Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Kangen


__ADS_3

" Zahraaa...!" pekik Azzam.


( " Maaf, Mas Azzam... ini saya Agus." ) kata Agus di seberang sana.


" Eh... kamu, Gus. Ada apa...?"


( " Itu, Mau tanya soal pupuk. Soalnya besok sudah harus dikerjakan." )


" Saya lagi di kota sekarang, nanti saya transfer uangnya kamu yang belanja."


( " Nggeh, Mas. Nanti saya kerjakan sama Cahyo." )


Setelah panggilan terputus, Azzam beranjak menuju kamarnya. Ingin menghubungi istrinya, namun Bima tidak memberikan nomor Zahra yang baru.


" Sayang, apa kamu tidak kangen sama Mas?" lirih Azzam.


Azzam berguling - guling di tempat tidur namun matanya tak juga mau terpejam. Dia hanya bisa memandangi foto istrinya di wallpapper ponselnya.


" Zahra...! Apa kau benar - benar melupakanku?" Azzam benar - benar merasa frustasi.


" Zam... bisakah kau diam! Putramu sedang tidur dan kau berteriak seperti orang gila." tegur Rayyan dari ambang pintu.


" Sorry, Ray. Aku mencemaskan Zahra, apa dia baik - baik saja disana?"


" Zahra itu pasti baik - baik saja, Zam. Tidurlah! Besok kita meeting dengan klien di Bandung."


" Bandung...? Terus Rama gimana...?"


" Ada Bima yang akan menjaganya, semua pasti baik - baik saja."


Azzam hanya bisa pasrah dengan situasi saat ini. Dia percaya bahwa Bima pasti bisa melindungi Zahra maupun putranya.


.


.


Sementara di tempat lain, Zahra sedang berkirim pesan dengan Bima. Memang sudah menjadi tugasnya untuk memberikan laporan setiap menjalankan misi.


Zahra : Bim, aku belum bisa mencari mamanya mas Azzam. Hari pertama harus bekerja dengan normal dulu.


Bima : Apa pekerjaanmu sangat berat disana?


Zahra : Tidak, Bim. Pekerjaanku sangat mudah di hari pertama. Tugasku hanya menjadi pelayan khusus Kaivan.


Bima : Apa ada informasi yang penting?


Zahra : Belum, tapi aku tadi membersihkan kamar mas Azzam yang sudah tiga tahun ditinggalkan. Sepertinya Kaivan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke kamar itu setelah ibunya menjual Apartemen mas Azzam.


Bima : Baiklah, kau istirahatlah. Besok cari informasi yang lebih banyak. Manfaatkan waktu sebaik - baiknya.


Zahra : Siap, Boss.


Bima : Oh iya, Azzam uring - uringan kau tidak menghubunginya.


Zahra : Biarkan saja, katakan padanya aku baik - baik saja. Kalau aku menghubunginya, dia pasti merengek minta ketemu. Dia itu pria yang manjanya sangat luar biasa.

__ADS_1


Bima : Hahahaa... Kau benar, Rayyan sampai mengungsikan Rama ke kamarnya melihat kelakuan absurd suamimu.


Setelah selesai berkirim pesan dengan Bima, Zahra merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ini pertama kalinya Zahra tidur sendiri tanpa Azzam setelah menikah.


Dulu, waktu Zahra mengikuti kegiatan kemah mendampingi anak didiknya, Azzam bersikeras untuk ikut walaupun itu sudah jelas acara sekolah. Pria itu bahkan membangun tenda sendiri di samping tenda anak - anak dan tidur berdua dengan Zahra. Azzam sangat posesif, apalagi saat itu Zahra sedang berbadan dua.


Malu? Tentu saja Zahra sangat malu. Apalagi ada guru - guru dari sekolah lain yang ikut menggodanya. Zahra rasanya ingin pulang saja jika tidak ingat punya tanggung jawab terhadap anak didiknya.


" Mas Azzam... Zahra kangen, sebenarnya sangat berat jauh dari kamu dan Rama. Tapi ini demi keluargamu, keluargaku juga." gumam Zahra.


.


.


Pagi - pagi sebelum shubuh, Zahra sudah bangun. Dia mandi dulu sebelum melakukan pekerjaannya agar tidak terlihat kusut. Usai sholat shubuh, Zahra beranjak ke kamar Kaivan untuk membangunkan majikannya itu yang pasti masih terlelap.


" Tuan... sudah pagi, ayo bangun." ucap Zahra pelan sambil menggoyangkan kaki Kaivan.


" Hmm... jam berapa ini?" gumam Kaivan.


" Jam lima, Tuan."


" Hah... ini masih terlalu pagi, Rara. Biasanya juga saya dibangunkan jam enam." keluh Kaivan.


