Bahagia Tak Harus Kaya

Bahagia Tak Harus Kaya
Menyelamatkan Mama


__ADS_3

Malam ini, Azzam sudah bersiap setelah sebelumnya Rayyan mengantar Rama ke kediaman orangtuanya. Rayyan yaakin Rama pasti aman disana karena orangtua Rayyan tidak pernah berurusan langsung dengan Nella.


" Kau sudah pastikan keamanan Rama, Ray...?" tanya Azzam.


" Sudah, disana juga ada banyak pengawal yang berjaga - jaga diluar rumah agar Mama tidak khawatir. Mama belum tahu kalau itu anakmu, jadi tak usah dipikirkan lagi." sahut Rayyan.


" Ya sudah, kita tunggu Darrent sama Deni sebentar. Apa sudah ada kabar tentang istriku?"


" Belum, kita fokus saja untuk rencana malam ini. Jangan sampai kita gagal malam ini."


" Bismillah, Ray... Semoga Mama baik - baik saja. Aku sangat merindukan Mama."


Setengah jam kemudian Deni datang bersama Darrent. Anggota Tiger White menunggu di bawah di mobil masing - masing.


" Semuanya sudah siap? Kaivan sudah keluar dari rumah bersama Tuan Zaid dan Nyonya Nella." ujar Deni.


" Apa Bima sudah siap...?"


" Sudah, dia berada di kamarnya di samping paviliun. Begitu kita menyerang, Bima akan membawa tante Rahma keluar dari paviliun."


" Bagaimana dengan para pelayan?"


" Mereka semua bawaan Nella, jadi Bima akan mengunci mereka dari luar, kecuali pelayan tante Rahma yang juga teman Zahra."


" Baiklah, kita beraksi sekarang juga."


Mereka bergegas menuju kediaman Al Farizy yang hanya berjarak lima belas menit dari Apartemen Rayyan.


" Zam, kita masuk lewat gerbang utama?" tanya Rayyan.


" Tidak, aku akan ke rumah sebelah. Anaknya berteman cukup akrab denganku." jawab Azzam.


" Baiklah, cepat sana. Kami akan menunggu disini."


Azzam masuk ke dalam gerbang yang kebetulan tidak terkunci itu. Sepertinya satpamnya sedang pergi ke belakang. Azzam langsung mengetuk pintu utama rumah itu.


Pelayan membukakan pintu dan menyuruh Azzam untuk masuk. Tak lama pemilik rumah keluar dan menghampirinya.


" Azzam... Masya Allah, sudah lama kita nggak ketemu." teriak seorang wanita cantik dengan senyum yang sangat lebar.


" Ivana...? Kau disini...?"


" Hei... apa kau lupa kalau ini rumahku, Zam."


" Iya, tapi bukankah kau ikut suamimu ke Sidney? Om dan Tante kemana...?"


" Papi dan Mami lagi ada acara diluar. Suamiku di kamar sama anak - anaknya."


" Bisakah aku bertemu suamimu? Aku hanya tidak ingin ada salah paham."


" Ok, sebentar aku panggilkan."

__ADS_1


Tak lama Ivana kembali ke ruang tamu bersama suaminya. Mereka saling berjabat tangan dan saling berkenalan.


" Mas Azzam itu rumahnya di sebelah? Maaf, saya memang jarang pulang kesini." ucap suami Ivana yang bernama Wisnu itu.


" Tidak apa - apa, Mas Wisnu. Saya juga tidak tinggal disini."


" Oh iya, Zam. Maaf sebelumnya, apa benar Om Zaid menikah lagi?"


" Bener, Va. Tiga tahun lalu Papa menikah lagi."


Azzam menceritakan tentang keluarganya secara singkat dan juga maksud kedatangannya ke rumah Ivana.


" Jadi tante Rahma di sekap di rumahnya sendiri?" pekik Ivana.


" Iya, Va. Makanya malam ini aku mau bebaskan Mama dari paviliun. Beliau butuh pengobatan medis saat ini."


" Jadi, anak buahmu akan parkir di halaman rumahku?"


" Iya, kami akan memanjat tembok pagar rumah ini biar bisa langsung menuju paviliun."


" Kenapa harus manjat, kau lupa kalau dulu kita punya jalan rahasia di belakang rumah yang dibuatkan sopir Papiku."


" Astaghfirullah... Aku sampai lupa, soalnya setelah masuk SMA kita sudah tidak pernah lewat pintu itu lagi, Va."


" Ya sudah, suruh semuanya masuk biar pihak keamanan komplek tidak curiga."


Wisnu yang bekerja sambilan jadi agen rahasia di Sidney tentu saja ikut bergabung dengan mereka setelah mendapatkan ijin dari istrinya.


