Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Pulang mendadak


__ADS_3

Azzam menyetop taksi tanpa menghiraukan Deni yang melangkah terburu - buru mengejarnya. Azzam hanya kesal saja dengan tingkah Merry yang tak pernah berubah sedikitpun walaupun mereka sudah lama tidak bertemu.


" Boss... Tungguin dong! Main tinggal aja sih." protes Deni kesal.


" Cepetan...! Siput." cibir Azzam.


Deni mendengus kesal lalu masuk ke dalam taksi lebih dulu di samping sopir. Dia masih kesal dengan Azzam yang mengambil keputusan sendiri tanpa diskusi dengannya terlebih dahulu.


" Kau marah padaku, Den?"


" Tidak."


" Ayolah... Aku tahu kau lelah. Kau bisa pulang besok atau lusa jika kau mau. Aku tak masalah pulang sendirian nanti sore."


" Bukan begitu, Zam. Kita sudah menerima undangan makan malam dari Tuan Davidson, kau membatalkannya tanpa alasan yang jelas."


" Apa maksudmu? Aku berkata jujur kalau aku merindukan istriku."


" Aku tahu kau hanya ingin menghindari Merry. Tidak bisa seperti itu, Zam. Merry yang akan memantau proyek ini langsung, dia akan stay di Bandung sampai proyek ini selesai."


" Biarkan saja, proyek ini akan dilanjutkan Kaivan. Aku akan kembali ke Jogja lusa, pekerjaanku juga sudah menumpuk."


" Kau mau lari dari tanggung jawab?"


Azzam menghembuskan nafasnya kasar. Dari awal ia memang tidak berniat untuk mewarisi perusahaan ayahnya. Kaivan sudah cukup mumpuni untuk memegang kendali perusahaan, namun ia menolak karena merasa bukan ahli waris.


" Den, semenjak keluar dari perusahaan itu aku sudah tidak mengharapkan apapun lagi. Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri untuk menghidupi istri dan anakku meskipun hidup dalam kesederhanaan."


" Tapi pimpinan tertinggi ada di tanganmu, Zam."


" I know, aku tidak akan lepas tanggung jawab. Tapi tidak semua proyek harus aku yang turun tangan sendiri, kan?"


Mereka berdua terdiam beberapa saat. Azzam malas menghadapi sikap Deni yang menurutnya terlalu berlebihan. Azzam tahu jika Deni sangat profesional dalam bekerja, tapi melihat tingkah Merry tadi membuat Azzam sangat muak.


Sampai di hotel, Azzam langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Dia tidak mau mengganggu Deni yang lebih dulu merebahkan tubuhnya di ranjang.


" Sorry, Den." ucap Azzam memecah keheningan.


" Sepertinya kau sangat membenci Merry?" sahut Deni.


" Dia belum berubah, Den. Aku yakin dia akan menggunakan berbagai macam cara untuk mengusik hidupku lagi."


" Merry memang sangat terobsesi padamu, Zam. Kau benar, sampai sekarangpun dia tidak menyerah. Semoga saja dia tidak bertemu dengan Zahra."


Tak berselang lama, pintu kamar Azzam diketuk beberapa kali dari luar. Azzam dan Deni saling pandang satu sama lain.


" Siapa, Den? Kau minta pelayanan hotel?" tanya Azzam.


" Tidak, sejak tadi kita bersama." jawab Deni.


" Kau buka pintu sana." titah Azzam.


Deni segera bangkit dari rebahannya dan berjalan gontai menuju pintu. Jika bukan pihak hotel, siapa orang yang bertamu ke kamarnya?


" Merry...?" ucap Deni kaget.


" Sorry, Den... Saya mau bertemu dengan Azzam sebentar." sahut Merry tanpa rasa malu sedikitpun.


" Tidak bisa, Boss sedang istirahat tidak bisa diganggu."


" Kau hanya asisten, jangan menghalangiku!" bentak Merry kesal.


" Jangan berulah, Nona. Sebaiknya Anda pulang sekarang." ketus Deni.

__ADS_1


Pantas saja Azzam tidak pernah menyukai Merry, bahkan berdekatanpun enggan. Ternyata wanita itu sungguh sangat menjengkelkan dan tidak tahu adab.


" Siapa, Den?" Azzam setengah berteriak.


" Azzam, ini saya Merry." teriak Merry dari luar.


" Astaghfirullah..." desah Azzam.


Azzam segera membereskan barang - barangnya di dalam kamar dan juga milik Deni lalu keluar menghampiri keduanya.


" Den, kita chek out sekarang, langsung ke Bandara." ujar Azzam seraya memberikan tas ransel milik Deni.


" Sekarang, Boss?"


" Ya, ada sesuatu yang ingin kubeli untuk anak dan istriku sebelum ke Bandara."


