Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kembali ke Desa


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Zahra berada di Jakarta. Masa liburan sekolah sudah usai, kini ia harus kembali ke desa untuk bekerja. Ibu mertuanya juga sudah bisa dibawa pulang karena dokter yang akan datang untuk memeriksa kesehatannya tiga hari sekali.


" Sayang... apa tidak bisa kita tinggal lebih lama disini? Mama butuh aku, beliau masih sakit." bujuk Azzam.


Entah mengapa, Zahra merasa tidak nyaman tinggal di rumah sebesar itu tanpa melakukan apapun. Rama juga merasa kesepian karena tidak ada teman yang seumuran dengannya.


" Mas, Zahra sudah bilang dari kemarin kalau masih ada tanggung jawab disana yang harus aku jalankan."


" Apa yang kau cari? Kau bisa mendapatkan apapun disini, semua yang kamu inginkan pasti terpenuhi disini." ucap Azzam kesal.


" Aku tidak butuh harta keluargamu. Simpan saja untuk kesenanganmu sendiri!" sahut Zahra dengan nada tinggi.


" Zahra...! Jaga ucapanmu!"


" Bagus... sekarang suamiku yang lemah lembut itu mulai berubah karena segenggam permata." Zahra tersenyum sinis.


" Kau yang keras kepala! Sebagai seorang istri harusnya kau menurut pada suami."


" Aku tidak punya suami yang gila harta sepertimu!" teriak Zahra.


Semenjak Azzam kembali ke dalam keluarganya, seluruh aset yang dimiliki Tuan Zaid telah dialihkan menjadi milik Azzam. Dia yang mengurus perusahaan milik ayahnya sehingga Rayyan yang harus mengurus perusahaan yang dibangun Azzam beberapa tahun yang lalu di Kota Jogja serta beberapa restoran disana.


" Zahraaa...!"


" Apa...? Aku tidak pernah mengharapkan kemewahan darimu."


Zahra beranjak dari kamarnya seraya menggendong Rama yang masih tertidur pulas di tempat tidur. Rayyan sudah menunggunya diluar bersama Bima. Mereka pikir Azzam akan ikut pulang ke Jogja makanya Rayyan dengan senang hati menjemput Zahra di kediaman Al Farizy.


" Za, Azzam mana...?" tanya Rayyan.


" Ayo berangkat saja, dia tidak akan ikut." jawab Zahra datar.


" Kenapa, Za...? Ribut dengan suamimu...? Dia pasti melarang kamu kembali ke desa ya?" tebak Bima.


" Aku tidak tahu, Bim. Jalan saja dulu, aku ingin secepatnya pergi dari sini."


" Tidak baik pergi dalam keadaan marah, Za. Sebaiknya kau tunda kepulanganmu, selesaikan dulu masalahmu dengan Azzam. Aku tahu dia memang sangat keras kepala, tapi sekarang dia banyak berubah semenjak bersama denganmu." ujar Rayyan.


" Aku hanya ingin sendiri dulu, Bang. Jangan paksa Zahra untuk kembali."


Bima memberi kode pada Rayyan untuk menjalankan mobilnya. Bertahun - tahun kerja satu tim dengan Zahra, Bima tahu betul bagaimana sifat wanita itu. Sama seperti Azzam, Zahra juga sangat keras kepala dan tidak akan mengubah keputusan yang sudah dia anggap benar.

__ADS_1


" Kakak ipar, tunggu...!" Kaivan yang entah kapan berdiri di gerbang menghentikan mobil Rayyan.


" Apalagi, Kai...?"


" Aku tahu yang kau pikirkan saat ini, biar nanti Kai yang bicara dengan Mas Azzam. Maaf, tadi Kai dengar masalah kalian. Tolong terima ini untuk keponakanku."


Kaivan memberikan amplop coklat yang sepertinya berisi uang tunai. Karena tak ingin berlama - lama, Zahra menerima pemberian Kaivan lalu berpamitan.


" Terima kasih, Kai..."


" Jaga diri baik - baik, Kak. Kalau ada waktu, Kai pasti berkunjung kesana."


" Iya, Kai. Aku sama Rama pergi dulu, hubungi aku jika kamu butuh sesuatu."


" Iya, Kak."


Mobil Rayyan segera meninggalkan gerbang. Azzam yang berada di balkon kamarnya di lantai atas hanya bisa menatap kepergian istri dan anaknya.


" Maaf, ini pertama kalinya aku kasar padamu. Aku memang egois, Za. Tapi untuk saat ini, Mama juga masih membutuhkan diriku. Kau pergi dalam keadaan marah, itu membuat aku merasa sangat bersalah." lirih Azzam sambil menyeka airmatanya.


