
Zahra mandi duluan saat menjelang maghrib. Sementara Azzam, ia masih tiduran sambil memeluk guling seraya tersenyum riang dengan tubuh polosnya yang tertutup selimut.
" Mandi...! Senyum - senyum kayak orang kurang waras kamu, Mas." tegur Zahra.
" Terima kasih, sayang. Nanti habis isya' lagi, ya?" pinta Azzam dengan senyuman menggoda.
" Selesaikan dulu pekerjaanmu! Aku tidak mau besok masih disini untuk kerja."
" Pasti, sayang. Malam ini pasti selesai asal penyemangatnya memberikan vitamin yang cukup."
" Terserah kamu saja, Mas. Susah ngomong sama kamu, nggak pernah mau kalah."
Zahra memberikan handuk untuk suaminya agar lekas mandi karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.
" Cepetan, Mas...!" seru Zahra.
" Ini juga baru jalan ke kamar mandi, Bunda."
Selesai mandi dan sholat jama'ah, Azzam memesan makanan melalui aplikasi online. Dia tidak akan membiarkan istrinya kelaparan.
" Dek, pemandangannya lebih indah saat malam hari, kan?" bisik Azzam seraya memeluk istrinya yang sedang bersandar pada dinding kaca.
" Iya, Mas. Malam yang indah, cuacanya sangat cerah." sahut Zahra seraya membenamkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
" Mau lihat yang lebih indah dari ini?"
" Apa...? Mas tumben banget romantis begini? Pasti ada maunya, ya?"
" Memangnya Mas tidak pernah romantis, sebelumnya?"
" Udah, selesaikan dulu pekerjaannya sambil nunggu makanan datang."
Azzam yang hendak mencium istrinya urung karena sudah mendapat tatapan tajam terlebih dahulu. Azzam bukannya takut dengan istrinya, dia hanya tidak mau memaksakan kehendaknya.
" Adek periksa berkas yang saja dulu. Mas mau periksa berkas dari kantor Papa."
" Baiklah, tapi koreksi kalau Adek salah ya, Mas?"
" Iya, sayang. Kamu pelajari saja dulu, biar suatu saat nanti kamu juga bisa pimpin perusahaan."
" Kalau soal itu, Zahra sepertinya nggak bisa. Zahra mau fokus ngurus anak saja. Kalau niat ingin kerja, aku bisa kembali gabung dengan Tiger White."
" Tidak boleh! Kau tahu sendiri pekerjaan itu sangat berbahaya."
Zahra dan Azzam kini fokus dengan pekerjaan masing - masing. Mereka harus menyelesaikan banyak berkas agar besok bisa libur dan menghabiskan waktu dengan liburan.
" Mas, sholat dulu yuk? Udah jam setengah delapan, nanti lanjut lagi kerjanya."
" Satu berkas lagi, Dek."
" Apaaa...?!"
" Hehehee... iya, sayang. Ini juga sudah mau berdiri."
__ADS_1
Azzam langsung berdiri begitu melihat tatapan tajam istrinya. Azzam takut jatahnya berkurang jika membantah ucapan sang istri.
.
.
Tak terasa hingga jam sepuluh malam mereka bekerja untuk menyelesaikan semua berkas yang menumpuk. Azzam yang jarang ke kantor tentu lebih senang mengerjakan pekerjaannya seminggu sekali. Rayyan yang akan menghandle yang lainnya.
" Udah selesai, sayang. Ke kamar yuk?" ajak Azzam.
" Kita beneran nginep disini, Mas?"
" Iya, sekarang sudah malam."
" Tapi Zahra belum ngantuk, Mas."
" Ya udah, kalau begitu ikut Mas saja keatas."
" Atas mana?"
Azzam hanya tersenyum lalu menarik pinggang istrinya hingga tak ada jarak sedikitpun antara keduanya saat ini.
" Kita nikmati malam yang indah ini berdua, sayang." Azzam mengecup bibir istrinya sekilas.
Azzam merangkul bahu istrinya lalu keluar dari ruangannya menuju ujung lorong. Disana terdapat tangga menuju keatas yang sedikit gelap.
" Mas_..."
" Ssttt...!"
" Mas... ini indah sekali!" seru Zahra.
" Tapi melihatmu lebih indah, sayang." lirih Azzam.
Azzam melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri dari belakang. Diciumnya pipi halus itu berkali - kali dengan lembut.
" Ternyata jalanan di bawah sangat indah kalau dilihat dari atas sini. Kenapa tidak tadi sore saja sekalian lihat sunset."
