
" Jadi masih punya keluarga...?" seru Zahra.
Azzam dan Rayyan sontak menoleh mendengar teriakan di depan pintu. Keduanya terkejut saat tahu siapa yang ada di hadapannya itu.
" Sayang... kamu... kok kamu ada disini?" ucap Azzam tergagap.
" Hah...! Ternyata selama ini aku hidup dengan seorang penipu!" pekik Zahra.
" Dek, Mas nggak bermaksud berbohong padamu. Mas bisa jelaskan semua ini?" bujuk Azzam.
" Aku tidak peduli lagi denganmu, Mas! Terserah kamu mau melakukan apapun."
Zahra bergegas untuk pergi dari rumah Rayyan karena merasa kecewa dan tertipu oleh kebohongan suaminya sendiri. Namun baru beberapa langkah, lengannya ditarik seseorang untuk berhenti.
" Za, dengarkan penjelasan kami dulu." Rayyan menahan lengan Zahra yang berusaha memberontak.
" Masuklah! Aku tak mau ada tetangga yang melihat kemarahanmu." titah Rayyan.
Zahra masuk ke dalam rumah Rayyan lalu duduk di kursi tunggal tanpa menatap suaminya sedikitpun. Tak habis pikir dengan jalan hidupnya yang selalu dipenuhi ujian berat.
" Dek... Mas akan jujur sama kamu, semuanya. Tidak ada lagi yang perlu Mas tutupi karena kamu sudah mendengarnya tadi." ucap Azzam lembut.
" Katakan sekarang! Aku tidak punya banyak waktu." ketus Zahra.
" Dek, memang benar kalau Mas ini bukan yatim piatu. Orangtuaku masih ada dan berada di Jakarta. Tapi kehidupan kami jauh dari kata yang disebut keluarga. Dan Rayyan, dia kakak sepupuku. Putra dari kakak mamaku. Dia kesini bukan berniat jadi guru, tapi agar kami bisa bekerja sama untuk menyelamatkan mama. Beliau menghilang tiga tahun lalu, semenjak papa menikahi wanita lain. Aku yakin ada permainan dibalik semua ini."
" Apa Mas sedang mengarang cerita?"
" Tidak, sayang. Semua yang Mas katakan ini jujur, Mas nggak ada niat sedikitpun membodohimu."
" Aku memang bodoh, kan? Sangat mudah untuk kau bodohi, bahkan kau menjebakku dalam pernikahan ini!"
" Dek... Mas nggak bermaksud menjebakmu. Ini semua Mas lakukan demi keselamatanmu."
" Jadi Mas itu dari keluarga Al Farizy yang terkenal itu?"
" Kau mengenal mereka?"
" Tidak, hanya sering lihat di media sosial."
Azzam dan Rayyan saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Mereka merasa Zahra tidak benar - benar marah dengan kebohongan Azzam.
" Za... kamu kan sudah tahu semua tentang masa lalu Azzam. Semua sudah terungkap, kamu adalah bagian dari keluarga Al Farizy sekarang." ucap Rayyan.
" Apa aku harus senang bisa menikah dengan konglomerat? Kurasa aku tidak pantas menerima semua ini." sahut Zahra datar.
" Dek... Mas tidak akan membawamu kesana jika kamu tidak mau. Aku juga tidak menginginkan apapun dari keluarga itu. Tapi, Mas ingin menyelamatkan mama yang mungkin disekap di rumah itu."
Zahra melihat ketulusan dari sorot mata suaminya. Sepertinya kehidupan masa lalu suaminya memang sangat buruk sehingga tak ingin kembali pada keluarganya.
__ADS_1
" Kenapa Bang Rayyan ada disini dan jadi guru di desa terpencil ini?" tanya Zahra.
" Mmm... karena bisnis dan juga membujuk Azzam untuk pulang. Beberapa kali aku bertemu dengan papanya Azzam dan beliau seperti meminta pertolongan lewat sorot matanya." jawab Rayyan.
" Bisnis...?"
" Iya, Restoran itu aku yang menjalankannya dan untuk perusahaan, ada orang lain kepercayaan Azzam yang pegang. Azzam hanya mengawasi dari jauh dan sesekali bertemu dengan klien yang sangat penting."
" Aku sudah menduga jika kalian itu sudah lama saling kenal."
" Ok...! Karena Nona Muda Al Farizy sudah tahu semua rahasia ini, jadi Anda harus bergabung dalam misi ini."
" Misi apa...?"
