
Azzam ikut berbaring di samping istrinya sembari menunggu waktu Ashar. Mengingat tatapan istrinya yang tajam tadi membuat Azzam berpikir kalau dia tidak mengenal sepenuhnya sifat istrinya. Selama ini yang ia lihat, sang istri selalu bersikap lembut dan terlihat seperti wanita lemah.
" Sayang..." panggil Azzam lirih.
" Apa sih, Mas?" sahut Zahra datar.
" Kamu marah...?"
" Tidak."
" Pasti bohong? Kamu masih marah, kan?"
" Ya Allah, Mas... Kamu kenapa sih? Mas pengen Adek marah?" kesal Zahra.
Siapa yang tidak kesal kalau sedari tadi Azzam tak melepaskan genggamannya pada baju yang dipakai Zahra. Mungkin rasa bersalah Azzam karena tidak sedari awal jujur tentang identitasnya. Azzam sangat mencintai Zahra, itu sudah tidak diragukan lagi.
" Bukan begitu, sayang. Mas merasa sangat bersalah padamu. Maafkan Mas, ya? Masa lalu Mas sangat buruk sejak lima tahun lalu."
" Kenapa tidak cerita dari awal? Apapun yang pernah terjadi padamu, tidak akan merubah perasaanku padamu. Kita bertemu bukanlah suatu kebetulan, namun semua ini sudah takdir dari Allah. Kita menikah karena jodoh, tanpa kita harus mengenal dan berbuat dosa. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, kita akan hadapi semua ini bersama." ucap Zahra lembut.
" Terima kasih, sayang. Mas janji tidak akan mengecewakanmu lagi."
Azzam memeluk erat tubuh istrinya. Tanpa ia sadari, airmata mengalir dari kedua matanya. Rasa haru dan bahagia tak dapat ia ungkapkan dengan kata - kata. Istrinya sangatlah luar biasa, baik, cantik, cerdas dan sederhana. Dia tak pernah mengeluh walaupun hidup kekurangan.
.
.
Selepas isya', Azzam, Zahra dan Rayyan makan malam bersama. Dua pria dewasa itu terlihat canggung untuk sekedar berbicara. Biasanya mereka selalu ribut tentang hal - hal sepele.
" Rama... sini sama papa aja ya? Makannya disuapi sama papa." Rayyan mengambil Rama dari pangkuan Zahra.
" Papa... main!" celoteh Rama.
" Iya, makan dulu baru main, sayang."
" Main...!" sentak Rama.
" Ok, mainnya sambil makan ya?"
Rayyan merasa kuwalahan karena ternyata anak kecil itu sedang aktif - aktifnya berlari. Dia suka memberontak kalau di gendong. Inginnya selalu berlari dan sering naik ke kursi dan tempat tidur sendiri.
" Abang betah berapa lama jagain Rama?" ledek Zahra.
" Anakmu ini semakin hari semakin aktif bergerak, Za. Apa perlu aku cariin babysitter aja." keluh Rayyan.
" Nggak usah, Zahra masih bisa menjaganya sendiri. Abang makan sana, Zahra sama Mas Azzam udah selesai."
" Baiklah, setengah jam nyuapin dia nggak kelar juga. Aku heran, kalian berdua sabar banget ngadepin anak kecil."
Usai makan malam, Zahra membawa Rama masuk ke dalam kamar. Anak itu terlihat mengantuk setelah makan dan lelah bermain.
" Ray... apa kau yakin papa juga menjadi korban...?" lirih Azzam.
" Iya, Zam. Aku bisa melihat raut wajahnya yang terlihat seperti orang tertekan." sahut Rayyan.
Azzam teringat terakhir kali melihat ibunya. Wanita dengan paras cantik itu hanya bisa menangis saat ia diusir oleh papanya. Semua pengawal dan pelayan juga diganti pada hari itu juga.
__ADS_1
Papanya dengan angkuh menggandeng seorang perempuan yang telah ia nikahi dua tahun sebelumnya. Azzam masih bisa terima saat papanya menikah lagi, namun saat wanita itu ingin tinggal satu rumah, Azzam menjadi sangat marah. Saat itu mamanya Azzam juga tiba - tiba sakit, namun tidak boleh dibawa ke rumah sakit.
" Mas, Rama sudah tidur." kata Zahra seraya duduk di sampingnya.
" Tumben nggak rewel, Dek. Apa Rama kelelahan? Pasti nanti malam kebangun lagi, apa besok dibawa ke tempat pijat saja?" sahut Azzam.
" Tidak usah, nanti aku pijat sendiri saja."
" Ya udah, sini peluk Mas dulu." rengek Azzam manja seperti anak kecil.