" Zam, kasih aku waktu untuk berbicara denganmu." rengek Merry seraya menarik jas Azzam.


" Jaga sopan santunmu, Nona! Jangan sampai saya membatalkan kerjasama kita." ancam Azzam dengan geram.


" Kau yang akan rugi, Azzam. Pinaltinya sangat besar jika kau lupa." sahut Merry.


" Ayo, Den. Semua barangmu sudah aku masukkan ke dalam ransel."


" Zam, kau tidak mungkin punya istri, kan?" cecar Merry.


" Itu bukan urusanmu, Nona! Sebaiknya kau pergi sekarang juga."


" Saya akan stay di Indonesia selama proyek berlangsung."


" Terserah!"


.


.


" Ini sudah jam delapan, mau pulang kapan?" tanya Deni.


" Ya sudah, pulang sekarang." jawab Azzam datar.


" Kau sangat membenci Merry karena kejadian waktu itu?"


" Apakah aku harus senang melihatnya lagi? Dulu saja dia bisa berbuat rendah seperti itu, apalagi sekarang?"


" Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu lagi."


Hampir jam sembilan malam, Azzam sampai di rumah. Melihat rumah yang tampak sepi, Azzam yakin semuanya sudah beristirahat di kamar masing - masing. Azzam segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


" Tumben sekali jam segini semua sudah tidur." gumam Azzam saat melihat istrinya sudah tidur lelap.


Azzam segera mengambil pakaian ganti dan membersihkan diri di kamar mandi. Hanya butuh waktu sepuluh menit ia mandi karena hari sudah malam.


Azzam sebenarnya sedikit heran karena istrinya tidur masih memakai kerudungnya dan pintu tidak terkunci.


" Sayang... Buka dulu kerudungnya. Apa kau nyaman tidur seperti itu?" Azzam mencium pipi Zahra dengan sedikit menindih tubuhnya.


Zahra yang merasa terusik tidurnya cukup kaget karena tiba - tiba ada yang menindih tubuhnya. Dengan gerakan cepat, Zahra mendorong tubuh Azzam lalu menendangnya cukup keras hingga terjungkal ke lantai.


" Auwww...!" rintih Azzam.


" Beraninya kau masuk kamarku!" teriak Zahra emosi.


Mungkin karena lampu utama dimatikan jadinya Zahra tidak mengenali bahwa yang dia hajar adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


" Sayang... Ini Mas, kenapa kau menghajarku?" Azzam merintih seraya mengusap punggungnya yang sakit.


" Mas Azzam...?" Zahra bergegas menyalakan lampu utama.


" Astaghfirullah...! Mas Azzam...!" pekik Zahra kaget.


" Tolongin, Dek."


" Iya - iya. Lagian Mas ngagetin Adek sih!"


Zahra membantu Azzam untuk duduk di ranjang. Dia masih belum percaya jika yang ada di hadapannya saat ini suaminya. Bukankah Azzam akan pulang besok pagi?


" Mas kok mendadak pulang?" tanya Zahra penasaran.


" Mas rindu sama kamu." jawab Azzam seraya merebahkan kepalanya di bahu sang istri.


" Baru juga tadi pagi Mas pergi,"


" Yang namanya rindu itu tak memandang sebentar atau lama, Dek."


" Ya sudah, sekarang mana yang sakit?"


" Punggung, kamu nendangnya kenceng banget."


" Maaf, Adek nggak tahu kalau Mas tadi yang mencium Zahra. Adek ambilkan kompresan dulu ya?"


" Jangan lama - lama."


Zahra kasihan melihat suaminya yang kesakitan akibat ulahnya walaupun sebenarnya ia juga ingin tertawa karena tingkah konyol suaminya.


Zahra turun ke dapur untuk untuk mengambil kompresan. Sampai disana ia bertemu dengan ibu mertuanya yang akan mengambil air minum.


" Zahra... Apa kau juga ingin ambil minum?"


" Tidak, Ma. Zahra mau ambil air buat kompres."


" Kamu sakit?"


" Bukan, Ma. Zahra tidak sakit."


" Terus itu kompresan buat siapa? Rama atau Kaivan?"


" Ini buat Mas Azzam, Ma."


" Hah...? Azzam...? Kamu halusinasi, Za?"


Mama Rahma menatap lekat menantunya tak percaya. Mungkinkah menantunya ini sedang mengigau?


" Kok halusinasi sih, Ma? Tadi Mas Azzam beneran ada di kamar."


" Kamu hanya merindukan dia saja, Za. Sebaiknya kamu tidur sekarang. Besok Azzam juga pulang."


Zahra mulai bimbang. Benarkah yang di kamar tadi hanya khayalannya saja? Tapi sosok suaminya itu begitu nyata baginya. Bahkan Zahra bisa menyentuh tubuh suaminya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2