
" Kenapa...?" tanya Zahra kesal.
" Kamu yakin mau ikut ke kota? Kasihan Rama, Dek. Nanti saja pas kamu libur ngajar, jadi Mas bisa ambil mobil dulu Restoran." ucap Azzam berharap sang istri menurut.
" Mas punya mobil juga...?"
" Hehehee... sorry, sayangku. Mas belum berani membawa mobil itu pulang takut para tetangga gosipin Mas punya pesugihan. Soalnya hasil sawah kita itu tidak terlalu banyak."
" Ish... ternyata banyak sekali kebohongan dari suamiku ini." gerutu Zahra.
" Maaf... lain kali Mas akan ceritakan sesuatu kalau waktunya sudah tiba."
Zahra yang beberapa kali menguap membuat Azzam berinisiatif menggendongnya menuju kamar. Dia tahu pasti istrinya butuh istirahat yang cukup setelah ulahnya semalam.
" Tidurlah, biar nanti malam bisa main lagi." bisik Azzam.
" Nggak ada main - main! Minggir sana, Zahra mau tidur sama Rama."
" Ayah juga ikut Bunda..."
" No...! Tidur diluar...!"
Azzam membiarkan istrinya naik ke tempat tidur sambil tersenyum. Dia lantas masuk ke kamar yang lain untuk mengambil laptopnya.
" Maaf ya, Dek. Sampai saat ini Mas belum bisa jujur semuanya padamu. Aku takut kamu tidak bisa menerima dan kecewa. Keselamatanmu juga prioritas utamaku. Aku ingin menjauhkanmu dari mereka." batin Azzam.
Azzam beranjak keluar dari rumah menuju tempat Rayyan. Untuk urusan sawah, Azzam percayakan semuanya pada Agus dan Cahyo. Bahkan untuk pekerjanya, Azzam menambah lima orang karena sawah yang di sewa lebih luas dari sawahnya sendiri.
" Assalamu'alaikum." ucap Azzam pelan.
" Wa'alaikumsalam, nggak ke kota Zam...?" balas Rayyan.
Mereka duduk saling berhadapan yang terhalang oleh meja. Azzam menyandarkan punggungnya seraya menghela nafas panjang.
" Zahra sudah tahu soal Restoran itu."
" Kok bisa? Katanya kamu tidak akan memberitahunya sekarang?"
" Ya mau gimana lagi, dia membuatku tidak tidur semalaman."
" Maksudnya? Dia sakit...? Pantas saja tadi di sekolah dia lemes banget."
" Bukan sakit...! Tapi... kau tahulah pekerjaan suami istri di malam hari?"
" Ah... Sialan kau! Kukira dia beneran sakit, dasar adik nggak punya akhlak!" kesal Rayyan.
" Adik dari mana coba?" cibir Azzam.
" Mau aku sumpahi durhaka kau!"
" Sudah ah, ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Rayyan melengos sambil membuka laptopnya kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya yang semakin menumpuk.
__ADS_1
" Hal penting apa...?"
" Zahra pengen ikut ke kota, Ray. Dia ingin melihat seperti apa usahaku."
" Apa kau sudah cerita semuanya pada Zahra?"
" Tentu saja tidak, dia hanya tahu Restoran di kota dan buka cabang baru di Bali. Sebenarnya aku nggak mau terus berbohong padanya, tapi keselamatannya bisa terancam jika mereka tahu."
" Tapi tidak seharusnya kau bersembunyi, Zam. Semua itu milikmu, kau harus memperjuangkannya."
" Entahlah, Ray. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
" Nyawa mereka terancam, Zam. Kau harus segera mengeluarkan mereka dari rumah itu."
Azzam tampak berpikir keras dengan apa yang akan dia lakukan. Dia hanya tidak ingin anak dan istrinya terseret ke dalam masa lalunya yang kejam.
" Deni pasti menjaga mereka, Ray. Perusahaan juga di pegang langsung olehnya. Masih banyak mata - mataku disana, tapi sangat sulit untuk menerobos rumah."
" Kau benar, aku sudah beberapa kali mencoba masuk tapi selalu dihalangi. Semua pelayan juga sudah diganti dengan anak buah mereka."
" Satu - satunya cara adalah lewat perusahaan." kata Azzam.
" Caranya...?"
" Kita buat perusahaan saingan."
" Kita butuh modal banyak, Zam. Terus... siapa yang akan menjalankan perusahaan itu? Tidak mungkin kita berdua'kan?"
" Kau gila...! Kau jadikan istrimu sendiri sebagai umpan?"
