
" Apakah boleh aku membunuh ibuku?" lirih Kaivan.
" Hah...? Apa yang kau katakan, Kai?" pekik Zahra.
" Aku malu mengakuinya sebagai ibuku, Ra."
" Jangan begitu, Kai... bagaimanapun juga, beliau yang telah melahirkanmu."
Azzam yang melihat kedekatan Zahra dan Kaivan merasa cemburu. Dia tidak rela sang istri berbagi perhatian untuk orang lain.
" Aku janji akan membantu melawan Mami, tapi setelah itu... aku mohon tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku." ucap Kaivan memohon.
" Hei... dia istriku! Tidak pantas kau bicara begitu padanya!" sentak Azzam.
" Mas Azzam! Kaivan hanya ingin bersama kita, menjadi saudara kita. Kamu jangan keterlaluan begitu mikirnya." tegur Zahra.
" Sayang... kenapa kamu belain dia sih?" sungut Azzam.
" Mas Azzam tidak usah cemburu, Zahra itu sudah aku anggap saudara dari pertama kali kami bertemu. Aku kasihan waktu dia bilang tidak punya tempat tinggal dan hanya membawa kartu identitas saja, itupun palsu. Oh iya, Za... kamu beneran baru berumur 20 tahun?"
" Hehehee... itu cuma akal - akalan Sakti saja. Umurku sudah 26 lebih." sahut Zahra.
" Heh... jangan panggil nama! Dia itu kakak iparmu." sentak Azzam.
" Tapi umurnya lebih muda dariku, Mas." tolak Kaivan.
" Apa hubungannya dengan umur, kalau ingin tetap bersamaku panggil dia 'kakak'."
" Ok, mulai sekarang aku memanggilnya 'kakak ipar'."
Azzam menarik lengan Zahra untuk duduk di sofa namun diikuti oleh Kaivan. Azzam yang merasa risih karena dari tadi adik tirinya itu mengekor istrinya.
" Kai... tidak bisakah kau menjauh dari istriku!" hardik Azzam.
" Tidak bisa, Mas. Kak Zahra harus segera kuajak pulang. Mami bisa curiga kami hilang dari pengawasan terlalu lama."
" Apakah dia tidak bisa menginap semalam saja disini?"
" Mas... kita harus bergerak cepat, kasihan Mama disana. Beliau butuh kita, aku pulang ya?" bujuk Zahra.
" Jangan egois, Mas. Betul kata kakak ipar, kita harus cepat menyelamatkan papa dan mama." ujar Kaivan.
" Hhh... baiklah! Beri aku waktu sepuluh menit untuk berbicara berdua dengan Zahra." kata Azzam datar.
" Ok, hanya sepuluh menit. Mami sebentar lagi pulang, kami harus tiba di rumah lebih dulu."
Azzam membawa Zahra masuk ke dalam kamarnya. Sementara Kaivan duduk di sofa sendirian menyandarkan punggungnya yang lelah.
" Sayang... tidak bisakah kamu menginap saja malam ini. Aku tidak sanggup berpisah denganmu lebih lama lagi." lirih Azzam.
Azzam memeluk erat tubuh istrinya. Seandainya bisa, ia ingin lebih lama lagi dalam posisi seperti ini. Puas memeluk, Azzam menciumi seluruh wajah istrinya.
" Mas... jangan seperti ini. Aku harus pergi, ini sudah malam." lirih Zahra.
" Mas tidak bisa, sayang. Kau tahu... aku tak bisa jauh darimu walau hanya sekejap."
__ADS_1
" Zahra tahu, tapi kita harus mengakhiri semua ini dan kembali kepada keluargamu."
" Mas rindu dipeluk kamu saat tidur," rengek Azzam.
" Jangan macam - macam, Rama saja tahu pekerjaan Bundanya." sindir Zahra.
" Yang, boleh minta sebentar saja?"
" Minta apa...?"
" Itu... Yang,"
" Ya Allah, Mas. Kaivan cuma kasih waktu kita sepuluh menit, jangan aneh - aneh!"
Azzam mendesah kecewa, wajahnya ditekuk dengan bibirnya yang manyun. Hampir satu minggu mereka tidak bertemu dan istrinya menolak keinginannya.
" Tega kamu, Dek!"
.
.
Zahra sebenarnya merasa tidak tega meninggalkan Azzam yang tampak frustasi itu. Dia lebih rewel saat ditinggal daripada putra mereka yang masih berumur dua tahun.
" Mas... Zahra pergi dulu ya?" pamit Zahra.
