Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Rindu rumah


__ADS_3

Sampai di kamar hotel, Zahra langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin menenangkan diri sejenak sembari melepas lelah.


" Jangan lama - lama berendamnya, sayang. Waktu maghrib tidak panjang." ujar Azzam.


Azzam mandi dengan cepat di bawah guyuran shower, sedangkan Zahra berendam sebentar di bathup.


" Mas sholat duluan atau nungguin Adek?"


" Jama'ah terus nanti makan malzm dibawah."


" Makan disini aja, Mas. Adek males keluar lagi."


" Yaudah, cepetan mandinya."


Azzam sudah bersiap menggelar dua sajadah dan juga perlengkapan sholat sang istri. Sembari menunggu Zahra selesai mandi, Azzam memainkan ponselnya.


" Mas udah nunggu lama, ya?" ucap Zahra.


" Tidak apa - apa, Mas juga lagi pesan makanan buat makan malam."


Zahra segera bergegas mengambil baju ganti lalu memakainya tanpa rasa malu di depan suaminya. Azzam hanya bisa mengalihkan pandangannya karena tak ingin mengacaukan pikirannya.


Usai sholat, Zahra duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati sang suami yang tengah fokus dengan laptopnya. Walaupun sedang liburan, Azzam memang menyempatkan waktu untuk tetap bekerja.


" Sibuk, Mas?" Zahra merangkul bahu sang suami dari belakang.


" Cuma cek email aja, sayang. Udah laper ya?" sahut Azzam.


" Iya sih, tapi nanggung juga udah mau Isya'."


" Nanti sholat dulu baru makan. Pakai dulu kerudungnya, sebentar lagi service room datang bawa makanan."


" Oh iya, Zahra lupa."


Tak berselang lama, makanan datang dan sudah tertata rapi diatas meja. Zahra sudah merasa tidak tahan untuk segera mencicipi semua makanan lezat itu, namun tatapan jahil sang suami mengurungkan niatnya.


" Mas, tadi Adek udah minta bantuan Bima buat menyelidiki latar belakang keluarga Merry di Singapore." ucap Zahra.


" Maaf ya, sayang. Mas tidak tahu jika semua ini akan menjadi kacau." sahut Azzam merasa bersalah.


" Tidak, Mas. Zahra paham dengan situasi saat ini. Harusnya pekerjaan ini bisa di handle Kaivan, tapi Mas yang harus turun tangan."


" Mas harus gimana, Dek?"


" Jalani aja seperti yang Mas kerjakan selama ini. Zahra akan selalu di samping Mas Azzam."


" Mas tahu, Dek. Terima kasih sudah selalu ada buat Mas."


" Bukan begitu, maksud Zahra itu... Selama Mas menangani proyek itu, Zahra akan menjadi asisten pribadi Mas yang akan selalu mengikuti kemanapun Mas pergi."


" Beneran, Dek? Tapi kita harus bolak - balik Jogja, Jakarta, Bandung."


" Tidak masalah, untuk sementara Rama biar stay di rumah Papa."


" Adek nggak cemburu, kan?"


Azzam menatap istrinya waspada. Dia berharap Zahra tidak cemburu dan mengeluarkan sisi gelapnya yang selama ini terpendam.


" Kenapa Mas bertanya begitu?"


" Mas nggak mau Adek berhadapan langsung dengan Merry. Biar Bima yang urus dia, Mas yakin penyerangan tadi adalah perbuatan Merry."


" Kenapa Mas begitu yakin?"


" Karena mereka tidak melukai Mas sedikitpun walau ada banyak kesempatan untuk mereka lakukan. Justru mereka berusaha untuk menyerangmu jika Mas tidak menghalangi."

__ADS_1


" Apa salahku pada Merry? Kenal juga tidak."


" Bukan Adek yang salah, dia terobsesi sama Mas jadinya bertekad untuk menyingkirkan siapapun yang dekat dengan Mas."


Zahra mulai menyuapkan makanan yang tadi sempat tertunda. Keinginannya untuk liburan seketika sirna karena gangguan wanita itu. Hingga makanan mereka habis, tak ada yang bicara.


.


.


Pagi hari, Zahra terbangun lebih dulu. Tubuhnya yang polos tertutup selimut itu masih terasa sakit akibat serangan suaminya semalam.


" Bagaimana dia bisa melakukannya berkali - kali, tubuhku seakan remuk." gerutu Zahra.


" Mau lagi?" sahut Azzam yang entah sejak kapan sudah terbangun.


" Mandi sana! Jangan aneh - aneh."


" Masih ada waktu satu ronde lagi, sayang."


" Mas...! Cepetan mandi sana."


" Adek juga belum mandi, kan? Mandi bareng, ya?"


" Nggak!"


