Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Aku memilihmu


__ADS_3

Usai makan, Zahra langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat setelah menyuruh suaminya mengambilkan selimut untuk Kaivan.


" Dek, jangan bersikap dingin seperti itu sama aku. Apa yang harus Mas lakukan agar kamu bisa kembali seperti dulu lagi?" ucap Azzam menghiba.


" Tidurlah, Mas. Zahra lelah, mau istirahat." sahut Zahra datar.


Azzam hanya bisa pasrah dengan sikap dingin istrinya. Mungkin saja dirinya memang telah membuat kesalahan yang besar hingga sulit untuk mendapatkan maaf.


Melihat istrinya yang sudah tertidur pulas, Azzam segera bangkit dari ranjang lalu keluar rumah dengan sebungkus rokok yang dibawanya. Walaupun dia jarang sekali mengkonsumsinya, namun Azzam memang sering membawanya kemana saja. Zahra pasti akan mengomel sepanjang hari jika ia ketahuan merokok.


" Zam, kok diluar jam segini? Memangnya hari ini tugas ronda?" tanya pak RT yang kebetulan lewat.


" Tidak, Pak. Saya hanya ingin jalan - jalan sebentar." jawab Azzam ramah.


" Eh iya, Zam... katanya adikmu menginap ya? Jangan ditinggal pergi, takut jadi fitnah nanti kalau hanya berdua dengan istrimu."


" Astaghfirullah, Pak...! Kenapa saya bisa lupa kalau adik saya ikut kesini. Kalau begitu saya pamit dulu, assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Azzam bergegas pulang ke rumah. Dia sampai lupa kalau ada Kaivan di rumahnya. Tinggal di desa memang lebih banyak aturannya daripada di kota.


Sampai dirumah, Azzam langsung masuk ke dalam kamar menyusul sang istri yang tidur dengan lelap. Dikecupnya kening wanita yang sangat dirindukannya itu cukup lama lalu memeluknya dengan erat.


" Mmm... Mas darimana?" gumam Zahra.


" Dari luar sebentar, kok bangun sih?"


Zahra menatap Azzam sekilas lalu melepas dengan paksa pelukan sang suami. Dia seakan enggan untuk disentuh Azzam.


" Sudah berapa kali aku bilang jangan merokok,"


" Maaf, tadi kebetulan ngerokok sama pak RT di depan."


" Sejak kapan suamiku belajar berbohong? Atau mungkin aku yang terlalu bodoh karena sejak awal sudah dibohongi."


" Dek, Mas minta maaf soal keluargaku. Jika memang kamu tidak ingin Mas kembali kepada mereka, Mas akan menetap disini selamanya denganmu. Aku memilihmu untuk bersamaku, sayang. Kamu adalah satu - satunya orang yang selalu ada di saat aku sedang terpuruk. Kamu dan anak kita adalah masa depanku."


" Mereka adalah orangtuamu, Mas. Aku tidak memintamu untuk meninggalkan mereka. Sudah kewajibanmu untuk berbakti apalagi Mas itu anak satu - satunya. Aku hanya meminta Mas tidak melupakan aku dan Rama."


Azzam mendekap erat tubuh istrinya. Airmatanya mengalir begitu saja tanpa ia sadari. Berat sekali rasanya melihat kesedihan di wajah istri dan anaknya.


" Aku memilihmu, sayang. Aku mencintaimu lebih dari siapapun. Tolong jangan pernah meninggalkanku lagi." lirih Azzam.


" Aku tidak akan pergi, Mas. Kita akan tetap bersama selamanya. Tidurlah, kamu pasti lelah dengan kejadian yang telah kita alami akhir - akhir ini."


Zahra mengusap pelan kepala suaminya yang kini masih menangis tanpa suara. Zahra jadi merasa bersalah telah meninggalkan suaminya kemarin.


.


.


Pagi hari usai sholat shubuh, Azzam membantu Zahra membuat sarapan. Kaivan tidur lagi setelah sholat shubuh bersama Rama.


" Mau masak apa, sayang?" tanya Azzam.

__ADS_1


" Mas pengen sarapan apa...?" sahut Zahra.


" Nasi goreng saja, nanti biar Rama sarapan bubur. Mas yang masak buburnya, kamu yang masak nasi gorengnya."


" Ya udah, terserah Mas saja."


" Masaknya yang banyak, Dek. Bima sepertinya juga menginap di rumah Rayyan."


" Iya, Mas."


Azzam memeluk istrinya dari belakang seperti biasanya saat mereka sedang memasak bersama. Tak lupa juga ia memasukkan kepalanya ke dalam kerudung istrinya agar bisa mencium lehernya dengan leluasa.


" Mas... nanti kalau adikmu bangun gimana?" lirih Zahra.


" Ya kamu tanggung jawab, sayang." bisik Azzam.


" Tanggung jawab? Ngomong apa kamu Mas!"


Dengan jahilnya Azzam meremas tangan Zahra sambil tertawa pelan. Pasti sebentar lagi istrinya itu akan memarahinya.


" Lihatlah, adikku dibawah sudah bangun." bisik Azzam.


