
Sudah satu minggu sejak bertemu dengan Bimantara Kyle, Zahra kini sudah bersiap untuk memulai aksinya. Malam ini ia menginap di Apartemen Rayyan di Jakarta karena Azzam dan Rama tidak boleh terlihat oleh publik.
" Sayang... kamu yakin akan masuk ke rumah papa?" tanya Azzam cemas.
" Insya Allah, Mas. Do'akan saja Zahra berhasil dalam misi ini."
Azzam semakin mempererat pelukannya. Rasanya tak rela melepaskan istrinya ke dalam lembah neraka itu. Azzam menenggelamkan wajahnya ke leher jenjang sang istri secara memberi kecupan hangat disana.
" Mas... jangan mulai lagi deh, Zahra capek. Besok pagi Zahra harus bisa menemukan Kaivan." lirih Zahra.
" Sekali lagi ya, Yang? Besok kita pasti akan berpisah cukup lama." rengek Azzam.
" Ya Allah, Mas. Tadi udah berapa kali coba? Ini aja rasanya sakit semua, Mas nggak berhenti juga."
" Hehehee... Buat stok selama kita berjauhan, sayang. Mas pasti akan merindukanmu tiap detik."
" Lebay kamu, Mas!"
" Lagi, Yang? Please...?"
.
.
Pagi hari yang cerah, tapi tak secerah hati Azzam. Sedari bangun tidur pria itu membuntuti istrinya kemanapun juga. Hingga kini, saat Rayyan dan Bima sudah berada di hadapannya, Azzam masih mendekap Zahra yang sedang menyuapi Rama.
" Ya Allah, Muhammad Azzam Al Farizy...! Kau ini bukan anak kecil lagi," kesal Rayyan.
" Biarin aja, malam ini nggak bisa meluk istriku lagi." sungut Azzam.
" Zahra... Zahra... bisa - bisanya kau dapat suami kelakuan bocah seperti itu." cibir Bima.
" Diam semua! Kalian bertiga itu berisik sekali." pekik Zahra.
" Kamu siap - siap, Ra. Sebentar lagi Darren akan menjemputmu. Usahakan ada lowongan pekerjaan lagi di rumah itu untukku. Dari penyelidikan anak buahku, Kaivan orang yang baik dan ramah tidak seperti ibunya." kata Bima.
Setelah semuanya siap, Darren membawa peralatan yang akan digunakan Zahra untuk mengintai di rumah itu. Tak banyak yang bisa ia bawa karena ini baru percobaan awal.
" Nona, ini alat untuk mendeteksi alat penyadap. Hati - hati menggunakannya, di rumah itu banyak sekali kamera cctv. Senjata yang ini, hanya seperti lidi. Jika di tekan ujungnya, ini seperti tembakan kecil yang membuat korbannya tidur karena isinya obat bius. Untuk alat komunikasi, bawa ponsel jadul ini untuk mengelabui mereka. Jika memang Anda terdesak, tekan tombol kecil dalam liontin kalung ini, kami akan segera bertindak. Lakukan jika memang Anda terdesak dan butuh bantuan."
" Apa semua ini tidak akan terdeteksi oleh mereka?" tanya Zahra.
" Tidak, saya akan melapisinya dengan bahan yang tidak mengandung magnet. Jadi Anda bisa mengaktifkannya setelah sampai di dalam rumah itu. Semoga berhasil, Nona."
" Terima kasih, Darren. Kau selalu yang terbaik." puji Zahra.
" Hei... itu semua aku yang modal, Rara! Ini identitas barumu. Ingat, nama kamu Rara... bukan Zahra." kata Bima.
" Apa tidak ada nama yang lain? Setiap menyamar harus pakai nama 'Rara'." protes Zahra.
" Next job aku kasih nama 'SRI' atau 'IYEM'." sahut Bima santai.
Setelah semuanya siap, Zahra berpamitan pada suami dan anaknya. Drama yang dibuat Azzam membuat semua yang ada di ruangan itu muak.
" Sayang... hati - hati, ya? Cepat kembali, jangan lupa untuk selalu menjaga sholatmu. Do'a adalah kunci keberhasilan dalam misi ini. Mas akan selalu memantau dari sini." pesan Azzam.
Azzam meraih tangan Zahra lalu melepaskan cincin yang tersemat di jari manisnya. Azzam mengecup tangan itu beberapa kali.
__ADS_1
" Identitasmu itu belum menikah, jadi jangan bawa barang privasi agar tidak ada yang curiga." lirih Azzam.
" Iya, Mas. Terima kasih sudah mengingatkan, nanti kalau misi ini berhasil Mas harus memberikan hadiah besar padaku." bisik Zahra.
" Apapun yang Adek inginkan pasti Mas berikan, sayang."
" Jaga anak kita, demi keluarga kita... Zahra siap berjuang."
Setelah drama selesai, Zahra meninggalkan Apartemen bersama Darren. Diluar, orang - orang Bima berkeliaran di sekitar Zahra seperti bayangan. Mereka juga menjaga Azzam dan Rama dari jauh.
Bima dan Rayyan juga keluar dari Apartemen untuk melakukan kegiatan masing - masing. Bima akan mengunjungi markas di kota ini yang sudah ia tinggalkan dua bulan lalu.
" Tuan Bima, ada yang ingin saya bicarakan berdua saja dengan Anda." ucap Rayyan.
" Apa ini soal misi...?" tanya Bima.
