
Siang hari setelah zuhur, Azzam keluar dari kamarnya di lantai tiga Restoran. Dia mencari Gerry yang berada di bawah mengatur para pegawai yang sedang bekerja.
" Ger, keruanganku sekarang!" perintah Azzam.
" Siap, Boss." sahut Gerry.
Masuk ke dalam ruangan bossnya, Gerry menenteng sepiring cemilan dengan dua jus dingin. Mungkin saja bossnya itu haus atau lapar.
" Boss, Nyonya tidak disini?" tanya Gerry.
" Kenapa kau menanyakan istriku? Jaga sikapmu di depan istriku, bersikaplah seperti seorang bawahan di hadapannya."
" Kenapa sih, Boss? Cemburu...? Takut kakak ipar naksir sama sopirnya yang tampan ini?" goda Gerry.
" Pusing dengerin suaramu yang berisik itu. Berikan salinan untuk acara besok!"
" Huft... Sebentar, masih di ruanganku."
" Ger, menurutmu dimana tempat yang paling bagus untuk jalan - jalan sore?"
" Mmm... Biasanya orang suka ke pantai untuk lihat sunset, Boss. Atau bisa juga ke perbukitan tidak jauh dari sini. Tapi kebanyakan para remaja yang sedang pacaran yang datang kesana."
Azzam berpikir sejenak lalu beranjak dari duduknya. Sedari tadi ia menunggu istrinya tapi belum juga datang menyusulnya.
" Nanti aku pikirin dulu, kau kembalilah bekerja. Suruh mereka bekerja dengan cepat biar tidak terlalu malam selesainya. Mereka juga butuh istirahat untuk acara besok pagi."
" Iya, Boss Al Farizy..."
Azzam segera keluar dari ruangannya menuju ke kamar untuk mencari sang istri yang tak kunjung datang.
" Sayang...! Kok nggak ada di kamar sih dia?" gumam Azzam.
Azzam mencari sang istri di kamar, balkon dan kamar mandi namun tidak ada. Perasaan dia belum terlalu lama meninggalkan istrinya.
Azzam mengelilingi seluruh ruangan di lantai tiga namun tetap tak menemukan istrinya hingga ia turun ke lantai dua. Mungkin sang istri turun ke bawah mencarinya.
" Lantsi tiga dan dua tidak ada, apa mungkin Zahra ke lantai satu?" batin Azzam.
Saat Azzam sampai di lantai dasar, ia menemukan sang istri sedang duduk di sudut ruangan dengan Gerry. Mereka terlihat sangat akrab seperti sudah kenal lama.
" Sayang, kenapa nggak bilang kalau mau kesini?" tegur Azzam.
" Mas tadi udah turun duluan, jadi Adek langsung kesini."
" Tenang saja, Tuan. Nyonya tidak akan hilang karena sopir pribadinya ini akan menjaga dan melindungi hingga titik darah penghabisan." ucap Gerry nyengir.
" Ngapain kau disini? Kerja sana, bantu siapin makanan di dapur." ketus Azzam.
" Tadinya juga begitu, Boss. Tapi karena lihat bidadari yang turun dari tangga membuatku tidak fokus." kilah Gerry.
Zahra tersenyum kecil melihat perdebatan dua pria di hadapannya. Tadinya Zahra juga sempat berfikir jika Gerry hanyalah seorang sopir biasa, namun melihat penampilannya sekarang, ia tahu bahwa dia adalah teman suaminya.
" Udah, jangan berantem. Kalian ini seperti anak kecil saja." tegur Zahra.
" Dek, Mas laper. Makan diluar yuk?" ajak Azzam.
" Zahra ambil ponsel dulu di kamar."
" Tidak usah, Mas yang ambilkan. Kamu tidak akan bisa masuk karena cuma sidik jari Mas yang bisa membuka pintunya."
" Curang...!"
__ADS_1
" Hehehee... Gitu aja marah, nanti Mas akses sidik jari kamu juga biar bisa buka pintunya."
" Siapa saja yang bisa mengakses kamar itu?"
" Sekarang baru Mas sama Gerry, nanti kamu juga bisa."
" Mas, makannya bertiga sama Gerry, ya?" pinta Zahra.
" Terima kasih, kakak ipar." seru Gerry senang.
" Kok ajak dia sih, Dek? Kita bisa pergi berdua kemanapun kamu mau." tolak Azzam.
Zahra tahu Azzam hanya ingin menikmati waktu berdua dengannya. Namun melihat kesibukan suaminya akhir - akhir ini, Zahra tidak tega jika suaminya harus mengemudikan mobil sendiri.
" Cuma kali ini, Mas. Nanti sore kita pergi berdua." bujuk Zahra.
" Janji...? Jangan ajak dia lagi, Mas pengen berdua aja sama kamu."
" Iya, Mas."
Azzam segera naik ke lantai atas untuk mengambil ponsel Zahra dan juga dompetnya yang tertinggal. Tubuhnya memang sedikit lelah, namun ia selalu berusaha untuk tetap kuat di depan istrinya.
