Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kaivan kesepian


__ADS_3

Hari ini Kaivan terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan Azzam kini berpindah ke mejanya. Tuan Zaid sudah menyerahkan jabatan Presdir kepada putranya dan ingin fokus mengurus istrinya saja.


" Tuan, Anda kenapa?" tanya Deni saat melihat Kaivan melamun.


" Bisakah kau tidak memanggilku 'Tuan'...?" sungut Kaivan.


Deni tersenyum lalu duduk di depan Kaivan yang dipisahkan oleh meja. Kaivan terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.


" Kai, apa yang kau pikirkan? Sebentar lagi ada meeting dengan klien dari Bandung."


" Nggak ada Mas Azzam dan Kak Zahra rasanya sepi. Biasanya sebentar lagi kakak ipar pasti datang membawa makanan untuk kita."


" Sekarang kau merasa punya keluarga baru?"


" Benar, keluarga Al Farizy sangat baik padaku. Kasih sayangnya juga tulus walaupun keluargaku sudah jahat kepada mereka."


Kaivan menyibukkan diri dengan setumpuk berkas dimejanya. Walaupun kini hidupnya bebas, namun kesepian melanda hatinya. Akhir - akhir ini dia tak pernah merasa kesepian saat bersama Zahra. Wanita yang kini menjadi kakak iparnya itu sangat perhatian padanya. Mengajarkan tentang cinta dan kebaikan, arti keluarga yang sesungguhnya.


Jam makan siang, Kaivan masuk ke ruang kerja Tuan Zaid. Karena Azzam jarang sekali datang ke kantor, Tuan Zaid jadi kembali untuk membantu Kaivan.


" Assalamu'alaikum, Pa." ucap Kaivan.


" Wa'alaikumsalam, ada apa, Kai?" balas Tuan Zaid.


" Kita makan siang bareng, Pa."


" Pulang saja, Kai. Tadi Mama meminta kita untuk pulang."


" Ya sudah, pakai mobil Kai saja, Pa."


Kaivan dan Tuan Zaid jalan beriringan keluar kantor. Semua karyawan menatap mereka heran karena tidak biasanya mereka bersama.


" Apa Azzam tidak akan pulang, Kai?"


" Pasti pulang, Pa. Mas Azzam hanya butuh waktu sebentar agar anak istrinya bisa menerima apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu Mas Azzam."


" Apa maksudmu...?"


" Saat Mas Azzam menikahi kak Zahra, dia bilang bahwa dia itu yatim piatu dan tidak punya tempat tinggal. Mungkin kak Zahra hanya shock saja karena orang yang selama ini menjadi suaminya ternyata seorang konglomerat dan masih memiliki keluarga yang utuh."


" Semua ini kesalahanku, Kai. Papa tidak bisa menjaga Rahma dan Azzam dengan baik."


" Tidak, Pa. Papa sudah melakukan yang terbaik, Kai merasa sangat bersyukur bisa diterima dalam keluarga Papa. Mama Rahma bahkan sudah bisa menerima Kai sejak dulu, Pa. Kasih sayangnya tulus padaku, tidak seperti Mami."


" Kau juga putraku, Kai. Jangan pernah merasa sendifi dan kesepian. Azzam juga sudah bisa menerima kamu sebagai adiknya sekarang."


" Semua itu karena kak Zahra, Pa. Kak Zahra yang membujuk Mas Azzam supaya bisa menerima Kai. Kak Zahra juga yang membuatku kembali ingat kepada Tuhan. Dia seperti jelmaan malaikat yang memberikan cahaya kebahagiaan dalam keluarga kita."


" Papa juga yakin, Azzam tidak salah dalam memilih pasangan hidup."


Kaivan menggenggam erat telapak tangan Tuan Zaid saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Tatapan mata pria paruh baya itu sangat teduh membuat Kaivan dengan Papinya yang sudah meninggal.

__ADS_1


" Bolehkah Kai peluk Papa? Kai bisa melihat sosok kasih sayang Papi dalam diri Papa."


" Tentu saja, Nak. Kau juga putraku, sama seperti Azzam. Papa dan Mama sangat bahagia karena setelah peristiwa menyakitkan itu, sekarang Papa dan Mama mendapatkan dua putra yang sangat tampan."


Kaivan sampai menangis haru dalam pelukan Ayah tirinya. Dekapan hangat seperti saat ia masih kecil dulu.


' Papi, aku sangat merindukanmu. Bahkan dimana kau dimakamkan saja Kai tidak pernah diberi tahu' lirih Kaivan dalam hati.


" Pa, Kai sudah tahu siapa keluarga Papi. Bolehkah Kai mengunjungi mereka?"


" Pergilah! Memangnya siapa keluarga Papi kamu?"


" Papi adalah putra dari Edward Kyle, kakeknya Sakti... Sopir baru Kaivan waktu itu."


" Edward Kyle, apakah dia pemilik Agen Rahasia ' Tiger White'?"