" Pergi sana! Tidak ada juga yang menyuruhmu datang kesini." ketus Azzam.
" Sudah, Za. Biar nanti Abang yang bicara padanya." ujar Rayyan.
" Pasti, jangan khawatir. Fokus dengan tujuan kita, semua ini aku serahkan padamu. Semoga berhasil, adik ipar." Rayyan merangkul bahu Zahra sambil tersenyum.
Azzam yang tadinya acuh kembali menarik Zahra ke dalam pelukannya. Tak bisakah ia bersama satu detik lagi? Azzam menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mencium kening istrinya cukup lama.
" Aku akan segera menyusulmu kesana, tetap waspada. Kau sudah ambil senjata di kamarku?" bisik Azzam.
" Aku udah sempat memeriksanya tapi belum bisa membawanya ke kamarku." balas Zahra pelan.
" Cepat ambil, Mas takut rencana kita telah bocor dan Nella bisa menyerangmu kapan saja."
" Iya, Mas. Pulang dari sini langsung kuambil."
Zahra memeluk Rama sejenak lalu kembali menyerahkannya kepada sang suami. Walaupun berat hati, namun Zahra tetap harus pergi.
.
.
Sampai di rumah, Zahra langsung mengikuti Kaivan ke lantai dua. Dia langsung mengambil kunci kamar suaminya yang disimpan oleh Kaivan.
" Kakak ipar... kenapa tidak jujur dari awal padaku?" cecar Kaivan.
" Maaf, Tuan... Saya_..."
" Jangan memanggilku seperti itu lagi saat berdua."
__ADS_1
" Baiklah, aku minta maaf karena sudah bohong padamu."
" Bagaimana kamu bisa menikah dengan Mas Azzam? Aku tahu Mas Azzam sudah lama sebelum Mami menikah dengan papa. Mas Azzam itu tak pernah dekat dengan wanita manapun."
" Karena takdir kami memang berjodoh. Memangnya kenapa, Kai?"
" Tidak apa - apa. Seperti apa rasanya mencintai seseorang?"
" Apa kamu tidak pernah mencintai seseorang?"
Kaivan menggelengkan kepalanya seraya menyandarkan punggungnya di pinggir ranjang. Zahra dan Kaivan duduk di lantai tanpa alas apapun.
" Cinta itu ada beberapa jenis, Kai. Cinta kepada ibu, ayah dan saudara. Ada juga cinta terhadap lawan jenis." kata Zahra.
" Tapi aku tidak merasakan itu semua, Kak. Semenjak Papi tiada, aku tidak pernah mencintai siapapun."
" Kamu masih punya Mami, Kai."
" Dia bukan Mami, dia pembunuh Papi!" Kaivan mengepalkan kedua tangannya.
" Kai...?"
Kaivan menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya yang kusut. Sesak dalam dada yang selama ini ia pendam akhirnya lepas juga dengan airmata yang mengalir deras.
" Aku tahu dia yang membunuh Papi. Dia ketahuan berselingkuh saat kami pulang dari Bali. Selama ini aku diam karena menunggu waktu yang tepat untuk membalas kematian Papi."
" Bagaimana keluarga Papi kamu? Apa tidak ada yang mempermasalahkan kematian papi kamu yang mendadak?"
" Aku tidak pernah mengenal keluarga Papi. Dari lahir kami tinggal bersama di rumah Om Darco, kakaknya Mami. Papi tidak pernah menemui keluarganya sama sekali."
Zahra ikut menitikkan airmata saat Kaivan menceritakan masa kecilnya yang suram setelah Papinya tiada. Hidupnya penuh tekanan sehingga tak ada satu orangpun yang mau dekat dengannya.
" Jangan sedih, mulai sekarang kita ini saudara. Ada aku, Mas Azzam, Mama Rahma dan Papa Zaid. Kita satu keluarga, ada juga keponakan kamu."
" Janji padaku, Kak Zahra... tetaplah bersamaku apapun nanti yang terjadi. Saat ini aku seperti hidup sebatang kara."
Zahra mengusap lembut bahu Kaivan untuk menguatkan hatinya yang saat ini sangat rapuh. Tatapan iba membuatnya tak bisa menahan airmatanya yang ikut mengalir.
" Kai... kamu mau masalah ini cepat selesai, kan?"
" Tentu saja, Kak. Aku sudah lelah dengan semua ini. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?"
" Ceritakan semua yang kamu ketahui tentang Darco."
" Maksudnya...?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1