
Perkelahian yang terjadi semakin sengit karena dari kedua belah pihak merupakan orang - orang terlatih. Bima berkelahi dengan Darco dengan membabi buta. Selain untuk membantu Azzam, ia juga memiliki dendam pribadi dengan Nella dan Darco.
" Menyerahlah, Darco! Semua bukti kejahatanmu sudah berada di tanganku." teriak Bima.
" Dasar bocah! Tak semudah itu menangkapku!" seru Darco.
" Bagaimanapun juga kau harus membayar semua perbuatanmu."
Semua anggota Tiger White hampir tumbang karena jumlahnya yang lebih sedikit dibandingkan musuh. Deni dan Darrent masih bertarung di dalam karena menghalangi mereka yang berusaha naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Nyonya Rahma.
Doorrr... Doorrr... Doorrr!!!
Dari luar terdengar suara tembakan yang ternyata menewaskan dua orang anak buah Darco yang bertugas menjaga Kaivan dan Tuan Zaid.
" Siapa itu!" teriak Darco.
" Kau melupakanku...?"
Seorang pria paruh baya seumuran dengan Darco membuka topeng penutup wajahnya. Dengan senyum lebarnya, ia memutar senjatanya berkali - kali.
" Steven...? Kau masih hidup...?"
" Tentu saja, tidak mudah membunuhku. Kau terlalu ceroboh sebagai seorang mafia, Darco." seringai Steven.
Seorang wanita dengan hijab berwarna hitam di belakang Steven melepas ikatan di tangan Kaivan dan Tuan Zaid.
" Kakak...!" pekik Kaivan.
" Hai adikku, bagaimana kabarmu hari ini?"
Wanita itu adalah Zahra, orang yang seharian ini menghilang entah kemana. Terlebih Azzam yang berlari menghampiri istrinya.
" Sayang, kau baik - baik saja?" Azzam memeluk istrinya dengan erat.
" Iya, Mas." jawab Zahra singkat.
Tak ingin membuang banyak waktu, Steven menyuruh anak buahnya untuk menyerang kelompok Darco. Nella yang berusaha kabur langsung dihadang oleh Kaivan.
" Mau kemana, Nyonya?" seringai Kaivan.
" Tidak sopan kau dengan ibu kandungmu, Kai!" sentak Nella.
" Ibu...? Apakah Anda pantas disebut seorang ibu?"
" Kuang ajar kamu, Kai! Mau jadi anak durhaka, hah...!"
" Tidak masalah jadi anak durhaka, daripada jadi anak pembunuh ayah kandungku." sentak Kaivan.
" Ka... Kau_..."
__ADS_1
" Ya... aku melihat semua kejadian 17 tahun yang lalu. Dimana kau membunuh Papi bersama selingkuhanmu itu dengan tanpa perasaan sedikitpun. Bahkan kematianmu saja takkan dapat menghapus rasa sakit hatiku."
Kaivan mencekal lengan ibunya dan menyeretnya ke hadapan pihak berwajib walaupun dalam pikirannya ingin sekali membunuh sang ibu dengan tangannya sendiri. Namun sebagai anak, hati kecilnya merasa tidak tega untuk melakukannya.
Darco juga sudah tertangkap setelah berkelahi melawan Bima dan Steven. Tentu saja mereka memiliki dendam pribadi terhadap Darco sehingga mereka melampiaskannya sebelum pria itu mendekam di penjara.
" Kai... kamu ikhlaskan?" lirih Zahra yang mensejajari Kaivan yang terduduk di tanah.
" Iya, Kak. Aku ikhlas daripada Mami semakin menumpuk dosa diluar." ucap Kaivan sendu.
" Ya sudah, kamu harus tetap kuat. Kami semua akan selalu ada bersamamu. Kamu tidak akan sendirian, kami semua saudaramu."
" Terima kasih, Kak."
Di tempat lain, Wisnu yang pekerjaan tetapnya adalah seorang Dokter, segera berlari ke rumahnya untuk mengambil semua peralatan kerjanya untuk memeriksa ibunya Azzam sebelum dibawa ke rumah sakit.
" Keadaan Mama gimana, Mas?" tanya Azzam.
" Sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit. Saya tidak tahu racun jenis apa yang masuk ke tubuh ibumu." jawab Wisnu.
" Baiklah, saya akan bawa mama secepatnya."
Azzam menyuruh Rayyan untuk menyiapkan mobil dengan cepat sedangkan ia mengangkat tubuh ibunya keluar dari kamar.
" Sayang, kamu ikut ke rumah sakit atau pulang ke rumah Rayyan? Rama ada disana malam ini." ujar Azzam kepada istrinya.
