Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Bisnis baru


__ADS_3

Zahra masuk ke kamar dimana putranya sudah berbaring di atas ranjang. Sambil tersenyum geli, Zahra meraih botol susu untuk membuat yang baru karena Rama memang terbangun.


" Sebentar ya sayang, Bunda buatin susu dulu." ucap Zahra lembut.


" Mau kemana... hmm?" Azzam merengkuh tubuh istrinya dengan erat.


" Astaghfirullah, Mas...! Kamu jangan ngagetin aku ih," sungut Zahra.


" Kamu yang keterlaluan, Dek! Tidak lihat gimana keadaan Mas sekarang?"


Melihat raut wajah suaminya yang kusut membuat Zahra terkekeh. Dia sampai lupa kalau ada putranya yang tengah menanti untuk minum susu.


" Rama bangun, Mas. Tidak lihat anaknya bangun minta susu?"


" Hah... kamu ini banyak sekali alasannya. Sini biar Mas yang buatin susu. Setelah ini kamu tidak bisa kabur dariku." ancam Azzam.


Azzam segera beranjak dari samping istrinya menuju dapur. Dengan cekatan ia menakar susu formula ke dalam botol dan dicampur dengan air hangat.


" Sayang, ini susunya."


" Terimakasih, Ayah."


Tidak sampai lima belas menit, Rama kembali tidur setelah meminum susunya. Azzam dengan cepat membopong tubuh istrinya ke kamar sebelah sebelum ada banyak alasan untuk menolaknya.


" Mas... nggak sabaran banget sih!" gerutu Zahra.


" Udah nggak tahan, Yang. Kamu menggodanya nggak kira - kira tadi." sahut Azzam.


Zahra mencium pipi Azzam dengan lembut saat pria itu merebahkannya diatas ranjang. Azzam segera melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak tadi.


.


.


Azzam terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Karena tubuhnya yang terlalu lelah tadi malam, Azzam tidak menyadari bahwa sang istri tak disampingnya.


" Hah... kapan bidadariku pindah?" gumam Azzam seraya bangkit dari tempat tidurnya.


Di kamar sebelah, Zahra masih tertidur pulas seraya memeluk putranya. Azzam yang ingin ke kamar mandi hanya menggunakan sarung menghampiri sang istri.


" Dek, sudah pagi... bangunlah, Mas siapin air hangat dulu buat kamu mandi." bisik Azzam.


Azzam kembali beranjak ke dapur untuk memasak air sebelum masuk ke kamar mandi. Dia lebih suka mandi dengan air dingin yang katanya bisa membuat tubuhnya lebih fresh.


Usai mandi, Azzam membangunkan istrinya lagi yang masih meringkuk di bawah selimut. Wajar saja Zahra masih mengantuk, tadi saja mereka tidur sudah hampir jam dua pagi. Azzam benar - benar tak melepaskan istrinya hingga tenaganya benar - benar terkuras habis.


" Sayang... mandi dulu, nanti tidur lagi." bujuk Azzam.


" Zahra masih ngantuk, Mas." rengek Zahra pelan.


" Iya, nanti setelah sholat shubuh bisa tidur lagi sebelum ke sekolah."


" Hmm..."


Dengan mata setengah terpejam, Zahra beranjak dari tempat tidur dan menuruti perintah suaminya walaupun dengan bibir yang mengerucut.


Azzam sholat shubuh terlebih dahulu kemudian membuat sarapan sembari menunggu istrinya mandi. Jika ia tak melakukannya, maka sepanjang hari ini pasti hanya omelan yang ia dapatkan. Perempuan memang susah ditebak jalan pikirannya. Yang biasanya terlihat kalem dan lembut, jika sudah ngambek maka sorot matanya saja sudah terlihat seperti belati yang siap menancap kapanpun juga.

__ADS_1


" Mas masak apa...?" lirih Zahra masih dengan mukena habis sholat shubuh.


" Masak nasi goreng, nasi semalam masih cukup untuk kita bertiga sarapan. Nanti Rama aku masakin bubur aja sedikit."


Zahra bersandar di punggung suaminya yang sedang meracik bumbu nasi goreng. Sepertinya dia masih mengantuk karena sedari tadi masih menguap.


" Tidurlah, nanti Mas bangunkan jam enam buat sarapan. Kasihan istriku lemes banget kayaknya?" ledek Azzam.


" Ish... semua ini salahnya Mas!" kesal Zahra.


" Salah siapa semalam yang menggoda duluan?"


" Hah... pokoknya nanti sepulang sekolah harus cerita sama Zahra!"


" Siap, Nyonya!"


Selesai menyiapkan sarapan, Rayyan datang dengan beberapa kantong kresek di tangannya. Rupanya dia habis dari pasar membeli bahan makanan untuk stok di rumah Azzam.


" Assalamu'alaikum." ucap Rayyan.


