Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Menikmati waktu berdua


__ADS_3

Selepas Ashar, Rayyan mengajak Rama untuk pulang. Azzam memberitahukan letak semua barang - barang yang dibutuhkan Rama dirumah. Dia tidak ragu sama sekali menyuruh orang yang baru dikenalnya untuk masuk ke dalam rumah disaat sedang kosong.


" Anak Bunda jangan rewel ya di rumah sama_..." Zahra menatap ragu pada Rayyan.


" Papa..." celoteh Rama.


" Kamu tenang saja, Za. Selama bersama papanya, Rama pasti tidak akan rewel." sahut Rayyan.


" Hhh... kenapa aku jadi berasa ayah tiri!" kesal Azzam.


" Iya, ayah tiri yang hanya sayang pada ibunya saja." ledek Rayyan.


" Sudah, kalian ini tiap ketemu berantem padahal belum satu minggu kenal. Atau jangan - jangan kalian sudah saling kenal sebelumnya, ya?" cecar Zahra.


Azzam dan Rayyan saling berpandangan. Jiwa kepo Zahra ternyata sedang mode akut sekarang. Ibu satu anak itu mengguncang bahu suaminya untuk meminta jawaban secepatnya.


" Ya Allah, Dek... bukannya kamu lebih dulu kenal Rayyan daripada aku? Belum ada seminggu kita kenal dengannya." kata Azzam meyakinkan.


" Kalian ini kenapa ribut sih? Sudah, aku pamit dulu." lerai Rayyan.


Rayyan menyelipkan sebuah kartu ke tangan Azzam tanpa sepengetahuan Zahra. Entah itu kartu apa tapi Rayyan berharap Azzam tidak menolaknya.


.


.


Azzam dan Zahra kembali menyusuri pantai setelah beristirahat sebentar di penginapan. Sepanjang perjalanan, Azzam tak melepaskan genggaman tangan Zahra. Jika orang lain melihat, mereka seperti sepasang pengantin baru yang sedang honeymoon.


" Mas, memangnya tidak apa - apa kalau kita meninggalkan Rama sama bang Rayyan? Kita belum ada satu minggu mengenalnya."


" Tidak apa - apa, sayang. Rayyan itu orang baik walau kadang sangat menyebalkan. Tidak perlu khawatir, nanti kalau dia tidak sanggup menjaga Rama pasti dibawa ke rumah bu Marni. Rayyan ingin kita menghabiskan waktu berdua ini walau hanya sebentar tanpa memikirkan apapun."


Zahra bergelayut manja di lengan suaminya sembari memainkan kakinya di air. Mereka berkeliling seraya menunggu tenggelamnya matahari di ujung lautan. Nampak senyum merekah di bibir wanita cantik itu.


Azzam tak ingin mengganggu suasana hati istrinya saat ini. Dia hanya mengikuti kemana kaki sang istri melangkah. Benar kata Rayyan, Zahra memang tidak pernah menuntut apapun padanya. Namun sebagai wanita, dia juga pasti memperhitungkan materi untuk kelangsungan hidupnya.


" Mas... kita duduk di batu karang itu yuk?" rengek Zahra.


" Eh... iya, sayang." Azzam terkejut dengan suara keras Zahra karena dirinya sedari tadi melamun.


Azzam membantu Zahra untuk naik ke atas karang dan mereka duduk disana sambil berpelukan. Lebih tepatnya Azzam yang memeluk Zahra dari belakang.


" Apa kau senang melihat pemandangan ini, sayang?" bisik Azzam.

__ADS_1


" Mmm... iya, Mas. Ini yang kedua kalinya Zahra bisa menikmati sunset di pantai. Dulu, waktu ibu masih ada... Ayah mengajak kami ke tempat ini dan menginap disini walau harus mengambil sebagian hasil panennya yang seharusnya untuk membeli kebutuhan dapur." ucap Zahra mengenang masa lalu.


" Maaf... selama ini Mas belum bisa membahagiakanmu, sayang."


" Hhh... jangan bicara begitu, Mas. Dengan adanya Mas Azzam dan Rama di sisi Zahra, itu adalah kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan apapun juga."


" Tapi Mas belum bisa memberikan nafkah yang cukup untukmu, Dek."


" Apakah bahagia itu harus diukur dengan banyak sedikitnya nafkah? Kurasa bahagia itu adalah wujud perhatian dan kasih sayang, bukan dari harta dan tahta."


Azzam semakin mempererat pelukannya pada sang istri. Dia memang tidak salah memilih pendamping hidup.