Azzam menyandarkan punggungnya di pagar balkon. Pikirannya sedang kacau memikirkan istri dan anaknya yang pergi membawa luka hati. Seharusnya Zahra tak mendengar ucapan kedua orangtuanya semalam.


Azzam kembali merenungi nasibnya saat ini. Dia tahu jika istrinya tidak suka dengan kemewahan. Zahra lebih suka hidup sederhana tanpa memikirkan pekerjaan yang berat. Tiga tahun bersama Zahra, Azzam merasa hidupnya nyaris sempurna dengan kebahagiaan. Istri dan anaknya selalu tersenyum saat menyambutnya pulang dari sawah. Walau fisiknya terasa sangat lelah, namun hatinya selalu terisi dengan kenyamanan. Tapi sekarang, baru beberapa hari bekerja di kantor ayahnya saja sudah jarang sekali bisa melihat senyuman anak dan istrinya. Azzam selalu berangkat sebelum Rama bangun dan pulang tengah malam ketika anaknya sudah tidur.


Zahra tidak pernah menuntut apapun dari Azzam soal materi. Bahkan diawal pernikahan, mereka sering kekurangan makanan. Mengandalkan hasil sawah yang terbilang kecil, kadang juga gagal panen membuat Zahra memutuskan untuk mengajar di Sekolah Dasar di kampungnya untuk membantu mencari nafkah.


" Maafkan Mas ya, Dek... belum bisa menjadi suami yang terbaik. Mas akan pulang secepatnya." gumam Azzam lirih.


.


.


Zahra sudah sampai di Bandara di kota Jogja siang hari. Mereka akan singgah sebentar di cafe milik Bima untuk mengambil mobil yang akan mengantar mereka ke desa.


" Bang, apa aku salah pergi tanpa seijin mas Azzam?" lirih Zahra.


Mereka kini sedang istirahat di ruang kerja Bima. Rama tertidur saat masuk ke dalam mobil setelah keluar dari Bandara.


" Aku tahu apa yang kau rasakan, Za. Kau pasti masih tidak percaya jika suamimu itu masih punya keluarga yang lengkap dan seorang konglomerat. Tapi percayalah, cinta Azzam tulus padamu."


" Entahlah, aku seperti orang asing di dalam keluarga suamiku sendiri. Mas Azzam juga sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga aku dan Rama seakan terlupakan."

__ADS_1


" Seperti itulah kehidupan, Za. Suami kamu itu menanggung hidup puluhan ribu orang dalam pekerjaannya. Mungkin kamu belum bisa memahami kehidupan para pemimpin perusahaan yang harus mengorbankan keluarganya demi kehidupan banyak orang."


" Apa aku sudah bersikap egois?"


" Tidak, kalian hanya butuh waktu untuk saling memahami. Cobalah untuk intropeksi diri masing - masing."


" Bagaimana dengan Rama...? Sebenarnya dia tak pernah jauh dari ayahnya. Kemarin saja dia selalu menanyakan ayahnya sepanjang hari. Mas Azzam terlalu sibuk dengan pekerjaannya."


" Begini saja, kamu dan Azzam harus berpisah untuk sementara waktu. Satu minggu saja kalian jangan bertemu atau saling menghubungi. Kalian akan tahu sebesar apa kalian saling membutuhkan."


" Tapi, Bang_...."


Rayyan menggelengkan kepalanya pertanda tak boleh protes dengan solusi yang ia berikan. Semua ini Rayyan lakukan demi kebaikan mereka.


Setelah cukup beristirahat, Bima mengantarkan Rayyan dan Zahra ke desa. Bima juga ingin tahu dimana tempat tinggal teman yang selama ini selalu bertugas bersamanya di Tiger White.


Hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam, mereka sampai di kampung halaman Zahra. Bima sangat menikmati pemandangan alam dan angin yang bertiup sepoi - sepoi menerpa tubuhnya. Apalagi mereka sampai di sore hari.


" Ray... kau beli rumah ini atau sewa...?" tanya Bima sambil rebahan di bangku panjang teras rumah.


" Sewa, soalnya aku harus mengurus perusahaan milik Azzam di kota."


" Jadi perusahaan A.A Corp. itu milik Azzam. Kau CEO disana, kan?"


" Iya, Azzam hanya bekerja di belakang saja dan belum pernah mengambil uang hasil kerja kerasnya sepeserpun."


" Kenapa...?"


" Karena dia ingin hidup sederhana dengan anak istrinya."


Tak lama Zahra datang ke rumah Rayyan untuk menitipkan Rama karena dia harus pergi ke warung untuk membeli bahan makanan untuk makan malam nanti.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2