" Benar, Pa. Sakti itu nama lengkapnya Bimantara Sakti Kyle. Dia datang karena permintaan kak Zahra untuk menolong Mama dan Papa."


" Zahra mengenal Tiger White dari mana? Di Indonesia, hanya para pengusaha besar yang bisa menyewa jasa mereka."


" Kak Zahra itu salah satu anggota terbaik Tiger White, Pa. Dulu kak Zahra bergabung dalam tim inti Tiger White sebelum menikah dengan Mas Azzam."


Kaivan segera melajukan mobilnya keluar kantor karena tak ingin Mama Rahma menunggu terlalu lama.


.


.


" Wa'alaikumsalam, akhirnya kalian pulang juga. Mama udah nungguin dari tadi." balas Mama Rahma.


" Maaf, Ma. Jam segini jalanan macet, jadi sedikit terlambat untuk pulang." ucap Kaivan.


" Azzam kapan pulang? Apa Zahra tidak mau tinggal disini?" Mama Rahma terlihat sedih.


" Bukannya kak Zahra tidak mau, Ma. Dia itu disana bekerja, tidak bisa dia tinggalkan begitu saja. Sebagai guru di desa itu sangat susah mencari penggantinya. Bang Rayyan saja harus menunggu satu bulan dulu untuk bisa mengundurkan diri."


Kaivan tahu jika Mama Rahma hanya merindukan putranya yang telah lama tinggal jauh darinya. Namun Kaivan juga jika Azzam tidak mungkin meninggalkan anak dan istrinya.


" Kaivan benar, Ma. Azzam juga harus mengurus perusahaannya disana. Bahkan perusahaannya itu berkembang sangat pesat tahun ini, belum juga Restoran yang ia bangun sekarang merambah sampai ke Bali." ujar Tuan Zaid.


" Nanti kalau Zahra libur kerja suruh main kesini ya, Kai?" pinta Mama Rahma.


" Iya, Ma. Nanti Kai bilang sama Kak Zahra."


" Ayo makan, kenapa malah ngobrol terus. Papa udah laper."


Selesai makan siang, Kaivan naik ke kamarnya karena Tuan Zaid tidak kembali ke kantor, makanya Kaivan ikutan bolos kerja.


Kaivan melepas kemeja putih yang dipakainya dan hanya menyisakan kaos putih yang mencetak jelas tubuhnya.


" Huft... Biasanya ada kak Zahra yang menemaniku disini. Sekarang sepi kayak di hutan, tak ada yang ngomel - ngomel kalau waktu shubuh." keluh Kaivan.

__ADS_1


Saat sedang asyik melamun, tiba - tiba ponselnya berdering. Dia segera meraih ponsel yang ia taruh di samping bantalnya. Dengan cepat ia menekan tombol hijau saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Kaivan : " Assalamu'alaikum, Kak."


Zahra : " Wa'alaikumsalam, Kai. Kedengarannya kamu bersemangat sekali, ada sesuatu yang membuatmu senang?"


Kaivan : " Kai senang kak Zahra telfon. Tahu aja kalau dari pagi Kai mikirin kakak ipar."


Zahra : " Ngelantur kamu, Kai. Istighfar!"


Kaivan : " Kak Zahra lagi apa? Tumben hubungi Kai duluan?"


Zahra : " Begini, Kai... Kemarin Mas Azzam ajak aku ke Bali buat pembukaan cabang baru Restoran RAZ, menurutmu gimana?"


Kaivan : " Kapan ke Bali?"


Zahra : " Mungkin sabtu, karena acaranya minggu pagi."


Kaivan : " Kakak ikut saja, berangkatlah dari Jakarta biar Rama ditinggal disini saja. Kasihan kalau kalian bawa pergi jauh, keponakanku bisa sakit."


Zahra : " Nanti malah merepotkanmu, Kai."


Kaivan : " Tidak, Kak. Rama aman bersamaku, Papa dan Mama juga merindukan kalian. Pulanglah walau hanya sebentar."


Zahra : " Baiklah, nanti aku bicarakan dengan Mas Azzam."


Kaivan : " Tataplah masa depan, Kak. Masa lalu tetaplah masa lalu, jangan pernah menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk mempersulit dirimu sendiri."


Zahra : " Aku tidak mengerti ucapanmu, Kai."


Kaivan : " Maafkan kebohongan Mas Azzam di masa lalu. Dia tidak berniat untuk menipumu, Mami ingin menghabisi nyawa Mas Azzam waktu itu."


Zahra : " Iya, aku akan terima apapun keadaan Mas Azzam sekarang. Mama Rahma juga sudah memberitahu soal Mas Azzam bisa bertemu denganku."


Kaivan : " Ini baru kakak iparku yang cantik."


Zahra : " Ya udah, aku mau temenin Rama tidur dulu. Assalamu'alaikum."


Kaivan : " Wa'alaikumsalam."


Kaivan kembali merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya untuk mengistirahatkan fisik maupun pikirannya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2