Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Ponsel baru


__ADS_3

Zahra hanya tiduran di ruangan pribadi milik Kaivan yang sebenarnya milik suaminya dulu. Bahkan di tempat itu masih ada foto Azzam yang tergantung di dinding. Kaivan tidak merubah apapun dalam ruangan itu dan iapun jarang masuk ke dalamnya.


" Mas, Zahra kangen. Tapi kita tidak bisa bertemu saat ini, Zahra juga merindukan Rama. Apa dia rewel tidur tanpa aku?" gumam Zahra.


Zahra yang tidak bisa tidur, keluar dari kamar dan menghampiri Kaivan yang sedang serius dalam bekerja.


" Tuan... saya bosan disini cuma diam saja."


" Hhh... kau bisa main ponsel, nonton film atau apa."


" Ish... Tuan mau meledekku! Ponselku aja tidak ada kameranya, gimana mau nonton film." ucap Zahra kesal.


" Hmm... pakai saja ponselku dan kembali ke kamar."


Zahra bersorak gembira setelah mendapatkan ponsel milik Kaivan. Memang itulah tujuan Zahra hanya membawa ponsel jadul. Dengan memainkan ponsel Kaivan, Zahra bisa memasang alat penyadap dan juga memasang GPS di dalamnya.


" Kaivan ini sebenarnya polos atau licik ya? Aku harus berhati - hati menghadapinya." batin Zahra.


Setelah melihat isi ponsel Kaivan dan tak menemukan sesuatu yang mencurigakan disana, Zahra benar - benar menonton film sesusi saran Kaivan.


.


.


Jam lima sore, Zahra keluar dari kamar setelah dipanggil Kaivan dari luar. Dia sengaja mengunci pintu dari dalam karena tak ingin majikannya masuk tanpa permisi. Zahra terkadang merasa risih dan juga canggung berdekatan dengan seorang pria selain suaminya.


" Ra, kita pulang sekarang." ajak Kaivan.


" Mmm... iya, Tuan. Saya terlalu nyaman tiduran di ruangan yang mewah dan tempat tidur yang empuk." sahut Zahra nyengir.


" Kau itu terlalu polos, Ra. Jangan sampai tertipu dengan kemewahan yang sesaat. Entah sampai kapan kita berada diatas, mungkin suatu saat nanti kamu yang diatas dan saya dibawah."


" Tuan bisa saja, kalau suatu saat nanti saya di atas, saya tidak akan membiarkan Tuan di bawah. Kita bisa berdampingan sebagai teman atau saudara."


" Saudara...?" Kaivan mengernyitkan dahinya.


" Hehehee... itu kalau Tuan bersedia menerima pelayan seperti saya menjadi saudara."


" Apa kau tidak menyukai saya sebagai pasangan?" tanya Kaivan dengan seringai di bibirnya.


Zahra menatap sekilas wajah Kaivan yang tersenyum jahil. Kalau tidak ingat itu majikannya, pasti sudah Zahra hancurkan wajah Kaivan.


" Tidak, Tuan. Saya ini orangnya setia, kekasih saya ada di kampung. Walaupun Tuan itu kaya, tapi saya tidak akan berpaling dari kekasih saya."


" Apa kekasihmu itu lebih tampan dari saya?"


" Tentu saja, walau kerjanya hanya di sawah tiap hari tapi dia sangat baik dan perhatian."


" Tapi materi itu juga perlu, Ra."


" Materi itu tidak bisa dijadikan landasan seseorang untuk bahagia, Tuan. Buat saya, bahagia itu tak harus kaya. Sesungguhnya kekayaan itu hanyalah titipan yang setiap saat bisa diambil kapan saja. Allah itu Maha Mengetahui apapun yang dilakukan oleh makhlukNya."


Kaivan merasa takjub dengan ucapan Zahra. Benar, tidak selama kekayaan itu ada. Mungkin suatu saat Sang Pencipta akan mengambil semua miliknya dalam sekejap mata.


" Mungkin aku harus belajar hidup sederhana darimu, Ra. Kau benar, semua yang ada padaku saat ini hanyalah titipan."


" Sudahlah, Tuan. Sebaiknya kita pulang sekarang. Saya sudah lapar seharian cuma tiduran mainan ponsel."


Zahra menyerahkan ponsel milik Kaivan lalu mengambil rantang di pantry sudut ruangan. Zahra mengikuti langkah Kaivan keluar dari ruangan CEO bersama Deni juga.


" Den, kau ikut denganku!" kata Kaivan.

__ADS_1


" Kemana, Tuan?" tanya Deni heran.


" Ikut saja pakai mobilmu, mobilku biar diantar sopir kantor saja."


" Baik, Tuan."


" Tuan Kai... saya pulangnya gimana?" tanya Zahra.


" Kau ikut, Ra."


" Tidak, Tuan. Saya naik Bus atau Angkutan Umum saja."


" Kenapa...?"


" Saya tidak mau, Tuan. Biarlah saya pulang sendiri."


" Rara...! Kau mau membantah perintahku?"


Zahra melirik kearah Deni yang terlihat acuh. Kata Azzam, pria itu adalah sahabatnya. Mungkinkah itu yang membuat Deni tak bisa akrab dengan Kaivan walaupun mereka sudah bersama setiap hari selama tiga tahun?