Bima terlihat sangat tegas jika tak ada Zahra. Di depan wanita itu, Bima selalu bersikap ramah dan humoris. Entah mengapa, Bima merasa sayang dengan Zahra sebagai seorang kakak. Dia ingin selalu melindungi wanita itu setiap waktu.
" Iya, ini soal_..."
" Jangan bicara disini, ikut denganku ke Markas Tiger White."
" Baik."
Rayyan dan Bima masuk ke dalam mobil masing - masing. Rayyan mengikuti Bima dari belakang karena tidak tahu kemana arah Markas pria itu.
.
.
Zahra berhenti di depan gerbang komplek perumahan elite. Di lihat dari gerbang utamanya saja, bisa dipastikan penghuninya adalah para konglomerat kelas atas. Zahra berjalan dengan menenteng tas ransel yang berisi pakaian. Baju yang dipakai sekarangpun entah darimana Darren mendapatkannya. Bahkan baju bekas miliknya sendiri tak sekumal ini. Dengan sandal jepit bekas pula yang sudah menepis, mungkin Darren mencurinya di halaman masjid. Astaghfirullah!
Zahra menghela nafas pelan sebelum duduk di bawah pohon sambil menunggu mobil Kaivan lewat. Hampir lima belas menunggu, Zahra ngomel - ngomel sendiri karena targetnya tak juga muncul.
" Nona... Fokus, sebentar lagi target muncul."
Suara dari earphone membuyarkan pikiran Zahra. Dia lupa jika earphone miliknya tersambung dengan Darren.
" Ups... sorry. Saya cuma jenuh, Darren. Berapa lama lagi target datang?"
" Dua menit lagi keluar dari gerbang."
" Baik, saya akan bersiap - siap."
Benar saja, sebuah mobil mewah warna silver keluar dari gerbang. Zahra berpura - pura menyeberang saat mobil itu hambil melewatinya.
Brukkk!
" Auwww...!" pekik Zahra.
Mobil itu langsung berhenti. Tampak seorang pria muda keluar dari kursi kemudi menghampiri Zahra dengan wajah panik.
" Nona... Anda tidak apa - apa?"
" Auwww...! Maaf, Tuan. Apakah mobil Anda lecet? Sekali lagi saya minta maaf, saya belum bisa mengganti rugi kerusakan mobil Anda. Saya sedang mencari pekerjaan."
" Tidak, Nona. Mobil saya baik - baik saja, harusnya yang perlu dikhawatirkan itu keadaan Anda."
__ADS_1
Zahra menatap pria itu untuk memastikan bahwa itu benar targetnya. Senyum merekah dari bibir Zahra membuat pria itu seketika membeku.
" Saya baik - baik saja, Tuan. Mungkin hanya sedikit memar di kaki."
" Tapi saya merasa bersalah, Nona. Bagaimana kalau saya antar ke rumah sakit?"
Zahra tidak menyangka Kaivan orang yang sangat ramah. Perhatiannya begitu tulus pada orang yang belum ia kenal.
" Tidak usah, Tuan. Saya akan melanjutkan cari pekerjaan saja untuk menyambung hidup." ucap Zahra sendu.
" Panggil saya Kaivan, nama kamu siapa?"
" Sa... saya... Rara, Tuan Kaivan."
" Rara...? Oh iya, kamu mau cari pekerjaan di bidang apa...?"
" Saya sudah terbiasa jadi ART dan juga pengasuh anak, menjaga lansia juga pernah."
" Jam terbangmu banyak juga ya,"
Mereka berdua kini duduk di bawah pohon sambil berbincang. Zahra akui, Kaivan sepertinya tidak pernah memandang status sosial orang lain. Dia bisa berteman dengan orang dari kalangan manapun.
" Tuan bisa saja, saya sudah satu minggu ini menganggur. Tadinya bekerja di Bandung, tapi karena majikan saya bercerai jadinya mereka pulang ke rumah orangtua masing - masing."
Kaivan menatap wajah polos Zahra yang tak memakai make up. Gadis itu tampak bersih dan sederhana walaupun pakaiannya terlihat tak layak pakai meski masih utuh.
" Mmm... Rara, apakah kau mau bekerja di rumahku?" tanya Kaivan.
" Kerja di rumah Anda, Tuan? Benarkah?" ucap Zahra berbinar.
Zahra tidak menyangka bisa secepat itu masuk ke dalam istana Al Farizy. Ternyata Kaivan lebih mudah ditaklukkan, tak seperti bayangannya sebelum mereka bertemu.
" Benar, kamu akan bekerja khusus melayani saya." jawab Kaivan sambil tersenyum.
What?! Pelayan khusus? Apa maksud pria itu? Apakah dirinya akan dijadikan budak nafsu seperti di film - film itu?
" Maksud Tuan pelayan khusus apa?" Zahra mendekap erat tubuhnya sendiri.
" Hahahaa... jangan berpikiran terlalu jauh! Saya hanya ingin kau membersihkan kamarku dan menyiapkan semua kebutuhanku dirumah dari bangun tidur sampai tidur lagi." Kaivan memukul pelan kepala Zahra.
" Hehehee... habisnya Tuan ngomongnya begitu, saya jadi salah paham." sahut Zahra nyengir.
" Berapa umurmu sekarang?" tanya Kaivan.
Zahra kaget dengan pertanyaan Kaivan. Pasalnya, ia belum membaca identitas palsu yang diberikan Bima padanya jika sewaktu - waktu keluarga Al Farizy menanyakannya.
" Mmm... umur saya_..."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1