Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Eksekusi(2)


__ADS_3

" Saatnya eksekusi...!" gumam Kaivan dengan senyum sinis.


Kaivan kembali bergabung bersama Azzam dan yang lainnya. Mobil Merry juga sudah berada disana disusul beberapa mobil yang lain.


" Kenapa kau ikut disini? Kembali ke tempatmu." ujar Azzam pada adiknya.


" Kai ikut Mas Azzam saja disini, disana sudah ada banyak orang." sahut Kaivan.


Di tempat lain, Bima sudah menerima informasi bahwa Tuan Davidson sudah ditangkap polisi di Singapore. Kini mereka tinggal menunggu komando dari Jefri dan Zahra.


" Semua bersiap, Jefri sudah memberi kode untuk masuk." kata Zahra.


Semua bersiap untuk masuk dengan persenjataan yang lengkap. Mereka sudah memperkirakan ada sekitar 100 orang dari tiga kelompok mafia, sedangkan Bima memiliki 150 anggota ditambah anggota polisi.


Pergerakan mereka yang sangat cepat mampu melumpuhkan para penjaga yang berjaga di depan gedung. Mereka semua dibuat pingsan lalu dimasukkan ke dalam mobil box besar yang sudah mereka siapkan.


" Kita berpencar, jangan sampai ada satupun dari mereka yang lolos." perintah Bima.


" Siap, Boss...!"


Mereka memasuki gedung dari empat arah saat transaksi dimulai. Para mafia itu terkejut dengan kedatangan Bima dan para anggotanya. Mereka terlihat marah pada Merry karena merasa telah dijebak oleh wanita itu.


" Shitt...! Kau mau cari mati, hah...!" teriak salah satu pimpinan mafia.


" Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu jika semua ini bisa terjadi." ungkap Merry ketakutan.


" Kau memilih rekan kerja yang salah, Nona. Saya sudah tahu niat Anda membangun hotel di tempat seperti ini." ungkap Azzam datar.


" Azzam... Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" teriak Merry.


" Saya hanya tidak suka ada yang mengotori negaraku."


" Serang mereka...!" seorang pimpinan mafia memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.


Perkelahian tak dapat dihindarkan. Bahkan ada baku tembak yang terpaksa harus menghilangkan nyawa mereka. Merry yang berusaha kabur langsung ditangkap oleh Jefri dan diserahkan kepada anggota polisi.


" Kau_...!" teriak Merry marah.


" Salah salah satu dari mereka, Nona." ungkap Jefri santai.


Merry berteriak histeris saat kedua tangannya diborgol oleh polisi dan dimasukkan ke dalam mobil tahanan.


Malam ini adalah puncaknya kehidupan Merry yang telah berakhir. Bisa dipastikan bahwa ia akan menerima hukuman mati atau hukuman seumur hidup.


Setelah pertempuran selesai, anak buah Bima membereskan tempat itu agar warga dan para pekerja tidak tidak curiga tentang kejadian malam ini di proyek.


.


.


" Mas, gimana dengan bangunan hotel itu? Mau lanjut atau dibiarkan begitu saja?" tanya Kaivan.

__ADS_1


" Nanti Mas akan ke Singapore untuk menemui keluarganya. Mereka masih punya hak atas tanah itu walaupun perusahaannya sudah colabs." jawab Azzam.


" Terserah Mas saja, Kai ikut apapun keputusan Mas Azzam."


" Minggu depan aku mau ke Jogja sama Papa dan Mama, kamu ikut nggak?"


" Ikutlah, Mas. Rumah yang di desa udah jadi?"


" Sudah, makanya Zahra buru - buru ngajakin pulang. Kasihan juga Rayyan ngurus kantor sendirian."


Kini Azzam dan Kaivan sedang duduk santai di belakang rumah menikmati suasana sore yang cerah. Zahra sedang sibuk bermain dengan Rama dan para pelayan yang sudah selesai dengan pekerjaannya di paviliun.


" Sayang, Rama mandiin dulu. Ini udah sore, nanti dia kedinginan." ujar Azzam.


" Sebentar, Yah. Rama masih betah mainnya." sahut Zahra.


" Rama atau bundanya yang betah bermain?"


" Ish... Ganggu aja!" gerutu Zahra.


Zahra meminta para pelayan untuk membereskan mainan Rama, sedangkan dirinya menggendong putranya menuju rumah utama.


" Rama mandi sama Om Kai aja yuk?" bujuk Kaivan.


" Tidak usah! Kamu pikir aku tak bisa mengurus anakku sendiri!" ketus Zahra.


" Kakak ipar kok jadi marah sama Kai?" heran Kaivan namun hanya bisa terucap dalam hati.


