri pertemuan dengan klien. Dia senang bisa menghabiskan waktu dengan Zahra hari ini.
" Jangan pergi sendirian, tunggu saya pulang!" pesan Kaivan sebelum Zahra keluar dari mobilnya.
" Iya, Tuan." jawab Zahra sambil tersenyum.
Setelah Kaivan pergi, Zahra langsung masuk ke dalam penginapan lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Bima.
Zahra : " Boss, lagi dimana?"
Bima : " Ada di Apartemen, Za. Kenapa...?"
Zahra : " Apa Mas Azzam dan Rama bersamamu?"
Bima : " Azzam sedang bekerja, kalau Rama ada disini. Dia sedang tidur, baru pulang bermain dari Mall."
Zahra : " Kapan kita akan bertindak, Bim? Kasihan Mama Rahma, tubuhnya sangat lemah dan Kaivan tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Nella sangat kejam, Bim."
Bima : " Kau tenang saja, Ra. Kita harus menghancurkan Darco juga untuk bisa membawa ibunya Azzam keluar dari sana."
Zahra : " Kita harus secepatnya bergerak, Bim. Oh iya, semalam aku menemukan alat bekas suntik di bawah ranjang mama Rahma. Besok kau bawa ke Lab untuk memeriksa obat apa yang mereka berikan untuk Mama."
Bima : " Ok. Dimana kau sekarang? Apa sedang bersenang - senang dengan adik tirimu itu? Azzam pasti murka kalau tahu kau sedang liburan di Bali dengan dia."
Zahra : " Jangan sembarangan! Kaivan sedang meeting sekarang, makanya aku bisa menelfonmu."
Bima : " Ya sudah, lanjutkan healingnya. Aku mau ikut Rama tidur aja."
Zahra : " Hmm..."
Setelah memutuskan panggilannya, Zahra merebahkan tubuhnya ke tempat tidur yang sangat nyaman. Ingin rasanya ia menghubungi Azzam, namun takut suaminya malah merengek ingin bertemu. Posisinya sungguh sangat sulit saat ini. Zahra harus mengesampingkan perasaan demi masa depan keluarganya.
" Mungkin tidak apa - apa menghubunginya sebentar saja. Kasihan Mas Azzam, pasti dia sangat mengkhawatirkan aku." gumam Zahra pelan.
Zahra segera mencari kontak suaminya. Semoga saja Azzam sedang tidak sibuk dengan pekerjaannya.
Zahra : " Assalamu'alaikum, Mas Azzam..."
Azzam : " Wa'alaikumsalam, sayang. Ini beneran kamu? Ya Allah, sayang... Mas sangat mengkhawatirkan keselamatanmu."
Zahra : " Zahra baik - baik saja, Mas. Ini lagi di Bali menemani Kaivan meeting. Hanya menemani di perjalanan saja, tidak ikut meeting."
Azzam : " Hati - hati, sayang. Kalau dia suka sama kamu gimana?"
Sungguh Azzam tidak akan rela jika istrinya itu terlalu dekat dengan adik tirinya. Bagaimanapun juga, mereka itu bukan mahrom.
Zahra : " Mas jangan khawatir, Kaivan orang baik. Dia sangat menghormati perempuan. Zahra yakin Kaivan juga akan membantu kita melawan ibunya."
Azzam : " Kamu jangan mudah tertipu, sayang. Mereka itu keluarga mafia internasional."
__ADS_1
Zahra : " Kaivan sangat menyayangi mama Rahma."
Azzam : " Aku tidak tahu harus percaya atau tidak padanya. Kapan kita bisa bertemu?"
Zahra : " Belum tahu, Mas. Sulit untukku pergi dari rumah sendirian. Kaivan selalu menyuruhku ke kantor mengantar bekal makan siang. Tenang saja, ada Deni dan Bima bersamaku."
Azzam : " Baiklah, tetap waspada sayang. Jika keadaan terdesak, ambil senjata di kamar pribadiku di belakang rak buku. Kodenya nanti aku kirimkan via pesan."
Zahra : " Benarkah? Kemarin aku sempat membersihkan kamar Mas, tapi kuncinya dipegang Kaivan. Dia tidak mempercayai siapapun masuk ke kamarmu setelah ibunya menjual Apartemenmu."
Azzam : " Ya udah, sayang. Mas mau balik kerja lagi. I love you... Assalamu'alaikum, sayang."
Zahra : " I love you, too... Wa'alaikumsalam, Mas."
Jam sudah menunjukkan waktu dhuhur saat Zahra mengakhiri panggilan telfonnya. Dia sangat senang bisa mendengar suara suaminya lagi. Rindunya sedikit terobati setelah berbincang hampir setengah jam.
