
" Tuan... boleh saya masuk?" panggil Zahra sambil membawa nampan.
" Masuk.. !" teriak Kaivan dari dalam.
Zahra membuka pintu dengan satu tangan lalu menghampiri Kaivan yang duduk di sofa sambil memakai dasinya.
" Sarapannya Tuan, silahkan."
" Saya sedang marah! Jangan menggangguku."
Zahra menatap heran majikannya. Perasaan sedari tadi Zahra tak melakukan apapun, kenapa sang majikan sangat marah?
" Saya tidak mengganggu, Tuan... hanya mengantar sarapan untuk Anda."
" Apa kau tidak lihat saya sedang sibuk!"
Zahra semakin heran dengan Kaivan yang tiba - tiba merajuk seperti bocah. Adakah yang tahu alasan pria dewasa itu bertingkah seperti anak kecil yang dilarang bermain?
" Tuan kenapa sih? Pagi - pagi kok udah bertanduk aja." gerutu Zahra.
" Kau bilang saya bertanduk, hah...! Ini semua gara - gara kamu, Rara!" kesal Kaivan.
" Saya... Tuan? Memangnya saya melakukan apa...?
" Tahu Ah...! Dasar tidak peka."
Zahra tersenyum lalu bersimpuh di lantai dekat tempat duduk Kaivan. Dia tak peduli walau lantai itu masih kotor.
" Tuan maunya apa...? Apa perlu saya panggil Nyonya Besar untuk menyuapi Tuan Kai...?"
" Saya bukan bocah!"
" Saya juga tahu Anda bukan bocah, Tuan. Dari postur tubuh saja udah besar tinggi kayak jerapah." celetuk Zahra.
" Raraaa...!" geram Kaivan.
Kalau tidak ingat yang di hadapannya itu perempuan, Kaivan pasti sudah meninju wajahnya dengan sangat keras.
" Hehehee... Jangan merajuk lagi, Tuan. Rara minta maaf soal di dapur tadi. Rara tidak bermaksud menggurui Tuan, hanya saja Rara merasa tidak sepantasnya Tuan berpakaian seperti itu di depan para pelayan. Bukankah kemarin Tuan cerita kalau pelayan yang dulu dipecat karena menggoda Tuan?"
" Apa hubungannya dengan sekarang?"
" Tentu saja ada. Tuan tanpa sengaja menggoda mereka terlebih dahulu dengan berpakaian seperti itu. Mereka hanya menuai apa yang Tuan tanam."
" Hah... kau pintar sekali berbicara, yakin hanya lulusan SMA...?"
" Memangnya kenapa, Tuan...? Bahkan kepala desa di kampung saya saja cuma lulusan SMP."
" Terserah kau saja, Ra. Capek debat terus sama kamu."
" Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan."
Zahra mengambil kain yang tadi menutupi tubuh Kaivan yang terlempar asal di sudut ruangan.
" Ra...!"
" Ya, Tuan...?"
" Nanti bawakan makan siang ke kantor, saya lagi banyak kerjaan jadi tidak akan sempat keluar."
" Tuan mau dibawakan apa...?"
" Ayam kecap, capcay udang sama bihun goreng. Bawa untuk porsi tiga orang."
" Tapi saya tidak tahu kantor Tuan Kai,"
" Nanti minta sopir mengantarmu ke kantor."
" Baik, Tuan."
Setelah Kaivan sarapan terus pergi ke kantor, Zahra segera membereskan kamarnya. Zahra belum sempat berbicara banyak dengan Kaivan soal kediaman Al Farizy karena bocah besar itu sudah terlanjur merajuk duluan.
.
.