" Sholat shubuh dulu, Tuan. Nanti bisa tidur lagi."


" Sholat shubuh, ya? Bahkan niatnya saja saya lupa."


Kaivan tengkurap sambil memejamkan matanya. Sebenarnya ia malu dengan Zahra yang selalu mengingatkannya untuk sholat. Wanita itu ternyata tidak canggung untuk menasehatinya walaupun baru sehari kenal.


" Kau tahu browsing juga? Bukannya ponselmu masih model 3G... hahahaa..."


" Ish... jangan membully orang miskin, harusnya jadi orang kaya itu banyak - banyak sedekah biar hidupnya berkah, jodohnya sholeh - sholehah." gerutu Zahra.


" Hehehee... sorry, nanti aku belajar sholat lagi deh. Sekarang buatin sarapan nasi goreng, ya?"


" Iya, Tuan."


Zahra mengambil baju kerja Kaivan lalu menaruhnya di sofa. Setelah itu ia beranjak keluar untuk segera membuat sarapan.


" Rara... kau darimana...?" tanya Nina.


" Dari atas, bangunin Tuan Kaivan." jawab Zahra.


" Sepagi ini bangunin Tuan Kaivan? Kamu yang bener aja, Ra? Tuan tidak marah sama kamu?"


" Tidak, biasa aja. Cuma dia bilang kepagian, biasanya bangun jam enam."


" Mungkin karena kamu masih baru, Ra. Biasanya Tuan kalau sudah marah bisa ngamuk."


" Biarin aja, nanti saya cari kerjaan lain kalau di marahi."


" Kamu itu keras kepala, Ra. Mau masak apa...?"


" Tuan Kaivan minta nasi goreng. Apa sebelumnya beliau juga suka seperti ini sama pelayannya?"

__ADS_1


" Tidak, biasanya Tuan Kaivan hanya sarapan roti bersama Tuan dan Nyonya Besar."


" Apa dia sengaja biar saya tidak betah kerja disini?"


Sambil memasak, Zahra berbincang dengan beberapa pelayan yang mulai akrab dengannya. Mereka menyemangati Zahra agar bisa bertahan bekerja untuk Kaivan.


" Raraaa...!" panggil Kaivan lantang.


Semua pelayan kaget dan hampir melemparkan apapun yang mereka pegang. Zahra yang merasa namanya disebut langsung menoleh.


" Astaghfirullah... Tuan! Apa yang Anda lakukan?" pekik Zahra kaget.


Zahra langsung menarik kain yang asal ia sambar dari meja dapur. Dia tidak peduli teman - temannya menatap heran.


" Raraaa...! Apa yang kau lakukan?" teriak Kaivan.


" Tuan ini tidak sopan sama sekali, keluar dengan pakaian seperti ini tidak malu. Tidak lihat semua pelayan disini perempuan!" omel Zahra.


Entah mengapa Zahra marah melihat Kaivan yang keluar kamar hanya memakai boxer ketat dan kaos putih tipis. Mungkin tanpa sadar Zahra sudah menganggap Kaivan seperti adiknya sendiri.


" Ra... apaan sih? Saya udah biasa begini."


" Tidak boleh, jangan mengumbar aurot di depan wanita yang bukan makhromnya."


Tanpa mereka sadari, Tuan Zaid melihat apa yang terjadi di dapur. Dia tersenyum melihat sikap Zahra yang pemberani. Selama ini tidak ada seorangpun yang berani memarahinya kecuali Nella, ibunya.


" Apa kau tergoda...?" ledek Kaivan.


" Tuan...! Selangkah lagi mendekat, saya lempar dengan wajan panas ini." kesal Zahra.


" Ish... kenapa kau galak sekali!" gerutu Kaivan namun tetap naik ke lantai dua.


Zahra kembali melanjutkan memasak. Untung saja tadi ia sempat mematikan kompor, jadi masakannya tidak gosong.


" Ra... kamu berani sekali ngomelin Tuan Kaivan?" bisik Sita.


" Tadi cuma reflek, habisnya Tuan Kaivan nggak sopan gitu pakaiannya." sahut Zahra santai.


Setelah selesai dengan masakannya, Zahra naik ke kamar Kaivan untuk memanggilnya sarapan. Dengan rasa ragu ia mengetuk pintu.


" Tuan... sarapannya sudah siap." panggil Zahra.


" Bawa ke kamar, saya lagi malas keluar!" sahut Kaivan ketus.


Zahra menghela nafas dengan kasar. Ternyata majikannya sangat manja dan kekanak - kanakan. Dia hanya berharap bisa segera menemukan ibu kandungnya Azzam secepatnya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2