Sementara di tempat lain, Azzam sedang bersandar di jok mobil belakang mengamati pergerakan transaksi obat terlarang yang dilakukan anak buah Darco di sebuah Dermaga. Rayyan duduk di kursi depan bersama Darren.
" Zam, apa yang kita lakukan disini?" tanya Rayyan.
" Mengacaukan transaksi mereka." jawab Azzam santai.
Azzam memang sudah menghubungi kepolisian untuk mengacaukan transaksi itu walaupun dia tak yakin bisa menangkap mereka semua.
Saat kedua belah pihak sudah datang, polisi langsung menyergap mereka. Adu tembak tak bisa terelakkan diantara mereka. Azzam hanya mengamati dari jauh dan membiarkan kekacauan itu terus berjalan. Saat ada salah seorang mafia yang menyelinap kabur, Azzam tersenyum lebar.
" Baik, Tuan."
" Kita sedikit jaga jarak, dia pasti menuju Markas Darco."
" Bagaimana kau seyakin itu, Zam?"
" Dia berhasil membawa barang itu pergi, aku yakin dia akan memberikan itu pada pimpinannya."
.
.
Jam satu siang, Kaivan kembali ke penginapan dengan membawa makanan untuk Zahra. Pelayannya itu pasti belum makan apapun saat ini. Setelah mengetuk pintu berkali - kali, akhirnya Zahra membuka pintu dengan mata tang memerah.
" Eh... Tuan sudah pulang?"
" Sudah, nih saya bawakan makanan untukmu. Saya sudah makan disana tadi."
" Terima kasih, Tuan. Tahu saja kalau saya sangat lapar sampai ketiduran."
" Hmm... saya mau mandi dulu." pamit Kaivan.
Zahra membuka papper bag yang dibawa Kaivan lalu tersenyum riang. Adik iparnya memang sangat perhatian. Namun di sisi lain, ia juga takut jika kedekatannya saat ini membuat Kaivan berharap lebih padanya.
__ADS_1
Selesai makan, Zahra duduk di taman depan penginapan sambil menikmati laut walau dari kejauhan. Ombak yang bergemuruh itu selalu bisa menenangkan hati Zahra.
" Sudah berapa kali kuingatkan untuk tidak keluar sendirian!"
Zahra yang kaget langsung menoleh ke belakang. Tampak sang majikan berkacak pinggang sambil menatapnya tajam.
" Eh... Tuan, saya hanya disini... tidak jauh dari penginapan."
" Tetap saja saya tak ada bersamamu, Ra! Kau tidak tahu kalau kita diikuti sejak di Bandara tadi." ucap Kaivan lirih.
Sial...! Kenapa Zahra bisa seceroboh itu. Harusnya ia lebih waspada saat ini. Tidak mungkin itu anak buah Tiger White, Zahra bahkan sudah meminta Bima supaya dilepas sendiri saat bertugas. Mungkinkah itu anak buah Nella?
" Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Memangnya untuk apa mereka mengikuti kita?"
" Mami belum percaya padamu, Ra. Walaupun dia ibu kandungku sendiri, tapi kuakui dia itu manusia yang sangat kejam." Kaivan mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
" Sabar ya, Tuan. Apapun yang terjadi, saya percaya dengan Anda."
" Ra... maukah kau jadi orang yang paling dekat denganku?" lirih Kaivan.
" Maksud, Tuan...?"
Zahra hampir saja berteriak mendengar ungkapan Kaivan yang membuat jantungnya seakan meloncat dari tempatnya.
" Mmm... maksud saya begini, Ra. Saya ingin kamu menganggap hubungan kita ini bukan majikan dan pelayan."
" Tuan... Anda ini bicara apa?"
" Saya ingin hubungan kita ini sebagai kakak adik. Kita menjadi 'SAUDARA'."
" Saudara...? Tuan jangan bercanda deh. Masa' iya pelayan sama majikan jadi saudara?"
" Kenapa...? bukankah kau juga tidak punya saudara sepertiku? Mas Azzam juga belum tentu bisa menerima saya sebagai adiknya."
Zahra merasa lega karena ternyata Kaivan perhatian padanya sebagai saudara, bukan karena ada rasa dengannya.
" Ya udah, Tuan. Mulai sekarang, kita saling menjaga seperti saudara pada umumnya. Apapun masalah yang Tuan hadapi, saya pasti akan membantu semampu saya."
" Terima kasih, Ra. Saya tidak tahu harus melakukan apa jika tidak ada kamu. Dari pertama saya melihatmu, saya percaya kamu orang yang baik dan tidak akan mengecewakan saya."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1