" Seandainya Mas jadi orang kaya, apa kamu masih akan mencintai Mas seperti ini?"


" Asalkan halal, Zahra malah bersyukur. Setidaknya kita bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan. Saat ini hanya ilmu yang bisa Zahra bagikan untuk anak - anak agar kelak mereka bisa menjadi orang yang sukses."


" Jika suatu saat nanti kita pindah ke kota, apa Adek mau?"


" Zahra akan ikut kemanapun Mas pergi asalkan di jalan yang benar. Eh... tapi, kenapa Mas bertanya seperti itu?"


" Nothing... Jika suatu saat nanti ada pekerjaan lebih baik di kota, harus dicoba, kan?"


" Tumben Mas punya pikiran untuk bekerja lagi di kota? Katanya sudah nyaman mengelola sawah bapak?"


" Belajar jadi Bos Besar...?" ledek Zahra.


Azzam tak tahan untuk tidak mencium istrinya yang menggemaskan itu. Hari ini benar - benar waktu kebersamaan yang sangat indah. Azzam baru menyadari bahwa acara sederhana seperti memang sangat penting untuk sering mereka lakukan.


" Ke kamar yuk, sayang?" bisik Azzam sesekali meremas pelan perut istrinya gemas.


" Apa sih, Mas! Jangan aneh - aneh kamu!" ketus Zahra.


" Hahahaa... kamu yang mikir aneh - aneh, Dek. Atau... Adek udah pengen_..."


" Pengen apa?!" sarkas Zahra.


" Hmm... nanti aja habis isya' kita program adiknya Rama. Sekarang kita sholat maghrib dulu terus makan." bisik Azzam.


Zahra memukul dada Azzam berkali - kali karena kesal dengan ledekan suaminya. Dia bahkan hanya ingin menikmati keindahan suasana pantai di malam hari.


.


.

__ADS_1


Usai makan malam, Azzam menuruti keinginan Zahra untuk kembali ke pantai walau angin malam serasa menusuk hingga ke tulang. Entah sejak kapan, Rayyan sudah mempersiapkan semuanya. Bahkas sweater dan pakaian ganti mereka juga sudah tersedia di dalam kamar itu. Rayyan juga meninggalkan black card untuk memenuhi kebutuhan Azzam dan Zahra selama liburan.


Siapa Rayyan sebenarnya? Hanya seorang guru honorer namun pegangannya black card? Apakah itu mungkin? Kenapa juga dia begitu baik dengan keluarga kecil Azzam? Tidak ada yang tahu ada misteri apa dibalik sikap baik dan royal Rayyan terhadap keluarga kecil sederhana seperti Azzam dan Zahra.


" Dek, balik ke kamar yuk? Dingin banget, nanti kamu sakit loh?" bujuk Azzam karena sang istri masih betah duduk di bibir pantai.


" Sebentar lagi, Mas... Zahra masih pengen disini." rengek Zahra.


" Ini sudah jam sembilan, sayang. Anginnya juga semakin besar, istirahat ya?"


" Kita jarang banget bisa pergi berdua seperti ini, Mas. Zahra pengen menghabiskan waktu disini sejenak sebelum kita pulang."


" Baiklah, asal jangan lupa kewajibanmu."


" Apa...?"


Azzam hanya tersenyum kecil lalu mendaratkan kecupan singkat di kedua pipi Zahra secara bergantian.


Tak berselang lama, Azzam dan Zahra kembali ke kamar. Wanita berhijab itu langsung menanggalkan sweater dan kerudungnya.


" Sayang, Rama udah tidur apa belum ya?" tiba - tiba Azzam rindu dengan putranya.


" Telfon bang Ray, Mas. Zahra takut dia rewel tidur sama orang yang baru dikenalnya." Zahra tak kalah cemas.


" Mau panggilan suara atau video call?"


" Video call aja Mas, Zahra kangen lihat Rama."


" Ya udah, kamu pakai dulu kerudungnya." titah Azzam.


Azzam menghubungi nomor Rayyan dan ngobrol cukup lama. Rama sudah tidur pulas setelah minum susu yang dibuat Rayyan. Ternyata pria lajang itu bisa menjaga balita dengan sangat baik.


Setelah puas melihat wajah putranya yang tidur lelap, Azzam mematikan panggilannya dan kembali memeluk istrinya. Seperti yang sudah ia katakan tadi, mereka akan melewati malam ini dengan begadang semalam suntuk. Pasti tahulah apa yang dilakukan sepasang kekasih halal itu saat menikmati malam panjang.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2