Azzam sempat mencuri ciuman saat beranjak dari tempat tidur dengan tubuh polosnya yang membuat Zahra semakin kesal.


Usai mandi dan sholat shubuh, Zahra kembali ke tempat tidur untuk rebahan. Rasanya malas sekali untuk keluar dari kamar.


" Adek mau kemana hari ini?"


" Nggak tahu, Mas. Zahra rindu rumah, rindu anak kita."


" Zahra itu jarang pisah sama Rama, Mas."


" Mas tahu, sayang. Mas juga rindu sama anak kita."


" Kapan pulang?"


" Nanti kalau adiknya Rama udah jadi."


" Maasss...!"


Azzam memeluk istrinya gemas. Kalau saja tak ada acara jalan - jalan ke kota sebelah, sudah ia kurung istrinya di dalam kamar seharian.


" Bersiap sana, sebentar lagi kita berkunjung ke kota sebelah." ujar Azzam.


" Nanti menginap disana atau kembali kesini?"


" Nanti sore kita kembali, naik kereta hanya setengah jam dari sini."


" Naik kereta? Wah... Zahra belum pernah naik kereta, biasanya naik Bus atau mobil."


" Memangnya di Jogja tidak pernah naik kereta?"


" Tidak, untuk apa naik kereta? Zahra hanya pergi ke kampus saja. Kalau ada pekerjaan pasti naik mobil atau pesawat."


" Yaudah, nanti pulang ke Jogja kita naik kereta."


" Beneran, Mas?"


" Iya, istriku yang cantik."


Setelah bersiap - siap, Azzam mengajak Zahra ke stasiun terdekat dari hotel itu. Karena Zahra belum pernah naik kereta sebelumnya, maka hari ini Azzam akan mengajaknya berkeliling kota - kota di Jepang dengan kereta.

__ADS_1


" Coba aja Rama ikut, Mas. Pasti dia seneng banget diajak naik kereta." celoteh Zahra.


" Bunda juga senang naik kereta?"


" Seneng banget, Mas. Ternyata lebih nyaman naik kereta daripada Bus. Sepertinya lebih cepat perjalanannya daripada mobil atau bus."


" Mau singgah ke suatu tempat? Mungkin ada tempat yang ingin Adek kunjungi di kota ini."


" Nanti mampir aja buat makan, Adek laper."


Sepanjang perjalanan di dalam kereta, Zahra tak pernah melepaskan genggaman tangan suaminya seraya tersenyum lebar di balik masker yang selalu ia pakai.


.


.


Baru lima hari menjelajahi kota - kota indah di Jepang, Zahra merengek minta kembali ke Indonesia dengan alasan rindu rumah dan Rama. Azzam yang tak ingin melihat istrinya sedih langsung menyanggupi permintaan sang istri.


Sampai di Bandara Soetta, Kaivan dan Rama sudah menunggu mereka di ruang tunggu. Untungnya hari ini weekend, jadi Kaivan di rumah bermain dengan ponakannya itu.


" Ayah... Bundaaa...!" teriak Rama girang.


" Assalamu'alaikum, sayang." ucap Zahra tak kalah riang.


" Wa'alaikumsalam." balas Kaivan.


" Kai, tolong bawain kopernya yang satu." pinta Azzam.


" Iya, Mas. Kai pikir Mas Azzam pulang lusa?"


" Zahra yang nggak betah disana mikirin Rama terus dan juga rindu rumah katanya."


" Ikatan batin ibu dan anak itu memang sangat kuat, Mas. Rama juga selalu menanyakan ibunya tiap mau tidur. Wajarlah kalau mereka seperti itu, mungkin karena mereka juga jarang berpisah."


Sampai di mobil, Zahra dan Rama duduk di belakang. Tak berselang lama mereka tidur dengan sangat nyaman.


" Kerjaan lancar, Kai?"


" Alhamdulillah, Mas. Katanya perwakilan dari Singapore akan datang besok."


" Siapa?"


" Seperti yang sudah kau tebak."


" Hhh... Kemarin dia juga berada di Jepang, Kai. Apa dia memata - mataiku? Bahkan dia menyuruh orang untuk membunuh Zahra."


" What?! Sampai senekat itu? Hhh... Harusnya kita tidak kerjasama dengan dia, Mas."


" Sudahlah, nanti kalau bisa kau yang handle proyek dengan wanita itu. Aku mau fokus di Jogja dulu, kasihan Rayyan disana."


" Iya, Mas. Mudah - mudahan dia tidak berbuat masalah."


" Zahra sudah tahu semua dan kami akan menghadapinya bersama."


Tak berselang lama, mereka sampai di kediaman Al Farizy. Karena Rama dan Zahra masih tidur, Azzam dan Kaivan akhirnya menggendong mereka masuk ke dalam rumah.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2