" Penyelamatan mertua kamu, apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka?"
Zahra berpikir sejenak seraya berjalan mengelilingi Rayyan dan Azzam yang bingung dengan tingkahnya yang aneh.
" Sayang... jangan seperti itu, nanti pusing!" Azzam menarik tubuh istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
" Huh... apa pedulimu!" ketus Zahra namun mengalungkan tangannya di leher Azzam.
" Heh...! Jangan berbuat mesum di rumahku!" kesal Rayyan.
Azzam tersenyum meledek sembari mengeratkan pelukannya. Sang istri juga tak menolak, justru mencium pipi sauminya.
" Kalian ini pasangan gila!" umpat Rayyan.
" Huss...! Nggak boleh ngomong seperti itu, mau aku jadiin jones juga!" ancam Zahra.
" Eh... jangan sayang, Mas akan turuti semua keinginan kamu." rengek Azzam.
" Hhh... sekarang apa rencana kalian...?" ucap Zahra kembali serius.
Zahra beranjak dari pangkuan suaminya lalu duduk di sebelah Rayyan. Helaan nafas terdengar jelas oleh yang lain.
" Menurutmu... Apa kita perlu bangun perusahaan baru atau masuk ke rumah itu?" tanya Rayyan.
" Target kita orangtua Mas Azzam, jadi aku yang akan masuk ke rumah itu." sahut Zahra santai.
" Sayang... itu sangat berbahaya, kita bisa cari orang lain." tolak Azzam.
" Jika lewat perusahaan, kita belum tentu menang. Perusahaan Al Farizy itu sangat besar, tidak mudah menghancurkannya. Dan juga, kita tidak tahu masalah yang sebenarnya apakah papamu terlibat atau hanya korban." kata Zahra.
Azzam dan Rayyan saling berpandangan, heran dengan sikap Zahra yang tegas dengan sorot mata tajam. Auranya jelas tampak menyeramkan tak seperti biasanya yang lemah lembut.
" Lalu...? Apa solusinya...?"
" Keluarga konglomerat seperti kalian tidak bisa mengatasinya?"
__ADS_1
" Masalahnya kita berurusan dengan mafia, Za."
" Ya sudah, kita atur rencana. Minggu depan kita mulai beraksi dan kalian berdua harus ikuti cara kerjaku!"
" Sayang... kamu nggak kesambet, kan?" Azzam mengguncang bahu Zahra.
" Haish...! Jangan menyentuhku! Mulai sekarang kau tidur disini sampai masalah ini selesai." tegas Zahra.
" Dek... Aku ini suamimu loh! Kamu jangan berbuat aneh - aneh." kata Azzam tajam.
Zahra melenggang pergi dari rumah Rayyan karena tadi meninggalkan Rama yang masih tidur. Dia tak mempedulikan teriakan suaminya.
" Mas Azzam kenapa teriak - teriak?" tanya Agus yang kebetulan lewat depan rumah Rayyan.
" Eh... tidak apa - apa, Gus. Saya duluan mau pulang dulu." jawab Azzam tergesa - gesa.
" Iya, Mas."
Azzam menghampiri istrinya yang sedang membuat susu di dapur untuk Rama. Dipeluknya tubuh kecil sang istri dengan erat.
" Maaf... seharusnya dari awal Mas cerita sama kamu tentang keluargaku." lirih Azzam.
" Setelah semua terungkap tanpa sengaja, sekarang Mas baru minta maaf?" desah Zahra.
" Mas tidak mau membuatmu kecewa, Dek. Dari awal Mas tidak jujur soal identitas Mas yang sebenarnya."
" Berikan pada Rama!" ketus Zahra seraya menyodorkan sebotol susu.
Azzam melepaskan pelukannya lalu mengambil botol dari tangan istrinya. Dia juga sempat mencium pipi istrinya sebelum beranjak.
" Hei... anak Ayah udah bangun, minum susunya dulu ya?" ucap Azzam lembut.
" Papa... Papa...!" rengek Rama.
" Papa...? Ini Ayah, Nak." kata Azzam heran.
" Main... Papa..."
Azzam tidak paham dengan keinginan putranya. Dari tadi hanya menyebut papa saja. Padahal anak itu belum lama kenal dengan Rayyan.
" Mau main sama Papa? Susunya diminum dulu ya?" bujuk Zahra.
Zahra memberikan botol itu pada Rama lalu ikut berbaring di samping putranya itu. Azzam sedari tadi tak mau beranjak sedikitpun dari sang istri.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.