" Mau makan dimana?" tanya Azzam saat mereka di dalam mobil.
" Ada Restoran yang tempatnya nyaman, Boss. Tapi lumayan jauh, sekitar dua puluh menit dari sini." jawab Gerry.
" Yakin masih ada tempat jam segini?"
" Ada, Boss. Saya jamin Nyonya pasti sangat senang."
" Kau tahu apa tentang istriku!"
" Sudah, Mas. Biarkan saja Gerry yang memilih tempatnya." lerai Zahra.
Sampai di tempat tujuan, Restoran itu terlihat sangat ramai pengunjung. Azzam menatap Gerry kesal karena sudah tidak ada tempat kosong lagi.
" Ayo, Boss... Kita langsung masuk saja." kata Gerry.
" Ger, tempat ini penuh. Kita cari Restoran yang lain saja." ucap Zahra.
" Tidak perlu, Kakak ipar. Saya sudah menyiapkan tempat untukmu."
Gerry memanggil salah satu pelayan untuk mengantarkan Azzam dan Zahra ke lantai atas dimana Gerry sudah reservasi ruangan disana khusus untuk Boss dan istrinya.
" Boss, ini kunci mobilnya. Aku masih banyak pekerjaan disana. Nikmatilah hari ini dengan istrimu, jangan membuang waktu dengan percuma. Tapi ingat, jangan pulang lebih dari jam delapan malam. Sebeljm pegawai pulang, kita akan makan malam bersama." bisik Gerry.
" Terima kasih, Ger. Hati - hati di jalan, handle urusan persiapan Restoran." balas Azzam.
Setelah Gerry pergi dengan taksi, Azzam dan Zahra di antar pelayan menuju privat room di lantai dua. Di balik sifat jahilnya, ternyata Gerry sangat peka dan perhatian.
" Silahkan Tuan, Nyonya..." ucap pelayan ramah.
" Terima kasih." balas Azzam.
Pelatan menyodorkan buku menu kepada Azzam karena Zahra sedang berdiri di tepi ruangan yang terbuka sehingga dapat melihat pemandangan diluar.
" Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Azzam.
" Ada ayam betutu, nggak?"
" Ada, sayang. Apalagi...?"
__ADS_1
" Minumnya jus Alpukat sama teh tawar hangat saja."
Setelah pelayan mencatat pesanan Azzam, ia langsung kembali ke dapur. Azzam langsung menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat.
" Kau suka tempat ini, sayang?" bisik Azzam.
" Aku menyukai semua tempat asalkan bersamamu, Mas."
" Terima kasih, sayang. Mas sangat bahagia memiliki istri yang sangat cantik dan perhatian."
Azzam semakin mempererat pelukannya tanpa mempedulikan pelayan yang menyiapkan makanan di meja makan.
" Benar kata Gerry, tempatnya sangat indah. Tempat ini di kelilingi perbukitan yang menakjubkan."
" Nanti Mas ajak kamu ke tempat yang lebih indah lagi, Mau?"
" Kemana...? Jangan terlalu jauh kalau Rama tidak diajak."
" Iya, sayangku. Tempatnya tidak jauh kok, nanti kita bisa titipin Rama sama Rayyan atau Bu Marni. Katanya hari ini Agus dan Cahyo sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Salah satu sopir kantor yang menjemput mereka."
" Syukurlah, kalau tidak ada mereka sawah kacau juga. Mas jadi tidak bisa ke kota."
" Tidak apa - apa, mereka sudah bekerja sangat keras selama ini. Mungkin waktunya mereka istirahat sejenak sekarang."
.
.
Sementara di RAZ Restoran, Gerry sedang sibuk mengatur persiapan acara pembukaan besok. Dari mulai dekorasi diluar maupun di dalam. Acara besok akan mengundang beberapa rekan bisnis Azzam di perusahaan yang ada di Jogja juga. Pesta akan di mulai jam sepuluh pagi dan di akhiri dengan makan bersama dengan menu yang akan dijual di Resto itu.
" Apa semua bahan makanan sudah dibeli?" seru Gerry.
" Sudah 80%, Pak. Sisanya sedang dalam perjalanan. Tapi menurut pegawai yang bertugas belanja, bahan baku di super market yang Anda rekomendasikan kualitasnya kurang bagus. Mereka menyarankan untuk membeli di pasar tradisional saja."
" Nanti saya lihat dulu barangnya,"
" Baik, Pak."
" Semua peralatan masak dan makan sudah cukup untuk acara besok?"
" Sudah, Pak."
" Nanti kau atur meja di sudut ruangan untuk prasmanan saja daripada kita ribet menyajikan makanan. Buat supaya yang masuk dan keluar tidak tabrakan."
" Siap, Pak."
" Apa makanan di dapur sudah ada yang matang?"
" Baru sebagian, Pak. Ada apa?"
" Saya lapar, mau makan duluan."
Gerry masuk ke bagian dapur untuk melihat apakah sudah ada makanan yang sudah jadi. Dia sangat lapar karena tadi pagi hanya makan sandwich dan segelas kopi hitam.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.