Jam sebelas siang, Zahra sudah selesai memasak untuk diantarkan ke kantor Kaivan. Para pelayan sangat heran karena Zahra terlihat sangat sibuk mengurus majikannya. Sebelumnya Kaivan adalah orang yang jarang berinteraksi dengan siapapun apalagi hanya pelayan. Mereka menatap Zahra dengan pandangan berbeda - beda. Ada yang iri karena Zahra sangat dekat dengan majikan tampan itu. Ada juga yang merasa kasihan karena Zahra melakukan semua pekerjaan sendiri tanpa ada yang boleh membantunya.
" Ra... udah mau berangkat...?" tanya Nina.
__ADS_1
" Iya, tapi saya mau mandi dulu sebentar." jawab Zahra pelan.
" Oh iya, Nin. Minta tolong boleh nggak?"
" Apa...?"
" Minta sopir buat antar saya ke kantor Tuan Kaivan."
" Ok...!"
Selesai mandi, Zahra mengambil rantang yang sudah ia masukkan ke dalam tas kain untuk dibawa ke kantor.
" Pak, maaf ya merepotkan. Saya tidak tahu kantor Tuan Kaivan dimana, jadi takut nyasar kalau naik angkutan umum."
" Tidak apa - apa, Neng. Ini sudah jadi tugas bapak."
" Kenalkan, saya Rara..."
" Panggil saya pak Herman, saya asli dari Sumedang."
" Rara dari Jawa, pak. Eh iya, pak Herman sudah berapa lama kerja di keluarga Al Farizy?"
" Sudah sepuluh tahun, Neng."
" Sudah lama juga ya, pak? Kira - kira saya betah nggak ya kerja di rumah itu?"
" Memangnya kenapa, Neng?"
Zahra menghela nafas untuk melanjutkan pertanyaan yang pas agar pak Herman tidak curiga kalau dirinya sedang di interogasi.
" Mmm... Tuan Kaivan itu sifatnya berubah - ubah. Kadang dewasa, tapi terkadang juga ke kanak - kanakan. Apa waktu pertama kali pak Herman bekerja disini, Tuan Kaivan juga seperti itu?"
" Hmm... Tuan Kaivan itu baru tiga tahun ini tinggal di kediaman Al Farizy, Neng. Dia bersama ibunya datang setelah dinikahi Tuan Zaid."
" Jadi, Tuan Kaivan bukan putra kandung Tuan Zaid?"
" Bukan, putranya Tuan Zaid bernama Muhammad Azzam Al Farizy. Sudah tiga tahun lebih Tuan Muda menghilang. Entah kemana Tuan Muda pergi, tak ada satu orangpun yang tahu."
" Kenapa Tuan Azzam harus pergi, pak?"
" Mmm... maaf, Neng. Seharusnya saya tidak cerita pada sembarang orang, takut Nyonya Besar marah."
" Mmm... gimana ya, Neng?"
Pak Herman terlihat sangat gugup dan juga ragu untuk berbicara jujur pada Zahra. Semua orang juga pasti sepemikiran dengan pak Herman. Mana mungkin ia percaya begitu saja dengan orang yang baru dikenal.
" Tidak apa - apa kalau bapak tidak mau cerita, mungkin lain waktu jika pak Herman sudah percaya dengan saya."
" Maaf ya, Neng?"
" Tidak apa - apa, Pak. Saya juga tahu posisi bapak saat ini."
Karena jalanan macet, Zahra sampai di kantor Kaivan pukul dua belas lewat lima belas menit. Dia bergegas menuju lobby dan menghampiri resepsionis.
" Permisi, mbak. Saya mau bertemu Tuan Kaivan." ucap Zahra sopan.
" Apa sudah ada janji sebelumnya, Nona?" tanya resepsionis sinis.
" Saya diminta Tuan Kaivan untuk mengantar makan siang."
" Taruh saja disitu, nanti saya sampaikan pada Tuan Kaivan."
" Tapi, mbak... Tuan Kaivan bilang_..."
" Heh...! Kamu pasti hanya pelayan di kediaman Al Farizy, jangan sok cari perhatian dengan CEO!"
