Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Saling memahami


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Agus langsung dibawa ke ruang IGD. Bu Marni terlihat cemas menanti pemeriksaan dokter yang terbilang cukup lama. Zahra dan Azzam paham dengan perasaan wanita paruh baya itu.


" Bu, Agus pasti baik - baik saja. Duduk dulu, tidak usah cemas." hibur Zahra.


" Ibu takut sakitnya Agus parah, Za." lirih bu Marni.


" Berdo'a terus, Bu. Allah pasti mengabulkan do'a - do'a orang baik."


Tak lama dokter keluar dari ruang IGD. Azzam langsung bertanya soal kondisi Agus. Melihat bu Marni yang terus menangis, Azzam merasa tidak tidak tega.


" Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?" tanya Azzam.


" Setelah saya periksa, ternyata pasien terkena semacam besi atau paku yang mungkin sudah berkarat di bagian kakinya. Dia mengalami infeksi dan harus segera mendapat penganangan yang serius."


" Lakukan yang terbaik untuk adik saya, Dokter."


" Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan."


.


.


Azzam masuk ke ruang rawat Cahyo sendirian sementara Zahra masih menemani bu Marni di depan ruang IGD.


" Assalamu'alaikum," ucap Azzam.


" Wa'alaikumsalam... Azzam, kamu sama siapa...?" sahut bapaknya Cahyo.


" Tadi kesini sama Zahra, Pak. Kami mengantar Agus karena semalam dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, sekarang keadaannya sedikit kurang baik."


" Mudah - mudahan cepat diberi kesembuhan."


" Keadaan Cahyo gimana, Pak."


" Sudah lebih baik, Zam. Hanya saja saya bingung dengan biayanya nanti. Adik kamu semalam mendaftarkan Cahyo di ruang VIP."


" Tidak apa - apa, Pak. Semuanya Azzam yang akan membayarnya."


Cahyo masih terlihat pucat dan sekarang sedang tidur setelah minum obat. Tapi kata dokter tidak ada luka dalam. Azzam berbincang dengan bapaknya Cahyo cukup lama lalu pamit untuk mengecek keadaan Agus.


" Sayang... gimana?" bisik Azzam.


" Mau dipindahin ke ruang perawatan, tadi suster tanya mau dipindahkan ke ruang kelas berapa."


" Biar Mas yang urus, Dek. Kamu temani bu Marni dulu disini."


Azzam menuju bagian Administrasi untuk mengurus perawatan Agus dan Cahyo. Semua biaya Azzam yang menanggungnya karena musibah ini terjadi karena masalah sawah miliknya.


" Sudah selesai, Mas...?" tanya Zahra saat Azzam duduk di sampingnya.


" Sudah, Dek. Kalau Agus sudah dipindahkan ke ruang perawatan, kita pulang ya? Mas mau cek Restoran dulu, setelah itu ambil berkas di kantor. Rayyan kemarin lupa untuk membawanya pulang."

__ADS_1


" Mas sibuk banget, ya?"


" Tidak juga, karena pekerjaan Mas yang paling utama adalah bercocok tanam." bisik Azzam seraya mengusap perut Zahra.


" Maasss...!" tegur Zahra pelan.


" Apa sih, Dek? Pekerjaan Mas memang bercocok tanam. Menanam cabai, terong, tomat dan sayuran lainnya." sahut Azzam sambil menahan tawa.


" Hhh... menyebalkan!"


Azzam memeluk istrinya dengan erat tak peduli dengan tatapan orang - orang yang sedang lewat. Bagi Azzam, selama itu tidak bertentangan dengan hukum dan norma agama tidak masalah baginya.


Lima belas menit kemudian, Agus dipindahkan ke ruang rawat kelas VIP sama seperti Cahyo. Setelah semuanya selesai, Azzam dan Zahra pamit karena hari sudah semakin siang.


" Mas, kita mau kemana dulu?" tanya Zahra saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


" Ke Restoran yang deket sini dulu, sayang. Kita makan siang dulu." jawab Azzam.


" Memangnya Mas punya berapa cabang?"


" Maaf ya, seharusnya dari awal Mas jujur sama kamu. Tapi Mas takut kamu tidak mau menerima Mas lagi kalau tahu Mas ini orang yang berkecukupan materi."


" Aku sangat kecewa padamu, Mas. Tidak seharusnya kau menipuku seperti ini."


" Maaf... sebenarnya Mas pengen kasih tahu kamu saat waktunya sudah tiba. Minggu depan akan ada pembukaan cabang baru di Bali. Di kota ini ada tiga cabang, tak jauh dari rumah sakit ini, deket kampus kamu dulu sama deket kantor. Adek ikut pembukaan cabang di Bali, ya?"


