Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Ternyata pernah bertemu


__ADS_3

Setelah Kaivan pergi, Zahra mencari keberadaan Sita. Gadis berumur 25 tahun itu sudah bekerja di kediaman Al Farizy sejak Nyonya Nella belum tinggal disana. Gadis itu ternyata sedang berada di dapur menyiapkan makanan untuk nyonya Rahma.


" Hai, Sita... sedang apa?" tanya Zahra basa - basi.


" Eh, Rara... sata sedang menyiapkan makanan ringan untuk di paviliun." jawab Sita ramah.


" Oh iya, saya disuruh Nyonya Besar untuk membantu pekerjaanmu di paviliun selama Nina pulang kampung."


" Iya, tadi kepala pelayan juga sudah memberitahu."


" Syukurlah, pekerjaanku membereskan kamar Tuan Kaivan juga sudah selesai. Nanti hanya masak buat makan siang yang akan diambil oleh sopir pribadinya."


Sita menatap Rara sejenak lalu kembali mengupas buah apel yang akan diberikan kepada Nyonya Rahma seperti hari biasanya.


" Ra... apa kamu mengenal sopir pribadi Tuan Kaivan?"


" Kenal, memangnya kenapa?" Zahra mengernyitkan keningnya.


" Mmm_..."


Sita ragu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Antara bertanya dengan Zahra atau mencari cara lain.


" Hei... kenapa malah melamun?" tanya Zahra.


" Mmm... apa kamu dekat dengan dia?"


" Maksudnya dekat, apa? Ya... saya dan Sakti kenal saat dia mulai bekerja jadi sopirnya Tuan Kaivan."


" Ra... bolehkah kau perkenalkan saya sama dia?" pinta Sita.


" Hah...? Kamu... sama Sakti?"


" Mmm... saya melihatnya kemarin. Dia pria yang sangat tampan." bisik Sita.


" Mmm... gimana, ya? Bagaimana kau dia udah punya istri atau pacar?"


" Coba dulu kau tanya, dia sudah punya istri atau belum? Kalau cuma pacar, saya masih bisa merebutnya."


" Merebut...? Jangan asal bicara kamu, Sita. Tidak baik merebut pacar orang, lebih baik kamu cari yang belum punya pacar."


" Tapi Sakti itu sangat tampan, tidak cocok jadi sopir."


" Udah ah, mending kita langsung ke paviliun untuk bekerja."


Zahra membawa minuman yang sudah disiapkan Sita. Dia tidak ingin berlama - lama membahas soal Bima. Pria itu menganut pergaulan bebas dan tak mungkin setia dengan satu wanita. Zahra takut Sita kecewa jika tahu yang sebenarnya.


Sampai di depan paviliun, Sita memberitahu penjaga jika Zahra mulai hari ini akan menemaninya bekerja di paviliun. Mereka berduapun diijinkan masuk dan segera masuk ke kamar Nyonya Rahma.

__ADS_1


" Selamat pagi, Nyonya. Masih ingat dengan saya?" sapa Zahra sambil tersenyum.


Nyonya Rahma menatap Zahra cukup lama untuk mengingat apakah ia pernah bertemu sebelumnya. Namun wajah wanita muda di hadapannya itu memang nampak tak asing dalam penglihatannya.


" Saya seperti pernah melihatmu," ucap Nyonya Rahma lirih.


" Iya, Nyonya. Kemarin malam saya datang kesini bersama Tuan Kaivan."


" Bukan kemarin, tapi beberapa tahun yang lalu."


" Nyonya mungkin salah, saya baru di kota ini. Belum pernah kesini sebelumnya."


" Tidak. Ingatan saya masih sangat tajam walaupun tubuh ini semakin melemah. Nama kamu Zahra, bukan?"


Zahra langsung berdiri dan mundur beberapa langkah. Tadinya ia memijit lengan Nyonya Rahma sambil sambil duduk di sampingnya. Untung saja saat ini Sita berada diluar sedang membersihkan ruang tamu.


" Nyonya tahu nama saya?"


" Kenapa kamu terkejut, Nak? Saat Kaivan membawamu kesini kemarin, saya awalnya juga terkejut saat melihatmu. Saya mencoba mengingat tentang siapa dirimu."


" Maksud Nyonya apa?"


Nyonya Rahma mengatur nafasnya sambil merubah posisi tidurnya agar lebih nyaman. Ditatapnya Zahra sekali lagi dengan tersenyum.


" Kamu ingat kejadian seorang wanita paruh baya yang dijambret di pasar Malioboro empat tahun yang lalu?"


Zahra nampak berpikir memutar memori otaknya menuju kenangan empat tahun yang lalu tepatnya di pasar Malioboro, kota Yogyakarta.


" Korban penjambretan itu adalah saya, Zahra. Saya masih ingat betul dengan wajah apalagi senyuman manis kamu itu."


" Masya Allah... ini beneran, Nyonya?"