Setelah semua berkumpul di halaman rumah Ivana, Azzam langsung memerintahkan mereka ke sudut belakang rumah.


Tempat itu sudah ditumbuhi banyak rerumputan karena sudah sepuluh tahun lebih tidak dijamah. Azzam mencabuti rumput - rumput diatasnya untuk mencari celah untuk membuka pintu.


" Kau sangat dekat dengan istriku, Zam." ujar Wisnu.


" Kami berteman sejak kecil, tapi waktu masuk SMA kami beda sekolah dan jarang bertemu karena kesibukan masing - masing."


Darrent dan Rayyan membantu untuk menggali tanah itu biar cepat selesai. Hanya butuh menggali sekitar satu jengkal saja, pintu yang terbuat dari besi itu sudah terlihat.


Azzam segera menarik lempengan besi itu dan memeriksa keadaan di dalamnya yang hanya sekitar satu meter saja di bawah pagar tembok.


" Aman... kita langsung sampai di samping paviliun." kata Azzam.


Satu persatu dari mereka masuk ke dalam lorong yang hanya berjarak satu meter itu. Sekitar dua puluh orang dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah sudah bersiap di belakang paviliun yang cukup gelap.


" Kita bergerak setelah bagian depan menyerang." kata Rayyan.


Setelah terdengar suara keributan di depan, Azzam langsung menyelinap ke depan paviliun dan mendapati masih banyak penjaga disana. Setelah mendapat kode dari Bima yang berada di depan kamarnya Azzam langsung menyerang mereka. Anak buah Bima menyebar untuk memecah musuh agar tidak terfokus pada paviliun.


Saat mereka sedang berkelahi, Bima langsung masuk ke dalam paviliun untuk membawa ibunya Azzam keluar dari sana. Sampai di dalam, ia mendapati ibunya Azzam terbaring lemah di tempat tidur.


" Nyonya, kita harus segera pergi dari sini." ucap Bima pelan.

__ADS_1


" Kamu siapa...?" tanya Rahma bingung.


" Saya temannya Azzam, Nyonya. Kami datang untuk menyelamatkan Nyonya."


" Dimana putraku?"


" Azzam diluar, Nyonya. Sebentar lagi Azzam akan menyusul kita."


Nyonya Rahma menatap curiga pada Bima. Ada rasa tidak percaya dalam dirinya pada sosok pemuda di hadapannya.


" Nyonya percaya dengan saya, Azzam pasti akan segera datang. Saya juga mengenal cucu dan menantu Anda. Istrinya Azzam adalah teman saya."


" Iya, saya percaya padamu."


Saat Bima akan mengangkat tubuh Nyonya Rahma, Azzam datang. Ada setetes airmata yang mengalir di pipinya namun segera ia hapus agar tak terlihat oleh sang ibu.


" Mama..." lirih Azzam.


" Azzam, akhirnya kau pulang." ucap Nyonya Rahma terisak.


" Kita pergi sekarang, Ma. Kita tidak punya banyak waktu."


" Tapi Mama tidak bisa berjalan, Zam. Tubuh Mama seakan mati rasa."


" Tidak apa - apa, Mama pasti akan segera sembuh."


Azzam membopong tubuh ibunya, sedangkan Bima mengamankan jalan keluar untuk mereka. Azzam membawa ibunya lewat gerbang utama karena tidak mungkin membawanya lewat lorong di samping paviliun.


Namun saat sampai di pintu utama, ternyata ada Darco dan Nella berdiri disana dengan angkuh. Dua orang itu tersenyum sinis kearah Azzam. Di belakang mereka, Kaivan dan Tuan Zaid terikat kedua tangannya.


" Akhirnya kau pulang juga, anak Mami." senyum sinis terkembang dari bibir Nella.


" Cih... jangan senang dulu, Nyonya. Permainan baru dimulai." seringai Azzam.


Azzam memberikan ibunya kepada Rayyan supaya diamankan di kamar atas. Disana ada kamar Azzam yang bisa dibuka oleh Rayyan karena Azzam memiliki kunci cadangan yang selalu ia bawa.


" Kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat, Azzam. Lihat Papamu! Begitu kau melangkah keluar, nyawanya akan langsung terbang ke akhirat." ancam Nella.


" Ini rumah saya, Nyonya. Jadi tidak akan ada yang pergi dari sini selain Anda. Wanita macam apa yang tega menyekap anak kandungnya sendiri." sahut Azzam santai.


" Diam kau! Sekali saja kau melawan, nyawa mereka akan lenyap!" teriak Nella.


" Jangan banyak berdebat, habisi dia!" sentak Darco.


Pertarungan kembali terjadi dengan lawan yang lebih banyak lagi. Rupanya Nella dan Darco sudah mengetahui rencana Azzam dan teman - temannya. Mungkinkah Zahra ada di tangan Nella juga?


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2