Zahra menatap wajah sendu suaminya. Sebenarnya ia tidak keberatan menemani sang suami ke Bali, namun pekerjaannya tentu saja tak bisa dia tinggalkan begitu saja.


" Hanya sehari, Dek. Mas akan mengadakan acaranya minggu pagi. Jadi sore hari kita bisa pulang, please...?"


" Lihat nanti saja, Mas. Masih satu minggu lagi, kan?"


Hanya butuh waktu tak sampai sepuluh menit, mereka sudah sampai di Restoran milik Azzam. Zahra turun dari mobil setelah Azzam membukakan pintu.


" Terima kasih, Mas." ucap Zahra sambil tersenyum.


" Sama - sama, sayang. Ayo kita masuk, Mas udah lapar." balas Azzam.


Azzam menggenggam erat tangan istrinya seakan memberikan pengumuman kepada para pegawai dan pengunjung bahwa wanita di sampingnya adalah pasangan hidupnya.


" Tuan...? Kenapa tidak memberitahu jika akan berkunjung?" ucap Manajer Restoran itu kaget.


" Saya hanya mampir saja, kebetulan lewat jalan dekat sini."


" Anda ingin makan siang disini, Tuan?"


" Iya, nanti bawa ke ruanganku. Sayang, kamu mau makan apa?" Azzam menarik pinggang Zahra hingga menempel di tubuhnya.


" Terserah Mas saja."


" Mau buka menunya dulu, sayang? Nanti kamu bisa kasih saran menu yang perlu ditambah atau dikurangi. Kamu bisa variasi menu baru jika kamu mau."

__ADS_1


" Ya udah, nanti Mas bikin salinannya aja biar aku baca di rumah."


" Ok, sayang. Istriku memang yang terbaik."


Azzam menyuruh Manajer restoran untuk menyiapkan makanan paling special di restorannya. Entah dapat ide darimana, dia bisa membuat resep makanan itu hingga menjadi favorit pengunjung.


Zahra masuk ke ruang kerja suaminya yang sangat luas. Mungkin lebih luas dari kamar di rumahnya. Interior ruangan juga terkesan sederhana namun sangat nyaman.


" Ini hanya ruangan kecil saja, sayang. Nanti kamu bisa lihat ruanganku yang ada di kantor." bisik Azzam seraya memeluk istrinya dari belakang.


" Apa aku harus bangga punya suami konglomerat?"


" Tidak. Jangan bangga, tapi bersyukur."


" Mulai sekarang Zahra akan berusaha memahami pekerjaan kamu, Mas. Jika memang aku tidak bisa fokus pada semuanya, aku akan melepaskan salah satunya."


Azzam mengerutkan keningnya. Dia tatap lekat netra berwarna hitam itu lalu mencium bibirnya sekilas. Rasa rindu yang selama ini tertahan tak mampu lagi ia bendung.


" Mas tidak akan memaksa kamu untuk memilih, kita jalani saja seperti biasanya dulu. Kau dan aku, kita... Jangan pernah berpikir untuk hidup terpisah seperti ini. Kita akan berjalan saling berdampingan untuk selamanya."


" Maafin Zahra ya, Mas."


" Mas juga minta maaf, sayang."


Azzam mendudukkan istrinya ke atas pangkuannya. Hari ini mereka berdua terlihat sangat bahagia setelah saling mengungkapkan perasaan masing - masing. Bisa saling memahami kesibukan masing - masing dan bisa menyikapinya dengan bijak.


" Mas, apa kamu tidak lelah kalau harus bekerja bolak - balik Jakarta - Jogja?"


" Tidak apa - apa, sayang. Mas ke Jakarta kalau ada pekerjaan yang sangat penting saja. Papa juga masih membantu di kantor. Kaivan yang akan bertanggung jawab penuh soal pekerjaan seperti Rayyan yang menjalankan perusahaan disini. Disana juga ada Deni yang membantu Kaivan."


" Terus... Mas ngapain?"


" Ngerjain kamu saja, bikin adik buat Rama. Mau, kan...?" goda Azzam seraya mencium pipi istrinya gemas.


" Ish... Rama masih kecil, Mas."


" Hhh... baiklah, terserah kamu saja kapan siapnya untuk punya anak lagi."


" Bukan begitu, Mas aja masih sering bepergian begini. Zahra mana bisa ngurus dua anak kecil sendirian."


" Nanti Mas pikirkan lagi, sayang. Sebenarnya Mas lebih nyaman kalau jadi petani, bisa meluangkan banyak waktu untuk kalian."


Azzam kembali menciumi seluruh wajah istrinya hingga ketukan pintu membuatnya kesal dan membiarkan sang istri bangkit dari pangkuannya.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2