
" Yakin mau tahu? Tidak akan cemburu...?" goda Azzam.
" Hhh... lupakan saja! Zahra mau tidur aja sama Rama." sungut Zahra.
" Ish... belum apa - apa udah cemburu, apa se-cinta itu sama Ayah?" Azzam masih tak berhenti menggoda istrinya.
" Apaan sih! Jangan kepedean... Bunda mau tidur, ngantuk."
" Iya... selamat istirahat, sayangku."
Azzam mengecup kening istrinya dengan lembut. Setelah itu, ia membiarkan istrinya beristirahat lalu beranjak menuju kamar sebelah.
.
.
Sudah tiga hari Azzam hanya berdiam diri di rumah. Kini dirinya sudah bersiap untuk kembali beraktifitas. Hari ini jadwalnya untuk panen cabai dan juga sayuran lainnya seperti terong, sawi, dan tomat.
" Bunda... Ayah mau berangkat ke sawah dulu, ya?" pamit Azzam.
" Yakin udah sehat, Yah? Jangan dipaksakan kalau belum sembuh." ucap Zahra.
" Ayah sudah sehat, semalam udah kuat ngerjain Bunda." bisik Azzam yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
" Ish... bikin malu aja!"
" Malu tapi mau, kan?"
" Apa sih, Yah! Pergi sana... ganggu orang lagi masak aja!"
" Iya, Bunda cantik... Ayah berangkat dulu ya? Oh iya, nanti Rama titipin saja di rumah Bu Marni. Nggak enak sama yang lain kalau dibawa ke sekolah terus."
" Iya, nanti Zahra titipin di rumah Bu Marni."
" Assalamu'alaikum, bidadariku..."
" Wa'alaikumsalam, suamiku sayang..."
Azzam gemas banget dengan istrinya. Pelukan hangat yang ia lakukan setiap hari membuatnya semakin sayang dan cinta terhadap keluarga kecilnya.
" Hhh... jangan menggodaku! Mas tidak akan bisa pergi kalau kamu menggemaskan begini."
" Udah pergi sana! Nanti sarapannya aku antar ke sawah." usir Zahra.
" Ok sayangku,"
Azzam semakin mempererat pelukannya padahal sudah berpamitan dari tadi. Belum pergi aja sudah rindu seperti ini, apalagi kalau sudah pergi?
Dengan berat hati, Azzam keluar rumah setelah mencium kening istrinya cukup lama. Cahyo sudah menunggu di teras sedari tadi.
__ADS_1
" Yo, ayo berangkat sekarang!" ujar Azzam.
" Siap, Boss...!" sahut Cahyo nyengir.
" Nanti panen tomat sama sawi dulu saja, soalnya nanti akan diambil jam 11 siang."
" Iya, Mas... Cabainya juga belum terlalu banyak yang siap panen."
" Terong udah panen?"
" Sudah, diambil sama langganan dari pasar desa sebelah."
" Syukurlah, hasil panen kali ini lebih baik dari kemarin."
" Mas, sawah yang di samping kiri itu katanya mau disewakan. Minat buat sewa ndak?"
" Berapa sewanya, Yo...?"
" Sepertinya 3 juta per tahun, Mas. Orangnya lagi butuh uang buat bayar sekolah anaknya."
" Kita lihat dulu keuntungan panen kita, Yo. Kita harus mempertimbangkan untung ruginya dalam mengelola sawah itu."
Azzam dan Cahyo tiba di sawah dan Agus sudah lebih dulu turun ke sawah. Mereka bekerja dengan senang hati apalagi di masa panen seperti ini, mereka pasti sangat bersemangat.
" Gus, usahakan dapat 50 kg tomat sama sawi 30 kg. Nanti ada yang ambil jam sebelas." ujar Azzam.
" Iya, Mas. Ini juga udah dapat sedikit." sahut Agus sambil nyengir.
" Kamu ini tidak ada bedanya sama Zahra, nggak percaya kalau saya ini sudah sehat." kata Azzam.
Mereka bertiga segera melakukan pekerjaan dengan penuh semangat. Azzam bahagia melihat semangat dua pemuda yang bersamanya itu. Seandainya mereka berpendidikan tinggi, mungkin mereka bisa bekerja di kota dengan perusahaan besar.
Jam tujuh pagi, Zahra sudah datang membawa sarapan untuk mereka bertiga. Makanan seadanya namun mereka sangat bersemangat saat memakannya.
" Kamu udah sarapan, Dek?" tanya Azzam.