" Iya, Zahra. Kamu adalah gadis yang baik, saya pernah menjanjikan sesuatu padamu waktu itu."


" Janji...? Janji apa, Nyonya?"


" Janji jika saya akan menikahkan kamu dengan putra semata wayang saya."


Zahra kaget? Tentu saja ia kaget. Bahkan dirinya dulu ikhlas menolong Nyonya Rahma tanpa mengharap imbalan apapun. Dia juga lupa dengan janji yang diucapkan Nyonya Rahma waktu itu.


" Benarkah Nyonya pernah mengatakan itu?"


" Benar, Zahra. Bahkan di depan putraku sendiri dan dia hanya diam saja. Itu artinya dia tidak menolak dengan keputusanku."


" Tunggu... putra Anda saat itu juga ada disana?" tanya Zahra tak percaya.


" Iya, dia berdiri di belakangku seperti seorang bodyguard. Azzam memang pria yang pendiam, tidak mudah bergaul dengan orang lain terutama para wanita. Entah gadis seperti apa yang dia cari."

__ADS_1


Zahra kembali duduk di samping Nyonya Rahma dengan jantung yang berdetak kencang. Apakah semua ini sebuah kebetulan atau memang ada unsur kesengajaan? Jadi antara dirinya dan sang suami memang ternyata pernah bertemu sebelumnya dan Zahra tak menyadarinya sama sekali.


" Zahra... kamu tidak apa - apa?"


" Ah iya, Nyonya. Saya hanya kaget saja bisa bertemu lagi dengan Nyonya. Maafkan saya karena tidak ingat dengan Nyonya."


" Tidak apa - apa, saya senang bisa bertemu lagi denganmu. Oh iya, apakah kamu sempat bertemu Azzam? Sebelum Azzam terusir dari rumah ini, saya sempat menyuruh Azzam untuk mencari kamu untuk menunaikan janji yang sempat saya ucapkan dulu. Kini saya sendiri tidak tahu kemana Azzam pergi, Kaivan sudah berusaha keras untuk mencarinya namun belum juga ketemu. Saya takut Nella menyakitinya."


" Nyonya tenang saja, putra Anda baik - baik saja saat ini. Jangan khawatir, tetap jaga kesehatan Anda. Oh iya, jika nanti ada yang menyuntikkan obat lagi pada Nyonya maka segera minum obat ini secepatnya. Jangan sampai ketahuan oleh mereka, ini adalah obat penawar untuk menghalangi racun yang masuk ke dalam tubuh Anda."


Zahra memberikan obat itu kepada Nyonya Rahma untuk disimpan di bawah bantal. Nella tidak akan tahu karena wanita itu tidak pernah terlalu dekat saat menemui Rahma.


" Jadi kamu sudah bertemu dengan putraku, Azzam?"


" Benar, Nyonya. Saya sudah menikah dengan Mas Azzam dan memiliki seorang putra yang sekarang berusia dua tahun."


" Hah...! Kamu tidak bohong padaku? Dimana Azzam sekarang?" Nyonya Rahma hampir teriak karena kaget.


" Tenang, Nyonya. Sebentar lagi Mas Azzam pasti akan menjemput kesini. Tolong bersabarlah menunggunya."


" Kamu beneran menantuku? Istri Azzam? Ibu dari cucu kandungku?" cecar Nyonya Rahma sambil menangis.


Zahra hanya mengangguk sambil tersenyum. Diusapnya lengan sang ibu mertua dengan lembut untuk memberinya ketenangan.


" Kalau begitu jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja aku 'Mama' sama seperti Azzam."


" Iya, Ma. Tapi tolong jangan beritahukan apa - apa pada siapapun tentang rahasia ini. Tujuan Zahra kesini karena ingin menyelamatkan papa dan mama."


" Kenapa baru datang sekarang? Apa suamimu sudah tidak peduli pada kami?"


" Bukan begitu, Ma. Zahra juga baru tahu saat Bang Rayyan datang ke rumah kami. Mas Azzam menutup semua akses dari keluarganya. Mungkin Mas Azzam salah paham soal pengusirannya dari rumah ini. Dia berpikir papa sudah tidak sayang lagi padanya."


" Jadi, selama ini kalian tinggal dimana?"


" Kami tinggal di kampung halaman Zahra sejak kecil, Ma. Rumah peninggalan orangtua Zahra. Mas Azzam juga menggarap sawah warisan orangtua Zahra sejak tiga tahun yang yang lalu."


" Anak itu, dia tidak pernah mengalami yang namanya kesulitan materi. Tapi sekarang nasibnya sungguh malang."


Zahra mengerti dengan apa yang dipikirkan ibu mertuanya. Dirinya sendiripun sekarang juga merasa tidak pantas bersanding dengan putra tunggal Al Farizy.


" Setelah masalah ini selesai, Mas Azzam pasti kembali seperti dulu lagi." ucap Zahra pelan.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2