" Tidak, Tuan." jawab Zahra pelan.


Tiga orang yang keluar dari lift khusus petinggi perusahaan itu menjadi pusat perhatian para karyawan yang juga sudah bersiap untuk pulang. Tentu saja Zahra yang baru pertama kali datang ke kantor ini bahkan setengah hari berada di ruangan CEO.


" Dia itu pelayan atau simpenan CEO? Tapi penampilannya kampungan sekali." cibir salah seorang karyawan.


" Iya, nggak banget deh! Mendingan gue deh, cantik dan modis." sahut temannya.


Zahra mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menghajar para wanita tak punya etika itu. Seandainya Zahra tak ingat dengan misi, sudah pasti ia ladeni para perempuan sinting itu.


" Sabar Zahra! Jangan terpancing emosi, kendalikan pikiranmu." batin Zahra geram.


" Iya, Tuan."


" Den, urus mereka nanti. Pastikan besok mereka sudah tak menginjakkan kakinya di kantor ini!"


" Baik, Tuan."


Keluar dari lobby, Deni mengambil mobilnya di tempat parkir khusus petinggi perusahaan. Dengan mobil mewah pemberian Azzam dulu, Deni sampai sekarang masih setia dengan perusahaan Al Farizy. Deni yakin, suatu saat Azzam pasti kembali lagi.


" Den, kita ke Mall dulu." kata Kaivan.


" Siap, Tuan."


" Tuan Kai... kita tidak langsung pulang? Mau apa ke Mall?" tanya Zahra.


" Sudah, nanti kau juga tahu." jawab Kaivan.


Zahra yang duduk di depan bersama Deni saling berpandangan. Memang sang majikan ini susah sekali ditebak keinginannya.


Sampai di Mall, Kaivan mengajak Zahra dan Deni makan terlebih dahulu karena dirinya sudah sangat lapar.


" Den, kau pesankan makanan untukku sekalian. Ssya mau ke toilet sebentar. Jaga Rara, jangan sampai dia hilang." titah Kaivan.


" Baik, Tuan."


Setelah Kaivan pergi, Zahra menatap Deni yang sedari tadi mengabaikan keberadaannya. Entah apa yang pria itu pikirkan tentang dirinya.


" Tuan, apakah Anda mengenal Tuan Azzam?" tanya Zahra pelan.


" Azzam...? Darimana kau tahu nama itu?" Deni mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.

__ADS_1


" Maaf... tadi saya melihat ada foto Tuan Azzam di kamar pribadi Tuan Kaivan."


" Siapa kau sebenarnya? Selama ini tidak ada siapapun yang bertanya soal Azzam." cecar Deni penasaran.


" Saya hanya ingin tahu, Tuan. Kemarin saya disuruh membersihkan kamar Tuan Azzam. Saya penasaran saja kenapa beliau pergi dari rumah."


" Jangan suka ikut campur jika tak ingin dapat masalah!" peringat Deni.


" Apa Tuan juga tahu soal ibu kandung Tuan Azzam?"


" Apa maksudmu?"


Belum sampai Zahra menjawab, Kaivan datang dengan paper bag kecil di tangannya. Entah apa yang ia bawa, tidak ada yang berani bertanya.


" Sepertinya kalian bicara serius?" Kaivan duduk di samping Zahra.


" Tidak, Tuan. Kami hanya sedikit berkenalan saja." jawab Zahra santai.


" Ini buat kamu."


" Apa ini, Tuan?"


Deni hanya menatap acuh dengan kelakuan Kaivan walaupun ini pertama kalinya dia melihat Kaivan dekat dengan seorang wanita.


" Buka saja, aku membelikannya untukmu."


Zahra membuka paper bag itu dengan cepat karena sangat penasaran.


" Masya Allah, Tuan... ini ponsel baru?" pekik Zahra.


" Hmm... bukankah kau tidak suka aku mengejek ponsel jadulmu itu?"


" Tapi... saya tidak bisa menerima ini, Tuan. Ini terlalu mahal menurut saya."


" Jangan menolak rejeki, bukankah kau sendiri yang bilang supaya aku lebih banyak berbagi?"


" Bukan begitu maksud_..."


" Saya tidak terima penolakan, ayo makan! "


Mereka bertiga makan dalam diam. Mereka fokus dengan makanan masing - masing hingga selesai. Sesekali Deni menatap curiga pada Zahra. Zahra yang mengerti tatapan itu hanya tersenyum.


Selesai makan, mereka langsung pulang. Berkali - kali Zahra berterima kasih kepada Kaivan atas ponsel baru yang kini dalam genggamannya. Di dalam mobil, sesekali Zahra bertanya tentang penggunaan ponsel itu pada Kaivan dan juga Deni seperti wanita polos yang gaptek.


Sampai di halaman rumah, Kaivan keluar terlebih dahulu setelah mengucapkan terima kasih kepada Deni. Sedangkan Zahra masih berpura - pura tak bisa melepas seatbelt hingga Kaivan menutup pintu mobil.


" Kau tidak bisa membukanya, Nona?" tanya Deni dengan hembusan nafas kasar.


" Tuan, pergilah ke Apartemen Rayyan."


" Apaaa...?"


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2