" Maasss...!" pekik Zahra kesal.


" Hahahaa... bukankah tadi Adek yang bilang."


" Maksud aku itu, Kaivan! Ish... dasar mesum!"


Azzam tertawa pelan lalu mencium bibir istrinya sekilas karena bibirnya yang manyun itu terasa sangat menggemaskan baginya.


" Kakak ipar, kapan ke Jakarta lagi?" tanya Kaivan.


" Aku itu punya kerjaan yang tidak bisa ditinggal begitu saja, Kai. Memangnya kenapa sih?" sahut Zahra.


" Kai kangen makan masakan kakak. Tidak ada pelayan yang bisa masak seenak kak Zahra."


" Gimana ya, Kai. Aku tidak ingin meninggalkan rumah ini, rumah dimana aku dilahirkan hingga sekarang yang tak pernah berubah. Berat rasanya jika harus meninggalkan rumah ini."


" Kak, tidak ada yang meminta kakak untuk meninggalkan rumah ini. Keluarga Mas Azzam hanya ingin kita semua sesekali berkumpul bersama. Mama dan Papa sudah tiga tahun lebih berpisah dengan Mas Azzam. Mereka hanya ingin bersama putranya sementara waktu, bukan ingin memisahkan kalian."


" Kakak tahu, Kai. Karena alasan itu juga aku pergi dari rumah Mama Rahma. Aku ingin Mas Azzam lebih fokus bersama kedua orangtuanya. Jika aku pergi secara baik - baik, Mas Azzam pasti langsung ikut pulang kesini."


Kaivan menghembuskan nafas panjang sembari menatap keponakannya yang bermain di lantai sendirian. Kaivan tidak bisa menyalahkan Azzam maupun Zahra dalam masalah ini. Mereka hanya butuh waktu berdua untuk bicara dari hati ke hati.


Tak lama Azzam datang bersama Rayyan dan Bima. Mereka segera duduk berjajar mengitari meja makan. Zahra menyuapi Rama yang berada di pangkuan Azzam.


" Kak Bima, kita liburan yuk? Mumpung lagi di Jogja, Bang Ray ikut juga, ya?" usul Kaivan.


" Hanya kita bertiga...?" tanya Bima.


" Nanti sama Rama juga."


" Azzam sama Zahra...?"


Azzam melirik istrinya yang masih fokus menyuapi anaknya sehingga harus ditegur karena sepertinya Zahra bukannya fokus, tapi terlihat sedang melamun.

__ADS_1


" Sayang...?" panggil Azzam.


" Eh, iya... Mas... eh, ada apa?" sahut Zahra kaget.


" Itu, diajakin Kaivan liburan."


" Maaf ya, Kai. Aku lagi nggak fokus tadi."


" Kakak sakit...?" tanya Kaivan.


" Tidak, Kai. Aku mau ke rumah sakit jenguk Cahyo. Kalian pergi saja, nanti aku juga mau bujuk Agus agar mau diperiksa ke rumah sakit. Dia itu memang takut kalau diajak ke rumah sakit." jawab Zahra.


" Ya sudah, kak Zahra pergi saja sama Mas Azzam. Kami akan bawa Rama untuk jalan - jalan." kata Kaivan.


Usai sarapan, Zahra langsung ke rumah Agus untuk memeriksa keadaan pemuda itu. Azzam juga ikut menemani sang istri karena ini semua juga salahnya yang terlalu lama meninggalkan sawah.


" Assalamu'alaikum." ucap Zahra dan Azzam bersamaan.


" Wa'alaikumsalam, Zahra, Azzam. Ayo masuk!" sahut bu Marni.


" Zahra bawa bubur buat ibu sama Agus. Gimana keadaannya sekarang, Bu?"


" Badannya kok jadi anget, Za. Coba kamu periksa, ibu takut sakitnya makin parah."


" Biar Azzam yang periksa, Bu. Kalau sakitnya semakin parah nanti dibawa ke rumah sakit saja." kata Azzam.


Bu Marni menghela nafas pelan, sudah dari semalam ia membujuknya untuk ke rumah sakit namun Agus menolak. Azzam masuk ke dalam kamar Agus lalu memeriksa suhu tubuhnya.


" Dek, kamu panggil Kaivan untuk bawa mobil kesini. Agus harus segera dibawa ke rumah sakit." ujar Azzam.


" Iya, Mas."


" Bu Marni sekalian siap - siap, ya? Kita ke rumah sakit yang sama tempat dirawatnya Cahyo." kata Azzam.


" Tapi, Zam... Ibu_..."


" Jangan khawatirkan soal biaya, Bu. Azzam yang bertanggung jawab masalah ini."


" Terima kasih, Nak."


Setelah mobil Kaivan sampai di depan rumah Agus, mereka langsung memapah tubuh Agus yang sudah lemah dan juga hampir tak sadarkan diri.


" Kai, kalian pakai mobil Bima saja. Biar Agus aku yang urus sama Zahra." ujar Azzam.


" Iya, Mas. Hubungi aku kalau perlu bantuan." sahut Kaivan.


Azzam segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi karena takut Agus terlambat untuk mendapatkan perawatan medis.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2