Zahra menghela nafas pelan. Dia melihat jam di ponselnya jadulnya dan ternyata sudah hampir setengah jam ia terlambat mengantar makanan. Sudah bisa dipastikan jika sang majikan kembali murka seperti tadi pagi.
" Ada apa ini?" suara tegas dan datar bergema.
" Tu... Tuan Deni," ucap resepsionis ketakutan.
" Maaf, Tuan... saya diperintahkan Tuan Kaivan untuk mengantarkan makanan." ucap Zahra pelan.
" Kau ikut denganku!" titah Deni datar.
" Baik, Tuan." sahut Zahra singkat.
Zahra mengikuti langkah Deni masuk ke dalam lift. Wajahnya sudah terlihat pucat dan gugup. Seharusnya tadi ia berangkat lebih awal biar tidak terlambat seperti ini.
__ADS_1
Sampai di depan ruangan CEO, Zahra ragu untuk masuk walaupun Deni sudah membukakan pintu untuknya.
" Masuklah, Tuan Kaivan sudah menunggu." titah Deni.
" Tapi saya takut, Tuan. Ini sudah terlambat setengah jam dari istirahat makan siang."
" Hhh... sudah berapa lama kau bekerja?"
" Baru dua hari ini, Tuan."
" Semoga kau beruntung kali ini."
" Maksud... Tuan?"
" Tidak, Tuan sudah menunggumu."
Zahra masuk ke dalam ruangan dan melihat Kaivan yang sedang serius dalam bekerja. Sifatnya sangat berbeda jika dibandingkan saat di rumah.
" Assalamu'alaikum, Tuan..." ucap Zahra pelan.
" Wa'alaikumsalam." jawab Kaivan tanpa menoleh.
" Tuan... saya mengantar makan siang untuk Anda."
" Ini sudah jam berapa? Kau mau membunuhku!"
" Maaf, Tuan... tadi jalanan macet. Jadi terlambat sampai disini."
" Ini sudah setengah jam kau terlambat!"
" Tapi, Tuan... Saya ditahan resepsionis tidak boleh bertemu dengan Anda karena saya hanya seorang pelayan."
Wajah sendu dan suaranya yang melemah membuat Kaivan yang merajuk mulai mengalihkan perhatiannya dari laptop.
" Hhh... ya sudah, kau ambil piring di sudut ruangan itu. Kita makan sekarang. Deni, kau juga ikut makan."
" Tapi, Tuan...?"
" Sudahlah, duduk!" perintah Kaivan.
Zahra membawa tiga piring dan gelas berisi air putih. Dengan cekatan ia menata makanan di meja di depan Kaivan dan Deni.
" Tuan... yang satu lagi untuk siapa?" tanya Zahra karena Kaivan minta tiga porsi.
" Buat kamu, pasti belum makan di rumah, kan?" jawab Kaivan datar.
" Saya bisa makan di rumah nanti, Tuan. Kasihan pak Herman menunggu diluar kelamaan."
" Deni, suruh pak Herman pulang saja!"
" Baik, Tuan."
" Saya pulangnya gimana Tuan?" protes Zahra.
" Nanti sama saya sekalian."
" Hah...! Saya harus menunggu disini sampai malam?"
" Hmm... cepat makan!"
Mereka bertiga makan dalam diam walau dalam hati Kaivan dan Deni memuji masakan Zahra yang sangat enak. Hanya butuh waktu lima belas menit, mereka sudah selesai makan. Setelah membereskan peralatan makan, Zahra kembali duduk di samping Kaivan.
" Tuan... apakah di kantor ini ada mushola?" tanya Zahra.
" Ada di lantai dasar, samping kantin." jawab Kaivan.
" Jauh ya, Tuan?"
" Kalau mau sholat di ruangan itu saja, tidak perlu turun ke bawah." kata Kaivan.
Zahra segera masuk ke ruangan pribadi Kaivan untuk sholat zuhur karena sudah hampir jam satu siang.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.