Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kebersamaan ( ENDING )


__ADS_3

Dua minggu berlalu, kini Azzam dan Zahra sudah kembali ke rumah yang ada di desa. Segarnya udara membuat mood Zahra semakin membaik. Seluruh keluarga yang dari Jakarta juga ikut karena ingin melihat tempat tinggal Zahra di desa.


" Sayang, kenapa ikut masak sih? Ada Mama dan Bu Marni yang mengurusnya, kamu istirahat saja." ujar Azzam lembut.


" Zahra bosan, Mas. Rama asyik main sendiri sama teman - temannya." sungut Zahra.


" Itu ada Rayyan di depan, dia bawa sesuatu buat kamu."


" Beneran? Bang Rayyan bawa apa?"


" Lihat saja sendiri, pasti kamu suka."


Zahra sedikit berlari ke ruang tamu untuk melihat sesuatu yang dibawa Rayyan untuknya. Namun sampai disana, Zahra tak menemukan apapun yang dibawa Rayyan. Dia hanya melihat Rayyan bersama seorang wanita cantik berhijab.


Tunggu...! Rayyan membawa seorang wanita? Apa maksud semua ini? Zahra menatap wanita itu dengan intens.


" Hei... Kau kesambet?" Rayyan membuyarkan lamunan Zahra.


" Hah...! Eh, ini... Ini siapa?"


" Kenapa kaget, sayang? Dia ini calon tunangan Rayyan." ucap Azzam sambil tersenyum.


" Calon tunangan?"


" Iya, kenalkan calon istriku... Zivana." ujar Rayyan.


Zahra menatap gadis cantik dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Saat Zivana mengulurkan tangannya, Zahra malah memeluknya dengan erat.


" Kau cantik sekali...!" puji Zahra.


" Terima kasih." Zivana tersenyum kecil.


" Kamu beneran calon istri Bang Ray? Beruntung sekali dia mendapatkan bidadari cantik sepertimu."


" Heh... Kau pikir aku tidak laku?" sungut Rayyan.


Zahra mengajak Zivana untuk mengobrol di lantai atas meninggalkan Rayyan dan Azzam yang menatapnya bingung.


" Ray, apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Azzam.


" Mana kutahu, aku aja baru kenal dua bulan yang lalu." jawab Rayyan.


" Tidak mungkin mereka anak buah Bima, kan?"


" No...! Ziva itu gadis yang lembut dan sholehah."


" Kita lihat saja nanti."


.


.

__ADS_1


Selepas Ashar, Azzam berangkat ke sawah untuk mengecek tanaman yang sudah lama ia tinggalkan. Sekarang sedang panen cabai, jadi para pekerja sedang berada di sawah untuk memetik cabai.


" Assalamu'alaikum." sapa Azzam pada Agus dan Cahyo yang tengah memilah cabai dan menimbangnya.


" Wa'alaikumsalam, eh ada Mas Azzam. Sudah lama tidak ke sawah." sahut Agus dan diangguki Cahyo.


" Banyak kerjaan di Jakarta, Gus. Kalian berdua juga sudah bisa handle semua kerjaan di sawah."


" Ini semua juga berkat Mas Azzam yang mengajarkan kami ilmu bercocok tanam dengan benar." ucap Cahyo.


" Mbak Zahra nggak ikut kesini, Mas?" tanya Agus.


" Mungkin sebentar lagi, soalnya teman - temannya belum datang."


Azzam ikut turun ke sawah untuk memetik cabai yang sudah merah. Perasaannya sungguh damai saat melihat tanaman di sawahnya tumbuh dengan sangat subur. Jika bisa memilih, Azzam lebih suka bekerja di sawah seperti ini walau tubuhnya tersengat matahari tiap hari daripada duduk di ruangan ber-AC dengan laptop dan kertas di hadapannya.


Azzam tersenyum kecil kala mengingat pertama kali ia turun ke sawah bersama sang istri. Awalnya ia merasa canggung karena tubuhnya pasti kotor dengan tanah. Namun berkat kesabaran Zahra yang selalu memberikan semangat yang besar, akhirnya Azzam mulai terbiasa bahkan sekarang ia bisa membayar beberapa pekerja untuk membantu di sawahnya.


" Mas Azzam...!" teriak Zahra.


" Astaghfirullah, Dek... Kenapa teriak sih? Ini jarak kita udah dekat loh." ujar Azzam.


" Habisnya semua orang sudah berteriak dari tadi panggil Mas tapi nggak denger." Zahra mengerucutkan bibirnya.


" Maaf, tadi Mas terlalu fokus sama cabainya."


" Alasan! Bilang aja melamun."