" Mas, istrinya dari kemarin sensitif banget. Lagi datang bulan ya?" tanya Kaivan.


" Tidak, tadi masih sholat Ashar berjamaah." sahut Azzam.


" Tapi akhir - akhir ini Kai merasa ada yang aneh dari kakak ipar, masa' Mas tidak merasakan hal itu sih?"


" Jangan mengada - ada kamu, Kai. Zahra biasa aja kok."


Saat mereka berdebat tentang perubahan sikap Zahra, tiba - tiba Papa Zaid datang untuk melerai keduanya. Walaupun bukan saudara kandung, namun mereka saling menyayangi tanpa melihat tragedi di masa lalu.


" Kalian itu seperti anak kecil saja, Papa saja tahu kenapa Zahra seperti ini." ungkap Papa Zaid.


" Zahra kenapa, Pa?" tanya Azzam penasaran.


" Menurut Papa, Zahra akan memberikan cucu lagi."


" Masa' sih, Pa? Perasaan kak Zahra tidak pernah mual dan lemes." ucap Kaivan.


" Kalian mau bertaruh dengan Papa?" tantang Papa Zaid.


Azzam merasa ragu, pasalnya ia tidak mengingat kapan terakhir kali istrinya datang bulan. Sedangkan Kaivan dengan percaya dirinya menerima tantangan dari sang ayah.


" Kai yakin kakak ipar tidak akan hamil. Papa mau bertaruh apa?" balas Kaivan.

__ADS_1


" Nanti saja setelah Zahra diperiksa ke rumah sakit, Papa akan beritahukan tantangan untuk kalian." ujar Papa Zaid.


" Bagaimana caranya mengajak Zahra untuk periksa, Pa? Dia itu tidak mungkin mau jika dirinya saja tidak merasa yakin." ungkap Azzam.


" Tapi tantangannya harus sekarang, biar Papa tidak curang kalau kalah." protes Kaivan.


Azzam yang anak kandungnya saja tak seberani itu untuk protes pada ayahnya, namun Kaivan tidak pernah canggung sama sekali meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.


" Baiklah, tantangannya adalah... Jika Papa kalah, Papa akan menggendong kalian berkeliling rumah ini lima kali putaran. Tapi jika kalian yang kalah, gendong Papa dan Mama berkeliling rumah ini sepuluh kali putaran."


" Nggak adil dong, Pa! Masa' kami harus sepuluh kali sedangkan Papa cuma lima kali." protes Kaivan.


" Memangnya lima ditambah lima berapa? Kau ini dulu sekolah TK atau tidak...!" sindir Papa Zaid.


" Tapi'kan gendong Mama juga,"


" Berisik...! Nggak ada habisnya bicara sama kamu."


Azzam membungkam mulut adiknya supaya berhenti berdebat dengan sang ayah. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya agar Zahra mau diperiksa oleh dokter di rumah sakit.


" Caranya bawa Zahra ke rumah sakit gimana, Pa?" tanya Azzam lagi.


" Itu urusan Papa, kalian berdua siapkan mobil."


Walaupun masih bingung, namun Azzam dan Kaivan tetap menuruti titah ayahnya. Mereka berdua berjalan ke garasi mengambil mobil yang muat untuk seluruh keluarga. Kaivan yang akan menjadi sopir untuk keluarganya kali ini. Moment seperti ini memang jarang bisa mereka lakukan karena kesibukan masing - masing. Bahkan Rama yang usianya baru menginjak tiga tahun saja kerap kali ikut bekerja agar tetap berada dalam pengawasan keluarga.


" Mas yakin kak Zahra mau menuruti ajakan Papa?" tanya Kaivan.


" Entahlah, karena aku sendiri belum yakin kalau Bundanya Rama hamil. Berulang kali dia menolak dengan tegas saat aku meminta dia hamil lagi dengan alasan Rama masih kecil dan butuh banyak perhatian." jawab Azzam.


" Kalau ternyata kakak ipar tidak hamil, apa kita tega minta gendong Papa mengelilingi rumah ini?"


" Mas belum terpikir sampai kesana, tapi melihat dari raut wajah Papa sepertinya beliau yakin 100% Zahra hamil lagi."


" Nanti kalau kita kalah, Kai gendong Mama ya? Mas gendong Papa, sepertinya hidup jadi petani membuat otot Mas ini sangat kuat." rayu Kaivan.


" Bilang saja pengen yang ringan." cibir Azzam.


Tak berselang lama, Papa Zaid keluar dari rumah menggandeng istri dan menantunya. Rama berlari duluan menghampiri ayahnya yang bersandar di mobil.


" Mas, beneran Kak Zahra mau periksa kandungan?" bisik Kaivan.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2