Azzam menenggak minuman dingin yang baru saja diambilkan Rayyan dari lemari pendingin. Sepertinya otaknya semakin memanas akhir - akhir ini.
" Bukan begitu, aku tidak mungkin tampil di depan umum saat ini. Semua pekerjaan tetap aku yang handle, Zahra hanya perlu tanda tangan saja."
" Tidak semudah itu, Zam. Bagaimana jika Zahra harus presentasi di depan klien?"
" Kau tenang saja soal itu, dia itu lulusan Manajemen & Bisnis."
" Apaaa...? Kenapa dia jadi guru SD?"
" Aku tidak mau dia hidup di perkotaan, aku lebih nyaman tinggal di tempat ini."
" Kau sudah tiga tahun menikah dan tidak ada seorangpun yang tahu, kau ini amazing. Boleh aku tahu bagaimana bisa kau menikah dengannya? Aku tahu kau tak pernah dekat dengan wanita."
" Ceritanya panjang, Ray. Kau tidak akan percaya mendengarnya."
Azzam tersenyum sendiri saat mengingat pertama kali ia melihat Zahra di jalan dan berakhir dengan menikahinya di waktu yang sangat singkat.
" Kau ingat, Ray... tiga tahun lalu aku dan dia bertengkar hebat hingga aku diusir dari rumahku sendiri. Sakit hatiku, Ray... sakit!" Azzam merasakan sesak di dalam dadanya.
" Karena ingin menenangkan diri, aku pergi ke kota ini setelah memindahkan semua uang di rekening yang baru sebelum di blokir. Namun setelah sampai disini, aku mencari kost murah dan bertemu dengan Zahra."
" Cuma gitu aja?" cecar Rayyan.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka bahwa kami ternyata sewa kost bersebelahan. Dalam waktu satu minggu, aku mengikuti kemanapun dia pergi. Aku jadi tahu seperti apa sifatnya, senyumnya, kelembutannya... Ah, dia wanita yang luar biasa."
" Kau sering bertemu dengan dia?"
" Tidak pernah, lebih tepatnya dia belum pernah melihatku sebelum hari wisudanya itu. Aku sengaja menutup jalan dimana dia sedang menunggu angkutan umum untuk pergi ke kampus. Hanya butuh lima belas menit aku menutup jalan dan menghampiri dia yang tengah berlari mengejar waktu."
" Terus...?"
Rayyan mulai antusias mendengarkan cerita Azzam. Dia sampai berkali - kali pindah posisi duduk yang paling nyaman. Sepertinya kisah Azzam sangat menarik jika dibuat sinetron.Ups!
" Aku menawari dia tumpangan tapi bukan sebagai tukang ojek. Secara motor yang aku pakai motor sport keluaran terbaru waktu itu. Aku memberikan syarat yang harus ia penuhi jika mau diantar ke kampus. Karena sudah kepepet, ya... dia tak punya pilihan mau nolak."
" Memangnya kau kasih syarat apa untuk Zahra?"
" Dia harus menikah denganku,"
" Hah...! Zahra mau? Bukankah kalian belum berkenalan...?" ucap Rayyan kaget.
" Hahahaa... tentu saja dia harus menepati janji, aku mengatakan syaratnya setelah sampai di kampus."
" Huh... ternyata kau licik juga!"
" Mau bagaimana lagi, dari pertama melihatnya aku sudah jatuh cinta."
Rayyan seakan tak percaya melihat kebucinan Azzam. Pria dingin dan arogan itu sekarang sudah berubah total menjadi kalem, lembut, manis. Hah...! Pujian yang membuatnya mual sendiri.
" Apa rencana kamu sekarang, Zam...?"
" Seperti yang aku katakan tadi, kita hancurkan saham Al- Farizy group."
" Itu sangat sulit, Zam. Perusahaan sebesar itu tidak akan hancur dengan mudah. Perusahaan itu sudah di bangun susah payah oleh kakekmu."
" Terus apa...?"
" Aku yakin Papamu di bawah ancaman wanita itu. Mama kamu sedang sakit dan tertahan di rumah itu. Kita selamatkan mereka dulu."
" Lalu apa yang harus aku lakukan, Ray...?"
" Mmm... begini saja, Zahra harus bisa masuk ke rumahmu sebagai mata - mata."
Saat Azzam dan Rayyan sedang berdiskusi untuk mencari solusi atas masalah itu, tanpa mereka sadari ada seseorang yang berdiri di depan pintu yang setengah terbuka.
" Jadi masih punya keluarga...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1