Zahra bergelayut di lengan Azzam saat berjalan di tanah yang tidak rata karena takut tergelincir. Jika saja ia sendiri, mungkin hal seperti ini tidak akan masalah. Namun karena ada nyawa di dalam rahimnya yang harus ia jaga, maka ia selalu berhati - hati dalam setiap langkahnya.


" Kenapa ikut turun ke sawah, sayang? Kamu tunggu saja di gudang, ada Agus dan Cahyo disana."


" Zahra pengen ikut Mas petik cabai, lagian lihat tuh disana ada pekerja gratisan yang membantu." Zahra menunjuk arah belakang Azzam.


" Itu Bima, Jefri, Kaivan dan Deni? Rayyan nggak ikut?"


" Mas mau dia masuk rumah sakit lagi?"


" Oh iya, Mas sampai lupa. Eh, itu calon istrinya Rayyan temen kamu?"


" Iya, dulu kami sering latihan bersama di basecamp Tiger White, tapi tidak pernah menjalankan misi bersama."


" Tapi... Sepertinya tadi kamu sempat tidak mengenalnya?"


" Iya, soalnya dulu dia tidak berhijab dan berpakaian tomboy walau rambutnya panjang."


Azzam merangkul bahu istrinya lalu mengecup lembut pipinya yang tampak cubby semenjak hamil. Azzam sangat memanjakan sang istri bahkan terkesan posesif.


" Mas...! Malu dilihat banyak orang." lirih Zahra.


" Apa aku peduli? Tidak, sayangku... Aku akan menunjukkan pada dunia betapa besarnya cintaku padamu." ujar Azzam lembut.

__ADS_1


Azzam menunjukkan betapa sangat berharganya sang istri. Memeluknya dari belakang dengan penuh cinta disaksikan ribuan bahkan jutaan cabai yang berada di sekelilingnya tanpa peduli tatapan dari para pekerja dan juga sahabat - sahabatnya.


" Aku bahagia bisa bersama denganmu, sayang. Semoga kita bisa seperti hingga akhir hayat kita." tutur Azzam lirih.


" Walaupun tanpa kekayaan?" sahut Zahra.


" Ada atau tidaknya kekayaan, itu tidak akan mempengaruhi rasa cintaku padamu. Seperti yang sering kau ucapkan dulu, 'BAHAGIA TAK HARUS KAYA'." ucap Azzam.


" Mas masih inget aja sama ungkapan itu!"


" Tentu saja, karena cinta kita dimulai dengan kesederhaan. Tak ada kekayaan saat kita mulai menjalin hubungan cinta dalam ikatan suci itu, sayang."


Zahra melebarkan senyumannya sambil menatap wajah teduh suaminya yang kini telah melepaskan pelukannya dan berdiri saling berhadapan.


" Aku bersyukur memiliki suami yang tak pernah menyombongkan kekayaannya. Aku bahagia bisa meniti kehidupan sederhana bersamamu walau kini kita harus menanggung beban berat di akhirat nanti karena diberi ujian dengan harta yang melimpah." ungkap Zahra.


" Mas janji akan mengelola titipan Allah itu sebaik mungkin, sayang. Kita bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan, kamu hanya cukup mendo'akan semoga keluarga kita tidak terjerumus dengan harta itu sendiri." ujar Azzam lembut.


Zahra memeluk erat tubuh suaminya tanpa ragu. Tatapan iri para sahabatnyapun tak ia hiraukan. Baginya, meluapkan cinta dan kasih sayang terhadap pasangan halal tidak merugikan siapapun asalkan masih dalam batas wajar.


" Woiii... Pacaran mulu...! Kerja... Kerja...!" teriak Kaivan.


" Kalian pikir film india, bermesraan di tengah ladang." cibir Jefri.


" Berbuat mesum di kamar, bukan disawah!" pekik Bima.


" Berisik...! Makanya nikah biar tahu rasanya memeluk kekasih halal...!" sahut Azzam.


" Mentang - mentang sudah punya istri, pamer...!" umpat Deni.


Zahra membekap mulut Azzam saat ingin membalas teriakan teman - temannya. Zahra malu dengan para tetangga yang saat ini bekerja di sawahnya.


" Mas... Jangan menanggapi ocehan mereka!" lirih Zahra.


" Ya sudah, kita pulang saja."


Azzam mengangkat tubuh istrinya ala bridal style membuat semua orang berteriak mengejek keromantisan mereka. Walaupun begitu, mereka sangat senang melihat keharmonisan pasangan halal tersebut. Mereka hanya bisa berdo'a semoga kelak juga bisa mendapatkan jodoh wanita sholehah seperti istri Azzam, Adinda Azzahra.


.


.


END


.


.


Terimakasih untuk dukungan di novel ini, semoga menghibur para reader🙏


.

__ADS_1


.


__ADS_2