" Lain kali, istriku sayang. Sekarang kita nikmati malam yang indah ini berdua, hanya kau dan aku."
Zahra menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Hawa dingin semakin mengeratkan pelukan mereka.
" Mas, apakah Rama baik - baik saja bersama Kaivan?"
" Rama anak yang pintar, dia paham kalau orangtuanya sedang ingin buat adik untuknya."
" Pengen banget ya punya anak lagi?"
" Tentu saja, Mas pengen punya anak yang banyak. Mas jadi kepikiran ingin renovasi rumah kita."
" Renovasi? Tapi rumah kita masih layak huni."
" Iya, Mas hanya pengen perluas saja ke belakang biar bisa buat kamar untuk anak - anak kita nantinya."
__ADS_1
" Mas tidak keberatan pulang pergi dari desa ke kota tiap hari untuk bekerja?"
" Demi kebahagiaan kalian, Mas rela melakukan apapun. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, sayang. Tidak sampai satu jam kalau tidak macet."
Hampir dua jam mereka menikmati waktu berdua diatap gedung. Tak hanya berbincang, Azzam terus merayu sang istri untuk menghabiskan malam ini dengan begadang sampai pagi.
" Ke bawah, Dek. Cuacanya semakin dingin, kita bisa menghangatkan tubuh dengan olah raga malam." pinta Azzam.
" Ya Allah, Mas. Tadi sore sudah, kenapa minta lagi?"
" Ini untuk mengganti tiga minggu yang terlewatkan tanpa olahraga ranjang."
" Hhh... mentang - mentang nggak ada anak, dipuas - puasin tuh mesumnya."
" Mas sangat merindukanmu, sayang. Bagaimana kalau kita melakukannya disini saja?"
" Nggak...! Kayak nggak ada tempat lain saja."
" Ok, kita lakukan di bawah saja."
Azzam dengan semangat empat lima menggendong istrinya menuruni tangga menuju ruangannya. Sampai di dalam ruangan, Azzam mendudukkan Zahra di atas meja kerjanya. Setelah itu ia mengambil remote untuk mengunci pintu walaupun di tempat itu hanya ada mereka berdua.
" Kita bermain sebentar disini, coba sensasi baru di meja kerja." lirih Azzam.
" Tunggu, Mas! Disini ada cctv nggak?"
" Ish... kenapa aku lupa kalau ada cctv di ruangan ini." ucap Azzam mendesah pelan.
" Apaa...? Kenapa tidak bilang dari tadi!" sungut Zahra mendorong tubuh suaminya.
Azzam tertawa melihat tingkah istrinya yang terlihat saangat menggemaskan itu. Tak sabar rasanya ingin segera menyergap tubuh sang istri.
" Mas hanya bercanda, sayang. CCTV hanya terhubung ke ponsel Mas saja, tidak ada orang lain yang tahu."
Azzam melepas kerudung yang dipakai istrinya hingga memperlihatkan rambut hitam panjang yang terurai lembut. Pria manapun pasti akan terbuai dengan kecantikan Zahra. Azzam merasa sangat beruntung bisa berjodoh dengan wanita yang sangat cantik dan baik itu.
" Zahra nggak mau disini, Mas!"
" Ok, kita ke kamar saja. Tidak usah marah, nanti Mas tambah bersemangat bikin kamu berteriak nikmat." bisik Azzam.
" Ish... menyebalkan!"
Azzam kembali menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar pribadinya. Malam ini akan menjadi mslam panjang bagi keduanya untuk meluapkan rasa rindu yang selama ini tertahan. Azzam tidak akan melepaskan istrinya walaupun hanya sekejap. Untung saja kini ada Kaivan dan Rayyan yang menjaga putra mereka, sehingga Azzam dan Zahra merasa lebih tenang untuk menghabiskan malam ini dengan berbagi kehangatan tanpa ada seorangpun yang mengganggu.
Seperti pengantin baru, Azzam dan Zahra menikmati kebersamaan mereka tanpa merasa lelah sepanjang malam. Lagi dan lagi, mereka melakukan ibadah ysng paling menyenangkan hingga waktu shubuh hampir tiba. Azzam memeluk erat tubuh sang istri yang terlihat sangat lemah karena ulahnya yang terlalu bersemangat membuat adik untuk Rama.
" Tidurlah sebentar, nanti Mas bangunkan saat adzan shubuh. Masih ada satu jam untuk beristirahat, sayang." Azzam menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan agar tidurnya lebih nyaman.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.