" Cihhh...! Kalau mau bermesraan aku pulang saja!" ketus Rayyan.
Azzam tersenyum mengejek sambil memeluk istrinya manja. Rasanya ia tak ingin berpisah dengan istrinya barang sejengkal.
" Mas Azzam...! Jangan aneh - aneh kamu, sekarang kita bicara serius." kata Zahra.
" Hhh... baru sebentar, Yang." sungut Azzam.
" Za, apa kau punya rencana?" tanya Rayyan.
" Begini... Aku yang akan masuk ke rumah mas Azzam." jawab Zahra.
" Jangan, Dek. Disana sangat berbahaya, Rama juga gimana nanti kalau kamu pergi?"
" Rama sama Mas Azzam, kalian juga harus bersiap saat waktunya tiba."
" Dek, kamu jangan ambil resiko! Mas nggak mau kamu celaka."
" Mas tenang saja, Zahra tidak bekerja sendiri."
Zahra menghembuskan nafas perlahan, menatap suaminya yang terlihat sangat polos. Bukankah pebisnis itu sudah biasa berurusan dengan dunia mafia?
" Besok kita akan ke kota untuk meminta bantuan. Setelah dari sekolah kita langsung berangkat." kata Zahra.
" Siapa yang mau membantu kita, sayang."
" Besok juga ketemu dengan mereka."
" Memangnya kamu sudah buat janji dengan mereka?" tanya Rayyan.
" Sudah, besok kita bertemu di alun - alun selatan."
.
.
Malam sudah berganti dengan siang. Zahra sudah bersiap untuk berangkat ke kota. Rama sudah dalam gendongannya, sementara Azzam dan Rayyan sudah berada diatas motor masing - masing.
" Mas, tas Rama taruh di depan ya?"
" Iya, Dek. Sini biar nggak ribet nanti. Rama masih tidur, ya? Nggak apa - apa dibawa panas - panasan begini?"
" Tidak apa - apa, anak Bunda ini sangat kuat."
" Tunggu, Dek. Tumben kamu pakai celana bahan gitu? Biasanya pakai rok atau gamis?"
" Kenapa...? Nggak boleh? Zahra biasanya juga pakai jeans sebelum menikah sama Mas. Karena pekerjaanku jadi guru, jadi kurang sopan aja sekarang."
__ADS_1
" Ah... kamu ini ternyata punya rahasia yang tidak Mas ketahui, sayang."
Perjalanan menempuh jarak puluhan kilometer dan menghabiskan waktu satu jam lebih karena Azzam melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar Rama nyaman dalam gendongan Zahra.
" Mas, nanti kita ke Bima Cafe ya?" ucap Zahra saat mereka sudah sampai di kota.
" Kamu janjian disana, Dek? Sama siapa sih, kok nggak bilang sama Mas?"
" Nanti Zahra kenalin sama orangnya, Mas."
Setelah sampai di Cafe itu, Zahra langsung masuk bersama Azzam dan Rayyan. Rama kini beralih dalam gendongan Rayyan agar Zahra bisa melemaskan otot tangannya.
" Nona, Anda sudah ditunggu di ruangan atas." sambut salah seorang pegawai namun tidak nampak seperti pelayan.
" Terima kasih, bagaimana kabarmu?" sahut Zahra ramah.
Zahra sepertinya sudah sangat dekat dengan pemilik cafe itu. Semua karyawan bersikap ramah dan terkesan hormat padanya.
" Saya baik, Nona. Lama tidak berjumpa, apa terjadi sesuatu?"
" Iya, saya sedang ada masalah dan butuh bantuan dia."
Zahra dan yang lain diantar ke lantai tiga. Sampai di depan sebuah ruangan, pria yang berdiri tegap itu mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...!
Berkali - kali mengetuk, namun tak ada sahutan dari dalam. Pria itu sedikit merasa tidak enak pada Zahra karena sang boss sepertinya sedang sibuk.
" Maaf, Nona. Sepertinya boss belum bisa diganggu sekarang."
" Tapi dia di dalam, kan?"
" Iya, Nona. Boss sedang ada di dalam dengan_..."
" Apa kebiasaan lamanya itu masih dilakukan?"
" Mmm... Soal itu_..."
" Tidak perlu kau jawab, saya sudah tahu jawabannya." ucap Zahra kesal.
Azzam dan Rayyan heran dengan sikap Zahra yang tiba - tiba berubah. Tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya.
" Bimaaa...! Keluar kau...! Dasar bejat...! Buka pintunya...!" teriak Zahra sambil menendang pintu dengan keras.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok pria tampan dengan rambut dan baju yang acak - acakan. Dia melirik jam di tangannya untuk memastikan sesuatu.
" Hai... sayang,"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1