" Sudah, Mas. Sebentar lagi mau langsung ke sekolah."
" Hati - hati, jangan terlalu lelah."
Setelah berpamitan, Zahra langsung menuju ke sekolah tempat ia mengajar. SD yang ia tempati ini adalah satu - satunya yang ada di desa ini.
Zahra merasa sangat senang bisa membagikan ilmunya kepada anak - anak di desanya ini. Seperti keinginan sang ayah yang ingin melihat putri satu - satunya bisa bermanfaat untuk orang lain walau bukan dengan harta.
" Selamat pagi, Bu Zahra..." sapa seorang guru yang juga baru datang.
Seorang guru muda yang mungkin seumuran dengan Zahra itu memang terlihat sangat akrab dengannya. Wanita dengan rambut hitam sebahu itu tersenyum seperti biasanya.
" Selamat pagi, Bu Mira... ceria banget pagi ini?" sahut Zahra dengan senyum kecilnya.
__ADS_1
" Hehehee... tadi aku berangkatnya bareng Pak Reno." bisik Mira.
" Kok bisa...? Bukankah rumahnya jauh ya...?" tanya Zahra heran.
" Iya, tadi motor aku mogok di jalan masuk desa ini. Kebetulan ada pak Reno, nebeng sekalian mumpung ditawarin."
Tak lama, Reno masuk ke ruang guru dengan mengucap salam karena di dalam ada banyak guru yang sudah duduk di tempat masing - masing.
" Bu Zahra, nanti bisa minta tolong merangkap di kelas saya ya? Jam setengah sebelas kan udah selesai di kelas satu, saya ada urusan diluar nanti jam sebelas." ucap Reno sopan.
" Mmm... Insya Allah bisa, Pak. Kebetulan juga lagi tidak bawa anak." kata Zahra dengan tersenyum.
Zahra yang mengajar di kelas satu memang pulangnya setengah sebelas. Mira mengajar di kelas dua, pulang jam sebelas. Sedangkan Reno, ia mengajar di kelas enam jadi pulangnya jam dua belas.
Tak lama bel tanda masuk berbunyi dan semua guru yang bertugas bubar ke kelas masing - masing. Zahra jalan beriringan dengan Mira yang kelasnya bersebelahan.
Tak terasa sudah jam dua belas siang, Zahra masuk ke ruang guru untuk mengambil tasnya. Dari arah belakang, ada pak Harso yang juga ingin mengambil barang bawaannya.
" Bu Zahra, tadi saya sempat lewat ruang kepala sekolah dan sepertinya akan ada guru baru besok yang akan mengajar di kelas empat menggantikan guru yang akan cuti melahirkan." kata pak Harso guru kelas tiga.
" Yang bener, pak? Laki - laki atau perempuan?" tanya Zahra kepo.
" Kalau dari suaranya tadi kayaknya laki - laki dan masih muda."
" Ohh..."
Zahra masih berbincang dengan pak Harso seraya merapikan tugas murid kelas enam yang akan ia simpan di meja kerja pak Reno.
Setelah selesai, Zahra segera pulang karena tak ingin merepotkan bu Marni yang ia titipi anaknya. Walaupun Rama jarang sekali rewel, namun Zahra tetap khawatir jika sang buah hati tak ada di hadapannya.
Saat Zahra keluar dari gerbang sekolah, seorang pria muda dengan motor sport melewatinya dan menyapa sekilas dengan tersenyum. Zahra hanya bisa mengangguk pelan seraya membalas senyuman laki - laki muda yang mungkin seumuran dengan suaminya.
" Mari, Bu... saya duluan."
" Silahkan, Pak."
Saat motor sport itu sudah melintas, Zahra sesaat termenung. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan suaminya juga menaiki motor seperti itu. Zahra tahu berapa kisaran harga motor seperti itu, namun saat itu Azzam mengatakan itu milik temannya.
Zahra tidak lagi bertanya karena setelah menikahn Azzam malah membawa motor matic ke rumahnya. Semenjak mereka menikah, Zahra tidak pernah lagi datang ke kota. Azzam juga tidak pernah mengijinkan dirinya pergi jika tidak dengannya.
Tak ingin banyak berpikir, Zahra langsung pulang karena ini sudah lewat jam mengajarnya. Dia segera memacu sepeda motornya menuju rumah.
Sesampainya di depan rumah, Zahra sangat terkejut karena mendapati motor sport yang tadi ia lihat di sekolah sekarang terparkir di depan rumahnya.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.