" Ya udah, kamu temenin Mama di belakang."
Deni dan Bima membantu polisi untuk mengurus para penjahat. Puluhan penjahat harus dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam mobil polisi.
Sampai di rumah sakit, Mama Rahma langsung dibawa ke ICU. Azzam duduk di lantai bersandar dinding dengan mata yang terpejam. Tak lama, Kaivan dan Tuan Zaid juga datang menyusul.
" Azzam, gimana keadaan Mama ksmu?" tanya Tuan Zaid.
" Belum tahu, Pa. Dokter masih memeriksanya di dalam." jawab Azzam lirih.
" Mas jangan duduk di bawah, nanti sakit." bujuk Zahra.
" Kamu pulang saja, sayang. Besok temui Rama biar dia nggak kesepian."
" Zahra mau temani Mas disini, besok baru jemput Rama."
" Za, untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di rumah orangtuaku. Rumah Om Zaid belum dibersihkan, jadi belum bisa ditempati." ujar Rayyan.
Tuan Zaid juga baru berpikir bahwa rumahnya berantakan akibat pertempuran tadi. Kini beliau juga bingung mau pulang kemana karena rumahnya pasti masih di segel polisi untuk penyelidikan.
" Kaivan, kau bisa tinggal di Markas jika mau. Aku tidak punya rumah di Jakarta." ujar Bima yang baru datang bersama Deni.
" Tidak, nanti Papa dan Mas Azzam gimana?" tolak Kaivan.
__ADS_1
" Oh iya, sebaiknya sewa rumah saja atau menginap di hotel. Soalnya kalau di Markas, pasti Tuan Zaid tidak akan nyaman disana."
Tak lama dokter keluar dari ruang ICU. Azzam bangkit dab segera menghampiri sang dokter.
" Mama saya gimana, Dok?" tanya Azzam khawatir.
" Syukurlah masih bisa ditangani. Tekad Nyonya untuk hidup sangatlah kuat sehingga bisa melawan racun dalam tubuhnya. Sepertinya racun itu sudah beberapa tahun dalam tubuh Nyonya. Dan juga, selama beberapa hari ini sepertinya mengkonsumsi obat penawar."
" Iya, Dok. Saya yang memberikan obat penawarnya." ucap Zahra.
Setelah keadaan Mama Rahma semakin stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan di kamar VVIP, Azzam menyuruh Zahra untuk tidur sebelum shubuh menyingsing.
" Tidurlah, sayang. Kamu pasti sangat lelah hari ini." ucap Azzam lirih.
Keduanya duduk di sofa saling berpelukan. Yang lain disuruh pulang semua, tinggal Bima yang menemani. Kaivan dan Tuan Zaid akan tinggal di rumah orangtua Rayyan sampai rumahnya bisa ditempati lagi.
" Nanggung, Mas. Dua jam lagi juga udah waktu shubuh." jawab Zahra.
" Eh, Ra... kok kamu bisa sama Uncle Steven? Bukannya beliau di Hongkong, ya...?" tanya Bima.
" Iya, sayang. Sejak kamu keluar dari rumah, kami semua panik cari kamu di seluruh penjuru kota. Semua akses untuk melacak keberadaanmu juga tidak aktif." kata Azzam.
" Jadi, waktu Zahra keluar dari rumah Papa... Zahra dihampiri mobil yang setiap hari mengawasi rumah itu. Sepertinya Tuan Steven sudah tahu apa yang akan terjadi padaku, jadi beliau langsung menjemputku."
" Bagaimana Uncle Stev bisa tahu?"
" Sepertinya ada anak buahnya yang menyusup menjadi pengawal di rumah utama."
" Hhh... ternyata kita masih perlu banyak belajar lagi, Ra. Kemampuan kita dalam mengatur strategi masih jauh di bawah Uncle Stev."
" Ini udah yang terakhir, Bim. Aku tidak mau lagi bertugas di Tiger White. Kau tahu, sekarang ini aku bekerja sebagai seorang pendidik di kampung."
" Berapa sih gaji jadi guru honorer? Pasti nggak sampai satu juta per bulan. Aku bisa membayarmu 50 juta per bulan. Kau juga bisa mendapat bonus yang lebih besar lagi jika tugasmu berhasil."
" Jangan mengajak istriku lagi, dia tidak butuh uangmu." ketus Azzam.
" Oh iya, aku lupa sekarang ini kamu sudah menjadi menantu konglomerat Al Farizy."
Zahra mendengus kesal pada Bima yang selalu meledeknya akhir - akhir ini karena dia menantu keluarga kaya raya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1