" Wa'alaikumsalam, Abang bawa apaan...?" balas Zahra.


" Ini stok untuk masak besok, Za."


" Jangan repot - repot, Bang. Zahra jadi nggak enak kalau Abang belanja banyak seperti ini terus."


" Tidak apa - apa, kan Abang ikut makan disini juga."


" Cihhh...! Memangnya itu belanjaan bayar pakai uang siapa?" cibir Azzam.


Zahra menyimpan semua belanjaan ke dalam kulkas sementara Azzam segera memandikan Rama yang sudah duduk di tempat tidur. Rayyan tak ingin diam saja, ia mencuci peralatan dapur yang kotor usai dipakai Azzam memasak tadi.


.


.


" Baru pulang, Dek?"


" Iya, Mas. Ngantuk, dari tadi jalan sempoyongan di sekolah." keluh Zahra.


" Lagian, siapa suruh semangat banget godain Mas? Tapi... Mas seneng juga sih, semalam bener - bener sangat puas. Kalau sekarang mau lagi, Mas masih kuat kok."


" Apaan sih! Zahra itu mau nagih janji Mas semalam."


Azzam tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu. Dia sampai ingin tertawa kalau tidak ingat ada putranya yang baru saja tidur bisa terbangun lagi.


" Janji apa, sayang? Mau yang kayak semalam lagi? Emang belum puas ya?" goda Azzam.


" Ya Allah, Mas... Kalau nggak ingat melempar sendal ke muka suami itu dosa, udah aku lakukan dari tadi." ketus Zahra.


" Hmm... bicara kasar pada suami juga dosa, sayang."


" Makanya cerita sekarang!"


" Udah sholat belum?"


" Hehehee... Adek lupa, sebentar ya suamiku sayang."

__ADS_1


Zahra segera berlari keluar kamar setelah mencium pipi suaminya kilat. Dia tak ingin menunda lagi untuk mendengar penjelasan suaminya yang sering pergi ke kota. Tak sampai lima belas menit, Zahra sudah kembali lagi ke kamar.


" Mas_..."


" Iya, sayang. Kita bicara di depan saja ya? Takut ganggu Rama tidur."


Azzam menggenggam tangan istrinya dengan erat. Dia berharap istrinya tidak marah dengan keputusannya yang tidak meminta persetujuannya. Kini mereka duduk di ruang tamu bersisian.


" Dek... sebenarnya Mas punya bisnis baru di kota." ucap Azzam seraya menatap wajah istrinya.


" Bisnis...? Bisnis apa, kenapa tidak pernah cerita sama Zahra?" cecar Zahra kaget.


" Maaf ya, Dek. Mas belum percaya diri untuk bilang sama kamu soal ini. Mas takut gagal dan membuat kamu kecewa."


" Sudah berapa lama, Mas?"


Azzam memeluk istrinya semakin erat. Rasa bersalah bersarang di dalam hatinya saat sang istri semakin gencar memberikan bermacam pertanyaan.


" Sudah satu tahun lebih, Dek. Mas bangun Restoran di deket kampus kamu dulu."


" Hasilnya sekarang gimana?"


" Mmm... Alhamdulillah hasilnya semakin meningkat dan Mas buka cabang baru di Bali. Maaf ya, baru jujur sekarang sama kamu."


" Kenapa Mas harus nutupin semua ini dari Zahra? Sebagai seorang istri, aku pasti mendukung semua yang Mas lakukan asalkan jalan yang benar."


" Kamu nggak marah kan, Dek?"


Azzam sangat berharap sang istri bisa memaafkan kesalahannya. Bukan niat dirinya ingin berbohong, namun ada alasan tersendiri kenapa harus menutupi masalah itu.


" Tidak tahulah, Mas. Aku tidak pernah mengungkit masa lalumu, tapi tidak untuk masa depan. Kamu selalu bohongi aku Mas. Kamu anggap aku ini apa...?"


" Dek... Mas minta maaf, mulai sekarang Mas akan terbuka soal apapun sama kamu."


" Aku pikir Mas beneran tulus sama aku, tapi_..."


" Sayang... Mas beneran tulus sayang dan cinta sama kamu. Tolong percaya padaku, hanya kamu satu - satunya orang yang mau menerimaku."


Rasanya sungguh sakit saat orang yang paling dekat dengan kita ternyata menyembunyikan hal besar. Seharusnya sebagai pasangan suami istri itu harus saling terbuka dalam hal sekecil apapun. Tidak boleh ada rahasia yang nantinya dapat merusak kepercayaan.


" Zahra hanya butuh kejujuran dari Mas, itu saja!"


" Mas janji, mulai sekarang tak ada rahasia apapun diantara kita." ucap Azzam mantap.


" Ok, besok aku ikut ke kota untuk melihat usaha Mas itu seperti apa."


" Hah...! Adek mau ke kota?"


" Kenapa...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2